Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYEMBUH DI BALIK KABUT PUNCAK.
Suasana di dalam kabin mobil mendadak senyap setelah meninggalkan area restoran mewah itu. Ardiah menatap lurus ke luar jendela, memandangi deretan gedung bertingkat yang perlahan memudar. Jemarinya saling bertautan di atas pangkuan, sedikit bergetar. Pertemuan tak terduga dengan Ferdi tadi siang kembali membuka kotak pandora masa lalu yang berusaha ia tutup rapat. Bayangan cercaan, tatapan merendahkan dari mantan mertua, dan rasa sepi yang menghimpit selama lima tahun pernikahan pertamanya mendadak berputar bagai kaset rusak di kepalanya.
Haikal yang duduk di balik kemudi melirik sekilas ke arah samping. Ia tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam dada istrinya. Sebagai pria yang kini memegang penuh tanggung jawab atas kebahagiaan Ardiah, Haikal sadar betul bahwa trauma tidak bisa sembuh hanya dengan kata-kata penenang yang klise. Terlebih, ia tahu bahwa dulu Ardiah sangat mencintai Ferdi sebelum dikhianati sedemikian rupa. Tugasnya sekarang adalah menghapus sisa-sisa rasa sakit itu dan menggantinya dengan memori baru yang jauh lebih indah.
Haikal meraba saku jasnya, mengambil ponsel dengan satu tangan, lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk ibunya.
“Mah, Ikal bawa Kak Diah ke villa kita di Puncak sekarang, ya. Mau menenangkan hatinya dulu. Tolong jaga Mbah di rumah utama.”
Tidak butuh waktu lama, sebuah balasan masuk dari Astuti.
“Iya, Nak. Jaga istrimu baik-baik. Jangan biarkan dia sedih. Soal Mbah, aman bersama Mama.”
Membaca balasan tersebut, Haikal mengulas senyum tipis. Ia segera membelokkan setir mobilnya menuju area parkir sebuah butik kelas atas di pinggir jalan raya. Pria itu melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Ardiah yang masih tampak melamun.
"Kak, tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau masuk ke dalam dulu," ujar Haikal lembut.
Ardiah tersentak dari lamunannya, mengangguk pelan tanpa bertanya banyak. Ia melihat Haikal melangkah masuk ke dalam butik megah itu. Sekitar lima belas menit kemudian, suaminya kembali dengan membawa dua paper bag besar berlogo desainer ternama, lalu meletakkannya di kursi belakang.
"Kamu beli apa, Kal? Bukankah baju-bajumu di rumah Mama sudah sangat banyak?" tanya Ardiah bingung.
Haikal memasang kembali sabuk pengamannya, lalu mengedipkan sebelah matanya jahil. "Ini bukan untukku, Kakak Sayang. Ini semua pakaian untukmu. Kalau pakaianku, di tempat tujuan kita nanti sudah berlemari-lemari."
Ardiah mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak beres dengan arah jalan mobil mereka yang kini mulai menanjak meninggalkan batas kota Jakarta. "Kita mau ke mana sebenarnya? Ini bukan jalan pulang ke rumah Mama, dan kita juga tidak kembali ke kantor."
"Rahasia, Kak. Nanti juga tahu sendiri," jawab Haikal dengan nada tengil khasnya sembari memutar musik instrumental berirama tenang untuk mencairkan suasana.
"Haikal, jangan main-main. Pekerjaan kita di kantor bagaimana?" desak Ardiah lagi.
"Aku ini CEO nya, Kak. Jadi, aku berhak memberikan cuti dadakan untuk Kepala Divisi utamaku, sekaligus untuk diriku sendiri," sahut Haikal santai tanpa beban.
Perjalanan menempuh waktu hampir dua jam karena jalur yang menanjak dan sedikit padat. Perlahan, hawa dingin mulai merayap masuk ke dalam mobil melalui celah pendingin udara, digantikan oleh pemandangan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi dan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti perbukitan.
Mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang kayu besar yang estetik. Di balik gerbang itu, berdirilah sebuah villa megah beraksen kayu pine dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah tebing dengan hamparan kebun teh yang hijau sejauh mata memandang.
Beberapa pekerja villa yang mengenakan seragam rapi tampak sudah berbaris menyambut kedatangan mereka. Salah seorang pekerja paruh baya maju dan membungkuk hormat. "Selamat sore, Pak Haikal, Ibu Ardiah. Selamat datang di villa. Semuanya sudah kami siapkan sesuai perintah Pak Roni tadi."
"Terima kasih, Pak Yusuf. Tolong bawakan barang-barang di kursi belakang ke kamar utama, ya," instruksi Haikal ramah.
Ardiah turun dari mobil, menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang begitu bersih dan segar. Rasa sesak yang menggelayuti dadanya sejak di restoran perlahan-lahan mulai terkikis oleh ketenangan alam di sekitarnya.
Haikal berjalan mendekat, lalu tanpa permisi menggenggam jemari tangan Ardiah yang terasa dingin akibat cuaca Puncak. "Ayo masuk, Kak. Di luar makin dingin, nanti kamu bisa masuk angin lagi."
Mereka melangkah masuk ke dalam villa yang interiornya sangat mewah namun berkesan hangat karena didominasi oleh perapian batu alam dan pencahayaan temaram yang kuning keemasan. Haikal menuntun Ardiah menuju balkon belakang yang langsung menyuguhkan pemandangan matahari terbenam di balik gunung.
"Bagaimana? Kakak suka tempatnya?" tanya Haikal, berdiri di samping Ardiah sembari menatap profil samping wajah istrinya.
Ardiah menoleh, menatap Haikal dengan pandangan mata yang melunak. "Tempat ini sangat indah, Kal. Jadi... kamu membawaku ke sini hanya untuk menenangkanku karena kejadian tadi siang?"
Haikal menghela napas pendek, lalu berbalik hingga tubuhnya kini berhadapan langsung dengan Ardiah. Ia meraih kedua belah tangan istrinya, menggenggamnya erat tepat di atas pembatas balkon.
"Aku tidak mau melihat ada air mata atau raut sedih di wajahmu hanya karena pria dari masa lalu itu, Diah," tutur Haikal, suaranya terdengar begitu dalam dan tulus, tanpa ada lagi nada tengil yang biasa ia gunakan. "Aku tahu, masa lalumu bersamanya meninggalkan luka yang dalam. Tapi sekarang, ada aku di sini. Aku ingin menjadi tempat perhentian terakhirmu, tempat di mana kamu tidak perlu takut akan dibuang atau disakiti lagi."
Ardiah terdiam, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Haikal meresap hingga ke dalam dadanya. "Haikal... aku hanya takut jika aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku masih sering dibayangi ketakutan bahwa kebahagiaan ini hanya sementara."
Haikal tersenyum teduh. Ia memajukan langkahnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga Ardiah bisa mencium aroma parfum suaminya dengan jelas. "Tidak ada yang sementara di antara kita, Ardiah. Pernikahan ini untuk selamanya. Aku tidak menuntutmu menjadi sempurna sekarang. Cukup biarkan aku yang berjalan mendekat, sementara kamu hanya perlu bertahan di sisiku."
Tangan kanan Haikal bergerak naik, mengusap lembut pipi Ardiah yang mulai mendingin karena terpaan angin sore. Tatapan matanya terkunci pada manik mata sang istri dengan penuh pemujaan.
"Boleh aku memelukmu sekarang?" bisik Haikal lirih.
Ardiah tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia melangkah maju dan menyandarkan keningnya di dada bidang Haikal, membiarkan sepasang lengan kekar suaminya melingkar posesif dan protektif di sekeliling tubuhnya. Di bawah langit Puncak yang mulai meremang dan diiringi suara gemerisik daun-daun pinus, Ardiah merasakan kedamaian yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dijaga dan dihargai sebagai seorang wanita seutuhnya.
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁