Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tukang Rayu
Li Yunru tentu ingin memanfaatkan buah merah yang sempat meracuninya itu. "Bukankah buah ini hanya beracun bagi manusia biasa? Manusia setengah binatang bisa memakannya, bukan?" tanyanya.
Ruu mengangguk. "Benar. Tapi rasanya tidak terlalu enak. Mengapa kamu bertanya?"
"Bisakah Bai Muzhi memakannya?"
"Entahlah, mungkin bisa. Aku belum pernah melihatnya memakan buah ini."
Ruu sendiri pernah memakannya dan tetap baik-baik saja. Jadi menurutnya, manusia setengah binatang seharusnya juga tidak masalah. Kalau kelinci spiritual sepertinya saja aman, Bai Muzhi pasti juga aman.
"Tuan, jangan bilang kamu ingin memberikan buah ini padanya?"
"Ya. Lihatlah, betapa perhatiannya aku ini." Gadis itu terlihat sangat percaya diri.
Setelah memetik beberapa buah merah, keduanya melanjutkan perjalanan. Tak ada lagi yang menarik perhatian Li Yunru hingga akhirnya ia melihat seorang pria duduk santai di batang pohon tumbang di tepi sungai kecil.
"Gadis manusia, takdir mempertemukan kita. Pasti kita berjodoh, bukan?"
Li Yunru terkejut melihat seorang pria berambut merah sepinggang dengan sepasang telinga rubah merah yang mencolok. Yang lebih mengejutkan lagi, sembilan ekor rubah besar bergoyang pelan di belakang tubuhnya.
Jelmaan rubah berekor sembilan?
Mengapa ada seseorang di sekitar Istana Shing?
Ruu sedikit waspada. Ia menyipitkan mata merahnya sambil menatap pria itu. Wajahnya tampak seperti sedang mengingat sesuatu, tetapi otak kelincinya bergerak terlalu lambat.
Pria itu memainkan beberapa helai rambut merahnya sambil tersenyum lembut, meski tatapannya penuh godaan. "Gadis, apakah aku tampan?"
"...."
Pria narsistik lagi, batin Li Yunru sebal. Entah mengapa ia merasa dejavu. Ia langsung teringat pada Hei Sanfeng.
Pria itu mengenakan hanfu putih mahal dengan jubah merah bermotif rubah. Pinggangnya diikat sabuk yang serasi dengan penampilannya. Melihat Li Yunru terus memperhatikannya, ia semakin yakin gadis manusia itu terpikat olehnya.
Pria itu bangkit dan berjalan santai ke arah Li Yunru. Ia sedikit membungkuk, lalu menyentuh dagunya dengan senyum yang mematikan.
"Cantik, namaku Hong Maxing. Siapa namamu?"
Iris mata merahnya menatap Li Yunru penuh arti. Namun ia terkejut saat merasakan aura spiritual ras peri hutan dari gadis itu. Tapi bagaimana mungkin gadis ini mampu mengalahkan Xu Jiangyue?
"... Namaku Li Yunru."
Li Yunru sama sekali tidak menyadari bahwa pria jelmaan rubah merah itu sedang menggodanya. Perhatiannya justru tertuju pada sembilan ekor besar yang bergoyang di belakangnya.
Jika dijadikan kerah jubah, pasti sangat cantik, batinnya.
Ruu berusaha mengingat nama pria itu. "Hong Maxing?" gumamnya. Mengapa terasa begitu familiar?
"Si Cantik Yunyun," kata Hong Maxing sambil merangkul pinggangnya. "Bagaimana kalau kita saling mengenal lebih dekat?"
Li Yunru menatapnya sejenak dengan ekspresi sedikit canggung. "Mmm ... aku punya permintaan kecil dulu."
"Oh? Tentu saja, cantik. Apa yang kamu inginkan?" Suara Hong Maxing sengaja dibuat semakin merdu.
Wajah Li Yunru memerah, bukan karena malu pada rayuannya, melainkan karena menahan kegembiraan melihat ekor besar yang tampak begitu lembut. Ia mundur beberapa langkah lalu meletakkan keranjang bambu berisi buah merah di dekatnya.
"Bisakah aku menyentuh ekormu? Aku suka ekormu," katanya sedikit memohon.
Melihat gadis itu tampak malu-malu, Hong Maxing merasa tak terkalahkan. Humph! Naga putih yang sakit itu pasti akan muntah darah nanti. Wanitanya sendiri bahkan jatuh hati padaku! pikirnya sombong.
"Tentu saja, Cantik. Sentuhlah. Selama kamu menjadi milikku, kamu boleh menyentuh ekorku kapan pun."
Hong Maxing mengayunkan salah satu ekornya ke depan. Bulu ekor itu tampak halus, tebal, dan berkilau di bawah sinar matahari.
Jantung Li Yunru berdegup kencang saat ekor itu berada tepat di depan matanya. Ia mengulurkan tangan perlahan, lalu segera mencengkeramnya sekuat tenaga dan menariknya dengan keras.
Hong Maxing terkejut dan sama sekali tidak siap. Ia terhuyung ke samping, sementara salah satu ekornya terasa nyeri. Gadis yang tadi tampak malu-malu kini menyeringai penuh kemenangan.
"Dasar rubah genit! Kamu pikir aku akan termakan rayuan murahanmu? Ternyata semua rubah sama saja, tukang rayu! Beri aku ekormu sebagai kompensasi!" teriak Li Yunru.
"Kamu!"
Hong Maxing merasakan nyeri hingga ke tulang ekornya. Meski ekor itu terbentuk dari energi spiritual saat berwujud manusia, rasa sakitnya tetap nyata. Senyumnya lenyap seketika, berganti tatapan dingin penuh niat membunuh. Tanpa ragu, ia menggerakkan ekor-ekornya yang lain untuk menusuk Li Yunru.
"Beraninya kamu menipuku! Mati!"
Li Yunru bersiap menghindar saat ekor Hong Maxing melesat seperti tombak. Namun tiba-tiba tubuh pria itu bergetar hebat, seolah tersengat sesuatu. Ekornya langsung membeku di udara.
Hong Maxing ikut tertegun. Energi spiritual di tubuhnya mendadak kacau, seakan ditekan oleh aura mengerikan yang tak terlihat. Sesaat kemudian, ia berubah menjadi rubah merah berukuran normal. Karena Li Yunru masih mencengkeram salah satu ekornya, tubuh rubah itu pun menggantung di udara.
"Apa? Gagal membunuhku, sekarang mau kabur? Tidak mungkin! Aku akan mencabut ekormu dulu sebelum melepaskanmu, dasar pejantan genit!"
Rubah merah jelmaan Hong Maxing menggeram, memperlihatkan taringnya. "Manusia, jangan memfitnah raja ini! Lepaskan aku! Beraninya kamu menginginkan ekor rubah raja ini? Orang itu bahkan belum lahir!"
"Bukankah sekarang sudah lahir? Akulah orang itu! Sialan!" Li Yunru mulai memutar otak mencari cara memutuskan salah satu ekor rubah yang indah itu.
Setelah sekian lama, Ruu akhirnya teringat siapa Hong Maxing. Ia langsung berteriak panik. "Tuan, dia itu raja rubah merah dari Istana Laifu di wilayah Hongbo bagian barat! Dia merupakan rubah durjana dan perayu wanita. Jangan sampai dia merayumu!"
"Telat!" Li Yunru melotot pada kelinci gemuk itu. "Dia sudah merayuku tadi!"
"...."
Eh, benarkah? Mengapa aku tidak lihat? pikir si kelinci yang tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Manusia, lepaskan aku atau aku akan membunuhmu!" ancamnya.
"Bunuh saja jika mampu! Kamu bahkan hanya seekor rubah. Aku akan menguliti bulumu dulu sebelum kamu membunuhku!"
Li Yunru langsung melempar rubah merah itu ke arah pohon terdekat. Sebelum menghantam batangnya, Hong Maxing memutar tubuhnya dan kembali menyerang Li Yunru dengan ekornya.
Sayangnya Li Yunru sudah siap. Ia mengepalkan tangan kanan, seolah bersiap meninju.
"Humph! Kamu pikir tangan kecilmu mampu menahan serangan ekor besiku? Mimpi!" Hong Maxing menggunakan ekornya sebagai tameng sekaligus tombak.
Namun di detik terakhir, Li Yunru tidak jadi meninju. Ia justru mengangkat kaki dan melancarkan tendangan samping dengan teknik bela diri hingga rubah merah itu menghantam batang kayu tumbang dengan keras. Gerakan tipuan itu berhasil membuat lawannya lengah.
Wajah rubah merah menghantam batang kayu, lalu tubuhnya terkapar tak sadarkan diri dengan lidah menjulur dari mulutnya. Li Yunru terkejut sekaligus lega. Ia melihat kaki rubah itu berkedut pelan sebelum akhirnya diam.
"Apakah dia sudah mati?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂