Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Yang Berujung Fatal
Di tengah kegelapan malam yang pekat dan bau amis yang perlahan menghilang, keheningan mencekam itu pecah oleh suara batuk yang berat. Dinda tersedak, dadanya naik turun dengan cepat seolah baru saja ditarik dari kedalaman air.
"Uhuk! Uhuk Yan? Bagas? Ini di mana? Gelap banget. Badanku sakit semua". Dinda suaranya kembali normal, terdengar lirih dan sangat rapuh.
"Din! Alhamdulillah, kamu udah sadar. Jangan banyak gerak dulu. Gas! Senter, Gas! Arahin ke sini!" Adrian menghela napas lega yang luar biasa, memegang bahu Dinda dengan erat.
"Iya, Yan. Ini Din, kamu gak apa-apa? Demi Allah, tadi kamu ngeri banget, Din." Bagas tangan gemetar menyalakan kembali senter yang sempat terjatuh.
Dinda yang menyadari dirinya berada di pelukan Adrian langsung menangis histeris. Air matanya tumpah menyadari rasa dingin luar biasa yang baru saja mencengkeram jiwanya. Bagas ikut berlutut di dekat mereka, memegang pundak Dinda, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah trauma yang baru saja mereka lalui bersama.
Di luar rumah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa yang riuh, disusul oleh ketukan keras di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Nak Adrian! Nak Bagas! Buka pintunya! Ada apa di dalam?!". Terdengar suara Pak RT yang datang kerumah.
Adrian meletakkan Dinda bersandar di kasur dengan hati-hati.
"Gas, jaga Dinda. Aku buka pintu.". Dengan cepat, Adrian berlari ke depan dan membuka grendel pintu kayu yang kokoh itu.
Di teras rumah, Pak RT berdiri memegang obor bersama Kang Kosim dan beberapa warga yang membawa senter besar. Wajah-wajah mereka dipenuhi kecemasan yang mendalam.
Pak RT langsung menerobos masuk setelah pintu terbuka.
"Astagfirullah, Nak Adrian! Tadi warga mendengar suara teriakan keras dari arah rumah ini. Suaranya persis seperti kejadian Maman beberapa bulan lalu. Apa yang terjadi?!". Tanya Pak RT khawatir.
"Pak RT maafkan kami. Kami melanggar syarat dari Bapak. Tadi siang kami menggali tanah Jarian dan barusan, Dinda kerasukan, Pak." Adrian wajahnya lesu, egonya sudah runtuh sepenuhnya
Mendengar kata kerasukan, warga di belakang Pak RT langsung saling berbisik panik. Kang Kosim melangkah maju, wajahnya mengeras.
"Sudah kuduga! Kalian budak-budak kota ini memang keras kepala! Jarian itu bukan tempat sembarangan! Apa saja yang kalian lakukan di sana?!" Suara Kang Kosim yang mulai meninggi.
"Tenang semua, tenang! Jangan pakai emosi. Kang Kosim, ikut saya ke dalam. Kita lihat kondisi Nak Dinda.". Pak RT mengangkat tangan, menenangkan warga.
Pak RT dan Kang Kosim melangkah masuk ke dalam kamar yang berantakan dengan pecahan bohlam di lantai. Bagas masih setia memeluk Dinda yang sedang menangis sesenggukan, mencoba meminumkan air putih yang tersisa.
"Nuansa ini, bau ini, benar. Ini energi dari Jarian. Nak Dinda, apa yang kamu rasakan sekarang?" Pak RT melihat pecahan lampu dan mencium bau amis yang tersisa, menggelengkan kepala.
"Dingin, Pak. Di dalam sini tadi rasanya dingin banget. Sosok itu. sosok hitam yang di Jarian ditarik ke sini karena foto dan alat-alat kami. Dia bilang kami harus mengembalikan apa yang ditarik tanah, atau jiwa saya tetap tinggal di sana bersama Maman.". Dinda berbicara di sela tangisnya, menatap Pak RT dengan takut.
"Pak RT, saat menggali tadi siang, kami melihat ada benda logam seperti jam tangan rantai tua yang tenggelam di dalam tanah basah itu. Tapi kami tidak mengambilnya, kami langsung lari. Kenapa sosok itu mengincar Dinda?". Adrian mendekat, menatap Pak RT dengan penuh penyesalan.
"Jam tangan rantai tua? Astagfirullah itu jam tangan milik almarhum bapaknya Maman yang sudah hilang bertahun-tahun! Maman jatuh sakit karena dia mencoba mengambil barang-barang yang sudah ditarik oleh tanah itu. Kalian kalian tidak mengambil barangnya, tapi kalian merekamnya, memfotonya, dan membawa niat sombong untuk mengubah tempat itu!" Kang Kosim menyahut dengan nada gusar namun ada rasa ngeri di suaranya.
"Adik-adik mahasiswa, ilmu teknologi yang kalian pelajari di kota itu tidak salah. Menjaga kebersihan dengan teknologi itu baik. Tapi kalian lupa, tanah Jarian itu sudah terlanjur mengikat energi negatif dari kelalaian warga bertahun-tahun. Tempat kotor melahirkan ketidaksucian, baik secara fisik maupun batin. Ketika tempat itu dibersihkan, bukan berarti penunggunya hilang. Mereka hanya tenang." Pak RT duduk di kursi dekat kasur, menarik napas dalam-dalam.
"Kalian datang membawa kamera, laptop, dan rencana besar tanpa memedulikan adat dan rasa hormat pada batas yang kami jaga. Ketidakhormatan itulah yang mengundang mereka masuk ke rumah ini. Syarat kedua yang saya berikan bukan takhayul, itu adalah batas aman agar kalian tidak terikat dengan energi Jarian." Pak RT menatap Adrian, lalu beralih ke laptop Dinda yang masih menyala di ruang tamu.
"Kami mengaku salah, Pak RT. Kami terlalu sombong dengan logika kami sendiri. Sekarang apa yang harus kami lakukan untuk menyembuhkan Dinda sepenuhnya dan menyelesaikan masalah ini?" Adrian menundukkan kepala dalam-dalam.
"Besok pagi, setelah matahari benar-benar terbit, kita semua Bapak, Kang Kosim, dan kalian bertiga harus kembali ke Jarian. Hapus semua foto di kamera, format data di laptop kalian tentang tempat itu. Kita akan adakan ritual permohonan maaf secara tulus. Kalian harus mengerti, untuk membawa perubahan di sebuah desa, kalian harus membersihkan hati kalian dulu sebelum membersihkan lingkungannya." Pak RT melihat ke luar jendela, fajar pagi mulai membayang samar di ufuk timur.