NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:36.6k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Apakah Zarlin akan memaafkan Theo dan menerima nasibnya menjadi single seumur hidup?

Follow tiktok : rain_aricia0913

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Christiana Ingrid

Suara isak tangis yang tertahan terdengar di dalam salah satu kamar mandi kantor Falcon Corp.

Di dalam sana, Siska bersandar pada dinding keramik yang dingin, meremas jemarinya yang gemetar.

Sebagai bendahara kepercayaan perusahaan, Siska selalu berusaha bekerja dengan jujur dan teliti. Namun siang ini, harga dirinya diinjak-injak. Ia dipaksa melakukan tindakan kriminal yang sangat berisiko demi menutupi kesombongan atasannya sendiri.

"Tuan Theo benar-benar sudah gila," bisik Siska dengan suara serak.

Air matanya kembali jatuh mengingat bagaimana Theo membentaknya di depan pelakor seperti Bianca. Siska menyeka air matanya, lalu kembali menanangkan dirinya.

Di depan cermin besar, ia menatap pantulan wajahnya yang sedih. Ingatannya kembali pada dokumen ilegal yang baru saja ia tanda tangani dua jam lalu.

Mengambil dana cash dari proyek yang sedang berjalan, lalu menutupinya dengan pinjaman dari rentenir kelas kakap demi mengumpulkan uang lima miliar rupiah dalam sekejap.

"Bunga lima belas persen..."

Setelah merapikan riasan wajahnya agar sisa tangisnya tidak terlihat, Siska kembali ke meja kerjanya.

Suasana kantor sudah mulai sepi karena jam pulang sudah lewat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Siska membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Ia sudah tidak tahan lagi berada di tempat ini.

Saat berjalan menuju pintu keluar, Siska terpaksa melewati ruangan kerja Theo. Ia sempat melambat ketika tatapannya tak sengaja melihat pemandangan di balik kaca yang sedikit terbuka.

Di dalam sana, Theo dan Bianca masih asyik mesra-mesraan. Theo tertawa angkuh sambil menyesap segelas wine, sementara Bianca bersandar di bahunya, terus-menerus memuji kehebatan pria itu.

Siska tersenyum sinis, ada rasa muak yang mendalam di dadanya. "Tertawalah selagi bisa, Tuan Theo. Nikmati kesenangan palsu Anda bersama wanita itu." batin Siska ketus sebelum akhirnya pergi meninggalkan area kantor Falcon Corp dengan perasaan campur aduk.

...****************...

Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, di dalam gedung kantor Avalanka Group justru terasa jauh lebih tenang.

Di dalam ruangan kerja, Pak Bramasta Rahesa tampak berjalan keluar terlebih dahulu setelah berpamitan dengan Tristan.

Pengusaha senior itu memutuskan untuk menunggu di dalam mobil yang sudah disiapkan di area parkir VIP bawah gedung.

Di dalam ruangan, kini hanya tersisa Zarlin, Tristan, dan Christiana yang sedang merapikan beberapa salinan berkas dokumen kerja sama di atas meja.

Zarlin mengembuskan napas panjang, merapikan blazer kerjanya sebelum kemudian menoleh ke arah Christiana yang sejak tadi bergerak mengurus berkas itu.

Melihat kesetiaan wanita di hadapannya, seketika senyum tulus muncul di wajah cantik Zarlin.

Zarlin melangkah mendekat, lalu menepuk pelan bahu Christiana.

"Chris, makasih banyak ya sudah bantu urus dokumen tadi. Capek banget ya hari ini?" tanya Zarlin.

Christiana langsung menegakkan tubuhnya, menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan senyum profesional yang sopan.

"Sudah tugas saya, Nona Zarlin. Semuanya sudah rapi dan siap dibawa kembali ke kantor kita besok pagi."

Zarlin menggelengkan kepalanya pelan, Ia merasa agak risih di wajahnya mendengar panggilan itu.

"Kan aku sudah sering bilang, Chris. Kalau lagi berdua saja seperti ini, panggil Zarlin saja seperti biasa. Kita kan teman kuliah dulu, jangan terlalu kaku."

Christiana tersenyum haru, namun ia menggelengkan kepalanya dengan tegas namun tetap santun.

"Di lingkungan kantor kita harus tetap profesional, Nona Zarlin. Lagipula, saya tidak akan pernah melupakan posisi saya. Saya sangat menghormati Anda."

Christiana menjeda kalimatnya sebentar, matanya berkaca-kaca mengingat masa lalu.

"Kalau dulu Nona Zarlin tidak mengulurkan tangan untuk membantu carikan beasiswa penuh saat saya hampir putus kuliah karena tidak ada biaya, saya tidak akan mungkin bisa lulus S1. Apalagi sampai bisa menjadi sekretaris kepercayaan di perusahaan besar seperti sekarang. Kebaikan Nona Zarlin telah mengubah seluruh hidup saya."

Zarlin menatap Christiana dengan pandangan tulus. Ia tahu bagaimana watak Christiana. Wanita di depannya ini adalah sosok yang sangat rajin, taat, dan tahu cara balas budi.

Zarlin tidak mau mendebat lebih panjang lagi karena ia menghargai prinsip profesionalitas yang dipegang teguh oleh sahabatnya itu.

Bagi Zarlin, Christiana bukan sekadar bawahan, melainkan salah satu orang paling berharga yang selalu ada di sisinya, bahkan di saat-saat paling terpuruk ketika ia menghadapi rumah tangganya dengan Theo dulu.

Kehadiran Christiana dengan kerja kerasnya telah membantu perusahaan Zarlin maju pesat hingga kini menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan dengan nama Aricia International.

"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi di luar jam kantor, kamu harus janji jangan terlalu formal ya," ucap Zarlin sambil tersenyum tipis.

"Aku duluan ke bawah ya, Chris. Mau menyusul ayah di mobil. Kamu jangan pulang terlalu larut."

"Baik, Nona Zarlin. Hati-hati di jalan," jawab Christiana mengiringi langkah Zarlin yang berjalan anggun keluar dari ruangan.

Setelah Zarlin pergi, di ruangan itu menjadi sangat hening. Christiana mengembuskan napas pelan, kembali fokus memeriksa sisa map dokumen di tangannya. Namun, dia kemudian beralih ke arah meja kerja besar yang berada di ujung ruangan.

Di sana, Tristan Avalanka masih duduk di kursinya. Pria itu tampak sangat kelelahan setelah seharian penuh mengurus strategi untuk memojokkan Falcon Corp.

Tristan bersandar pasrah pada kursi kerjanya, memejamkan mata rapat-rapat sambil sesekali memijat pelipisnya yang terasa pening.

Christiana terdiam di tempatnya berdiri. Ada rasa tidak tega yang tiba-tiba melihat rasa lelah di wajah tegas pria itu.

Selama ini, ia selalu melihat Tristan sebagai sosok pemimpin yang berwibawa dan kuat di depan Zarlin. Namun saat ini, dalam kesendiriannya, Tristan terlihat seperti pria biasa yang juga bisa kehabisan energi.

Tanpa banyak bicara, Christiana meletakkan dokumen di tangannya. Ia berjalan pelan menuju dispenser yang terletak di sudut ruangan, lalu berinisiatif membuatkan segelas air putih hangat.

Christiana berjalan mendekati meja kerja Tristan. Ia meletakkan gelas kaca berisi air hangat itu di atas meja, tepat di sebelah kanan laptop Tristan yang masih menyala.

"Diminum dulu airnya, Tuan Tristan. Supaya pikiran Anda bisa sedikit lebih rileks," ujar Christiana dengan sopan.

Mendengar suara itu, Tristan menegakkan posisi duduknya, lalu menatap gelas air hangat di depannya.

"Terima kasih banyak, Christiana. Kebetulan kepala saya memang agak pening dari tadi," ucap Tristan.

Christiana membalas senyuman itu dengan sebuah anggukan kecil yang sangat profesional.

"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya pulang terlebih dahulu."

"Ya, silakan. Berhati-hatilah di jalan, Chris," balas Tristan.

Christiana membalikkan badannya, berjalan keluar dari ruangan kerja Tristan. Dia langsung memesan taxi dan pulang ke apartemennya.

Baginya, Tristan adalah pria yang menaruh hati pada Zarlin, wanita yang sudah ia anggap seperti pelindung dalam hidupnya.

1
Visitor3579
Santai Lin, kalian libur
Visitor3579
Kebanyakan gaya kamu Tristan. Kalau dia gk cinta sama mu stop aja ngejar dia. Cari diluar sana banyak gadis.
Visitor3579
Klo gak ada Chris pasti Zarlin udah tepar. Jadi bersyukurlah Lin punya bestie kayak Chris.
Visitor3579
Bestie sampe mati sih ini😄
Visitor3579
Aku berharap Zarlin bisa melembutkan hatinya, merelakan semua yg terjadi, dan memulai kehidupan barunya tanpa pasangan
partini
Theo dan Monic masih bersama
keren lovely doply ❤️❤️❤️
zerlin mah jadi jandes aja
Three Flowers
semoga rencana Zarlin lancar dan theo menyesal tapi tak ada tempat untuk kembali
Three Flowers
benar,dia butuh waktu. masalahnya hatinya terlalu sakit
Three Flowers
nah itu, selidiki. kalo theo ada di rumah, kenapa Zarlin mesti pulang ke rumah ortunya
MULIANA💦
masih aja mikirin kerjaan /Smug/
MULIANA💦
tinggi sekali. anakku pernah kejang, di suhu badan ini
MULIANA💦
lahh, seharusnya gunakan kesempatan untuk berdua aja sih, kan 🤭
Mommy tulipp
Author ceritanya jangan tanggung,,, kl bisa up 2 bab lagi thor...🙏
Rain Aricia: Okai Kak Tulip, nanti siang aku up lagi ya🙏
total 1 replies
Mommy tulipp
itulh karena modusmu tristan.
Mommy tulipp
Pasti mereka sama sama capek ya thor
Mega Siregar
lah, baru sadar, theo?
tuh buktinya kamu sama busuknya dengan ibumu
Mommy tulipp
Sprtinya Zarlin memang butuh pendamping tapi bukan pasangan. 24 jm menarik Chirs berarti ada pekerjaan yang harus dituntaskan pasti thor.,,,
Ayo thor buat Zarlin hidup bahagia jangan tertekan terus supaya hatinya bisa terbuka.
Sy yakin Zarlin tdk akan menyimpang kan thor? Dia hanya kelelahan batin saja.
Mau request Zarlin hidup bahagia tapi cerita ada di tangan author,,,
Rain Aricia: Benar Kak Tulip...author juga terkejut ada yg bilang Zarlin menyimpang😅

Tapi tenang aja kak, Zarlin normal kok. Dia hanya kelelahan batin aja dan egonya blm bisa dia turunkan. Pantau aja terus ya kak😁🙏
total 1 replies
Mommy tulipp
Jangan trrlua paksakan Zarlin, ibu. Pikirannya lagi mumet
Mommy tulipp
Cinta tdk bsa dipaksakan, Tristan. Bnyk orang yang mendesak setelah cerai harus menikah lagi. Bukan seperti itu semua pemikiran manusia
Mommy tulipp
Udah nyesal km Theo?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!