Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Beberapa jam kemudian, langit mulai berubah pucat, pagi sudah mulai datang. Malam itu sudah mereka dilewati dengan tenang. Tanpa tanpa suara tembakan atau langkah kaki yang mengejar. Tanpa mereka harus kabur cepat tanpa istirahat panjang..
Distrik lama tetap hidup dengan caranya sendiri. Suara motor lewat di kejauhan, musik yang mengalun pelan dari warung ujung gang, dan teriakan orang mabuk yang entah sedang bertengkar atau bercanda.
Tapi justru suara-suara itu membuat tempat ini terasa aman. Setidaknya untuk sementara.
Nara akhirnya tertidur di kursi dekat meja dengan kepala yang bersandar ke lengannya sendiri. Arga tetap menguasai sofa seperti veteran pengungsi. Sedangkan Han masih tetap terjaga.
Ia duduk dekat jendela dengan pistol di meja kecil sampingnya. Lampu ruangan sudah lama dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari luar ruangan. Tatapannya terus bergerak memperhatikan jalan, satu kebiasaan lamanya yang sulit dihilangkan.
Han bahkan tidak sadar, sejak kapan matanya sempat tertutup selama beberapa menit. Yang membangunkannya justru suara langkah kecil di dalam ruangan.
Nara.
Perempuan itu baru saja bangun dan sedang berjalan pelan menuju dapur kecil sambil masih setengah mengantuk. Rambutnya sedikit berantakan. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia terlihat seperti orang biasa. Bukan lagi target buruan dan bukan seseorang yang sedang dikejar oleh organisasi misterius. Hanya perempuan biasa yang baru saja bangun tidur.
Nara membuka kulkas kecil lalu mengernyit.
“…isinya menyedihkan sekali.”
Han bersandar kecil di kursinya.
“Itu peninggalan lama.”
“Cuma ada air doang.”
“Itu penting.”
Nara menoleh dan baru sadar Han ternyata sudah bangun.
“kamu sudah bangun atau malah belum tidur?”
Han tidak menjawab.
“Itu berarti belum tidur ya.”
Ia mengambil air mineral lalu duduk di kursi seberang Han.
Cahaya pagi dari luar jendela membuat suasana ruangan terasa berbeda. Lebih tenang dan lebih terasa nyata. Dan justru karena itu, semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir terasa semakin aneh.
Nara memperhatikan Han selama beberapa detik.
“Kamu selalu bangun sepagi ini?”
“Aku belum tidur.”
“Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.”
Han cuma diam saja..
“Aku mulai ngerti kenapa wajahmu capek terus.” Kata Nara melanjutkan.
“Aku memang capek.”
“Akhirnya kamu jujur juga.”
Han hampir tersenyum tipis lagi. Tipis saja, tapi perhatian Nara lebih ke arah pistol Han di atas meja.
“Kalau boleh jujur…” katanya pelan, “…aku masih belum terbiasa lihat itu.”
Han mengikuti arah tatapannya.
“Bagus.”
“Maksudnya?”
“Kalau kamu terbiasa terlalu cepat, berarti hidupmu berjalan salah arah.”
Jawaban itu membuat Nara diam sejenak. Lalu tanpa sadar berkata, “Kadang aku lupa kamu dulu pernah benar-benar hidup di dunia itu.”
Han menatap jalan di luar jendela.
“Aku juga berharap begitu.”
Sunyi lagi, namun sekarang bukan sunyi yang canggung. Lebih kepada dua orang yang mulai terbiasa berbagi ruangan. Di sofa, Arga mendadak bergerak lalu bangun dengan suara serak.
“…gue mimpi makan ayam goring.”
Nara langsung tertawa kecil.
“Prioritas hidupmu sederhana ya.”
“Gue konsisten.”
Arga duduk sambil mengusap wajahnya. Begitu melihat Han masih duduk dekat jendela, ia langsung menunjuknya.
“Lu belum tidur lagi?”
Han tidak menjawab.
“Itu bukan gaya hidup sehat, Han.”
“Kamu tidur sambil ngorok seperti mesin genset rusak.”
“Itu bakat alami.”
Pintu bawah gedung tiba-tiba terdengar diketuk dua kali. Han langsung berdiri, dengan reflex mengambil pistol di atas meja. Gerakannya begitu cepat sampai membuat Nara jadi tegang.
Namun beberapa detik kemudian, suara Damar terdengar dari bawah.
“Kalau mau nembak gue, minimal kasih tahu dulu ya.”
Han sedikit rileks lalu turun membuka pintu bawah. Tak lama kemudian Damar naik ke atas sambil membawa kantong plastik makanan dan kopi hangat.
“Selamat pagi para buronan.”
Arga langsung melek melihat bungkusan plastik di tangan Damar.
“Gue suka orang ini.”
“Karena gue bawa makanan?.”
“Karena lu lebih ngerti kebutuhan manusia, dibanding dia,” sambil menunjuk Han.
Damar tertawa pendek lalu meletakkan plastik berisi sarapan di meja.
“Sejauh ini masih aman,” katanya ke Han. “Belum ada orang asing yang masuk lagi.”
Han mengangguk kecil.
“Kabar lain?”
“Masih ada orang yang mencari dua wajah baru.” Damar melirik Nara dan Arga. “Tapi belum masuk ke dalam distrik.”
Nara menegang sedikit dan Damar menyadarinya.
“Tenang….” Ia duduk santai di dekat pintu. “Orang luar ngga gampang bergerak di sini tanpa kami ketahui.”
Han membuka salah satu kopi kaleng, dan menyesap isinya.
“Kamu ngga perlu terlalu jauh bantu kami, Mar.”
Damar langsung mendecakkan lidah.
“Udah gue bilang-kan, distrik ini bukan tempat dimana orang suka lihat teman lamanya mati.”
Kalimat itu membuat Nara memperhatikan mereka berdua lagi. Hubungan mereka cukup aneh. Tidak hangat, tidak sentimental tapi jelas ada rasa percaya. Dan itu terasa langka untuk seseorang seperti Han.
Arga mulai melahap sarapannya sambil setengah sadar.
“Kalian dulu satu geng?”
Damar langsung tertawa keras.
“Han?” Ia menunjuk pria itu. “Dia terlalu anti sosial buat masuk geng.”
“Aku masih di sini lho,” jawab Han datar.
“Dan masih tetap menyebalkan.”
Nara tersenyum kecil melihat mereka. Ia baru sadar ini pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, mereka benar-benar bisa duduk dengan santai tanpa harus terburu-buru kabur. Pagi yang terasa lambat dan itu amat menyenangkan.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena saat Damar mengambil ponselnya untuk mengecek pesan, wajahnya perlahan berubah serius.
Han langsung menangkap perubahan itu.
“Apa?”
Damar membaca layar beberapa detik sebelum mengangkat pandangan.
“…ada orang dari pusat masuk distrik.”
Ruangan langsung sunyi lagi. Dan kali ini, bahkan membuat Arga berhenti makan.