NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

'Jangan Tinggalin Kakak ya'

Zaskia akhirnya tiba di rumah kedua orang tuanya.

Baru saja melangkah masuk, ia langsung melihat Zaid yang sedang rebahan di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.

“Kok sendiri, Kak? Mana Bang Aryan?” tanya bocah itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

“Kak Aryan masih ada rapat BEM. Nanti kakak dijemput,” jawab Zaskia sambil melepas sepatu. “Bunda mana?”

“Cari aja sendiri.”

Zaskia langsung melotot. “Astaghfirullah, Zaid. Kirain gak ketemu kakak lumayan lama bakal kangen atau minimal enggak nyebelin. Taunya sama aja!”

Zaid akhirnya menoleh sekilas sambil menyeringai jahil. “Lah emang harus berubah?”

“Iya dong! Kakak kan udah nikah.”

“Terus?”

“Ya harusnya kamu lebih sopan sama kakak.”

“Ogah.”

“Ya Allah...” Zaskia geleng-geleng kepala gemas.

Zaid malah terkekeh kecil melihat ekspresi kesal kakaknya. “Bang Aryan enggak ikut?”

“Tadi udah kakak bilang, lagi rapat.”

“Hm.” Zaid kembali memainkan ponselnya. “Tumben abang ipar bucin itu mau jauh dari kakak.”

Zaskia langsung mencubit lengan adiknya pelan. “Ih apaan sih!”

“Aw! Sakit tau!”

“Makanya jangan ngomong sembarangan.”

Zaid meringis sambil mengusap lengannya. “Tapi emang bener kan.”

Zaskia mendengus pelan, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos dari bibirnya.

Di tempat lain, di kampus menjelang sore hari, rapat BEM akhirnya selesai.

Beberapa anggota langsung memutuskan pulang begitu rapat ditutup, sementara sebagian lainnya masih bertahan di markas untuk membahas ulang hasil diskusi tadi.

Aryan tampak bersiap meninggalkan ruangan. Sambil berjalan, matanya tertuju pada layar ponsel membaca pesan terakhir dari Zaskia.

Senyum di bibir laki-laki itu mengembang tipis.

Seorang gadis yang duduk tak jauh darinya memperhatikan dengan pandangan terluka.

Dadanya terasa sesak sejak beberapa jam lalu, sejak Aryan terang-terangan mengakui bahwa dirinya sudah menikah.

Hati Giska seperti diremas.

Perlahan, air mata menetes dari kedua matanya. Jika saja tidak ada orang lain di sana, mungkin tangisnya sudah pecah sejak tadi.

“Bro, gue balik duluan ya!”

“Iya, hati-hati lo. Titip salam sama orang rumah.”

“Ogah! Enak aja.” Aryan terkekeh kecil. “Balik gue. Assalamu’alaikum.”

“Hahaha. Wa’alaikumsalam.”

Aryan tersenyum geli menanggapi godaan teman-temannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari markas.

“Aryan, tunggu.” Suara Giska membuat langkah Aryan terhenti.

Ia yang tadinya hendak membalas pesan Zaskia akhirnya menurunkan ponselnya lalu menoleh ke belakang.

Giska sudah berdiri di dekatnya.

Aryan diam, menunggu gadis itu berbicara.

“Maafin sikap gue waktu itu.”

Aryan mengembuskan napas pelan. “Lupain aja. Gue udah maafin lo kok.”

“Selamat ya buat pernikahan lo,” ucap Giska lirih. Meski berusaha terdengar biasa, suaranya tetap bergetar.

“Makasih, Gis.”

Giska menunduk. Bulir bening jatuh begitu saja menimpa lantai.

“Bahagia buat lo dan istri lo ya,” lanjutnya pelan. “Gue pamit.”

Setelah mengatakan itu, Giska langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Aryan.

“Giska.” Langkah gadis itu terhenti.

Namun ia tidak membalikkan badan. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang semakin menjadi.

“Maafin gue ya,” ujar Aryan pelan.

Kalimat itu justru membuat dada Giska semakin sesak.

Dengan susah payah, gadis itu memaksakan senyum kecil walau Aryan tidak bisa melihatnya.

Ia hanya mengangguk pelan sambil mengangkat ibu jarinya kecil ke udara.

Beberapa detik kemudian, Giska kembali berjalan menjauh.

Semakin jauh langkahnya, semakin pecah pula tangis yang sedari tadi ia tahan.

Aryan hanya bisa diam memandang kepergian gadis itu.

Ada rasa tidak enak di hatinya. Karena ia tau bagaimana rasanya mencintai seseorang sendirian.

Aryan pernah berada di posisi itu. Pernah berharap pada seseorang yang tidak bisa ia miliki sepenuhnya.

Namun kini semuanya berbeda. Cintanya sudah jatuh.

Bahkan mungkin habis tertumpah seluruhnya pada gadis kecil yang dulu sering ia jahili semasa kecil itu.

Gadis yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya.

***

Langit senja telah berganti malam.

Rintik hujan mulai turun perlahan, mengetuk genting rumah dan jendela kaca dengan suara yang menenangkan.

Di ruang keluarga, suasana terasa hangat.

Ayah, Bunda, dan Zaid sedang mengobrol santai sambil menikmati teh hangat dan camilan yang sejak tadi memenuhi meja.

Namun di tengah keramaian itu, Zaskia justru tampak gelisah.

Matanya beberapa kali melirik layar ponsel.

Belum ada pesan baru dari Aryan. Padahal laki-laki itu sudah berjanji akan menjemputnya sore tadi.

Bukan karena ia tidak betah berada di rumah orang tuanya.

Justru sebaliknya. Ia hanya khawatir.

Hujan di luar semakin deras. Jalanan pasti licin dan macet. Belum lagi Aryan yang sejak pagi terlihat begitu sibuk.

“Astaghfirullah...” lirih Zaskia pelan sambil menggigit ujung jarinya sendiri.

“Kakak kenapa sih dari tadi liat HP terus?” tegur Zaid dari sofa sebelah.

Zaskia langsung menoleh. “Enggak apa-apa.”

“Nyari Bang Aryan ya?”

“Enggak.”

“Bohong banget,” sahut Zaid cepat.

Bunda Ayesha yang sedari tadi memperhatikan putrinya ikut tersenyum kecil. “Khawatir sama suami sendiri wajar.”

Wajah Zaskia langsung memerah.

“Kia cuma takut Kak Aryan kehujanan, Bun.”

“Ya tinggal telepon.”

“Nanti ganggu.”

Zhafran yang sedang menyeruput teh ikut menimpali santai. “Kalau laki-laki udah punya istri, dihubungin istrinya itu bukan gangguan.”

“Iya tuh,” sahut Zaid mengangguk sok bijak.

Zaskia mendengus kecil. “Tumben kamu ngomong bener.”

“Emang aku selalu bener.”

“Pede banget.”

Suasana kembali diisi tawa kecil keluarga itu.

Namun baru beberapa menit berlalu, suara motor akhirnya terdengar samar dari luar rumah.

Jantung Zaskia langsung berdebar. Ia refleks bangkit berdiri bersamaan dengan suara pagar yang dibuka.

“Itu kayaknya Bang Aryan,” celetuk Zaid.

Tanpa sadar, Zaskia sudah lebih dulu berjalan cepat menuju pintu depan.

Begitu pintu dibuka, udara dingin bercampur aroma hujan langsung menerpa wajahnya.

Dan di sana—Aryan berdiri dengan jaket yang sedikit basah di bagian bahu dan rambut yang lembap terkena gerimis.

Senyumnya langsung terbit begitu melihat Zaskia.

“Assalamu’alaikum.”

Zaskia mengembuskan napas lega begitu saja.

Perasaan sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya langsung luruh.

“Wa’alaikumsalam...” jawabnya pelan.

Aryan mengernyit kecil. “Kok mukanya begitu?”

“Kia kira Kakak kenapa-napa.”

Aryan tersenyum lembut. Lalu tanpa peduli ada keluarga Zaskia di dalam rumah, laki-laki itu mengusap pelan kepala istrinya.

“Maaf bikin khawatir.”

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu cukup membuat hati Zaskia menghangat lagi.

“Malam banget pulangnya. Ada kelas tambahan atau rapat, Yan?” tanya Ayesha begitu Aryan masuk ke ruang keluarga.

“Iya tadi kelas agak telat, Bun. Terus ada rapat juga sama anggota BEM,” jawab Aryan sambil meletakkan dua kotak martabak yang ia bawa ke atas meja.

Sebelum duduk, matanya menangkap Zaid yang sejak tadi sudah menatap martabak itu penuh harap.

Aryan terkekeh kecil. “Makan aja, Za.”

Zaid langsung nyengir malu karena ketahuan. “Serius nih?”

“Ambil aja.”

“Bang Aryan memang terbaik!” seru Zaid semangat sebelum buru-buru membuka kotaknya.

Aryan hanya geleng-geleng geli lalu duduk di samping Zaskia.

Tanpa sadar, tangannya langsung mencari jemari istrinya dan menggenggamnya erat di bawah meja.

“Mau bikin kegiatan apa?” tanya Zhafran penasaran.

“Demo, Yah.”

“Demo tentang Suryono sama kebijakan pemerintah itu ya?”

Aryan tampak sedikit terkejut. “Ayah tau?”

“Ayah ngikutin perkembangannya.” Zhafran menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Ayah juga lihat berita. Hampir seluruh kampus di Indonesia sekarang bikin petisi buat menghukum mati Suryono dan menghapus undang-undang yang dianggap timpang sebelah.”

Aryan mengangguk pelan.

“Masalahnya pemerintah kayak belum, atau mungkin enggak mau, nanggepin serius.” Zhafran menghela napas. “Suryono cuma dihukum lima tahun penjara dan denda satu miliar. Jelas enggak sebanding sama kejahatan yang dia lakukan.”

“Iya, Yah,” sahut Aryan serius. “Makanya mahasiswa turun. Kita mau pemerintah benar-benar buka mata.”

Zhafran mengangguk setuju. “Bagus. Ayah dukung selama demonstrasinya tetap tertib dan tujuan kalian jelas.”

“Insya Allah, Yah. Doain lancar ya.”

“Pasti.”

Di sisi lain, Ayesha dan Zaskia hanya diam mendengarkan.

Keduanya memang tidak terlalu mengikuti isu politik yang sedang ramai dibicarakan, tapi mereka tetap memperhatikan obrolan dua laki-laki itu.

Sementara itu, Zaid sudah sepenuhnya fokus pada martabak di tangannya sambil menonton televisi.

“Ya Allah enak banget...” gumamnya dengan mulut penuh.

“Pelan-pelan makannya,” tegur Ayesha geli.

Namun berbeda dengan suasana santai di sekelilingnya, hati Zaskia justru mulai terasa tidak tenang.

Tangannya yang berada dalam genggaman Aryan perlahan terasa dingin.

Demo. Turun ke jalan. Kerumunan massa.

Entah kenapa, semua itu terdengar menakutkan baginya.

Apalagi akhir-akhir ini berita tentang demonstrasi sering berakhir ricuh.

Pikiran Zaskia mulai ke mana-mana.

Bagaimana kalau Aryan terluka?

Bagaimana kalau terjadi keributan?

Bagaimana kalau—

“Kia?” Suara Aryan membuat Zaskia tersentak kecil.

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

Zaskia cepat-cepat menggeleng sambil memaksakan senyum kecil. “Enggak apa-apa.”

Aryan menatap istrinya beberapa detik lebih lama.

Laki-laki itu jelas sadar ada sesuatu yang mengganggu pikiran Zaskia, tetapi ia memilih tidak bertanya sekarang karena masih ada Ayah dan Bunda di sana.

Sebagai gantinya, Aryan mengusap pelan punggung tangan Zaskia menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil yang seolah berkata—Aku di sini.

***

“Kak.”

“Iya?”

Pukul sepuluh malam, Aryan dan Zaskia akhirnya tiba di apartemen.

Begitu pintu berhasil dikunci, Aryan langsung mempercepat langkah menghampiri istrinya yang baru saja melepas hijab.

“Tadi kenapa lama? Rapatnya sampai malam banget?” tanya Zaskia penasaran.

Aryan hanya tersenyum kecil, lalu merangkul pinggang perempuan itu menuju kamar. “Kakak punya sesuatu buat kamu.”

Kening Zaskia langsung berkerut bingung.

Bukannya menjawab pertanyaannya, Aryan malah mengalihkan pembicaraan.

Begitu tiba di kamar, langkah Zaskia langsung terhenti.

Di atas ranjang, terdapat dua pasang pakaian bayi mungil yang tampak begitu lucu dan menggemaskan.

“Kak...”

Aryan nyengir sambil mengusap tengkuknya sendiri. “Tadi gak sengaja lewat toko bayi,” ucapnya santai. “Terus gak tau kenapa pengen masuk. Makanya kakak lama jemput kamu.”

“Enggak sengaja, tapi sampai bawa pulang dua baju?”

Aryan malah terkekeh. Ia kemudian menggandeng tangan Zaskia mendekati ranjang.

“Bagus enggak?” Aryan duduk di tepi ranjang, mengambil salah satu jumper bayi berwarna krem lembut lalu menunjukkannya pada Zaskia.

“Bagus...” gumam Zaskia pelan sambil menerima baju itu. “Imut banget.”

Tatapannya langsung menelisik detail kecil pada pakaian mungil tersebut.

“Kakak beli apa aja?”

“Cuma baju sama susu hamil. Susunya ada di dapur.”

Mata Zaskia langsung melebar. “Ya ampun, Kak... jadi kakak cari susu juga?”

Aryan mengangguk sambil tersenyum kecil.

Setelah itu, laki-laki itu bangkit berdiri dan memeluk Zaskia dari belakang.

“Maaf ya udah bikin istri kakak kelamaan nunggu.”

Zaskia tersenyum tipis. “Gapapa kok. Tapi lain kali bilang kalau mau beli beginian. Kia juga pengen ikut.”

“Iya, tadi beneran dadakan.”

Zaskia kembali memperhatikan pakaian bayi di tangannya. “Tapi, Kak... apa enggak kecepetan belinya? Kia aja belum periksa. Kita juga belum tau anak kita cewek apa cowok.”

“Besok pulang kampus kita periksa ke bidan ya,” jawab Aryan lembut. “Lagipula bajunya netral kok. Cewek cowok bisa pakai.”

“Iya sih...” Zaskia mengangguk kecil.

Beberapa detik kemudian ia kembali teringat sesuatu. “Oh iya... demonya kapan?”

“Lusa.”

“Kakak ikut?”

“Iya.”

Aryan meletakkan dagunya di bahu Zaskia. Wajahnya tenggelam di tengkuk perempuan itu sementara kedua tangannya turun mengusap lembut perut sang istri yang masih rata.

“Kia juga ikut ya?”

“Jangan, sayang.” Aryan langsung menolak halus. “Kamu lagi hamil. Nanti kecapekan.”

“Kia duduk aja di sana.”

“Di sana ramai.” Aryan terkekeh kecil. “Kamu mau duduk di mana? Badan kamu mungil begini, yang ada nanti keinjek orang.”

“Ih, emang Kia sekecil itu apa?”

Aryan tertawa pelan. “Kamu wangi banget, Kia.”

Hidungnya makin dalam menyentuh tengkuk Zaskia membuat perempuan itu langsung salah tingkah.

“Kak...”

“Apa, sayangku?”

Pipi Zaskia perlahan memerah. Padahal tadi ia masih biasa saja.

“Jangan ikut demo ya?”

Namun Aryan justru menjawab dengan suara lirih di dekat telinganya. “Kakak kangen, Kia.”

Jawabannya sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Zaskia.

Sebelum perempuan itu sempat protes, Aryan perlahan membalik tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu. Hangat. Teduh.

Aryan mengusap pipi Zaskia pelan sebelum akhirnya mengecup bibir perempuan itu singkat dan lembut.

Kedua tangan besarnya menangkup rahang Zaskia penuh hati-hati seolah menjaga sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Zaskia refleks menangkup pergelangan tangan suaminya.

Aryan kemudian melepaskan kecupan itu perlahan.

Kening mereka saling menempel.

Hidung keduanya beradu tipis.

Tatapan Aryan terlihat begitu dalam saat menatap istrinya.

“Kakak sayang banget sama kamu,” bisiknya lirih. “Jangan tinggalin kakak, ya.”

Jantung Zaskia langsung berdegup lebih cepat. Perempuan itu mengangguk kecil dengan mata yang mulai menghangat.

Aryan tersenyum tipis, lalu kembali mengecup kening istrinya lama seolah ingin menenangkan segala ketakutan yang sejak tadi memenuhi hati perempuan itu.

1
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
Ayu Oktaviana
selamat untuk kia dan aryan😍😍.. kita tinggal tunggu arshaf nih
Fegajon: kurang lebih begitu 😛
total 3 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lengkap sudh kbhgian pasangan ini.slmat ya kia Aryan 🥰🥰
Syti Sarah
ciie yg udh di blas cinta nya sama istri 🥰
Syti Sarah
prsis kyak Abi nya ya aryan ini.tpi klau udh sah,bda bnget sifat nya sama istri nya .jdi syang ,bucin bnget sama istri nya .eeeh,udh mulai brani ya kia😁😁
Syti Sarah: iya btul bnget kak 😊
total 4 replies
Syti Sarah
ciie yg msak untuk pak suami 🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah terlambat kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!