NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bukti yang Mengarah pada Ghazali

​Hujan badai malam ini terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori kulitku. Aku berlutut di atas aspal yang kasar, memangku kepala Ghazali yang terkulai tak berdaya. Wajah pria yang biasanya memancarkan keangkuhan absolut itu kini sepucat kertas perkamen. Napasnya terdengar seperti suara kertas pasir yang digesekkan—dangkal, serak, dan putus-putus.

​"Ghazali! Buka matamu! Kumohon, tatap aku!" teriakku, suaraku pecah dan tenggelam oleh gemuruh guntur.

​Aku tidak berani menyentuh tangan kanannya. Kulit telapak tangannya telah memutih dengan pinggiran merah yang melepuh mengerikan akibat paparan Asam Hidrofluorik murni. Sebagai dokter forensik, bayangan tentang ion fluorida yang sedang menggerogoti aliran darahnya, mengikat kalsium, dan mematikan fungsi otot jantungnya secara perlahan, membuat kewarasanku nyaris hancur.

​Aku meraba denyut nadi di lehernya. Sangat lemah. Aritmia jantungnya sudah mencapai tahap fibrilasi ventrikel—jantungnya tidak lagi memompa darah, melainkan hanya bergetar tanpa ritme.

​Tiba-tiba, sorot lampu sorot yang sangat menyilaukan menembus tirai hujan dari ujung jalan. Sebuah mobil SUV hitam melaju kencang dan mengerem mendadak hanya beberapa meter dari tempat kami berada, diikuti oleh sebuah ambulans dengan sirene yang melolong membelah malam.

​Pintu SUV terbuka. Komisaris Herman melompat keluar bersama dua orang petugas medis yang membawa tandu dorong.

​"Dokter Keana!" Herman berlari menghampiriku, wajah tuanya diguyur hujan. "Kami melacak pergerakan sinyal GPS dari mobil Maia sejak keributan di Pengadilan Agama tadi pagi. Syukurlah kami tidak terlambat!"

​"Dia butuh injeksi Kalsium Glukonat sekarang juga, Komisaris! Tangan kanannya terpapar Asam Hidrofluorik 70 persen!" teriakku dengan artikulasi cepat dan tajam kepada paramedis yang berlutut di sampingku. "Dia mengalami hipokalsemia akut! Jantungnya akan berhenti jika kalian tidak menetralkan ion fluoridanya!"

​Salah satu paramedis, seorang pemuda yang tampak panik melihat kondisi Ghazali, gemetar saat mencoba mencari pembuluh vena di lengan kiri suamiku. Tangannya licin oleh air hujan.

​"Menyingkir!" Aku menyambar jarum suntik dan ampul Kalsium Glukonat 10% dari kotak P3K mereka.

​Dengan tangan yang mati rasa karena dingin, aku memfokuskan seluruh insting profesionalku. Aku mengikat turniket di lengan kiri Ghazali, menepuk urat venanya, dan menusukkan jarum dengan presisi yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang terbiasa membedah anatomi manusia.

​"Bertahanlah, Mas. Kumohon... jangan tinggalkan aku dengan cara pengecut seperti ini," bisikku tepat di telinganya saat aku mendorong cairan penawar itu masuk ke dalam aliran darahnya.

​Ghazali tidak merespons. Matanya terpejam rapat. Monitor portabel yang dipasang paramedis di dadanya tiba-tiba mengeluarkan bunyi dengung panjang yang lurus. Flatline.

​"Henti jantung!" teriak paramedis. "Siapkan defibrilator!"

​Duniaku berhenti berputar. Udara di sekitarku seolah ditarik paksa ke ruang hampa. Aku didorong mundur oleh Komisaris Herman saat paramedis merobek sisa kemeja Ghazali dan menempelkan pad elektroda di dadanya yang basah.

​"Clear!"

​Tubuh tegap Ghazali tersentak keras ke atas aspal akibat aliran listrik bertegangan tinggi. Namun monitor masih menunjukkan garis lurus.

​"Naikkan ke 200 Joule! Clear!"

​Hantaman kedua. Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah, air mataku mengalir deras bercampur dengan hujan. Actus reus—perbuatan jahat—yang dirancang oleh Maia dan Nyonya Ratna malam ini benar-benar tidak memiliki belas kasihan. Mereka tidak hanya ingin menyingkirkanku, mereka bersedia mengorbankan darah daging mereka sendiri.

​Bunyi bip... bip... bip... yang pelan namun teratur akhirnya terdengar dari monitor.

​"Nadinya kembali! Segera angkat ke ambulans!"

​Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan, tubuhku merosot ke pelukan Komisaris Herman. Kami berhasil menariknya dari tepi jurang kematian, meskipun aku tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

​Pukul 04.30 pagi, RS Bhayangkara.

​Bau khas disinfektan rumah sakit mengapung di udara, menusuk hidungku yang sudah terbiasa dengan aroma formalin. Aku duduk di bangku plastik panjang di depan ruang Intensive Care Unit (ICU). Tubuhku dibalut selimut rumah sakit, namun aku tidak bisa berhenti menggigil. Luka sayatan di bahuku sudah dijahit dengan lima jahitan, rasa perihnya berdenyut seirama dengan detak jantungku.

​Melalui dinding kaca berembun, aku menatap sosok Ghazali. Pria yang selama ini terlihat seperti bangsawan hukum yang tak tersentuh itu, kini terbaring lemah dengan selang intubasi yang dimasukkan ke tenggorokannya. Tangan kanannya dibalut perban tebal berlapis salep khusus luka bakar kimia.

​Aku menempelkan telapak tanganku di kaca dingin itu. "Malam tanpa sentuhan," gumamku lirih, mengulangi kata-kata terakhirnya. Di ranjang rumah sakit ini, kami kembali dipisahkan oleh dinding kaca.

​Suara langkah kaki yang tertatih membuatku menoleh. Adrian, asistenku, berjalan menyusuri lorong dengan tiang infus yang ia dorong sendiri. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan.

​"Dokter Keana," sapa Adrian pelan.

​"Adrian! Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya masih istirahat di ruang rawat!" aku segera bangkit dan memapahnya.

​"Saya dengar dari perawat tentang apa yang terjadi pada Jaksa Ghazali," Adrian melirik ke arah ruang ICU. "Apakah dia... apakah dia menyelamatkan Anda?"

​Aku mengangguk pelan. Air mataku kembali menetes. "Dia merusak panel pintu baja itu menggunakan asam hidrofluorik agar aku bisa keluar, Adrian. Dia mengorbankan tangannya... mengorbankan nyawanya, agar kita bisa membawa kebenaran ini."

​Aku merogoh saku blazer basahku yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik klip oleh perawat. Aku mengeluarkan sebuah wadah kedap udara yang berisi serpihan os femur—tulang paha kakek Ghazali.

​Aku meletakkan wadah itu ke tangan Adrian yang tidak diinfus. "Bawa ini ke laboratorium toksikologi. Kunci pintunya dari dalam. Ekstraksi residunya menggunakan pelarut organik, lalu masukkan ke dalam mesin spektrometri massa. Kita harus menemukan endapan Digitalis di dalam sumsum tulang ini sebelum Maia mengetahui bahwa kita berhasil membawanya keluar."

​Adrian menggenggam wadah itu erat-erat. "Saya mempertaruhkan nyawa saya untuk ini, Dok. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh tulang ini selain tim kita."

​Setelah Adrian pergi, Komisaris Herman muncul dari arah lift. Namun, ekspresi detektif veteran itu tidak menunjukkan kelegaan. Wajahnya gelap, langkahnya berat, dan ia membawa sebuah map merah berstempel 'KILAT' di tangannya.

​"Komisaris? Bagaimana penggeledahan di rumah Mahendra?" tanyaku penuh harap. "Kalian menemukan sisa tulang di bunker itu? Kalian sudah menahan Nyonya Ratna dan Maia?"

​Herman berhenti di depanku. Ia menghela napas panjang, menatapku dengan sorot mata penuh belas kasihan. "Dokter Keana... sebaiknya Anda duduk dulu."

​Firasat buruk seketika mencekik leherku. Aku menggeleng. "Katakan padaku apa yang kalian temukan di locus delicti itu."

​"Itulah masalahnya, Dok," Herman membuka map merahnya. "Kami menerobos masuk ke rumah itu setengah jam setelah kalian dibawa ke rumah sakit. Tapi bunker bawah tanah itu bersih. Sangat bersih. Tidak ada bak seng, tidak ada tumpukan tulang, tidak ada sisa cairan asam. Bahkan sistem ventilasinya sudah disemprot dengan ozon konsentrasi tinggi."

​"Itu tidak mungkin!" aku memekik tertahan. "Kami berada di sana! Kami nyaris mati keracunan Sevoflurane!"

​"Saya percaya pada Anda. Tapi secara hukum, tidak ada bukti fisik kejahatan di ruangan itu," potong Herman cepat. "Yang lebih buruk lagi... kami menemukan sebuah brankas rahasia di balik lukisan di ruang kerja Ghazali."

​Aku mengerutkan dahi. "Brankas? Ghazali bilang padaku ada brankas berisi bukti kejahatan ibunya di bawah lantai kayu, kodenya adalah tanggal kematian kakeknya."

​Herman menatapku dengan pedih. "Brankas di bawah lantai kayu itu sudah kosong melompong. Yang kami temukan adalah brankas kedua. Dan isinya... diletakkan di sana dengan sengaja agar kami menemukannya."

​Herman mengeluarkan beberapa lembar foto barang bukti dari dalam map. Ia menyerahkannya padaku dengan tangan sedikit gemetar.

​Mataku menyapu lembaran foto tersebut, dan duniaku runtuh seketika.

​Foto pertama menunjukkan sebuah jaket kulit berwarna hitam yang sangat kukenal—itu jaket milik Bramasta Putra, staf ahli Ghazali yang tewas. Di kerahnya terdapat noda darah yang sudah mengering. Foto kedua adalah lencana timbangan emas milik Kejaksaan yang hilang, benda yang sama persis dengan yang kutemukan di mulut Bram saat otopsi.

​Dan foto ketiga... adalah selembar kuitansi transfer uang dari rekening offshore ke rekening pasar gelap untuk pembelian 10 liter Asam Hidrofluorik dan dua tabung gas Sevoflurane. Nama yang tertera di kuitansi itu tercetak tebal: Ghazali Mahendra.

​"Ini jebakan," bisikku. Tanganku bergetar begitu hebat hingga lembaran foto itu berjatuhan ke lantai. "Maia... wanita iblis itu memanipulasi locus delicti! Mereka menyingkirkan bukti yang mengarah pada Nyonya Ratna dan meletakkan bukti palsu untuk menjebak Ghazali!"

​"Maia Anindita baru saja mendatangi Bareskrim Polri satu jam yang lalu," suara Herman berubah menjadi formal, sebuah prosedur yang harus ia sampaikan. "Dia menyerahkan sebuah rekaman suara pertengkaran antara Ghazali dan Bramasta, di mana Ghazali terdengar mengancam akan 'membungkam' Bram jika dia membocorkan rahasia keluarga. Maia bersaksi bahwa Ghazali adalah dalang pembunuhan kakeknya sendiri demi mempercepat warisan, dan membunuh Bram untuk menutupi jejaknya."

​Aku mencengkeram lengan seragam Herman. "Komisaris, Anda tahu itu tidak benar! Ghazali mengorbankan nyawanya malam ini untuk menghancurkan mereka! Dia ada di ruang ICU karena dia berusaha melindungiku dari racun itu!"

​"Secara hukum, luka bakar kimia yang dialami Ghazali akan dikonstruksikan oleh Maia sebagai 'kecelakaan kerja' saat Ghazali sedang berusaha melarutkan tulang kakeknya sendiri di bunker," jelas Herman, mengucapkan narasi memuakkan yang sudah disusun rapi oleh pihak antagonis.

​Herman menatapku lekat-lekat. "Surat perintah penahanan dari Kejaksaan Agung dan Bareskrim sudah ditandatangani, Dokter Keana. Status suamimu kini bukan lagi saksi. Ghazali Mahendra secara resmi ditetapkan sebagai tersangka utama kasus pembunuhan berencana terhadap Bramasta Putra dan pembunuhan kakeknya sendiri."

​Kata-kata 'Tersangka Pembunuhan Berencana' bergema di kepalaku bagaikan dentang lonceng kematian.

​"Begitu masa kritisnya lewat dan dia sadar," lanjut Herman dengan nada menyesal, "anggota saya akan memborgolnya ke ranjang ini. Dia tidak diizinkan menerima kunjungan, bahkan dari Anda."

​"Kau tidak bisa melakukan ini padanya!" aku meronta, air mataku meledak. "Dia tidak bersalah! Ibumu dan Maia yang melakukannya!"

​"Hukum bekerja berdasarkan bukti, Keana, bukan berdasarkan air mata," sebuah suara merdu yang dipenuhi bisa tiba-tiba menyela dari ujung lorong.

​Aku dan Herman menoleh serentak.

​Maia Anindita berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan keanggunan yang menjijikkan. Ia mengenakan mantel putih panjang yang bersih tanpa noda, rambutnya tergerai rapi. Ia diapit oleh dua orang pengacara berjas dari firma hukumnya. Aroma parfum mawarnya langsung mencekik sirkulasi udaraku.

​"Kau..." aku melangkah maju, ingin merobek wajah cantiknya dengan kedua tanganku sendiri, namun Komisaris Herman menahan bahuku.

​"Tahan emosimu, Dokter. Dia datang sebagai kuasa hukum Nyonya Ratna yang resmi melaporkan pencurian dan perusakan properti di kediamannya," bisik Herman memperingatkan.

​Maia berhenti tepat di depanku. Ia melirik sekilas ke arah ruang ICU, menatap tubuh Ghazali yang bergantung pada mesin penyokong kehidupan. Sebuah senyum tipis—senyum seorang pemenang yang berdiri di atas penderitaan orang lain—tersungging di bibirnya.

​"Menyedihkan sekali," gumam Maia. "Seorang Jaksa Penuntut Umum yang brilian, kini berakhir sebagai tersangka pembunuhan dengan masa depan membusuk di sel isolasi. Jika saja dia tidak keras kepala dan patuh pada ibunya, dia mungkin masih bisa memakai jubah kebesarannya besok pagi."

​"Kau memanipulasi bukti. Kau menjebaknya dengan kuitansi palsu dan rekaman palsu," desisku dengan rahang yang mengeras. "Kau benar-benar tidak punya hati Nurani, Maia. Kau menghancurkan pria yang pernah mencintaimu."

​Maia mengalihkan pandangannya dari kaca ICU ke wajahku. Tatapannya sedingin pisau bedah. "Di dunia hukum, kita tidak bermain dengan hati nurani, Dokter. Kita bermain dengan narasi. Dan narasiku malam ini jauh lebih meyakinkan daripada narasimu."

​Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh kami berdua. "Ghazali selalu rela berkorban untuk hal yang ia anggap berharga. Kau tahu itu, bukan? Di dermaga, dia mengorbankan egonya demi asistenmu. Di bunker, dia mengorbankan tangannya demi nyawamu. Aku hanya... memberinya panggung yang lebih besar untuk pengorbanannya. Dia akan masuk penjara menggantikan ibunya, dan keluarga Mahendra akan tetap bersih. Itu adalah akhir yang puitis."

​"Aku tidak akan membiarkanmu menang," aku menatapnya tanpa berkedip. Kemarahan murni telah membakar habis semua kesedihanku. "Aku memiliki tulang kakeknya. Tulang itu ada di laboratoriumku sekarang. Mesin spektrometri massa akan membaca kadar Digitalis yang kau berikan pada pria tua itu, Maia. Begitu hasilnya keluar, aku akan menyeretmu ke pengadilan."

​Mendengar itu, Maia justru tertawa renyah. Tawa yang menggema di lorong sepi itu membuat darahku kembali berdesir dingin.

​"Tulang yang kau ambil tanpa surat perintah penggeledahan? Tulang yang kau patahkan tanpa disaksikan oleh penyidik resmi di lokasi kejadian?" Maia menggeleng pelan, menatapku dengan kasihan yang dibuat-buat. "Dokter Keana yang malang. Di dalam hukum acara pidana, apa yang kau miliki itu disebut sebagai Fruit of the Poisonous Tree—buah dari pohon yang beracun."

​Maia melangkah mundur, melipat tangannya di dada. "Kau menerobos masuk ke properti pribadi secara ilegal. Kau mengambil benda yang kau klaim sebagai 'bukti' tanpa rantai komando (chain of custody) yang sah. Pengacara mana pun—bahkan mahasiswa hukum semester satu—akan dengan mudah mematalkan bukti itu di pengadilan. Hakim tidak akan pernah menerima hasil laboratoriummu. Buktimu itu sampah hukum."

​Aku terdiam. Fakta hukum itu memukulku telak. Maia benar. Prosedur perolehan alat bukti sangat krusial di persidangan. Bukti yang diperoleh secara ilegal tidak akan diakui.

​"Nikmati sisa waktumu menatapnya dari balik kaca, Dokter," Maia membalikkan badan, melangkah pergi bersama para pengacaranya. "Karena begitu dia sadar, suamimu itu adalah milik negara. Dan kau... kau hanyalah janda dari seorang pembunuh."

​Langkah kaki Maia perlahan menghilang ditelan belokan lorong.

​Aku kembali menatap kaca pembatas ICU. Di dalam sana, dada Ghazali naik turun dibantu oleh ventilator. Udara di sekitarku terasa sangat dingin, namun dadaku serasa terbakar oleh api dendam yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

​Aku meletakkan telapak tanganku di kaca, tepat sejajar dengan wajahnya.

​Ghazali telah mengorbankan segalanya untuk melindungiku dari dunia yang gelap ini. Ia membiarkan dirinya ditelan oleh lumpur fitnah agar aku tetap bersih. Ia membiarkan tubuhnya terbakar asam korosif agar paru-paruku bisa menghirup udara bebas.

​Air mataku jatuh menetes ke lantai, namun mataku tidak lagi memancarkan keputusasaan.

​"Kau bilang aku terlalu suci untuk dunia yang diatur oleh kebohongan, Mas," bisikku pada pantulan wajahku sendiri di kaca. "Tapi kau lupa satu hal. Seorang dokter forensik terbiasa membedah kebusukan hingga ke akarnya."

​Aku berbalik, menatap Komisaris Herman yang sedari tadi diam mengamati. "Komisaris, siapkan formulir BAP. Aku akan memberikan kesaksian resmiku sekarang. Dan pastikan tim laboratorium Anda siap mendukung hasil tes toksikologi dari asistenku."

​"Tapi Dokter, Maia benar," sela Herman khawatir. "Bukti tulang itu—"

​"Hukum mungkin akan menolak tulang itu sebagai alat bukti pidana," potongku dengan ketegasan yang mutlak, "tapi media massa dan opini publik tidak peduli pada rantai komando hukum. Jika hukum gagal memberikan keadilan, maka aku akan menciptakan pengadilan sosiologis yang akan menghancurkan reputasi mereka hingga ke akar-akarnya."

​Aku melangkah menjauhi ruang ICU, meninggalkan kesedihan dan kelemahanku di depan pintu kamar itu. Ranjang pernikahan kami mungkin telah hancur, namun perang ini belum usai. Jika Nyonya Ratna dan Maia ingin bermain dengan manipulasi dan ilusi, maka mereka akan melihat apa yang terjadi ketika seorang ahli forensik memutuskan untuk berhenti menjadi korban, dan mulai menjadi pemburu.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!