Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Geng Violet
Bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring. Suasana kelas langsung berubah ricuh. Kursi bergeser, murid-murid mulai keluar sambil bercanda. Marsya langsung berdiri sambil menarik tangan Maya.
“Ayo ke kantin!”
Maya refleks menarik tangannya pelan. “Gue nyusul.”
Marsya mengernyit. “Lo nggak lapar?”
“Masih kenyang.”
Padahal sebenarnya Maya cuma belum terbiasa berada di keramaian sekolah seperti ini. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak orang.
Marsya akhirnya mengangguk. “Yaudah, gue beli minum dulu.”
Begitu Marsya keluar, suasana kelas jadi lebih sepi. Maya bersandar santai di kursi sambil memutar pulpen di jarinya. Namun baru beberapa menit berlalu, pintu kelas dibuka kasar.
BRAKK!
Sekelompok siswi modis masuk dengan langkah penuh percaya diri. Seragam mereka dimodifikasi ketat, wajah full makeup tipis, dan aroma parfum mahal langsung memenuhi ruangan. Geng Violet.
Murid-murid lain langsung saling pandang dan buru-buru menyingkir. Beberapa bahkan memilih keluar kelas.
Di tengah mereka berdiri Angel. Ketua geng sekaligus biang masalah terbesar di sekolah. Rambut panjang bergelombang, bibir merah menyala, dan tatapan penuh kesombongan. Di belakangnya ada Ziva.
Saat melihat mereka, kepala Maya langsung berdenyut keras.
Deg.
Potongan-potongan ingatan asing kembali menyerbu pikirannya. Toilet sekolah yang gelap, tawa mengejek, air pel dingin mengguyur tubuh, sundutan rokok di lengan, dan suara tangisan Maya asli yang gemetar ketakutan.
“Kok nangis sih?”
“Dasar babu!”
“Eh ambilin sepatu gue!”
Mata Maya perlahan berubah dingin. Ingatan itu terasa begitu nyata sampai membuat dadanya sesak. Jadi ini orang-orangnya. Orang-orang yang menghancurkan hidup Maya asli perlahan-lahan setiap hari.
Angel menyilangkan tangan sambil menyeringai sinis. “Beranu banget lo balik ke sekolah.”
Tak ada jawaban. Maya hanya menatap mereka satu per satu. Tatapannya begitu tajam sampai beberapa anggota Geng Violet langsung merasa tidak nyaman.
Ziva bahkan refleks menelan ludah. Karena ini bukan tatapan Maya yang dulu. Bukan gadis lemah yang selalu menunduk ketakutan. Tatapan Maya sekarang terasa seperti pisau.
Angel langsung kesal melihatnya. “Liat apa lo, hah?"
Maya bersandar santai di kursi. “Lagi lihat sampah numpuk.”
Beberapa anggota geng langsung tersinggung.
“Berani banget dia sekarang.”
“Kayaknya seminggu ilang bikin otaknya geser.”
Angel tertawa kecil dingin lalu melangkah mendekat. “Ayo ke kantin!"
Nada suaranya bukan ajakan. Tapi perintah. Ingatan Maya asli kembali muncul. Kantin belakang, Maya disuruh membawakan makanan, dipaksa membersihkan tumpahan minuman, dan dilempar saus sambal karena dianggap lambat. Mata Maya makin dingin.
“Nggak mau,” jawabnya santai.
Suasana kelas langsung membeku. Ziva langsung melotot. Karena selama ini Maya tidak pernah menolak.
Angel sampai tertawa tak percaya. “Apa?”
“Gue bilang nggak mau.”
Angel menyipitkan mata. “Lo lupa posisi lo?”
Maya menatap lurus ke matanya. “Harusnya gue yang nanya begitu.”
Deg.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Maya, Angel merasa merinding. Tatapan gadis itu benar-benar berubah. Bukan cuma berani. Tapi seperti orang yang siap melakukan sesuatu yang gila kapan saja.
Ziva buru-buru maju. “Maya, jangan cari masalah!”
Maya langsung menoleh pelan ke arah saudara tirinya itu. Tatapannya membuat Ziva refleks mundur setengah langkah.
Ingatan Maya kembali muncul. Ziva ikut tertawa saat Maya dikurung di toilet. Ziva merekam saat seragam Maya diguyur air pel.
Ziva bilang,“Kalau gue jadi lo, mending mati aja.”
Jari Maya perlahan mengepal di bawah meja. Kalau Priska asli yang menghadapi orang seperti ini dulu, mungkin mereka sudah masuk rumah sakit.
Angel mendecakkan lidah kesal. “Lo sekarang mau sok ngelawan?”
Maya tersenyum tipis. “Bukan sok,” jawabnya pelan. “Emang mau ngelawan aja. Ini negara udah merdeka kan? Gue juga punya hak untuk merdeka kan?”
“Lo nantangin gue?”
“Kalau iya kenapa?”
Ruangan langsung makin tegang.
Beberapa murid yang mengintip dari luar kelas bahkan mulai panik.
“Anjir… Maya kesurupan apa?”
“Serem banget sumpah.”
Angel mulai kehilangan muka di depan anggota gengnya sendiri. Wajahnya berubah kesal.
“Lo pikir abis ilang seminggu terus bisa jadi jagoan?”
Maya malah terlihat malas. “Kalau mau gonggong, keluar aja. Kuping gue sakit!”
“LO—!”
Angel baru mau maju ketika salah satu anggota geng buru-buru menahan lengannya.
“Angel… udah…”
Entah kenapa bahkan mereka juga takut melihat ekspresi Maya sekarang. Tepat saat suasana memanas, suara cowok terdengar dari luar jendela kelas.
Semua menoleh. Seorang cowok tinggi dengan napas ngos-ngosan berdiri di luar sambil memegang bingkai jendela. Seragamnya sedikit berantakan seperti habis lari. Itu Axel.
Wakil ketua OSIS sekolah. Cowok itu langsung mencari sosok Maya dengan panik. Dan begitu mata mereka bertemu, wajah Axel langsung berubah lega luar biasa.
“Maya…”
Maya mengernyit kecil. Ingatan lain muncul lagi. Cowok ini sering diam-diam memperhatikannya. Pernah membantunya mengambil buku yang jatuh. Pernah memarahi senior yang mengganggu Maya. Sering terlihat ingin bicara tapi selalu gagal karena Maya asli terlalu tertutup.
Axel menatap Maya tanpa berkedip seolah memastikan dia benar-benar ada. “Lo…” napasnya masih sedikit terengah. “Lo masuk…”
Marsya yang baru balik dari kantin langsung muncul sambil membawa es teh.
“WOIII AXEL!” teriaknya heboh. “Lo nyari Maya dari tadi ya?!”
Wajah Axel langsung merah padam. “G-gue cuma—”
“Cuma apa?” goda Marsya jahil.
Angel langsung mendecakkan lidah kesal melihat Axel datang. Karena seluruh sekolah tahu Axel punya pengaruh besar. Bahkan guru-guru dekat dengannya karena dia murid teladan.
“Apaan sih rame-rame?” tanya Axel sambil masuk kelas.
Tatapannya langsung berpindah dingin ke Angel dan gengnya.
Angel langsung mengubah ekspresi jadi manis palsu. “Nggak ada kok.”
Padahal baru beberapa detik lalu dia hampir meledak.
Axel mengernyit curiga. “Serius?”
Maya malah menyahut santai, “Mereka tadi mau ngajak gue jalan-jalan.”
Marsya langsung melotot. “Hah?!”
Angel buru-buru tersenyum kaku. “Iya… ngajak ke kantin.”
Maya menyeringai tipis. “Terus gue tolak.”
Wajah Angel langsung berkedut. Axel memperhatikan semuanya cepat. Dia bukan orang bodoh. Dia tahu Maya sering diganggu Geng Violet selama ini. Namun biasanya Maya cuma diam.
Tatapan Axel perlahan berubah bingung. Maya benar-benar berbeda. Bahkan cara duduknya saja sekarang terlihat penuh percaya diri.
Angel akhirnya mendecakkan lidah kesal. “Udah yuk.”
Geng Violet mulai keluar satu per satu. Namun sebelum pergi, Ziva sempat menoleh ke Maya. Tatapan saudara tirinya itu penuh kebencian sekaligus takut.
Begitu mereka pergi, suasana kelas langsung pecah.
“ANJIR MAYA!”
“Lo kerasukan siapa?!”
“Keren banget tadi sumpah!”
Marsya bahkan sampai duduk di sebelah Maya sambil heboh sendiri. “Gue nggak nyangka lo bisa ngomong begitu ke Angel!”
Maya mengangkat bahu santai. “Emang kenapa kalau ngomong gitu?”
“Biasanya lo takut!”
Axel masih berdiri memperhatikan Maya diam-diam. Dadanya terasa aneh. Karena jujur saja, dia makin nggak bisa mengalihkan pandangan dari Maya sekarang.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔