Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Siapa Naja
Pagi itu harusnya langit berwarna cerah. Namun, kali ini suasana terasa berbeda, cuma di sekolah itu. Di atas sana, awan terlihat mendung sekali. Bahkan, seperti gedung sekolah menolak cahaya matahari untuk masuk ke dalam.
Seorang siswi iseng mengangkat topi dan seketika setetes demi setetes air hujan perlahan turun.
"Hujan!"
Mereka berlari kencang hampir bertabrakan satu sama lain. Semua seolah tidak peduli akan baju mereka yang basah kuyup kena hujan. Yang ada di pikiran mereka cuma bisa cepat sampai ke sekolah, karena ini hari pertama.
“Ya Ampun, padahal di ramalan cuaca, harusnya cerah lho.” Ray mendengus kesal.
Wira menanggapi dengan bingung. “Barusan mamaku ngechat, katanya di rumah cerah. Rumahku dekat loh dengan sekolah.”
“Aneh juga ya.” Keenan mengangguk setuju.
Karena terburu-buru, mereka tidak sadar hampir menabrak gerbang sekolah yang masih tutup rapat. Beberapa mendengus kesal dan mengusap wajah yang basah karena hujan.
"Percuma kita tadi buru-buru kalau sekolahnya masih belum dibuka," ucap Nando, salah satu siswa yang tadi ikut berlari di tengah hujan deras.
Semua mengangguk merasakan kekesalan yang sama. Salah satu siswi mendongakkan kepalanya, dia merasakan ada hawa aneh saat memandang sekolah yang ada di depan mereka. Gedung itu tinggi, halaman luas, tapi tembok itu seperti kusam dan berlumut. Ada warna gelap abu-abu yang terkesan gelap di sana. Belum lagi, halamannya juga terasa kering tidak ada dedaunan sama sekali yang menyejukkan.
Keadaan makin janggal saat mereka sadar bahwa mereka tidak melihat siapa-siapa di sekolah ini selain satu sama lain. Tidak ada penjaga sekolah, guru, atau siapapun di dalam sekolah itu. Benar-benar sunyi dan sepi.
Ray melongo. “Buset, vibesnya mirip game horor DreadOut ya?”
"Teman-teman, kalian merasa aneh juga ‘kan dengan sekolah ini?" tanya Siska, salah satu siswi baru.
"Iya, aneh," jawab mereka kompak.
Namun, hanya Nando yang melanjutkan, "Apa kita bolos saja ya?"
“Hush! Ngawur ente!” Ujar Ray sambil mengibaskan tangan.
Ajakan Nando juga dibalas dengan tatapan sinis dan pukulan ringan di bahunya oleh Siska. "Jangan bercanda, Nan. Ini hari pertama kita sekolah. Jangan main-main sama peraturan sekolah ini kalau tidak mau terima akibatnya," tegur Siska sambil menatap Nando tajam.
Saat Nando hendak membalas teguran itu, tiba-tiba saja seorang guru datang mengendarai motor. Beliau tersenyum kikuk menatap murid-murid yang sudah berdiri di depan pintu gerbang cukup lama.
"Maaf menunggu ya, anak-anak. Tadi saya kehujanan di jalan," ucap guru itu sambil membuka pintu gerbang.
Semua siswa-siswi pun masuk. Selain itu, beberapa guru juga mulai masuk ke sekolah. Siska melihat hal itu merasa janggal, seolah para guru atau staf menghindari tanggung jawab tertentu dengan berangkat terlambat. Namun, status dia sebagai murid baru tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan belajar di sekolah ini.
Pagi itu, upacara tetap diadakan walau hujan masih turun gerimis. Para guru menyediakan alternatif untuk tetap memberi sambutan dan amanat dengan apel pagi. Para siswa itu ditugaskan duduk di depan pintu kelas masing-masing untuk mendengar amanat dari kepala sekolah yang sedang berdiri di atas panggung yang ada atap.
"Selamat pagi semua, perkenalkan saya Arya, kepala sekolah SMA ini. Sekolah ini seperti yang sudah kalian lihat, baru kami buka untuk pertama kali setelah sekian lama kami tutup selama 6 tahun terakhir. Saya sebagai kepala sekolah minta maaf jika kondisi sekolah terlihat kusam dan jelek. Saya beserta guru dan staf akan memperbaiki sekolah agar tetap menarik," jelas Pak Arya dengan suara lantang dan tegas.
Semua murid yang mendengar bertepuk tangan mendengar ucapan Pak Arya. Namun Pak Arya tidak sampai di situ. Pria itu kembali melanjutkan ucapannya.
"Saya juga ingin bahwa semua murid di sekolah harus menaati sistem dan segala aturan di sekolah ini. Hal ini kami tegaskan agar tidak ada murid nakal di sini. Jika ketahuan ada, akan kami hukum!" tegas Pak Arya membuat beberapa murid merasa merinding dengan ancamannya.
***
Memasuki kelas, semua murid kelas 10-IPS 1 bersiap untuk pelajaran, tapi seorang guru justru datang membawa ponsel yang sesuai dengan anggota kelas.
"Ibu, apa itu?" tanya Siska sambil menunjuk ponsel yang sedang ditaruh ke meja oleh guru tersebut.
"Oh ini, ponsel untuk kalian bawa selama di sekolah," ujar guru tersebut. Dia berjalan sambil menunjukkan ponsel itu ke semua murid. "Di sini, ada aplikasi bawaan bernama verdict. Aplikasi yang akan mendeteksi skor kebaikan kalian dan menjadi saksi kalau kalian berbuat nakal di sekolah."
Penjelasan itu membuat para murid merasa tidak nyaman. Bahkan Nando mulai berkeringat dingin dan wajahnya tampak pucat. Dia tidak mau mengambil ponsel itu. Selama ini, laki-laki tersebut merupakan salah satu anak nakal di sekolahan. Dia tidak mau membawa ponsel ini akan membuat dia menjadi dikekang dan tidak bebas seperti dulu.
"Semua murid sudah pada ambil ponsel, kenapa kamu tidak ambil, Nando?" Ibu guru itu tersenyum miring sambil berjalan pelan ke arah Nando yang masih duduk diam di bangkunya. Wanita itu berjalan sambil membawa ponsel yang tersisa di meja.
Belum sempat Nando menjawab teguran bu guru, tiba-tiba salah satu teman ada yang nyeletuk. "Ibu, kan dia suka berbuat nakal. Dia tidak mau dapat hukuman jika membawa hp itu nanti."
Ibu guru itu menatap Nando dengan menyipitkan mata. Dia mengerutkan kening seolah tidak percaya. "Benar itu, Nando? kamu sengaja tidak ambil ponsel agar menghindari konsekuensi?"
Nando menelan ludah. Dia merasa tertekan dengan pertanyaan bu guru. Namun, demi image nya tetap baik, dia tersenyum kikuk dan menggelengkan kepala.
"Tidak kok, Bu. Saya tadi cuma merasa aneh saja kalau harus diawasi oleh aplikasi ponsel seperti itu," sanggahnya. Dia melirik siswa yang tadi mengadu tentang dia di depan bu guru dengan sinis. Siswa itu langsung menunduk, menghindari tatapan.
Ibu guru tersebut tersenyum. "Oya? kalau begitu buktikan dong," tantangnya.
Nando meraih ponsel yang diulurkan bu guru dengan tangan gemetar. Wajahnya masih terlihat pucat dan tegang, tapi dia tetap tersenyum di depan bu guru agar tidak terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Bagus," ucap bu guru senang sambil tersenyum menatap Nando. Dia kembali berdiri di depan papan tulis sambil menjelaskan cara kerja dan fungsi aplikasi yang ada di ponsel melalui layar proyektor.
"Jadi aplikasi verdict ini, akan langsung terhubung saat kalian menekan dengan sidik jari. Nanti sistem sudah bisa mendeteksi identitas kalian sekaligus menilai skor kenakalan kalian. Jika kalian berbuat nakal mencapai skor 50 ke atas akan mendapat hukuman berat dari Naja," jelas guru itu.
Siska mengerutkan kening. "Naja?" tanyanya penasaran. Semua murid ikut bertanya hal yang sama pada bu guru.
Guru itu menghela napas sebelum menjawab pertanyaan. "Jadi, Naja Belial adalah sosok legenda. Kalian belum pernah dengar?”
Semua siswa serentak menggeleng.
Bu Guru tersebut melanjutkan, “Sesuai namanya Naja berarti kobra, ular yang menggigit ketika terpojok. Belial merupakan simbol ketidak adilan, atau kebusukan moral dan manusia yang kehilangan arah.”
“Lalu dia mau apa, Bu Guru?” Salah satu murid perempuan yang agak penakut menanggapi.
“Singkatnya, Naja Belial merupakan sosok yang dipercaya akan memberikan karma. Konon katanya, dia berwujud separuh malaikat dan separuh iblis. Dia akan memberi kalian hadiah atau hukuman sesuai tingkah laku kalian sendiri," jawab wanita itu.
“Ah, Bu Guru, memang ibu sudah pernah lihat sosoknya?”
Bu Guru hanya menggeleng dan tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya. “Ibu sih berharap tidak akan pernah bertemu dia. Namun, dalam beberapa literatur tambahan di internet menyebutkan, ada orang yang pernah bertemu Naja.”
Semua siswa menatap lurus penasaran.
Bu Guru lanjut bercerita lagi. “Katanya Naja pernah berkata, kalau dunia tidak bisa memberi keadilan… biarkan dia yang melakukannya.”
Bu Guru memberikan ekspresi misterius lalu tersenyum dingin, seolah sarat makna. “Yah, lebih baik mencegah dan berbuat baik ‘kan, daripada bertemu makhluk itu?”
Semua mengangguk tapi beberapa malah tertawa mengejek, seolah sosok itu tidak asli dan mitos.
“Halah lebay, paling nanti yang menghukum juga cuma guru.” Seorang siswa menyahut.
“Iya, ini cuma untuk menakuti kita, biar kita patuh dan disiplin.”
“Betul tuh, sosok begitu cuma ada di film Sadako!”
“Hahaha….” Seluruh siswa tertawa riuh.
Pelajaran terus berlanjut. Namun, entah kenapa mereka tidak berani menghindar dari situasi ini. Mulai sekarang, hidup mereka dikuasai aplikasi yang mengendalikan karakter.
Notifikasi tiba-tiba berbunyi secara acak dari ponsel seorang siswa tanpa disadari.
⚠️
[VERDICT UPDATE]
[Skor kenakalan 1%]
Sementara itu, seorang gadis yang sedang terduduk di bangku taman hanya tertawa sinis. Gadis sepucat porselen yang sibuk memainkan rambut dengan tangan kiri dan tangan kanan menggenggam susu kotak cokelat.
“Keserakahan manusia memang tidak pernah mengecewakan.”