Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Beranjak Dewasa
Satu tahun kembali berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Luvya kini telah tumbuh menjadi gadis berusia empat belas tahun. Tubuhnya lebih tinggi, wajahnya semakin tegas, dan aura misteriusnya semakin memikat siapa pun yang memandang. Di siang hari, ia adalah permata Kuil Penitensi. Sosok yang paling rajin dan tampak penuh pengabdian. Namun di malam hari, ia adalah penyusun rencana yang dingin.
Meski posisinya semakin solid, tidurnya tak pernah tenang.
Zargous.
Luvya tersentak bangun. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi dahi. Dalam mimpinya, naga kegelapan itu selalu mengejarnya, membisikkan janji yang terasa seperti jeratan leher. Luvya segera meraih segelas air di samping tempat tidurnya, meneguknya hingga habis.
Ia melirik ke ranjang sebelah. Emily masih tertidur lelap. Merasa ruangan itu terlalu pengap, Luvya bangkit dan berjalan keluar menuju teras kecil di depan kamar asrama untuk menghirup udara malam. Namun, baru saja kakinya menapak di ubin teras yang dingin, ia membeku.
Di kegelapan sudut selasar, berdiri sosok pria yang sangat ia kenal. Si Bapak.
"Luvya? Apa yang Anda lakukan di luar kamar selarut ini?" suara berat pria itu memecah kesunyian malam.
Luvya tersentak. Panggilan "Anda" itu terasa seperti silet yang menggores kulitnya. Terasa terlalu formal, terlalu tajam, dan sangat tidak wajar keluar dari mulut seorang pengasuh kuil kepada anak asuhnya. Luvya dengan cepat merundukkan kepalanya, memberikan hormat yang sempurna walau hatinya mencelos.
"Saya tidak bisa tidur, Bapak. Saya hanya ingin mencari udara segar sebentar agar pikiran saya tenang," jawab Luvya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Si Bapak berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai batu. Ia mengangguk pelan, menatap Luvya dengan tatapan yang seolah-olah penuh rasa hormat, namun matanya memindai sosok Luvya yang kini mulai tumbuh dewasa.
"Begitu ya. Memang kadang tekanan tugas suci membuat jiwa lelah. Kembalilah istirahat, jangan sampai besok Anda terlambat beribadah. Saya tidak ingin melihat Anda kelelahan."
Luvya merasakan bulu kuduknya meremang. Saat pria itu mendekat, sebuah aroma menusuk indra penciumannya. Aroma itu bukan wangi dupa kuil. Itu adalah bau yang memicu kilasan penglihatan yang menyakitkan di kepalanya. Luvya merasa seperti melihat dirinya yang asli, Luvya yang dulu menjerit ketakutan di sebuah ruangan gelap, dilecehkan secara mental dan fisik oleh bayangan pria ini di masa lalu.
Ingatan itu muncul begitu nyata, seolah sel-sel tubuhnya berteriak menolak kehadiran pria di depannya. Rasa jijik yang murni meledak di dadanya, membuat Luvya nyaris mual.
"Kalau begitu, saya permisi masuk, Bapak," ucap Luvya dengan suara yang tetap terjaga kepatuhannya, meski batinnya ingin muntah karena jijik.
"Ya, silakan masuk, Luvya," jawab si Bapak pendek.
Luvya mulai melangkah, mencoba menjaga ritme jalannya agar tetap tenang dan elegan di bawah tatapan pria itu. Namun, baru beberapa langkah menyusuri selasar teras yang dingin, perutnya tiba-tiba melilit. Rasa mulas yang tajam dan asing menusuk bagian bawah perutnya.
Luvya sempat tersentak kecil, namun ia tidak berani berhenti. Ia bisa merasakan hawa keberadaan si Bapak yang masih berdiri diam di belakangnya, memperhatikannya seperti predator yang tak melepaskan pandangan dari punggung mangsanya. Di saat itulah, Luvya merasakan sesuatu yang lembap dan hangat mulai mengalir.
Tunggu... perasaan ini... Jiwa Lily di dalam dirinya langsung menyadari apa yang terjadi. Ini adalah pengalaman yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan sejak ia terbangun di tubuh anak kecil ini. Haid pertama. Luvya yang dulu masih anak-anak kini benar-benar telah tumbuh menjadi remaja. Jiwa Lily yang tadinya merasa terkunci dalam tubuh bocah, kini seolah merasakan sinkronisasi kembali dengan raga yang mulai dewasa.
Luvya mempercepat langkahnya, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman dan ngeri yang bercampur aduk. Ia merasa sangat terdesak; ia harus segera sampai di kamar mandi sebelum noda itu terlihat oleh si Bapak yang masih berdiri di sana, atau sebelum ia kehilangan kendali atas rasa mulasnya.
Begitu ia mencapai pintu kamar asramanya, Luvya membukanya dengan cepat dan segera masuk. Brak. Ia menutup pintu, dan suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.
Luvya tidak membuang waktu untuk bersandar di pintu. Begitu masuk ke kamar, ia langsung menyambar kain bersih dan pakaian ganti dari dalam lemarinya dengan gerakan cepat. Ia tidak bisa diam saja di sini. Ia harus segera ke kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor sebelum noda itu semakin parah.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Luvya terpaksa membuka pintu kamarnya kembali. Ia melirik ke selasar—kosong. Si Bapak sudah tidak terlihat di posisinya tadi, namun aroma busuk yang ditinggalkan pria itu seolah masih menggantung di udara malam yang dingin.
Luvya berlari kecil menuju kamar mandi luar. Di bawah cahaya lampu minyak yang temaram di dalam bilik yang lembap, ia segera membersihkan dirinya. Gerakannya sangat cekatan, gerakan seorang wanita dewasa yang sudah sangat terbiasa, bukan seorang anak kecil yang akan menangis kebingungan melihat darah untuk pertama kalinya.
Sambil membasuh diri dengan air yang sedingin es, Luvya menatap tangannya yang sedikit gemetar.
Aku sudah dewasa sekarang, batinnya tajam. Masa kanak-kanak Luvya yang malang benar-benar sudah berakhir malam ini.
Setelah memastikan semuanya bersih, Luvya keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lebih tegap. Ia berjalan kembali menyusuri koridor yang sunyi. Namun, saat ia hampir sampai di pintu kamarnya, ia merasa seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan ujung lorong.
Luvya mempercepat langkahnya, jemarinya sudah hampir menyentuh gagang pintu kamar asramanya. Sedikit lagi, ia akan aman di balik pintu yang terkunci. Namun, tepat sebelum ia sempat memutar kenop, sebuah bayangan besar menyergap dari kegelapan di sampingnya.
Deg!
Sebuah lengan kekar dan kasar melingkar di lehernya, menarik tubuh kecil Luvya dengan kekuatan yang tak terbendung. Sebelum Luvya sempat mengeluarkan teriakan atau menggunakan mana yang ia miliki, sebuah kain tebal yang berbau menyengat langsung membekap mulut dan hidungnya.
"Mmmph—!"
Luvya meronta, tangannya mencengkeram lengan pria itu, mencoba mencari celah untuk bernapas. Namun, aroma obat bius yang kuat dari kain itu langsung menyerang sarafnya. Kesadaran Luvya berputar hebat. Lorong kuil yang sunyi itu seolah bergoyang dan memudar di matanya.
Luvya mencoba memanggil mana di dalam tubuhnya, mencoba melawan dengan sisa kesadarannya sebagai Lily yang dewasa, namun raga remajanya yang baru saja melewati mulas haid pertama terasa sangat lemas dan tak berdaya.
"Diamlah, Luvya..." suara berat itu berbisik tepat di telinganya, dingin dan menjijikkan. "Sudah kubilang, Anda jangan terlalu lelah malam ini."
Pandangan Luvya mengabur. Hal terakhir yang ia rasakan sebelum semuanya menjadi hitam adalah tarikan kasar pria itu yang menyeretnya menjauh dari pintu kamar, kembali menuju kegelapan koridor yang tak berujung.