NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

***

Hari-hari di Sayap Timur kini berlalu dalam keheningan yang lebih berat daripada jeruji besi yang menutupi balkon. Aroma lili hutan yang dulu ia cintai kini hanya mengingatkannya pada kematian Ratu Seraphina dan nasib serupa yang mungkin menantinya. Lilianne duduk di kursi beludru dekat jendela, menatap taman kecil di bawahnya yang kini tertutup bayangan dinding obsidian yang tinggi.

Sudah lima bulan. Tubuhnya terasa lebih berat, dan rasa mual yang dulu menyiksanya kini berganti dengan rasa lelah yang konstan. Namun, ada satu hal yang memberinya kehidupan di tengah makam emas ini: gerakan kecil di rahimnya.

Lilianne mengelus perutnya yang membuncit dengan jemari yang gemetar. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tendangan halus, seolah-olah kehidupan di dalam sana sedang berusaha menyapa ibunya yang kesepian.

"Kau bangun, Kecil?" bisik Lilianne. Suaranya serak karena jarang digunakan.

Ia tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka di istana yang suram ini. Di tengah kebosanan dan penindasan yang mencekik, ia mulai menjalin komunikasi batin dengan janinnya. Namun, semakin hari, sebuah firasat kuat mulai berakar di hatinya. Firasat itu bukan tentang seorang pangeran yang gagah berani, melainkan tentang seorang putri yang lembut namun memiliki ketabahan es Utara.

"Ayahmu sangat menginginkanmu menjadi seorang pangeran," gumam Lilianne sambil terus mengelus perutnya. "Dia ingin kau menjadi bukti bahwa dia layak memakai mahkota Arthemus. Dia ingin kau menjadi singa yang akan mengaum di atas tumpukan mayat musuhnya."

Lilianne terdiam, matanya menatap kosong ke arah langit yang mulai memerah. "Tapi aku merasakanmu... kau berbeda. Kau tidak memiliki haus darah ayahnya. Jika kau seorang putri, akankah kau juga akan dikurung seperti ini? Akankah duniamu hanya sebatas jeruji besi dan dinding tinggi?"

Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. "Siapapun kamu nanti, Ibu akan selalu ada untukmu. Ibu akan menjadi dindingmu sebelum ayahnya bisa menghancurkan sayapmu."

**

Malam tiba dengan hawa dingin yang menusuk. Langkah sepatu bot yang berat terdengar di koridor, disusul suara kunci yang diputar kasar. Arthur masuk. Penampilannya kuyu, namun matanya tetap berkilat dengan kegilaan posesif yang sama.

Ia tidak menyapa. Ia hanya mendekat, melepaskan jubahnya yang beraroma asap perang, dan langsung menarik Lilianne ke dalam pelukannya. Arthur tidak pernah bertanya bagaimana hari Lilianne berlalu baginya, selama Lilianne ada di sana, di bawah pengawasannya, itu sudah cukup.

Penyatuan malam itu berlangsung seperti malam-malam sebelumnya penuh dengan dominasi yang kasar dan tuntutan yang melelahkan. Di bawah temaram cahaya lilin yang hampir habis, Arthur seolah berusaha menanamkan eksistensinya ke dalam jiwa Lilianne, memastikan bahwa istrinya tidak memiliki ruang untuk memikirkan hal lain selain dirinya.

"Nngh... Yang mulia... p-pelan..." Lilianne merintih, tangannya mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya memutih.

Arthur mengerang, napasnya memburu di ceruk leher Lilianne. "Kau adalah milikku, Lili. Hanya milikku. Berikan aku pangeran itu... berikan aku ahli waris yang akan membungkam mulut tua ayahku."

Setiap sentakan dan erangan Arthur terasa seperti beban yang menindih harga diri Lilianne. Namun, ia hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhnya menjadi wadah bagi ambisi gelap pria di atasnya.

Setelah badai nafsu itu mereda, Arthur tidak langsung beranjak. Ia berbaring dengan napas yang masih tersengal, menyandarkan kepalanya di dada Lilianne yang naik-turun.

Tangannya yang besar, yang baru saja mencengkeram pergelangan tangan Lilianne hingga merah, kini mengusap perut istrinya dengan kelembutan yang mengerikan.

"Dia sangat aktif malam ini," gumam Arthur. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan seorang ayah yang normal jika saja situasi mereka tidak begitu menyimpang.

Lilianne menatap langit-langit ranjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa di balik rasa lelahnya. "Yang Mulia..."

"Hmm?"

"Bagaimana jika... bagaimana jika yang terlahir nanti bukan seorang pangeran? Bagaimana jika dia seorang putri?"

Suasana di kamar itu seketika mendingin. Tangan Arthur yang berada di perut Lilianne berhenti bergerak. Keheningan yang tercipta begitu pekat, hingga suara detak jantung mereka terdengar seperti tabuhan genderang perang.

Arthur bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang berukir naga. Matanya menatap Lilianne dengan pandangan tajam, seolah mencari tanda-tanda pengkhianatan dalam pertanyaan itu.

"Dia harus terlahir sebagai seorang pangeran," jawab Arthur kaku. Suaranya tidak meninggalkan ruang untuk perdebatan. "Dari berdirinya kekaisaran Valerieth, hanya putra mahkota yang bisa bertahta. Darah ini menuntut seorang raja, bukan seorang ratu yang lemah."

Lilianne menoleh pelan, menatap wajah suaminya yang keras. "Tapi alam tidak selalu mengikuti keinginan kita, yang mulia. Anak ini memiliki nyawanya sendiri. Jika dewa memberikan kita seorang putri, apakah dia tidak berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya?"

Arthur menyeringai gelap, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Lilianne berdiri. "Kasih sayang? Di istana ini, putri hanya berharga sebagai bidak pernikahan untuk memperkuat aliansi. Jika kau melahirkan seorang putri, maka kau gagal melakukan tugasmu, Lilianne."

Ia mendekatkan wajahnya, mencengkeram dagu Lilianne agar menatapnya tepat di mata. "Dengarkan aku baik-baik. Jika kau melahirkan seorang putri, kau harus terus melahirkan sampai penerusku itu datang. Aku akan terus mendatangimu setiap malam, mengisi rahimmu berulang kali sampai seorang pangeran keluar dari sana. Kau tidak akan pernah lepas dari ranjang ini sampai kau memberiku apa yang aku butuhkan."

Lilianne merasa jantungnya seakan berhenti detak. Ancaman itu begitu nyata. Arthur bukan hanya ingin mengurung fisiknya, tapi juga mengurung fungsinya sebagai wanita hanya sebagai mesin penghasil ahli waris.

"Apakah hanya itu arti saya bagi Anda?" bisik Lilianne pilu. "Hanya sebuah wadah untuk pangeranmu?"

Arthur terdiam sejenak. Ia mengelus pipi Lilianne dengan ibu jarinya, menatap wajah cantik istrinya yang kini tampak begitu rapuh. "Kau adalah duniaku, Lili. Tapi duniaku butuh pelindung. Jika kau mencintaiku, kau akan memberikan pangeran itu padaku. Karena jika tidak... kau akan tetap berada di bawahku selamanya, terjebak dalam siklus persalinan yang tak berujung."

Arthur mengecup bibir Lilianne dengan paksa, sebuah ciuman yang terasa seperti segel kutukan. Ia kemudian bangkit, mengenakan pakaiannya, dan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.

Lilianne kembali sendirian. Ia meringkuk di atas ranjang yang masih berantakan, memeluk perutnya dengan protektif.

"Ibu bersumpah," bisiknya pada janin di dalam rahimnya, sementara air mata mengalir deras membasahi bantal. "Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi bidak. Jika kau seorang putri, Ibu akan memastikan kau memiliki kekuatan untuk membakar seluruh kekaisaran ini sebelum mereka sempat merantaimu."

Malam itu, di tengah kegelapan Sayap Timur, Lilianne menyadari bahwa ia tidak bisa lagi hanya menjadi air yang tenang. Jika ia ingin melindungi anaknya, ia harus menjadi badai yang lebih besar daripada Arthur. Rencana untuk menghancurkan istana ini dari dalam bukan lagi sekadar ambisi politik itu adalah insting bertahan hidup seorang ibu.

****

Bersambung...

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!