NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: SERIGALA DI BALIK JENDELA KACA ​

​Malam di kediaman Hutama terasa lebih panjang dari biasanya. Vanya masih terduduk di lantai gudang yang dingin, membiarkan debu halus mengotori gaun mahalnya yang sudah kusut. Isakannya sudah mereda, menyisakan sesak yang menghimpit dada—sebuah jenis rasa sakit yang tidak bisa diredakan dengan obat merah atau perban. Ia menatap sudut ruangan tempat Reyhan biasanya duduk membaca buku tua di bawah lampu remang saat malam tiba.

​Semuanya terlalu bersih. Terlalu rapi. Seolah-olah pria itu memang berniat menghapus jejak keberadaannya dari hidup Vanya selamanya. Tak ada satu pun helai pakaian tertinggal, tak ada sisa aroma yang biasanya menenangkan hatinya setelah seharian berdebat.

​"Kamu jahat, Rey..." bisik Vanya pada kehampaan ruangan itu. "Kalau kamu memang cuma menolong, kenapa harus lari? Kenapa harus menghilang saat aku baru saja mau bilang... terima kasih? Kenapa kamu biarkan aku sendirian menghadapi semua ketidakpastian ini?"

​Vanya tidak tahu bahwa di balik dinding kamarnya yang mewah, di ruang tengah yang hanya berjarak beberapa belas meter, Derian sedang meneguk segelas whiskey dengan senyum puas. Bagi Derian, hilangnya Reyhan adalah kemenangan telak. Sebuah anugerah yang jatuh dari langit. Ia kini leluasa mengatur narasi, meracuni pikiran Vanya dan Bramantyo tentang sosok "si gembel" yang menurut narasinya adalah seorang buronan polisi yang menyamar.

​Kebangkitan Sang Pewaris Dirgantara

​Sementara itu, di sisi lain kota yang tak pernah tidur, atmosfer di lantai teratas Menara Dirgantara mendadak tegang. Gedung tertinggi yang menjadi simbol kekuasaan keluarga paling berpengaruh di negeri ini seolah sedang menahan napas. Nama "Dirgantara" bukan sekadar label bisnis; itu adalah sebuah kekaisaran yang memegang kendali atas urat nadi ekonomi, mulai dari properti hingga teknologi.

​Reyhan Dirgantara duduk di kursi kerjanya yang luas, sebuah kursi ergonomis dari kulit Italia yang kini menjadi singgasananya kembali. Meski kaki kanannya terbalut gips dan terganjal di atas tumpuan, ia tetap terlihat seperti predator puncak yang sedang mengawasi mangsanya dari puncak gunung. Wajah kusam supir ojek itu telah hilang, digantikan oleh garis rahang yang tegas dan tatapan mata sedingin es yang mampu membekukan nyali siapapun.

​Di hadapannya, Pak Rexy, pengacara keluarga, dan dua asisten pribadi berpakaian hitam berdiri dengan sikap hormat yang luar biasa.

​"Jadi, Derian dari perusahaan Hutama itu yang mencoba mengambil panggung?" tanya Reyhan suara beratnya menggema di ruangan yang kedap suara itu. Ia memutar-mutar sebuah kancing baju putih mutiara—milik Vanya—di antara jari-jarinya yang panjang.

​"Benar, Pak Rey. Laporan intelijen kami menyebutkan bahwa dia secara terang-terangan mengaku sebagai penyelamat Nona Vanya di depan publik dan Pak Bramantyo," lapor sang asisten. "Bahkan, dia sedang menyebarkan fitnah sistematis melalui koneksinya di kepolisian tingkat bawah bahwa Anda adalah salah satu pelaku pembegalan yang selama ini dicari."

​Reyhan tersenyum sinis. Sebuah senyum yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Bagus. Biarkan dia menari sebentar lagi. Berikan dia rasa percaya diri yang tinggi. Berikan dia panggung yang luas, karena jatuh dari tempat yang sangat tinggi itu jauh lebih mematikan."

​"Lalu mengenai Nona Vanya, Pak? Kondisinya cukup terguncang sejak Anda meninggalkan gudang," tanya Pak Alex hati-hati.

​Mata Reyhan melembut sejenak saat nama itu disebut. Ada kilatan kerinduan yang ia sembunyikan di balik topeng CEO-nya yang dingin. Namun, sorot itu segera kembali menajam.

​"Tetap awasi dia 24 jam. Pastikan tidak ada satu helai rambut pun yang terluka lagi. Jika Derian mencoba menyentuhnya lebih dari sekadar jabat tangan, kalian tahu apa yang harus dilakukan," perintah Reyhan mutlak. "Dan satu lagi... kirimkan bantuan anonim melalui shell company kita untuk menstabilkan saham perusahaan Hutama. Aku tidak ingin ayah Vanya jatuh sakit lagi karena tekanan bisnis saat aku sedang membereskan tikus-tikus di sini."

​Reyhan tahu, ayahnya—Tuan Besar Dirgantara—masih memantaunya melalui kamera CCTV dan laporan harian. Ayahnya ingin melihat apakah putra mahkotanya ini bisa membersihkan namanya dari fitnah penggelapan dana yang dilakukan sang paman enam bulan lalu tanpa menggunakan kekuatan penuh nama besar "Dirgantara". Reyhan akan membuktikannya. Ia akan mengambil kembali tahtanya, sekaligus menjemput ratunya dengan cara yang paling elegan.

​Intrik di Rumah Hutama: Serigala yang Bermuka Dua

​Kembali ke ruang tengah rumah keluarga Hutama, suasana terasa hangat secara artifisial. Derian sedang mempresentasikan rencana kerja sama baru di hadapan Bramantyo yang nampak masih lemas.

​"Pah, aku rasa ini waktu yang paling tepat untuk menggabungkan aset kita dengan vendor baru ini. Aku punya koneksi yang bisa menjamin stabilitas kita hingga lima tahun ke depan," ujar Derian dengan nada suara yang dirancang sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan dan penuh empati. "Apalagi setelah si Reyhan itu kabur... kita harus sadar bahwa keamanan keluarga dan perusahaan adalah prioritas utama. Kita tidak bisa lagi membiarkan orang asing masuk tanpa latar belakang yang jelas."

​Bramantyo mengangguk lemah, ia menyesap teh hangatnya. "Aku percaya padamu, Der. Kamu sudah menyelamatkan nyawa anakku. Itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk menyerahkan kepercayaan penuh perusahaan ini padamu."

​Tepat saat itu, Vanya masuk ke ruangan dengan langkah gontai. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat tanpa riasan, namun matanya memancarkan api yang sulit dipadamkan.

​"Vanya, kamu mau ke mana? Kamu harus istirahat, Sayang," tanya Bramantyo cemas.

​"Aku mau ke kantor polisi, Pah. Aku mau memastikan sendiri siapa sebenarnya pelaku begal malam itu. Aku mau melihat berkasnya," tegas Vanya. Suaranya datar namun menusuk. "Aku nggak percaya kalau Reyhan pelakunya. Terlalu banyak lubang dalam cerita yang beredar."

​Derian sempat tegang sesaat. Gelas di tangannya bergetar sedikit, namun sebagai pemain watak yang handal, ia segera menguasai diri. Ia bangkit berdiri dan menghampiri Vanya dengan wajah penuh keprihatinan yang manipulatif.

​"Vany, untuk apa? Polisi sudah punya buktinya. Senjata tajam dan jaketnya ditemukan di dekat lokasi," ucap Derian sambil mencoba memegang bahu Vanya. "Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri kalau terus mengejar hantu seperti dia. Dia itu kriminal yang lihai memikat korbannya. Lebih baik kamu fokus pada pemulihanmu... dan mungkin kencan makan malam kita yang tertunda? Aku sudah memesan tempat di rooftop."

​Vanya menepis tangan Derian dengan gerakan kasar. Ia menatap pria di depannya dengan tatapan dingin yang belum pernah Derian lihat sebelumnya—sebuah tatapan yang biasanya dimiliki oleh Reyhan saat sedang serius.

​"Kencan? Setelah supirku menghilang dan nyawaku hampir melayang?" Vanya mencibir pahit. "Maaf Der, selera makan aku hilang bersamaan dengan hilangnya pria yang kamu sebut gembel itu. Sebaiknya kamu fokus saja pada presentasimu, karena aku tidak akan berhenti sampai aku tahu kebenaran yang sesungguhnya."

​Vanya berlalu pergi menuju pintu depan, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruang tengah. Derian mengepalkan tangan di balik saku celananya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya memuncak.

​"Sialan kau, Reyhan. Bahkan setelah pergi pun, kau masih menghalangi jalanku," desis Derian dalam hati.

Derian menghubungi Clarissa, dia memberi pesan singkat. "Cla, bukannya kamu punya orang dekat di kepolisian..?""

"iya..kenapa der..?"

"besok kita kesana.. Ada yang harus kita kerjakan!!"

"oke.. Kayaknya aku faham maksudmu..??"

"hehe..

​Derian tidak sadar bahwa di luar sana, di puncak Menara Dirgantara, sebuah kekuatan raksasa sedang menggerakkan bidak-bidak catur untuk meruntuhkan seluruh kebohongannya. Sang serigala yang sebenarnya tidak sedang melarikan diri; ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!