Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video Malam Itu Bocor
Suasana ballroom hotel mewah itu dipenuhi cahaya lampu dan suara dentingan gelas mahal. Musik piano mengalun pelan di sudut ruangan sementara para pebisnis dan tamu penting saling berbincang dengan senyum formal khas kalangan elite. Namun di tengah semua kemewahan itu, Aluna justru merasa sesak sejak pertama kali masuk.
Tangannya dingin.
Dan entah kenapa firasatnya buruk.
Gaun hitam yang dipilihkan stylist Arsen memang membuat dirinya terlihat berbeda malam ini. Elegan. Dewasa. Bahkan beberapa orang sempat memujinya sejak datang tadi. Namun semua itu tetap nggak bisa menghilangkan rasa gugup yang terus mengganggu pikirannya.
Apalagi sejak hubungan dirinya dan Arsen viral di media sosial.
Tatapan orang-orang sekarang terasa berbeda.
Mereka tersenyum di depan.
Tapi menghakimi di belakang.
Aluna berdiri di samping Arsen sambil mencoba tetap tenang. Sedangkan laki-laki itu terlihat jauh lebih santai dibanding dirinya. Jas hitam mahal membungkus tubuh tingginya dengan sempurna, membuat aura dingin Arsen makin kuat malam ini.
Dan seperti biasa…
semua orang terlihat segan padanya.
“Pak Arsen.”
Beberapa rekan bisnis mulai mendekat bergantian untuk menyapa. Arsen membalas seperlunya tanpa banyak bicara. Namun tangan laki-laki itu sejak tadi nggak pernah benar-benar lepas dari pinggang Aluna.
Protektif.
Dan entah kenapa itu bikin jantung Aluna nggak aman sendiri.
Karena sekarang sentuhan kecil dari Arsen aja bisa bikin dirinya salah tingkah.
“Capek?”
Suara rendah laki-laki itu terdengar dekat di telinganya.
Aluna langsung menoleh cepat.
“Nggak.”
“Kamu bohong.”
Deg.
Aluna langsung gugup.
Tatapan Arsen terlalu tajam seolah bisa membaca isi kepalanya dengan mudah.
“Aku cuma belum terbiasa ramai begini,” gumamnya pelan.
Tatapan Arsen sedikit melunak. “Kalau nggak nyaman kita pulang.”
Kalimat sederhana itu langsung bikin beberapa wanita sosialita yang berdiri nggak jauh dari sana saling melirik.
Karena semua orang tahu satu hal.
Arsen Asmara nggak pernah peduli pada siapa pun.
Namun malam ini…
CEO dingin itu jelas memperlakukan Aluna berbeda.
Dan itu mulai membuat banyak orang nggak suka.
“Pak Arsen!”
Seorang wartawan tiba-tiba mendekat bersama beberapa kamera lain.
Suasana ballroom langsung sedikit berubah.
“Apa benar hubungan Anda dan Nona Aluna awalnya hanya pernikahan kontrak?”
Deg.
Pertanyaan itu langsung bikin tubuh Aluna menegang.
Namun Arsen tetap tenang.
Tatapan laki-laki itu dingin seperti biasa.
“Kehidupan pribadi saya bukan konsumsi publik.”
“Tapi publik penasaran soal kehamilan Nona Aluna—”
“Saya nggak suka pertanyaan berulang.”
Nada suara Arsen turun rendah.
Dan dalam sekejap suasana langsung sunyi.
Wartawan itu bahkan terlihat gugup sendiri.
Namun justru karena jawaban dingin itu, bisik-bisik orang di sekitar mulai makin ramai.
“Itu berarti rumor nikah kontrak benar?”
“Kasihan juga sih ceweknya.”
“Tapi hebat ya bisa bikin Arsen sampai nikah.”
“Yakin karena cinta?”
Aluna langsung menunduk pelan.
Dadanya mulai sesak lagi.
Dia benci jadi pusat perhatian seperti ini.
Apalagi ketika orang-orang mulai menilai dirinya seolah dirinya perempuan murahan yang sengaja mendekati Arsen demi uang.
Padahal semua ini bahkan nggak pernah dia rencanakan.
Tiba-tiba tangan Arsen bergerak pelan menggenggam jemarinya.
Deg.
Aluna langsung menoleh.
Tatapan laki-laki itu tetap lurus ke depan, tapi genggamannya terasa hangat.
Menenangkan.
Dan anehnya cuma karena itu saja, napas Aluna sedikit membaik.
Namun ketenangan tersebut nggak bertahan lama.
Karena beberapa detik kemudian sekretaris pribadi Arsen datang dengan wajah panik sambil membawa tablet.
“Pak…”
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
“Ada apa?”
Sekretaris itu terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkan tablet tersebut.
“Video baru bocor.”
Deg.
Jantung Aluna langsung jatuh.
Arsen mengambil tablet itu cepat. Dan dalam hitungan detik, raut wajah laki-laki itu berubah dingin banget.
Bukan dingin biasa.
Tapi dingin yang bikin merinding.
Aluna langsung nggak enak.
“Apa lagi?”
Namun Arsen nggak langsung jawab.
Tatapannya tajam menatap layar tablet beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkannya ke Aluna.
Dan begitu melihat isi video itu…
napas Aluna langsung tercekat.
“Itu…”
Video CCTV hotel malam itu.
Malam ketika dirinya mabuk.
Malam ketika Arsen membawanya masuk ke kamar hotel.
Potongan videonya memang pendek. Tapi cukup jelas memperlihatkan Arsen menggendong dirinya yang setengah sadar masuk ke lift hotel.
Namun yang membuat semuanya makin parah adalah judul video tersebut.
“CEO DINGIN INI HAMILI WANITA MABUK?”
Wajah Aluna langsung pucat total.
Komentar netizen di bawah video bergerak cepat tanpa ampun.
Pantesan langsung nikah.
Fix hamil duluan.
Kasihan ceweknya dipakai doang.
CEO dingin ternyata sama aja.
Dalam beberapa jam saja video itu sudah ditonton jutaan kali.
Dan sekarang…
semua orang di ballroom mulai menerima notifikasi yang sama.
Suasana mendadak berubah ricuh.
“Pak Arsen! Apa video itu asli?”
“Apakah Nona Aluna memang hamil sebelum menikah?”
“Benarkah hubungan kalian berawal dari skandal?”
Mikrofon mulai mendekat brutal.
Kamera mengarah tepat ke wajah Aluna tanpa ampun.
Jantung perempuan itu langsung berdetak kacau.
Tangannya dingin lagi.
Tatapan orang-orang sekarang seperti menghakiminya.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia Arsen…
Aluna benar-benar merasa nggak kuat.
Sampai tiba-tiba tubuh Arsen bergerak maju menutupi dirinya.
“Cukup.”
Satu kata itu langsung membuat suasana menegang.
Tatapan Arsen dingin banget sekarang.
Aura CEO dinginnya keluar total.
“Saya nggak suka kamera diarahkan ke istri saya tanpa izin.”
Nada suaranya rendah.
Pelan.
Namun tekanannya bikin beberapa wartawan langsung mundur.
Tapi salah satu wartawan masih nekat bertanya.
“Pak, publik berhak tahu kebenaran—”
Arsen langsung menatapnya.
“Tahu batas.”
Deg.
Suasana ballroom mendadak sunyi total.
Bahkan Aluna sampai ikut merinding melihat wajah laki-laki itu sekarang.
Karena Arsen benar-benar marah.
Dan semua orang bisa merasakannya.
Laki-laki itu langsung menggenggam tangan Aluna erat.
“Pulang.”
Aluna hanya bisa menurut.
Mereka berjalan keluar ballroom diiringi sorotan kamera dan bisik-bisik orang yang makin ramai.
Namun tepat sebelum masuk ke lift private hotel…
suara seseorang tiba-tiba memanggil.
“Kak Aluna!”
Aluna refleks menoleh.
Dan wajahnya langsung berubah kaget.
“Maya?”
Perempuan itu adalah adik Bima.
Penampilannya berantakan seperti habis menangis lama. Rambutnya acak-acakan dan napasnya nggak teratur seolah habis buru-buru datang.
“Aku harus ngomong…” katanya panik.
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
Namun Maya buru-buru lanjut bicara sebelum security mengusirnya.
“Kak Bima udah nggak normal.”
Deg.
Aluna langsung diam.
Maya menggigit bibir sambil menahan tangis.
“Dia minum terus sejak kemarin… dan sekarang dia marah banget sama Kak Aluna.”
Perasaan nggak enak langsung menghantam dada Aluna.
“Apa maksudmu?”
Maya terlihat takut.
“Kak Bima bilang kalau dia nggak bisa dapetin Kak Aluna lagi… dia bakal hancurin semuanya.”
Sunyi.
Lift private di belakang mereka terbuka perlahan.
Namun tidak ada yang bergerak masuk.
Tatapan Arsen berubah makin gelap.
“Maksudnya apa?” tanyanya dingin.
Maya gemetar.
“Dia nyimpen video lain…”
Deg.
Jantung Aluna langsung jatuh lagi.
“Video apa?”
“Aku nggak tahu…” Maya menangis pelan. “Tapi dia bilang video itu bisa bikin Kak Aluna dibenci semua orang.”
Napas Aluna mulai nggak teratur.
Pikirannya langsung kacau.
Apa lagi yang dimiliki Bima?
Selama pacaran dulu, dirinya merasa nggak pernah melakukan hal aneh.
Tapi laki-laki obsesif seperti Bima sekarang benar-benar sulit ditebak.
Dan ternyata…
Arsen memikirkan hal yang sama.
“Di mana dia sekarang?” tanyanya dingin.
“Aku nggak tahu…”
“Maya.”
Nada suara Arsen turun rendah banget sekarang.
“Jangan bohong.”
Maya langsung pucat.
“Aku serius nggak tahu…” suaranya pecah. “Tapi sebelum pergi dia bilang mau bikin Kak Aluna nyesel ninggalin dia.”
Aluna refleks menggenggam lengan Arsen pelan.
Entah kenapa dirinya mulai takut.
Takut banget.
Arsen langsung sadar tubuh perempuan itu gemetar.
Tatapan dinginnya sedikit berubah saat melihat wajah pucat Aluna.
“Lihat saya.”
Aluna perlahan mendongak.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, suara Arsen terdengar sedikit lebih lembut.
“Saya nggak akan biarin siapa pun nyentuh kamu.”
Deg.
Jantung Aluna langsung berdebar aneh.
Di situasi sekacau ini…
kalimat itu justru terasa terlalu menenangkan.
Namun sebelum suasana berubah lebih jauh—
ponsel Arsen tiba-tiba berdering.
Laki-laki itu langsung mengangkat telepon tersebut.
Dan beberapa detik kemudian…
rahangnya langsung mengeras.
“Ulangi.”
Suasana mendadak makin tegang.
Sekretarisnya terdengar panik dari sambungan telepon.
“Pak… akun anonim yang nyebarin video tadi baru upload teaser kedua.”
Wajah Aluna langsung pucat.
“Isinya?”
“Potongan suara Nona Aluna.”
Deg.
Jantung Aluna seperti berhenti berdetak.
“Apa?”
Sekretaris itu terdengar ragu sebelum akhirnya menjawab.
“Suara seperti rekaman dari hotel malam itu.”
Darah Aluna langsung dingin.
Sedangkan Arsen…
diam.
Terlalu diam.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
“Ada caption baru,” lanjut sekretarisnya pelan. “‘Tunggu jam dua belas malam. Skandal asli CEO dingin akan dibongkar.’”
Ballroom di belakang mereka masih ramai.
Kamera masih berkedip.
Namun sekarang Aluna sama sekali nggak bisa mendengar apa pun selain suara detak jantungnya sendiri.
Karena dia sadar satu hal.
Malam ini belum selesai.
Dan seseorang…
sedang berusaha menghancurkan hidup mereka pelan-pelan.