Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amira Dunianya Fatan
POV Fatan
Bunyi monitor jantung itu terdengar pelan.
Teratur.
Stabil.
Sebuah suara yang sejak tadi menjadi satu-satunya penopang kewarasan Fatan.
Ia duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya menggenggam tangan wanita yang terbaring lemah di hadapannya Amira.
Wajah Fatan kusut.
Matanya memerah.
Lingkar hitam jelas terlihat, menjadi saksi malam-malam tanpa tidur yang baru saja ia lewati.
Ia belum benar-benar pulih dari ketakutan.
Ketakutan yang hampir merenggut segalanya.
Dan ketika jemari di genggamannya bergerak pelan
Fatan membeku.
Kelopak mata Amira bergetar.
Perlahan…
sangat perlahan…
ia membuka matanya.
Dunia seolah berhenti sesaat bagi Fatan.
“adrian”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Serak.
Rapuh.
Namun cukup untuk menghantam jantung Fatan dengan keras.
Ia tersentak, bangkit dari kursinya seketika.
“Iya… aku di sini, sayang. Aku tidak ke mana-mana…”
Suaranya cepat. Terlalu cepat.
Seolah ia takut kehilangan momen itu.
Seolah jika ia terlambat satu detik saja, Amira akan kembali pergi.
Tangannya menggenggam lebih erat.
Bukan hanya untuk menenangkan Amira
tapi juga untuk menenangkan dirinya sendiri.
Karena beberapa jam yang lalu…
ia benar-benar percaya bahwa ia akan kehilangan wanita ini.
Tatapan Amira masih samar.
Namun ia menatap Fatan lama.
Ada sesuatu di sana.
Bukan hanya rasa sakit dari luka fisik yang belum pulih
tapi juga kelelahan yang lebih dalam.
Kelelahan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “kecelakaan”.
“Aku pikir… aku akan mati…”
Ucapannya lirih.
Bibirnya bergetar pelan.
Fatan menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Rasa bersalah itu datang tanpa diundang—
menghantamnya bertubi-tubi tanpa memberi ruang untuk bernapas.
“tolong jangan ucapkan itu,Aku minta maaf,…”
Suaranya pecah.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa filter.
Tanpa pertahanan.
“Semua ini salahku… aku seharusnya tidak meninggalkanmu… aku seharusnya lebih sabar… aku…”
Ia terdiam.
Kata “egois” terasa terlalu kecil untuk menggambarkan dirinya.
Namun tetap ia ucapkan.
“Aku egois…”
Air matanya jatuh.
Tanpa bisa ia tahan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama
Fatan tidak berusaha terlihat kuat.
Ia menyesal.
Sungguh.
Bukan karena takut ketahuan.
Bukan karena rahasia yang ia simpan hampir terbongkar.
Tapi karena…
ia hampir kehilangan Amira.
Dan itu terjadi karena dirinya sendiri.
Amira tersenyum tipis.
Senyum yang lemah… namun tetap mencoba menenangkan.
“Aku tahu kamu lelah dengan segala rutinitas mu…”
Katanya pelan.
“Aku cuma… takut kehilanganmu…”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Fatan
itu seperti pukulan telak yang menghancurkan seluruh pertahanannya.
Ia ingin bicara.
Ingin mengatakan semuanya.
Tentang Kanaya.
Tentang kehidupan lain yang ia jalani diam-diam.
Tentang pernikahan yang tidak pernah ia akhiri,
dan perasaan yang tidak pernah ia bereskan.
Tentang dua dunia yang selama ini ia jaga agar tidak pernah bertabrakan.
Namun kini
semuanya mulai runtuh.
Ia tahu…
ia tidak bisa terus seperti ini.
Ia tahu…
kebenaran akan menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Tapi
Ia menelan semua itu.
Bukan sekarang.
Belum.
Amira belum cukup kuat.
Itulah alasan yang ia pilih.
Yang ia pakai untuk membenarkan keputusannya.
Padahal jauh di dalam dirinya
ia tahu kebenaran yang lebih pahit.
Ia takut.
Takut kehilangan Amira.
Takut kehilangan semuanya sekaligus.
Fatan mengangkat tangannya, mengusap rambut Amira dengan lembut.
Gerakan yang penuh perhatian.
Penuh kehangatan.
Seolah tidak ada yang salah dalam hidup mereka.
“Aku di sini…”
Ucapnya pelan.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi… kamu dunia dan hidupku, sayang…”
Janji itu meluncur begitu saja.
Ringan.
Terlalu ringan.
Padahal ia tahu
Ia sudah meninggalkan seseorang bahkan sebelum kalimat itu selesai diucapkan.
Kanaya.
Nama itu muncul begitu saja di pikirannya.
Tanpa diminta.
Tanpa bisa ia hindari.
Seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi.
Seperti luka yang tidak terlihat… tapi terus menganga.
Amira memejamkan matanya perlahan.
Wajahnya terlihat lebih tenang.
Lebih damai.
Ia merasa aman.
Merasa dipilih.
Merasa menjadi satu-satunya.
Dan Fatan…
Hanya bisa menatapnya dalam diam.
Dengan hati yang semakin berat.
Di balik ketenangan ruangan itu,
pikiran Fatan justru semakin bising.
Ia teringat satu hal yang belum sempat ia sadari sepenuhnya
Kanaya.
Di mana dia sekarang?
Apakah ia tahu?
Apakah ia melihat?
Atau…
apakah ia sudah pergi?
Pertanyaan itu menggantung di kepalanya.
Namun ia tidak bergerak.
Tidak mencari.
Tidak juga memastikan.
Karena sebagian dari dirinya…
sudah tahu jawabannya.
Dan ia tidak siap menghadapinya.
Kontras itu begitu nyata.
Di satu sisi
Seorang istri terbaring lemah di ranjang rumah sakit,
diperjuangkan, ditangisi, dipertahankan dengan sepenuh hati.
Di sisi lain
Seorang istri lain…
berjalan pergi dalam diam.
Tanpa ditahan.
Tanpa dicari.
Tanpa diperjuangkan.
Fatan menunduk.
Tangannya masih menggenggam tangan Amira.
Namun hatinya
Terbelah.
Penyesalannya pada Amira terasa nyata.
Dalam.
Menyiksa.
Namun ia tahu satu hal yang lebih kejam
Penyesalan itu…
tidak akan pernah cukup
untuk menebus apa yang telah ia lakukan pada Kanaya.
Ia menarik napas panjang.
Namun sesak itu tidak hilang.
Tidak akan hilang.
Selama ia masih memilih diam.
Selama ia masih bersembunyi di balik kebohongan yang ia bangun sendiri.
Karena pada akhirnya
Kebohongan memang terasa lebih mudah.
Lebih aman.
Lebih nyaman.
Daripada keberanian untuk jujur
yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap.
Dan malam itu…
Fatan tetap memilih diam.
Sementara tanpa ia sadari
Hal paling berharga dalam hidupnya
tidak benar-benar hilang saat Amira hampir mati di meja operasi.
Melainkan…
Saat Kanaya memilih pergi
tanpa pernah menoleh kembali.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?