Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Di kafe seberang kampus siang itu sangat ramai, berbaur dengan alunan musik pop indie yang diputar dari pengeras suara ruangan. Di meja kayu panjang bagian tengah, enam piring steak ayam saus lada hitam berukuran besar beserta gelas-gelas es lemon tea jumbo akhirnya mendarat dengan selamat. Aroma gurih mentega dan saus yang mengepul hangat seketika membangkitkan selera makan mereka.
"Nyam! Ini baru namanya porsi perayaan spek dewa!" seru Gino setelah suapan pertamanya sukses mendarat di mulut.
Cowok buaya premium itu mengunyah dengan puas, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan. Sepasang matanya mulai menyipit jenaka, menatap Bang Edward yang duduk tepat di ujung meja seberang Aurel. Insting kompor Gino seketika langsung meronta-ronta untuk memanaskan situasi.
Gino berdehem keras, sengaja memotong keheningan meja. "Bang Edward, gue mau nanya nih sebagai maba yang peduli sosiologi kedekatan. Lo kan tadi bangga banget ya sampe traktir kita semua karena nilai sempurna bab tiga. Tapi lo sadar nggak, di balik draf yang rapi itu, ada kontribusi kerja sama malam-malam yang luar biasa intens antara Aurel sama Reyhan?
"Uhuk!
Aurel yang baru saja hendak menyuap potongan dagingnya seketika tersedak pelan. Wajahnya dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam akibat salah tingkah diseret ke topik sensitif. "Gino! Mulut lo bisa disaring dikit nggak, sih?!" semprot Aurel gemas sambil melotot tajam.
Bang Edward yang sedang memotong dagingnya langsung menghentikan pisau makannya. Alis tebalnya bertaut rapat, dan sepasang matanya langsung memicing tajam menatap ke arah Reyhan yang duduk lempeng di sebelah adiknya. Radar intel siaga satu sang abang seketika kembali menyala di level maksimal.
"Maksud lo apa, Gin? Kerja sama malam-malam gimana?" todong Bang Edward dengan volume suara yang naik satu oktav, menunjuk Gino dengan garpunya.
"Wah, Kapten belum tahu ya?" pancing Gino makin menggebu-gebu, mengabaikan injakan sepatu dari Shirin di bawah meja [Gino]. "Semalam itu ya, waktu badai gerimis di kawasan industri hilir, si Reyhan ini pasang badan total jagain Aurel. Nggak cuma itu, pas pulang ke rumah masing-masing, mereka berdua lanjut chatting-an semalaman buat sinkronisasi data statistik! Lengket bener deh pokoknya, protokol jarak satu meter lo udah jebol dari kemarin, Bang!"
"Reyhaaan! Tangan lo beneran nggak bisa diam ya!" seru Bang Edward heboh, langsung bangkit berdiri setengah bersandar di atas meja demi menunjuk maba denim di hadapannya. "Wah, bener-bener ya lo, Pangeran Denim! Semalam modus jemput gagal karena gue block, ternyata lo bales dendam lewat jalur udara pakai WhatsApp semalaman! Berani bener lo deketin adek gue!"
Kak Anita yang duduk di sebelah Bang Edward langsung menarik kuat ujung kaos kekasihnya itu hingga terduduk kembali dengan bunyi deb yang cukup keras. "Edward! Astaga, malu-maluin banget dilihatin orang sewarkop! Duduk enggak!" omel Kak Anita gemas seraya menjewer pelan telinga Bang Edward. "Orang sepupu aku beneran bantuin Aurel ngerjain tugas biar nilainya sempurna, kok kamu malah nuduh yang macem-macem."
"Aduh, aduh! Iya, Sayang, ampun! Lepasin dulu jewerannya, jatuh nih harga diri gue depan maba," ringis Bang Edward langsung beralih mode menjadi penurut nan manja di depan Kak Anita, memicu tawa renyah dari Shirin dan ledakan tawa puas dari Gino.
Aurel yang berada di tengah keriuhan itu refleks menahan napasnya sejenak, jantungnya berdegup begitu keras di dalam dada. Berada sedekat ini menonton bagaimana Bang Edward begitu protektif membelanya sebagai adik, sekaligus melihat bagaimana manjaynya sang kakak saat ditenangkan oleh Kak Anita, selalu mendatangkan getaran emosi yang campur aduk di hatinya.
Secara refleks, Aurel melirik ke arah sampingnya. Di sana, Reyhan tetap duduk dengan ekspresi wajahnya yang luar biasa tenang dan lempeng tanpa dosa. Cowok denim itu hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat teduh, menatap Bang Edward dan Kak Anita dengan pandangan mata yang sarat akan kesabaran dan keikhlasan yang besar. Tidak ada pembelaan taktis yang agresif, tidak ada gombalan yang menyudutkan Aurel lagi. Reyhan dengan kedewasaannya memilih untuk tetap tinggal menjadi benteng pelindung yang aman bagi kenyamanan hati Aurel malam ini, membiarkan gadis itu menikmati dunianya tanpa perlu merasa tertekan oleh perasaannya.
Aurel tersenyum tipis, meremas tisunya pelan di bawah meja sembari mengembuskan napas panjang yang lega. Di bawah riuhnya suasana traktiran kafe siang itu, rasa sesak masa lalunya perlahan melunak. Bersama kehebohan sifat protektif Bang Edward dan luasnya samudera kesabaran dari Reyhan, Aurel tahu perjalanan hidup mabanya akan tetap berjalan dengan penuh kehangatan yang mendalam.
Sore harinya, semburat warna jingga keunguan kembali menghiasi langit kampus seiring dengan berhentinya aktivitas perkuliahan hari itu. Di area parkiran yang mulai melonggar, Aurel tampak berdiri bersandar di dekat pos satpam. Tas ranselnya digendong di kedua bahu, sementara sepasang matanya sesekali melirik jam di layar ponsel.
Sekitar tiga puluh menit yang lalu, Bang Edward sudah meluncur duluan untuk mengantarkan Kak Anita pulang ke rumahnya. Dan sesuai janji protektifnya saat makan siang tadi, senior itu melarang keras Aurel pulang bersama Reyhan atau naik ojek online, karena ia sendiri yang akan kembali ke kampus untuk menjemput adik kesayangannya.
Dari kejauhan, sosok Reyhan berjalan santai menuju motor matik besarnya dengan tas denim yang tersampir di satu bahu. Begitu melihat Aurel yang masih setia menunggu di pos satpam, Reyhan sempat memperlambat langkahnya. Cowok denim itu menatap Aurel dengan sepasang mata teduhnya yang sarat akan kesabaran dan keikhlasan yang besar.
"Intel sayur lo belum datang, Rel?" tanya Reyhan dengan nada suara beratnya yang tenang dan sangat biasa—sebuah pembawaan profesional murni tanpa ada getaran asmara lagi demi menjaga kenyamanan hati Aurel.
Aurel menoleh lalu mengulas senyum tipis yang kaku. "Belum, Rey. Katanya tadi di jalan arah rumah Kak Anita agak padat, tapi ini dia udah otw balik ke kampus kok."
Reyhan manggut-manggut paham, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat. "Ya sudah, gue balik duluan kalau gitu. Jangan melamun sendirian di pos satpam, entar kesambet rumus Pak Baskoro. Duluan, Partner."
"Iya, Rey. Hati-hati di jalan ya! Makasih buat draf tugasnya tadi," sahut Aurel tulus. Ia menatap punggung tegap Reyhan yang perlahan menjauh dan memacu motornya keluar dari gerbang kampus. Rasa lega sekaligus haru menyeruak di dada Aurel; ia sangat bersyukur karena kedewasaan Reyhan membuat pertemanan kelompok mereka tetap aman tanpa ada kecanggungan.
Tidak sampai sepuluh menit setelah kepergian Reyhan, suara raungan mesin motor sport hitam yang sangat familier akhirnya memecah keheningan parkiran sore itu. Motor besar itu berhenti tepat di depan Aurel, dan sang pengendara langsung membuka kaca helm fullface-nya dengan napas yang sedikit memburu.
"Sorry, sorry! Agak telat gue, Rel! Tadi di perempatan depan kompleks Anita ada truk mogok, makanya jalur baliknya macet parah," seru Bang Edward sembari menyeka keringat tipis di dahinya, namun senyum lebar seorang kakak langsung terbit di wajahnya yang tampan.
Melihat kehadiran Bang Edward yang benar-benar menepati janjinya untuk kembali ke kampus demi menjemputnya sendiri, hati Aurel seketika kembali membuncah oleh kebahagiaan yang manis. Senyum cerianya langsung merekah sempurna tanpa bisa ditahan. Rasa lelah seharian kuliah mendadak lenyap begitu saja, digantikan oleh debaran kencang nan familier yang bertalu-talu di dalam dadanya. Berada di dekat Bang Edward selalu sukses membuatnya deg-degan setengah mati.
"Nggak apa-apa, Bang Edward! Gue tahu kok lo kan abang kating paling bertanggung jawab se-fakultas," goda Aurel sembari menerima helm putih wangi yang diulurkan oleh abangnya itu.
Bang Edward terkekeh renyah, lalu dengan gerakan alami yang begitu manis, ia mencubit pelan hidung Aurel dengan gemas. "Bisa aja lo ngerayu biar nggak gue omelin soal draf tugas. Ya sudah, buruan naik. Kasihan Om Wira pasti udah cemas nungguin putri kesayangannya di rumah."
"Siap, Kapten!" sahut Aurel dengan wajah yang memerah padam menahan salah tingkah gila-gilaan akibat cubitan manis tadi.
Aurel perlahan naik ke jok belakang motor sport hitam itu. Begitu motor mulai melaju membelah angin sore kota yang sejuk, Aurel memberanikan diri untuk kembali menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit tebal Bang Edward, mendekap pinggang tegap cowok itu dari belakang. Ia menyandarkan pelipisnya di punggung kokoh Bang Edward dengan mata terpejam damai.
Di balik rasa bahagianya yang luar biasa malam ini, Aurel sadar sepenuhnya; batas tak kasatmata di antara mereka sebagai kakak dan adik tidak akan pernah berubah. Di hati Bang Edward, ruang asmara itu selamanya milik Kak Anita. Namun di atas motor yang bergerak menuju rumah Daddy Wira ini, Aurel memilih untuk menikmati detak jantungnya yang bergemuruh keras, mendekap erat cinta sepihaknya yang getir namun teramat indah dalam lembaran hidupnya.
Malam semakin larut dan keheningan mulai menyelimuti kamar bernuansa pastel milik Aurel. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di luar jendela, sisa-sisa angin sore yang sejuk bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun pohon taman.
Aurel sedang duduk bersila di atas tempat tidur dengan piama satinnya, menatap layar laptop yang menampilkan materi bab empat dari Pak Baskoro. Namun, fokusnya tidak sepenuhnya ada pada deretan teks rumus tersebut. Pikirannya masih melayang pada momen manis saat ia memeluk pinggang tegap Bang Edward di atas motor sore tadi.
Bzzzt! Bzzzt!
Ponsel Aurel yang tergeletak di atas selimut mendadak bergetar hebat. Bukan sekadar notifikasi pesan biasa, melainkan sebuah panggilan video call WhatsApp yang langsung memunculkan nama 'Bang Edward' di layarnya.
Jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan yang teramat kencang mendadak bergemuruh di dalam dadanya. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang agak acak-acakan di depan kamera depan, menarik napas panjang untuk menetralkan gugup, lalu menggeser tombol hijau ke arah atas.
Klik.
Layar ponselnya seketika terbagi dua, menampilkan wajah tampan Bang Edward yang sudah mengenakan kaus rumahan santai, sedang bersandar di kepala tempat tidurnya sendiri.
"Hayo! Ketahuan ya! Muka lo tegang banget pas angkat telepon, pasti lo lagi asyik main game atau buka media sosial, kan? Nggak belajar bab empat!" tudong Bang Edward langsung tanpa ba-bi-bu, suaranya terdengar lantang namun sarat akan nada perhatian yang manis dari seberang layar.
Aurel refleks memajukan bibirnya, mencoba menutupi rasa salah tingkah gila-gilaan yang merajai dirinya akibat ditatap sedekat itu lewat layar ponsel. "Ih, sembarangan! Suuzon mulu kerjaannya ya kating satu ini! Nih, lihat sendiri kalau nggak percaya!"
Aurel memutar kamera belakang ponselnya, mengarahkannya tepat pada layar laptop yang memang sedang menampilkan draf rumus bab empat serta buku catatan tebalnya.
Bang Edward yang melihat bukti nyata itu seketika terkekeh renyah—sebuah suara tawa yang begitu hangat dan selalu sukses membuat hati Aurel meleleh. "Hahaha! Oke, oke, gue percaya. Bagus deh kalau lo anak penurut. Gue sengaja video call begini murni karena mandat dari Om Wira ya, disuruh memantau putri kesayangannya biar nggak kelayapan di WhatsApp malam-malam."
Bang Edward kembali menatap layar dengan binar mata seorang kakak yang sangat bangga. "Pelajarin yang bener ya, Bocil. Variabel bab empat ini intinya ada di analisis korelasi linear. Lo pahami konsep dasarnya dulu. Awas ya kalau besok Senin nilai kelompok lo turun, gue sebagai kapten kesebelasan intel sayur bakal langsung turun tangan lagi."
"Iya, Bang Edward! Cerewet bener deh, gue juga udah paham dikit-dikit kok karena semalam sempat dibahas sekilas di drafnya Reyhan," sahut Aurel dengan suara yang diusahakan senormal mungkin, meski pipinya sudah memerah padam sempurna menahan debaran jantungnya yang bertalu-talu keras.
"Nah, gitu dong. Ya udah, gue cuma mau cek itu aja. Buruan selesaiin satu sub-bab lagi terus langsung tidur, ponselnya ditaruh di meja nakas jangan dimainin lagi. Sleep tight, Dek," pamit Bang Edward lembut dengan sebuah senyuman manis khasnya sebelum akhirnya memutus sambungan video call.
Klik. Layar ponsel kembali meredup dan menampilkan menu utama.
Aurel perlahan menurunkan ponselnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari memeluk bantal gulingnya erat-erat. Wajahnya disembunyikan di balik kain katun yang lembut, menahan salah tingkah gila-gilaan yang membuncah di dalam kamar sunyinya.
Perhatian manis dari Bang Edward lewat panggilan video malam ini benar-benar sukses menerbangkannya ke langit tertinggi. Meskipun ia tahu larangan dan pengawasan posesif abangnya murni karena rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, dan ruang asmara di hati senior itu sepenuhnya telah digenggam erat oleh Kak Anita, Aurel memilih untuk egois sejenak malam ini. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, Aurel memejamkan matanya dengan senyum yang terus mengembang lebar, membiarkan hatinya terlelap dalam debaran cinta sepihaknya yang paling indah.
Suasana pagi di akhir pekan di kediaman keluarga Aurel terasa begitu hangat. Sinar matahari cerah menerobos masuk lewat jendela kaca besar ruang tamu, memantulkan pendar keemasan di atas lantai marmer. Aroma harum kopi ekspreso dan kue sus buah buatan Mommy Zeline yang baru matang melengkapi ketenangan rumah megah itu.
Aurel yang mengenakan dress rumahan kasual berwarna pastel sedang membantu ibunya menata piring-piring kecil di atas meja kaca ruang tengah. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat suara deru mesin mobil yang sangat familier berhenti di depan pagar, disusul suara klakson yang ceria.
"Mommy! Papa Crish sama Mama Olivia datang!" seru Aurel dengan binar mata yang langsung berbinar cerah.
Belum sempat pintu utama diketuk, Aurel sudah melesat cepat membukanya. Begitu daun pintu berayun terbuka, sosok Mama Olivia dan Papa Crish langsung melangkah masuk dengan senyuman paling hangat yang mereka punya.
"Aurel! Putri bungsu kesayangan Mama!" pekik Mama Olivia riang. Tanpa ba-bi-bu, wanita paruh baya itu langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menarik Aurel ke dalam pelukan dekapan hangat yang teramat erat. "Aduh, Mama kangen banget sama anak gadis ini. Baru beberapa hari nggak main ke rumah rasanya sepi sekali. Edward di rumah juga kerjanya cuma merengut terus.
"Papa Crish yang berdiri di belakang istrinya langsung terkekeh renyah. Begitu pelukan Mama Olivia terlepas, pria paruh baya itu berganti mengusap-usap puncak kepala Aurel dengan penuh kasih sayang khas seorang ayah yang selalu memanjakannya sejak balita. "Iya, nih. Papa sampai maksa Olivia buat bikin jadwal bertamu khusus akhir pekan ini murni karena kangen dengar suara cempreng kamu di ruang tengah, Rel."
Mendengar limpahan kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tua sahabatnya—yang sudah resmi mengadopsinya secara informal sebagai anak bungsu di hati mereka—hati Aurel seketika membuncah oleh keharuan yang mendalam. Senyum manisnya merekah sempurna, melarutkan seluruh rasa lelah perkuliahan di kepalanya.
"Aurel juga kangen banget sama Mama Olivia dan Papa Crish!" sahut Aurel dengan tawa lepas yang sangat ceria.
Daddy Wira dan Mommy Zeline berjalan keluar dari arah dapur, langsung menyambut kedatangan para sahabat lama mereka dengan pelukan hangat antarkeluarga. "Wah, Crish, Olivia! Masuk, masuk! Pas bener ini Zeline baru selesai bikin camilan sore," sapa Daddy Wira sembari menepuk pundak Papa Crish akrab.
Namun, di tengah keriuhan sambutan hangat itu, perhatian Aurel mendadak teralih ke arah ambang pintu luar. Sosok Bang Edward melangkah masuk belakangan dengan santai, menjinjing kotak boks martabak manis titipan ibunya. Cowok itu mengenakan kaus rumahan hitam polos yang tegap, memancarkan pesona kasual yang begitu familier.
Begitu sepasang mata mereka saling bertumbukan dalam jarak dekat, jantung Aurel mendadak melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan gila-gilaan yang teramat keras kembali bergemuruh hebat di dalam dadanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak terasa hangat menahan salah tingkah.
Bang Edward meletakkan boks martabak di meja, lalu menatap Aurel dengan cengiran jahil khasnya. Tanpa suara, tangan kekar kating siaga satu itu terulur, menjangkau kepala Aurel lalu mengacak-acak rambut gadis itu dengan gerakan yang teramat gemas dan manis. "Pagi, Bocil. Mukanya nggak usah tegang begitu, gue ke sini murni jadi supir pribadi Papa Mama yang lagi rindu berat sama lo, kok. Bukan dalam mode intel sayur."
Aurel refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rona merah yang kini sudah matang sempurna sampai ke telinganya. Di bawah riuhnya obrolan hangat kedua orang tua mereka yang mulai duduk melingkar di sofa, Aurel meremas pelan ujung dress-nya dengan debaran dada yang bertalu-talu keras.
Di atas lantai rumahnya sendiri pagi ini, ia sadar sepenuhnya; alasan terbesar kenapa ia memilih mengubur dalam-dalam perasaan cinta sepihak ini murni karena ia terlalu takut kehilangan momen seindah ini. Ia tidak ingin kehilangan pelukan hangat Mama Olivia, manjaan Papa Crish, dan perhatian spontan nan manis dari Bang Edward yang selamanya hanya menganggapnya adik kecil yang berharga. Di balik rahasia getir hatinya yang tersembunyi rapat, Aurel tersenyum tulus, memilih untuk egois menikmati kebahagiaan semu yang dikemas dalam kehangatan keluarga besar mereka di akhir pekan ini.
Aroma harum gurih dari rendang daging sapi, ayam goreng mentega, dan sayur asem hangat buatan Mommy Zeline seketika memadati area ruang makan. Di atas meja makan marmer putih yang mewah, piring-piring porselen sudah tertata rapi. Sentuhan pendar lampu gantung kekuningan di atas meja menciptakan atmosfer makan siang keluarga yang begitu berkelas namun terasa sangat akrab.
"Ayo semuanya langsung duduk, mumpung makanannya masih hangat," ajak Mommy Zeline ramah sembari mempersilakan para tamu.
Papa Crish dan Mama Olivia mengambil tempat bersebelahan, sementara Daddy Wira duduk di ujung meja selaku kepala keluarga. Aurel secara refleks mengambil posisi duduk di sebelah kursi Papa Crish—tempat favoritnya untuk bermanja—yang kebetulan berada tepat berhadapan dengan kursi Bang Edward.
Begitu semua piring terisi, Daddy Wira melirik ke arah Bang Edward, lalu beralih menatap putri bungsunya yang sedang lahap menyendok kuah sayur asem. Sebuah senyuman jahil khas seorang ayah seketika terbit di wajah pria paruh baya itu.
"Melihat Edward sama Aurel duduk hadap-hadapan begini, Daddy jadi ingat zaman mereka masih balita dulu," celetuk Daddy Wira santai memecah keheningan meja makan, memicu tawa kecil dari Mama Olivia. "Dulu itu, Edward paling nggak bisa kalau sehari aja nggak ketemu Aurel. Kalau Aurel ditinggal dinas luar kota sama Om, Edward bisa nangis guling-guling di depan pagar rumah, nungguin adik kecilnya pulang.
"Uhuk!
Aurel yang baru saja menelan nasi hangatnya seketika tersedak pelan. Wajahnya dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam akibat salah tingkah masa lalunya dibongkar blak-blakan di depan umum. "Daddy! Astaga, itu kan cerita zaman purba pas Aurel masih ompong!" protes Aurel gemas dengan volume suara yang sedikit naik satu oktav.
Bang Edward sendiri langsung menyengir kuda, memotong daging ayamnya dengan gerakan santai tanpa beban gengsi kating. "Wah, Om Wira buka kartu lama nih. Tapi beneran, Om, si Bocil ini dulu kalau makan juga harus Edward yang nyuapin pakai sendok plastik kecil. Kalau nggak, nasinya dilempar-lempar ke lantai. Manjanya minta ampun dari orok."
Papa Crish meledak dalam tawa renyah sembari mengusap-usap puncak kepala Aurel penuh kasih sayang. "Hahaha! Iya, bener itu, Wir! Malah sampai sekarang kan si Edward masih bawa mode abang siaga satu kalau di kampus. Kemarin aja dia nekat jadi intel pasar sayur murni demi mastiin Aurel pulang aman."
Mendengar rentetan kalimat godaan dan cerita kedekatan mereka sejak kecil yang mengalir begitu tulus dari mulut Daddy Wira dan Papa Crish, jantung Aurel seketika bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat. Rongga dadanya bergemuruh hebat, menciptakan sensasi deg-degan luar biasa yang bertalu-talu keras di dalam dirinya. Wajahnya sudah merona merah sempurna hingga ke hulu telinga.
Aurel perlahan mendongak, mencuri pandang ke arah depan. Di seberang meja marmer itu, Bang Edward sedang menatapnya dengan binar mata seorang kakak yang teramat hangat, penuh rasa sayang yang protektif dan tulus—sebuah tatapan eksklusif yang sayangnya memiliki batas tak kasatmata yang sangat kejam.
Aurel memaksakan sebuah tawa renyah demi menutupi salah tingkah gila-gilaannya. Di hulu hatinya yang terdalam, rasa bahagia yang manis sekaligus getir yang mendalam kembali bergolak hebat. Ia tersadar untuk kesekian kalinya; memori masa kecil mereka terlalu indah untuk dihancurkan oleh sebuah ego pernyataan cinta sepihak. Ia tidak akan pernah bisa memiliki hati Bang Edward sebagai seorang wanita karena ruang asmara senior itu telah digenggam erat oleh Kak Anita. Namun siang ini, didekap oleh limpahan kasih sayang keluarga besar dan obrolan seru di meja marmer, Aurel memilih untuk egois sejenak menikmati debaran gila di dadanya, menyimpan rapat rahasia hatinya dalam lembaran hidup yang hangat.