Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 STRATEGI YANG BERHASIL
Dekat Gerbang 3 yang hancur sebagian, tubuh raksasa Red Dragon tergeletak tak berdaya dalam kukungan pilar-pilar batu Lytia. Meski tubuhnya penuh luka dan sayapnya koyak, mata naga itu tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, pupil matanya yang vertikal berkilat dengan cahaya ungu yang tidak alami, seolah-olah sedang menghitung mundur sesuatu yang mematikan.
Lytia dan Laksamana Airon berdiri tidak jauh dari sana. Napas mereka memburu, namun wajah mereka menyiratkan kepuasan.
"Wah, tidak sangka kita benar-benar bisa mengalahkan Red Dragon ini tanpa adanya kerusakan yang lebih besar pada kota," ucap Lytia sambil menyarungkan pedangnya sebagian.
Airon mengangguk, ia tampak bangga. "Benar, Lytia. Ini pengalaman yang sangat berharga bagiku, bisa menjatuhkan naga legendaris. Sekarang kita tinggal menunggu Putri Stella. Putri Stella seharusnya sudah siap mengumpulkan energi sihir di menara istana dan akan segera ke sini untuk serangan terakhir."
Lytia menoleh ke arah naga itu, lalu bertanya, "Kenapa kita tidak bunuh saja sekarang? Bukankah itu lebih aman daripada membiarkannya bernapas lebih lama? Putri tidak perlu repot-repot turun tangan."
"Bukan kah tadi Putri sudah bilang Lytia, Putri ingin mengukur sejauh mana kekuatan sihir cahayanya yang baru," jawab Airon tenang. "Putri belum terbiasa menggunakannya dalam pertempuran nyata. Uji coba pada naga ini akan menunjukkan sudah seberapa mampu ia mengendalikan anugerah tersebut."
"Aku paham. Baiklah, kita tunggu Putri Stella," gumam Lytia.
Kabar baik mulai berdatangan. Pasukan di darat berhasil memukul mundur para Minotaur, sementara unit penyihir air Laksamana Airon telah berhasil memadamkan sisa-sisa api di hutan dekat gerbang. Namun, di tengah ketenangan itu, raut wajah Lytia tiba-tiba berubah drastis.
"Oh tidak! Airon, di mana Zeta?!" seru Lytia dengan nada panik yang tiba-tiba. "Kenapa dari tadi dia tidak kelihatan?"
Airon terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Sebelum naga ini muncul, aku dan Putri ingin menyelidiki hutan. Penjaga gerbang memberitahu kami bahwa Zeta pergi latihan sendirian ke dalam hutan itu. Dan tepat saat kami sampai di pinggiran hutan, Red Dragon muncul. Aku hanya bisa berharap dia baik-baik saja."
"Apa?!" Lytia merasa jantungnya seakan berhenti. "Dia benar-benar belum tahu apa-apa! Aku takut dia terkena serangan naga itu, apalagi naga itu muncul tepat di hutan tempatnya berlatih! Gawat, aku harus mencarinya sekarang!"
Lytia hendak berlari menuju hutan, namun tangan kokoh Airon menahannya. "Jangan, Lytia! Saat ini naga ini adalah prioritas utama. Keamanan kerajaan ada di tanganmu. Aku sudah mengerahkan pasukan pencari ke hutan itu. Tenanglah."
"Tapi aku takut dia kenapa-kenapa..." bisik Lytia, matanya menatap hutan yang masih berasap dengan rasa cemas yang mendalam.
Tak lama kemudian, Putri Stella tiba dengan langkah anggun namun tegas. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, memancarkan aura suci yang agung. "Bagus kalian berdua. Kalian benar-benar berbakat dan hebat. Terima kasih sudah menjatuhkannya, sekarang aku bisa mengukur kekuatan sihir cahayaku."
"Silakan, Putri," ucap Airon dan Lytia seraya memberi hormat. "Kami juga ingin menyaksikan keagungan sihir Anda."
Stella berdiri di depan sang naga, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Langit di atasnya seolah terbelah oleh cahaya terang. "Sihir Agung: Pemusnahan Kehidupan Dewa Iblis Cahaya!"
Lingkaran sihir raksasa berwarna oranye putih muncul di depan Stella, mengumpulkan energi laser yang amat masif. Namun, tepat saat laser itu akan dilepaskan, mata Red Dragon membelalak luas. Lingkaran sihir ungu misterius mendadak muncul di bawah tubuh sang naga.
DUAAARRRRRRRR!
Petir ungu raksasa menyambar dari langit, menghantam naga itu dan memicu ledakan energi yang luar biasa dahsyat.
"Apa?!" teriak Airon. "Kita tidak sempat menghindar!"
Ledakan itu meluluhlantakkan area sekitar 6 meter. Tanah retak, dinding gerbang hancur berkeping-keping, dan rumah-rumah warga di sekitarnya rata dengan tanah. Dalam sepersekian detik sebelum ledakan mengenai mereka, Lytia dengan refleks kilat menarik Putri Stella dan membangun dinding tanah darurat. Meski dinding itu hancur seketika, setidaknya mereka tidak terkena dampak langsung yang mematikan.
Di dalam istana, guncangan itu terasa seperti gempa bumi. Raja Beltrum yang berada di balkon langsung berteriak panik, "Penjaga! Apa yang terjadi?! Itu lokasi Putriku! Stella!"
Sang Ratu keluar dari kamarnya dengan wajah pucat, merangkul pengasuh istana. "Suamiku... apa Stella baik-baik saja? Ledakan apa itu tadi?"
Raja nyaris kehilangan kendali dan ingin berlari keluar jika tidak ditenangkan oleh para penasehatnya.
Kembali ke medan tempur, asap tebal perlahan menipis. Lytia, Stella, dan Airon terhempas jauh ke reruntuhan. Kepala mereka berdarah, pakaian mereka sobek.
"Apa... apa sihir cahayaku gagal sehingga meledak seperti ini?" tanya Stella dengan suara gemetar, berusaha bangkit.
Lytia terbatuk, mengusap darah di keningnya. "Tidak, Putri... saat Anda akan menyerang, naga itu yang memicu lingkaran sihir ungu. Itu adalah serangan balasan."
Airon merangkak mendekat, wajahnya penuh luka lebam. "Putri! Apa Anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka parah?"
Stella mencoba berdiri, namun meringis kesakitan. "Aku tidak apa-apa... hanya luka ringan, tapi sepertinya kakiku terkilir."
Asap dan debu sisa ledakan masih menggantung pekat di udara. Di tengah kesunyian yang mencekam pasca-ledakan, tiba-tiba muncul sebuah suara. Bukan sekadar raungan, melainkan getaran suara yang begitu berat dan rendah suara ruangan yang menyekit dan benar benar membuat yang dengar itu down mentalnya suaranya sangat seram.
Se isi kota, kepanikan massal pecah dengan cara yang lebih mengerikan. Anak-anak menangis histeris, bahkan beberapa warga jatuh pingsan hanya karena mendengar raungan suara tersebut. Di balkon istana, Raja dan Ratu keluar dengan wajah pucat pasi.
"Suara apa ini...?" bisik Stella dengan bibir bergetar, berusaha membersihkan debu dari wajahnya. "Lytia, Airon... apa kalian merasakannya? Ini terasa seperti... akhir dari segalanya."
Dari balik tirai debu di lokasi Red Dragon, sebuah bayangan raksasa mulai berdiri. Ukurannya dua kali lipat lebih besar dari naga sebelumnya. Saat debu tertiup angin, nampaklah sosok mengerikan dengan dua kepala yang saling menjerit dan empat sayap raksasa yang menutupi langit.
Di balkon istana, ingatan masa lalu menghantam Raja Beltrum seperti gada besi. Ia teringat saat dirinya masih berusia sepuluh tahun, melihat ayahnya sang Raja terdahulu bersimbah darah demi menyegel seekor naga yang hampir memusnahkan kerajaan mereka.
"Tidak... jangan katakan itu dia..." gumam Raja dengan tangan gemetar hebat. Matanya membelalak saat melihat sosok itu dengan jelas. "GAWAT! JANGAN BILANG ITU FULNOX!"
Teriakan Raja mengguncang mental para pengawal. Raja berbalik dan berteriak dengan suara parau, "KIRIM PESAN SEKARANG! BAWA SEMUA PASUKAN DI PERBATASAN LEMBAH NOX KEMBALI KE ISTANA! INI DARURAT NASIONAL!"
"Maafkan hamba, Baginda!" sela penasehat militer di sebelah kanannya. "Kita tidak bisa menarik pasukan dari Lembah Nox. Jika kita melakukannya, Kerajaan Zetobia akan melihat celah dan menghancurkan kita dalam sekejap!"
Raja menggigit bibirnya hingga berdarah, wajahnya memerah penuh amarah dan frustrasi. "Cih! Benar juga... Sialan kau, Fulnox! Jika begitu, aku sendiri yang akan turun tangan!"
"Jangan, Suamiku!" Ratu terbatuk-batuk, berusaha menahan lengan suaminya dengan sisa tenaganya. "Di sana terlalu bahaya... kau tidak boleh pergi."
"Tenanglah, Istriku. Aku adalah Raja! Ini tanggung jawabku untuk melindungi rakyatku!" tegas Raja.
Namun, sang Penasehat Agung segera menghalang jalan Raja. "Berhenti, Baginda! Kami baru mendapat kabar bahwa Putri Stella, Jenderal Lytia, dan Laksamana Airon masih selamat di lokasi. Tolong, berikan kepercayaan pada mereka sekali lagi. Baginda adalah aset pertahanan terakhir kerajaan ini. Jangan ikut campur dulu sebelum keadaan benar-benar berada di titik nadir!"
Raja terdiam, napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Gerbang 3 sambil terus menggigit bibir bawahnya.
Sementara itu, di reruntuhan Gerbang 3, Stella dan laksmana, Jendral Lytia berdiri membeku.
"D-dia... dia berevolusi?" gumam Lytia dengan wajah tak percaya.
Laksamana Airon mundur satu langkah, pedangnya bergetar di tangan. "Putri... itu Fulnox. Dia dua kali lipat lebih kuat dari Red Dragon. Di buku sejarah, dia adalah bencana yang pernah hampir meratakan kerajaan ini sebelum akhirnya disegel."
Putri Stella jatuh terduduk, matanya berkaca-kaca melihat monster berkepala dua itu mengepakkan empat sayapnya, menciptakan badai angin yang merobohkan sisa-sisa bangunan. "Fulnox...? Apa ini benar-benar akhir dari kehidupan kita?"
Di tengah keputusasaan itu, Lytia berteriak kencang, memecah ketakutan. "TIDAK! TIDAK AKAN BERAKHIR DI SINI!"
Lytia berdiri tegak, menghunuskan pedangnya ke arah sang naga berkepala dua. "Kita belum berakhir! Ayoo! Kita hadapi dia bersama-sama! Kita pasti bisa menghabisi naga busuk ini!"
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍