NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alya Dalam Bahaya

Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, membuat langit yang seharusnya masih terang, kini berubah gelap kelabu.

Di dalam mobil mewah hitam miliknya, Arkan duduk diam di kursi pengemudi, rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol jelas.

Matanya yang tajam menatap jalanan basah di depannya, namun pikirannya entah melayang ke mana.

Di sebelahnya, Alya duduk diam, kedua tangannya meremas ujung rok blushnya.

Sejak tadi siang, suasananya aneh. Arkan tiba-tiba menariknya keluar dari kampus, tanpa penjelasan, tanpa kata-kata.

Wajah pria itu dingin, lebih dingin dari biasanya. Dan Alya tahu betul tatapan itu, tatapan seorang pembunuh, dan bukan suaminya.

"Arkan, kita mau ke mana?" tanya Alya pelan, suaranya hampir hilang tertelan suara hujan yang menghantam kaca mobil.

Arkan tidak menoleh sedikit pun, tangannya mencengkram setir begitu kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.

"Diamlah."

Jantung Alya berdebar kencang, ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya di udara, bau besi dan darah seolah tercium meski hanya ada bau parfum mahal, dan AC dingin di dalam mobil ini.

Sejak insiden kemarin, Damar terlihat begitu tenang, dan bagi keluarga Virello, tenang itu bukan kedamaian, tapi sebuah badai sebelum kehancuran.

Mobil melaju meninggalkan jalan utama, masuk ke kawasan industri tua di pinggiran kota. Jalanan semakin sepi, hanya diisi bangunan pabrik yang sudah lama ditinggalkan.

Alya mulai panik, ia menoleh cepat ke arah Arkan. "Ini bukan jalan pulang ke mansion, Arkan. Kenapa kita di sini?" bisiknya dengan suara gemetar.

Mesin mobil mati mendadak, suara hujan terdengar semakin bising. Arkan mematikan mesin, mematikan lampu, lalu menoleh perlahan ke arah Alya.

Tatapan mata hitamnya begitu tajam, "Kamu ingat apa yang kukatakan padamu, Alya? Bahwa menjadi istriku artinya kamu hidup di ujung pisau. Bahwa setiap napas yang kamu hembuskan adalah karena aku mengizinkannya."

Alya menelan ludah, "A-aku ingat."

"Bagus," Arkan mendekatkan wajahnya. Jarak mereka hanya beberapa senti saja. Aroma tembakau memenuhi rongga hidung Alya. "Karena hari ini, nyawamu benar-benar sedang dipertaruhkan."

Belum sempat Alya bertanya, suara deru mesin berat terdengar mendekat dari arah belakang.

Dua mobil hitam berplat gelap melaju kencang, langsung memblokir jalan keluar mereka, lalu berhenti mendadak hingga ban berdecit keras di aspal yang basah.

Pintu mobil terbuka, keluar sepuluh pria bertubuh besar, seluruhnya mengenakan jaket hitam, wajahnya tertutup sebagian.

Dan yang membuat darah Alya membeku, seluruhnya memegang senjata api, dan siap menembak kapan saja.

Arkan langsung menarik Alya turun dari mobil, menyeretnya secara paksa ke sisi samping kendaraan sebagai perlindungan.

Ia mendorong tubuh kecil Alya ke belakang dirinya, menjadikan tubuh tegapnya sebagai tameng. Napasnya tenang, terlalu tenang untuk situasi seberbahaya ini.

Dari mobil depan, keluar seseorang yang betubuh tinggi besar, dengan senyum menjijikan di bibirnya. Orang itu tak lain adalah Damar.

"Aduhai, adikku sayang!" seru Damar, suaranya menggema di tengah suara hujan.

Damar berjalan santai seolah sedang jalan-jalan di taman, bukan di tengah hujan lebat dengan senjata di tangan.

"Kamu memang tidak pernah mengecewakan. Aku cuma kirim pesan kecil ke nomormu, dan kamu langsung datang seperti anjing yang dipanggil tuannya. Dan... sekaligus membawa hadiah kesayanganmu juga."

Mata Damar melirik ke arah Alya, yang mengintip dari balik punggung lebar Arkan.

Tatapan mata kakak iparnya itu kotor, lapar, penuh nafsu dan kebencian. Dan Alya merasa ingin muntah.

"Mau apa kamu, Damar?" tanya Arkan. "Masih belum puas menderaku di masa lalu? Dan sekarang kamu ingin main kotor di depan istriku?"

Damar tertawa keras, tawa yang terlihat jahat. "Main kotor? Arkan, sayangku... ini bukan main-main. Tapi ini perebutan tahta. Dan kamu tau, kenapa kamu kalah dariku?" Damar berhenti melangkah, tangannya memainkan senjata di jari-jarinya. "Karena kamu punya kelemahan, dan kelemahan terbesarmu..." jarinya teracung tajam, menujuk tepat ke arah Alya. "...ada di belakang punggungmu."

Darah Alya serasa berhenti mengalir, ia merasakan tangan Arkan mencengkram lengannya dengan erat.

Meskipun genggaman itu terasa sakit, tapi itu satu-satunya hal yang membuatnya sadar, bahwa ia masih hidup.

"Sentuh dia sedikit saja," ancam Arkan, nada suara predator yang selama ini disembunyikan. "Dan aku akan mengupas kulitmu hidup-hidup, Damar. Kamu tahu aku sanggup melakukan itu semua."

"Ah, aku tahu. Itulah kenapa aku membawa teman-teman," Damar mengedip, lalu memberi kode dengan kepalanya.

Seketika, para anak buah Damar mengangkat senjata. Mengarahkan moncongnya tepat ke arah Arkan dan Alya.

Suasana menjadi hening, hanya ada suara hujan yang jatuh dan detak jantung Alya yang terdengar di telinganya.

Ia takut, bahkan sangat takut. Alya hanya mahasiswi sastra, gadis biasa yang dipaksa masuk ke neraka ini. Dan ia tidak siap untuk mati sekarang.

Namun saat ia menatap punggung Arkan yang tegap, punggung yang kini menjadi dinding antara dirinya dan maut.

Ada rasa aneh yang menjalar di tubuhnya, pria ini kejam, dingin, manipulatif, sering membuatnya menangis setiap pagi.

Tapi di detik-detik sepertimu ini, Arkan tidak lari. Ia tidak menyerahkannya, ia hanya berdiri di sini, menantang maut hanya untuk melindungi wanita yang dulu ia anggap sekedar istri kontrak.

"Lepaskan dia, Damar," desis Arkan lagi. "Ini urusan kita, dan biarkan Alya pergi."

Damar menggeleng pelan, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi ekspresi dingin dan penuh dendam.

"Oh, tidak, tidak, tidak. Sayang sekali adikku, rencananya hari ini kamu akan mati. Dan istri manismu ini, aku yang akan merawatnya. Aku akan membuatnya melupakan namamu, sampai ia sendiri yang memohon-mohon padaku. Bagaimana? Bukankah itu akhir dari cerita yang indah?"

Napas Alya tercekat, ia meremas kemeja belakang Arkan dengan kedua tangannya. Kuku-kukunya hampir merobek kain itu.

"Kamu gila!" ucap Arkan. Kali ini ada senyum tipis, senyum merendahkan yang membuat Damar geram. "Kamu pikir aku datang ke sini sendirian? Dan tanpa persiapan, begitu?"

Sebelum Damar sempat beraksi, Arkan dengan gerakan kilat menarik Alya jatuh ke tanah. Menindih tubuh gadis itu ke aspal basah, yang berlumpur sambil melindungi kepalanya dengan tangan besarnya.

DOR!! DORRR!!

Suara tembakan pecah bersahutan, membelah udara. Darah, tanah, dan air hujan berhamburan.

Alya menjerit, suaranya tertelan di dada bidang Arkan. Ia memejamkan mata erat-erat, kepalanya dipaksa tertanam di dada Arkan. Telinganya tertutup telapak tangan pria itu.

"JANGAN LIHAT! TUTUP MATA DAN TELINGAMU!" teriak Arkan di tengah kegaduhan, suaranya menggelegar. Berbeda jauh dari nada dingin yang biasanya. Ada kepanikan di sana? Atau sekedar naluri membunuh?

Perang senjata terjadi di depan mata mereka, Arkan bergerak cepat, menarik pistol tersembunyi dari balik jaketnya.

Ia menembak balik dengan akurasi mematikan, Arkan tidak seperti manusia, melainkan mesin pembunuh yang terlatih.

Setiap peluru yang keluar dari senjatanya selalu menemu sasaran, teriakan kesakitan terdengar di mana-mana, bercampur dengan bau mesiu dan besi berkarat.

Namun jumlah musuh terlalu banyak.

Saat Arkan sedang sibuk menembak ke kanan, seorang anak buah Damar yang masih hidup berhasil mendekat dari sisi kiri.

Pria itu berlari sambil mengacungkan pisau tajam, tepat ke arah belakang Arkan yang sedang membelakangi Alya.

"ARKAN!" jerit Alya, matanya terbelalak lebar, jantungnya terasa copot.

Arkan terlambat untuk berbalik, tubuh besar Arkan tersentak keras. Pisau itu menancap tepat di sisi pinggang kiri Arkan.

Darah merah segar seketika membasahi kemeja putihnya, bercampur dengan air hujan, mengalir deras ke tubuh Alya yang masih ada di bawahnya.

"Arkan!" Alya histeris, air matanya bercampir air hujan.

Ia ingin bergerak, ingin menolong, tapi Arkan malah semakin menekannya ke tanah. Seolah nyawanya lebih berharga daripada nyawa Arkan sendiri.

Damar tertawa terbahak-bahak di balik hujan, meski anak buahnya sudah banyak yang tumbang.

"Lihat itu! Lihatlah betapa hebatnya adikku! Rela berdarah demi wanita rendahan itu!"

Arkan meringin, giginya gemeretak menahan sakit yang luar biasa.

Ia mencengkram pisau yang menancap di tubuhnya, tidak mencabutnya, karena itu akan mempercepat pendarahan.

Ia memutar tubuhnya dengan sisa tenaga, menembakkan peluru terakhir tepat ke arah bahu Damar.

"ARGHH!!" Damar menjerit, tubuhnya terpelanting mundur terkena tembakan.

"MUNDUR!" teriak Damar sambil memegangi bahu yang berdarah. Matanya merah menatap Arkan dan Alya dengan penuh dendam. "Kita pergi! Tapi ingat Arkan, ini baru permulaan. Lain kali, aku pastikan bahwa pelurunya akan menembus kepalamu... dan kupotong-potong tubuh istrimu di depan matamu sendiri!"

Mobil Damar mundur terburu-buru, mereka kabur meninggalkan lokasi yang sudah jadi medan perang itu.

Suara tembakan berhenti, suasana hening kembali menyelimuti, hanya suara hujan yang masih turun tanpa ampun.

Arkan jatuh berlutut, tubuhnya yang tinggi besar ambruk ke tanah berlumpur. Pisau itu masih menancap kuat di pinggangnya.

Alya langsung bangkit, berlutut di samping Arkan, tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu pria itu.

"Arkan... Arkan lihat aku," isak Alya, air matanya mengalir deras.

Alya melihat darah terus keluar dari luka itu, membasahi seluruh tangan dan bajunya. Rasanya mual, takut, tapi yang lebih sakit adalah saat melihat pria ini terluka karena melindunginya.

Arkan terengah-engah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercampur air hujan membasahi wajah tajamnya.

Ia menatap Alya, mata hitamnya yang biasanya dingin kini terlihat kabur. Namun masih ada kekuatan di sana.

Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menyentuh pipi Alya dengan lembut yang basah oleh air mata dan hujan.

"Apa kamu tidak apa-apa?" bisiknya, suaranya sangat lemah, nyaris tak terdengar.

Alya mengangguk cepat, dan menangis semakin kencang. "Aku baik-baik saja, tapi kamu yang terluka, Arkan! Kamu berdarah banyak!"

Arkan tersenyum tipis, senyum yang belum pernah Alya lihat sebelumnya. Bukan senyum jahat, bukan senyum merendahkan, melainkan senyum lega.

"Syukurlah..." gumamnya pelan. Kepalanya jatuh lemas, bersandar lemah di bahu Alya. "Selama... kamu aman... hal itu yang sangat penting bagiku."

Di tengah dinginnya hujan, di tengah lumpur dan darah, di tengah ancaman maut yang baru saja berlalu, Alya Maheswari sadar akan satu hal.

Musuhnya bukan hanya Damar, bahayanya bukan hanya senjata dan ancaman.

Bahaya terbesarnya sekarang sebuah kenyataan, bahwa pria berdarah dingin ini adalah suaminya, bos mafia yang paling ditakuti, yang rela mati demi dia.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada peluru mana pun. Karena Alya sadar, jantungnya yang dulu tertutup rapat, perlahan mulai berdetak untuk Arkan Virello.

Dan itu adalah awal dari kehancuran, atau mungkin awal dari segalanya.

1
Vie
iiihhhh gak nyangka banget deh alya..... dikira sekarang beneran berubah karena sudah tulus menerima arkan.. aaahhh plot twist banget deh kak.... gak nyangka.... 😱😱😱😱
Vie
nah gitu.... beranilah kamu sebagai seorang istri mafia... 👍👍👍👍
Vie
nah gitu dong.. kamu sekarang harus mulai berani karena mau tidak mau kamu sudah menjadi istri seorang mafia dan itu tidak bisa lagi dihindari makanya sekarang kamu harus bangkit dan berani melawan demi keselamatamu sendiri juga demi arkan....
Vie
akhirnya nongol juga kak othtor...... 👍👍
Vie
iiiihhhh.... jadi ikutan tegang.....
Vie
lanjut kak 👍👍👍😊😊😊
Vie
iiihhhh...... aku penasaran banget dengan misteri cerita ini, da rahasia apa sebenarnya antara alya dan arkan.... 🤔🤔🤔🤔 lanjut thor makin seru dan tegang juga... 👍👍👍👍
Vie
sku beneran gak ngerti jalan pikiran si alya.. dia udah tau kemarin ada penyerangan yang menargetkan dirinya, bahkan dia sendiripun ketakutan setengah mati dan setelah semua itu masih menanyakan hal yang berulang2, kenapa semua terjadi, padahal walaupun di tidak mau atau bahkan tidak mengakui peenikahan merek, tapi tetap saja mereka sudah terikat pernikahan, dan itu akan menjadi kelemahan buat Arkan. lama2 aku dongkol juga sam si alya deh... 😡😡😡
Vie
lanjut kak .. 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!