Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 dinding yang mulai meninggi
Buket mawar merah dari Regan masih tergeletak di pojok meja kerja Ratih. Aroma wangi parfum dari buket itu masih tercium namun wangi buket mawar merah itu seperti mencekik leher Ratih seperti gas beracun yang siap meracuni tubuhnya kapan saja. Buket itu seperti punya mata yang selalu mengawasi gerak-gerik Ratih.
Sedari tadi suasana hati Ratih tidak tenang sama sekali, hatinya selalu was was dia seolah melihat Regan atau mata-mata Regan sedang berkeliaran di ruangan nya untuk mengawasi setiap detik pergerakan yang dia lakukan.
Ratih tidak bisa bekerja dengan fokus, setiap kali mendengar langkah kaki yang mendekat membuat jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat, dia takut kalau-kalau langkah kaki itu adalah langkah kaki Regan yang siap menerkam nya.
Suasana hati Ratih semakin mencekam apalagi hari ini Cindy sahabatnya tidak masuk kantor karena sakit. Kalau ada Cindy pastilah Ratih tidak akan merasakan ketegangan yang saat ini dia rasakan.
Ratih menatap tumpukan kertas-kertas yang ada di meja kerjanya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
Ratih mengangkat tumpukan kertas itu dan menggendongnya di tangan kanannya.
Ratih berjalan menuju ke sebuah ruang foto copy yang terletak di ujung. Lorong menuju ruang foto copy itu terasa sangat sepi sekali. Dan akhirnya dia sampai juga di depan ruang foto copy itu.Dia masuk ke dalam ruangan itu.
Perlahan Ratih mulai memfotokopi satu demi satu berkas-berkas yang di bawanya tadi. Di saat dia sedang menunggu mesin foto copy itu bekerja tiba-tiba saja ada seseorang yang datang memasuki ruangan tersebut.
Itu Dimas. Dia masuk ke dalam ruang foto copy itu dan menutup pintu kayu yang ada di belakangnya dengan perlahan membuat sesak ruangan yang sudah sempit itu. Dia masuk ke dalam ruangan itu hanya ingin menjelaskan kejadian semalam pada Ratih.
"Rat," ucap Dimas dengan suara cemas. Dimas melihat mata Ratih yang masih sembab efek dia menangis semalam.
"Mata kamu sembab. Kamu menangis karena chat ku semalam?" tanya Dimas yang melangkah mendekat pada Ratih.
Ratih mundur beberapa langkah sampai tubuhnya membentur mesin foto copy.
"Jangan mendekat!" pekik Ratih menatap tajam pada Dimas yang saat ini berada di hadapannya yang hanya berjarak setengah meter saja.
Kenapa lagi, Rat? Semalam kamu bilang kamu udah lupain aku, oke aku terima. Tapi kenapa sekarang kamu ketakutan begini? Ada apa sebenarnya?" Dimas menuntut jawaban. Nada suaranya frustrasi karena melihat Ratih yang seperti orang ketakutan.
Ratih mengepalkan tangannya, surat dari Regan masih ada di saku roknya. Aku akan selalu mengawasi mu.
Kata-kata Regan dalam surat itu membuat Ratih tak berdaya. Dia tidak mau kelihatan lemah di hadapan Dimas karena kalau dia lemah sedikit saja Regan pasti akan menghancurkan Dimas hari ini juga. Ratih tidak mau hal itu terjadi.
Ratih menarik napas dalam-dalam, Ia menatap Dimas dengan tatapan paling dingin yang bisa ia ciptakan, meskipun hatinya menjerit.
"Kamu ingin tahu kenapa aku ketakutan? Aku takut melihat kamu. Dimas Anggara. Kamu itu pengganggu, chat kamu semalam, kehadiran kamu di kantor ini, semuanya membuat aku risih."
Dimas tertegun, langkahnya terhenti.
"Risih...?"
"Iya. Aku risih melihat kamu. Dan asal kamu tahu bulan depan aku akan menikah dengan Regan. Regan meratukan aku dan memberikan segalanya yang aku mau yang tidak dapat kamu berikan. Dan kamu? Tiba-tiba saja kamu datang merusak kebahagiaan ku dengan drama masa lalu yang sudah basi!" Ratih melangkah maju menekan setiap kata-kata nya tepat di dada Dimas." Tolong tahu diri pak Dimas Anggara. Jangan buat aku makin jijik melihatmu!"
Kata "jijik" itu mampu membuat binar di mata Dimas menjadi padam seketika. Dia mundur selangkah. Hatinya mengeras, terluka sedalam- dalamnya oleh wanita yang sangat dia cintai.
"Jadi... itu yang kamu rasakan," suara Dimas terdengar serak dan merendah.
"Ya. Dan tolong menjaulah dari kehidupan ku."
Setelah berkata demikian Ratih menyambar semua kertas-kertas yang belum selesai dia fotocopy dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Dimas yang masih tertegun dengan sikap Ratih.
Ratih berjalan di lorong yang sepi menuju ke ruang kantornya, dia berjalan sambil membiarkan air mata nya yang mulai berjatuhan membasahi pipinya.
Ketika dia sampai di depan pintu kantornya buru-buru dia mengusap air matanya yang masih mengalir di pipinya.
Ratih masuk ke dalam ruang kantor dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambil menyandarkan kepalanya di punggung kursi putar itu.
"Ya Tuhan...betapa kejamnya aku. Maafkan aku Dim. Aku tidak mau kamu terlibat konflik dengan Regan dia adalah laki-laki yang sangat kejam yang mampu menghancurkan hidup siapapun dengan sekali perintahnya."
Sementara itu Dimas yang masih berada di dalam ruang foto copy, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami.
Kata-kata pedas dan kejam yang Ratih ucapkan tadi meluncur dengan mulus masuk menghujam ke dalam relung hatinya yang terdalam.
Dengan tubuh lemas, Dimas terduduk di kursi stainless yang terletak di samping mesin foto copy tempat Ratih tadi duduk.
Dimas menyandarkan kepalanya ke dinding yang berada tepat di belakang kursi stainless itu.
Kepala Dimas terasa sangat pusing sekali dia memijit pelipisnya dengan jari tangannya.
"Krek," terdengar pintu ruang foto copy itu di buka. Bu Bella masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan ke arah Dimas.
Dimas mendengar seseorang melangkah masuk ke dalam tapi dia tetap tidak bergeming dari posisinya semula.
"Pak. Pak Dimas. di luar ada Pak Regan bersama Pak Bima ingin bertemu dengan bapak," ucap Bu Bella yang sudah berdiri di hadapan Dimas.
"Ada keperluan apa Regan mencari ku?" Dimas masih menyadarkan kepalanya yang penat tadi di tembok.
"Sepertinya mereka akan membahas proyek baru kerja sama dengan perusahaan kita pak," Bu Bella menjelaskan.
Dimas mengangkat kepalanya dengan malas dan menatap ke arah Bu Bella dengan tatapan lelah.
"Mereka ada di mana?" tanya Dimas pada Bu Bella.
"Ada di lobby pak. tidak saya persilahkan masuk ke ruangan Pak Dimas karena tadi Pak Dimas tidak di tempat," ucap Bu Bella.
Dimas bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang foto copy itu. Sementara itu Bu Bella berjalan mengikuti Dimas di belakang nya.
Dimas berjalan ke arah lobby kantornya dan di sana terlihat Regan dan Bima sudah duduk menunggu kedatangan Dimas.
Bima yang tadinya duduk segera berdiri ketika melihat Dimas yang sudah berdiri di hadapan dirinya dan Regan. Sedangkan Regan masih tetap duduk di tempatnya dia tidak menyambut kedatangan Dimas seperti yang di lakukan Bima.
"Siang Pak Dimas," Bima mengulurkan tangannya pada Dimas.
"Siang Pak Bima," Dimas menyambut tangan Bima. Mereka saling bersalaman.
Dimas sengaja langsung duduk ke kursi sofa yang ada di lobby itu, dia sengaja tidak menunggu untuk bersalaman dengan Regan yang terlihat angkuh itu.
"Oh ya Pak Dimas, kedatangan kita kesini sebenarnya untuk membahas proyek baru yang akan kita kerjakan bersama." Regan menatap Dimas.
"Ya." ucap Dimas pendek dan tegas.
Pria ini yang kata Ratih sudah memberikan segalanya yang dia mau dan pria ini juga yang sudah memberikan kebahagian untuk Ratih. Batin Dimas dalam hatinya.