"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Malam semakin larut, namun langit di atas restoran rooftop yang bertingkat di salah satu gedung pencakar langit Jakarta itu seolah enggan meredupkan pesonanya. Tempat itu benar-benar sepi.
Arvin telah mengosongkan seluruh area restoran mewah ini khusus untuk malam ini. Tidak ada pelayan yang hilir mudik secara mencolok, tidak ada denting garpu dari meja lain, dan yang paling penting, tidak ada kilatan kamera dari luar yang mengintai kehidupan mereka.
Zoya melangkah pelan di atas lantai kayu ek, membiarkan ujung gamis emerald-nya menyapu lantai dengan anggun. Angin malam yang berembus cukup kencang membuat khimar sutranya berkibar lembut.
Di depannya, Arvin berdiri dengan satu tangan bersandar pada pagar pembatas kaca, menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti lautan kunang-kunang listrik.
"Zoya," panggil Arvin tanpa menoleh.
Suaranya terdengar sangat berbeda dari biasanya, tidak ada nada perintah, tidak ada dinding es yang tebal. Hanya ada kelelahan yang jujur dan kelembutan yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya.
Zoya berjalan mendekat, menyisakan jarak dua langkah di samping suaminya. "Iya, Tuan... maksudku, Arvin."
Arvin terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar hangat di telinga Zoya. Ia membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke sepasang mata jernih di balik cadar sutra hijau zamrud itu.
"Terima kasih sudah mau memakai pemberianku. Warna ini... sangat cocok untukmu. Membuatmu terlihat tenang, sesuatu yang sangat kubutuhkan di dalam hidupku yang bising ini," ucap Arvin tulus.
Hati Zoya berdesir. Ini adalah sisi Arvin yang belum pernah ia temui. Bukan sang singa Dewangga Group yang menggelegar di ruang sidang kode etik tadi siang, melainkan seorang pria biasa yang tampak rapuh di bawah naungan bintang-bintang.
Mereka duduk di meja makan yang dipenuhi dengan lilin-lilin kecil beraroma terapi lavender. Hidangan penutup baru saja disajikan, namun perhatian Arvin sepenuhnya terarah pada wanita di hadapannya.
"Zoya, aku ingin meminta maaf," ujar Arvin tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta. Ia meraih jemari Zoya yang terbalut manset hitam, menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Soal perkataanku di penthouse malam itu. Soal keraguanku. Aku... aku terlalu dikuasai oleh trauma masa lalu hingga membutakan logikaku. Aku memperlakukan pernikahan ini seperti sebuah transaksi bisnis, dan memperlakukanmu seperti sebuah aset yang harus kujaga nilainya."
Zoya menatap tangan mereka yang bertautan. "Lalu sekarang? Apa aku masih menjadi aset berharga dalam portofolio Dewangga Group?"
Arvin menggeleng cepat, genggamannya mengerat. "Tidak. Sama sekali tidak. Kau adalah satu-satunya hal dalam hidupku yang tidak bisa dinilai dengan angka, Zoya. Aku ingin menyatakan ini dengan jujur... aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Bukan karena kontrak, bukan karena paksaan, tapi karena aku..."
Kalimat Arvin menggantung di udara. Jantungnya berdegup kencang, namun lidahnya mendadak terasa kelu. Di balik dadanya yang bidang, sebuah konflik batin yang hebat sedang berkecamuk.
Ia ingin meneriakkan kata cinta yang sesungguhnya kepada Zoya. Namun, setiap kali kata-kata itu hampir keluar dari bibirnya, bayangan mendiang ayahnya seolah hadir di antara mereka.
"Arvin, tanggung jawab terbesar seorang Dewangga bukan hanya membesarkan perusahaan, tapi memikul rahasia yang terkunci di dalam sejarah keluarga kita. Jangan pernah biarkan emosimu menghancurkan apa yang sudah dibangun dengan darah."
Pesan terakhir sang ayah sebelum wafat kembali terngiang, menjadi rantai tak kasat mata yang menjerat leher Arvin. Ada sebuah rahasia besar keluarga yang ia pikul sendiri, sebuah kebenaran yang ditakutkan akan membuat Zoya membencinya jika wanita itu mengetahuinya.
Zoya merasakan perubahan dari genggaman tangan Arvin yang mendadak mendingin. "Arvin? Ada apa?"
Arvin menarik napas panjang, mencoba memaksakan sebuah senyuman. "Tidak apa-apa. Hanya... angin malam ini membuatku sedikit sentimental."
Alunan musik instrumental yang tadinya samar-samar terdengar dari dalam restoran kini benar-benar mati karena waktu operasional sistem audio otomatis telah habis. Namun, Arvin tidak peduli. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja hitamnya, dan membungkuk kecil di depan Zoya seraya mengulurkan tangan kanannya.
"Musik di tempat ini sudah habis. Tapi, maukah kau berdansa denganku di bawah iringan suara angin Jakarta?" tanya Arvin, matanya memancarkan binar penuh harap.
Zoya menatap uluran tangan itu. Rasa bimbang kembali merayapi hatinya. Namun, melihat ketulusan di mata Arvin malam ini, Zoya memilih untuk egois sesaat. Ia ingin merasakan menjadi seorang istri seutuhnya, walau hanya untuk beberapa menit ke depan.
Zoya meletakkan tas kecilnya di atas meja, berdiri, dan menyambut uluran tangan Arvin. "Hanya dengan suara angin?"
"Hanya dengan suara angin," bisik Arvin.
Arvin menarik Zoya ke area tengah rooftop yang lapang. Tangan kirinya melingkar dengan lembut di pinggang Zoya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari wanita itu, mengangkatnya setinggi dada. Zoya meletakkan tangan kirinya di atas bahu kokoh Arvin.
Mereka mulai bergerak. Perlahan, selaras, dan sangat intim. Tidak ada ketukan drum atau gesekan biola, hanya ada suara deru angin malam yang menerpa dedaunan tanaman hias di sekitar mereka, serta suara napas mereka yang saling memburu.
Cadar sutra emerald Zoya bergeser lembut setiap kali tubuh mereka berputar, menyentuh dada kemeja Arvin.
Arvin menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya perlahan pada dahi Zoya yang terhalang kain khimar. Jarak yang begitu dekat membuat Zoya bisa merasakan kehangatan embusan napas Arvin.
Di momen yang luar biasa intim ini, dunia seolah berhenti berputar. Segala kemarahan, sakit hati, dan ego yang sempat menghancurkan mereka kemarin menguap begitu saja ke udara malam.
"Zoya... tetaplah bersamaku," bisik Arvin pelan, nyaris seperti sebuah rintihan.
Zoya terhanyut. Ia memejamkan matanya, menikmati dekapan hangat yang terasa begitu aman malam ini.
...----------------...
To Be Continue ....