Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - Teh Tengah Malam
Festival sudah selesai tapi hiruk-pikuknya masih tersisa di banyak penjuru ibu kota. Aroma romansa bahkan belum mengabur dari udara musim semi, dan justru semakin pekat dari rumah-rumah yang tertutup. Banyak iblis yang sudah kembali bekerja, tapi banyak pula yang masih terjebak dalam percintaan yang belum usai sejak festival dimulai.
Para iblis pekerja di istana sudah sibuk hilir-mudik melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda, membuat hampir semua ruangan dalam istana hidup kembali setelah dua hari diliburkan. Ruangan Avara pun demikian, segera dihuni oleh tim dan dirinya yang lagi-lagi berkutat dengan data yang harus lekas diinput ke dalam sistem. Ada banyak pekerjaan, dan tidak cukup waktu untuk beristirahat.
Cukup merasa bersalah karena menghalangi masa kawin Fulqentius, Avara menahan diri untuk tidak bekerja di ruangannya. Meskipun lelaki itu tidak memikirkannya, Avara masih berpikir bahwa satu kesempatan yang dimiliki sang raja iblis untuk memperoleh pasangan, dicuri olehnya.
Pada saat kecamuk pikiran itu mengusiknya, terbit sebuah percakapan yang membicarakan topik serupa dari timnya.
"Kudengar tahun ini pun His Majesty tidak memutuskan dengan siapa dia ingin berpasangan."
"Sudah berapa ratus tahun, ya.."
Lalu Oxron menoleh pada Avara. "Bukankah kemarin beliau bersama denganmu di festival musim semi? Apakah tidak ada wanita yang menarik perhatiannya?"
Avara menggeleng. Dia menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa sang raja ternyata menyukai makanan manis lebih dari yang mereka kira.
"Kami sempat bertemu Lady Rosset, selain itu tidak ada wanita lain yang berani mendekat."
"Lady Rosset?" Gaiyus berjengit. "Dia iblis yang terkenal paling menawan di antara para bangsawan," ujarnya kagum dan kecewa.
"Bahkan Lady Rosset tidak bisa menarik perhatian His Majesty," sergah Fulton, ikut kecewa.
Avara memandang mereka satu per satu. "Apakah hubungan romansa raja iblis begitu.. buruk?"
Oxron menghela napas. "Kami tidak pernah melihatnya dekat dengan iblis wanita manapun, dan selalu melihatnya sibuk bekerja. Awalnya kami kira beliau punya hubungan tertentu dengan Archdemon Azelion, tapi rupanya salah besar. Tampaknya hanya ada pekerjaan dan urusan kerajaan yang ada di pikiran His Majesty."
Avara menahan diri untuk tidak bertanya, apakah ada kemungkinan raja mereka lebih tertarik pada iblis lelaki, sebab dia pernah diberitahu bahwa hubungan semacam itu dianggap tabu dan tidak dikenal di dunia para iblis. Avara ingat saat itu dia membatin bahwa iblis jauh lebih mulia dalam hal ini ketimbang manusia.
"Para petinggi pasti merasa khawatir," ucap Avara.
"Bukan hanya mereka, rakyat pun bingung karena mereka juga menginginkan keturunan dari raja yang begitu mereka hormati."
"Tidak adakah yang berani menjodohkannya?"
"Banyak orang sudah mencoba," tukas Gaiyus sambil melempar diri ke sandaran kursi, meninggalkan pekerjaannya.
"Tapi tidak ada yang berhasil," sambung Oxron.
Avara membayangkan Fulqentius duduk berhadapan dengan seorang iblis wanita, wajahnya serius menghadapi si iblis yang tak berhenti bicara untuk memperoleh perhatiannya. Dengan riwayatnya yang setiap hari kewalahan dengan berkas-berkas yang membutuhkan persetujuan maupun kebijaksanaannya, Fulqentius jauh dari kesan seorang lelaki yang akan hidup damai berkeluarga. Avara yakin dalam situasi itu pun, Fulqentius sibuk memikirkan kerajaan dan rakyatnya.
Avara menghela napas.
"Setidaknya kita sudah mencoba membantunya mengurangi beban kerja," kata Avara, lebih merujuk ke artefak pena sihir yang tempo hari diberikannya pada Fulqentius. "Mungkin dengan itu, raja bisa lebih memiliki waktu memikirkan kehidupan pribadi dan masa depannya."
Baru saat itu ketiga iblis lelaki di sekelilingnya berbinar. "Kau benar," ujar mereka.
...****************...
Beberapa malam setelah festival selesai, Avara mengetuk pintu ke ruang kerja Fulqentius yang selalu tertutup dan terlihat dingin. Saat itu hampir tengah malam, dan sejujurnya Avara yang biasa enggan bekerja lembur menjelang pagi, kali itu terlalu bersemangat mengerjakan laporan hingga kehilangan kantuk dan mengingkari kebiasaannya sendiri. Dia merasa tidak akan bisa tidur nyenyak jika belum menyelesaikan laporan itu dan menyerahkannya sendiri pada sang raja iblis, maka di sanalah dia berada sekarang.
Yakin bahwa Fulqentius tetap di ruangannya, Avara memberanikan diri.
"Masuk," perintah suara dari dalam ruangan.
Begitu Avara muncul di ambang pintu, Fulqentius tidak bisa tidak tertegun.
"Kenapa kau masih terjaga sampai sekarang?"
"Anda pun masih bekerja sampai sekarang," balas Avara, menyerahkan buku laporan dan kristal sihir di meja Fulqentius yang selalu penuh berkas dan hal penting lain.
"Bukankah kau sendiri yang tidak mau bekerja lewat tengah malam?" Sang raja iblis bersidekap.
Avara melarikan tatapannya ke tumpukan berkas-berkas yang memenuhi meja Fulqentius, kabur dari pandangan tajamnya yang menusuk.
"Jika menunggu dikerjakan besok, akan semakin menumpuk," tukas Avara.
"Kau tidak sedang membicarakan pekerjaanku, kan?"
Avara berjingkat kaget. "Bukan itu maksud saya."
Fulqentius menghela napas. Dengan sebelah tangan, dia menyisir rambut gelapnya yang hampir selalu tersisir ke belakang. "Sudah ratusan tahun, dan aku belum terbiasa dengan urusan birokrasi semacam ini."
Kali ini Avara memperhatikan wajah kuyu lelaki itu yang dengan lingkaran hitam di bawah matanya, seolah benar-benar bisa membuatnya menjadi panda. Pandangannya sayu, dan pundaknya turun sebab terlampau banyak beban. Avara terenyuh memikirkan sosok yang begitu ditakuti itu, yang seharusnya berjaya di tempat lain seperti medan perang, justru hampir kalah oleh serangan kertas dan data-data yang seolah tak ada habisnya. Ada banyak hal manis yang ingin dikatakan Avara untuk menghiburnya tapi tidak ada satu pun yang bisa dia katakan di situasi yang berada di luar kuasanya. Maka gadis itu undur diri, dan berdoa dalam hati agar Fulqentius selalu dikuatkan dalam banyak urusan yang membutuhkan kerja kerasnya.
Doa itu bagaimanapun akhirnya diwujudkan Avara dalam bentuk secangkir teh melati hangat yang menguarkan aroma harum. Fulqentius lebih dari terkejut saat mendapatinya kembali dengan buah tangan.
"Anda harus beristirahat dulu," ujar Avara, meletakkan cangkir itu di sedikit tempat kosong di meja sang raja iblis.
"Kau.. membuatnya sendiri?"
"Tentu saja," sergah Avara. "Silakan diminum. Dijamin bebas dari segala racun."
Fulqentius meletakkan penanya, ragu-ragu meraih cangkir teh itu. Aroma melatinya begitu kuat membayang di udara, mengalahkan rasa dingin yang berkuasa sebelumnya. Dalam sekali teguk, dia mengerjap.
"Kau sudah menambahkan gula?"
"Ya, My Lord. Saya mengira-ngira tingkat kemanisan yang Anda sukai. Apakah terlalu manis?"
Di balik teguk berikutnya, Fulqentius tersenyum. "Tidak. Rasanya pas."
Lalu hening sebelum lelaki itu berdeham dan berucap, "Terima kasih." Pendek saja. Canggung dan sedikit malu.
Avara menjumpai perasaan nyaman yang asing dalam benaknya, tidak memedulikannya. Dia terlalu bingung harus bersikap apa, jadi dia memberikan penghormatan sebelum benar-benar undur diri kali ini.
Sepeninggal Avara, Fulqentius menikmati teh tengah malamnya pelan-pelan, merasakan kelembutan rasa melati di dalamnya dan kepedulian seorang manusia terhadapnya.