Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Setelah usai makan malam bersama, kini keluarga Leo berpamitan untuk pulang karena hari juga semakin larut.
"Kami pamit dulu," ucap Angga singkat dan juga datar.
"Gak ada basa-basi nya banget sih lo, ma gue," saut Boby menggerutu kesal pada sahabatnya itu.
"Terus, gue harus peluk plu ciuman sama lo gitu? Ogah banget, lo kira gue ini apaan?" jawab Angga cuek.
"Hahahha, bisa aje lo. Kita ini sebentar lagi akan menjadi besan bro. Sopan lah sedikit ma gue ... ah payah lo," ledek Boby bercanda seraya tertawa, berbeda dengan Angga yang nampak murung.
"Besan ... kalau gue gak mau jadi besan gimana?" ucap Angga bertanya dengan manik serius.
"Hahahha, kalau lo gak mau besanan ma gue terus lo mau jadi apa? Menantu!" jawab Bobby tertawa merasa lucu.
"Iya!" saut Angga tegas nampak serius, tak perduli tanggapan Bobby maupun Leo saat ini.
Mata Sera melotot, ia langsung menatap Angga tajam sambil mengepalkan tangannya.
"Apa-apaan laki-laki ini, dia benar-benar sudah gila! bagaimana bisa dia mengatakan terang-terangan seperti itu?" batin Sera mulai panik, ia benar-benar kesal pada Angga.
"Hahahaha, bagaiman Leo? Apa kamu rela memberikan putriku pada duda yang sudah karatan ini?" canda Bobby bertanya pada Leo.
Boby tak pernah menganggap ucapan Angga itu serius, jadi ia menganggapi nya dengan santai karena ia pikir itu adalah sebuah lelucon dari sahabat karib nya itu.
"Boleh saja, asal Sera nya mau sama papah, Leo rela kok." Leo memandang lembut pada Sera," tapi Leo yakin Sera tidak akan mau, karena di hatinya hanya ada Leo ... iya kan, Ser?"
Sera menatap Leo dalam dengan tatapan sulit di artikan, namun Sera merasa kesal apa segitunya Leo akan melepaskan dirinya jika memang ia akan memilih untuk bersama dengan Angga jika ia berkata jujur nanti? apa Leo akan benar-benar melepaskan tanpa terluka serta lapang dada? Sera pun tak menjawab ia hanya tertunduk dengan perasaan hati bergejolak.
"Sudah-sudah, malah bercanda! kasihan Sera sudah mengantuk itu. Ayo kita pulang hari sudah semakin malam," ujar eyang mengajak anak dan cucunya itu untuk segera pulang.
"Baiklah kalau begitu, Boby, Dewi. Kami pamit dulu," pasrah Angga kemudian ia berpamitan sambil berjabat tangan.
"Oke, kalian berhati-hati lah di jalan..."
"Eyang pulang dulu ya, cu. Eyang tunggu kamu maen ke rumah, ya." eyang Endang memeluk Sera, ia sudah sangat sayang pada gadis itu.
"Iya eyang, insyaallah. Eyang hati-hati di jalan ya." Sera mencium tangan eyang, eyang pun mengelus pucuk kepala Sera lembut.
"Aku pulang ya, tunggu aku calon istri ku," bisik Leo pada saat berpamitan pada Sera. Sera hanya mengangguk.
Sementara Angga, ia mengepalkan tangannya kuat, tidak suka melihat kedekatan Sera dan anaknya. Namun ia mencoba untuk menahan dirinya.
"Om, hati-hati di jalan," ujar Sera malas. Sebenarnya ia enggan untuk berhadapan lagi dengan Angga tapi rasanya itu tidak mungkin, apa lagi di depan kedua orang tuanya, ia harus menghormati calon mertuanya itu karena kalau tidak, ceramah 7 hari 7 malam tidak akan ada kelarnya.
Angga mengelus pipi Sera lembut dengan sangat lancang, lelaki itu bahkan menampilkan senyum yang super duper lembut kepada gadis itu. Bahkan pada saat Sera mencium tangannya pun masih dalam genggamnya engan untuk di lepas padahal udah di tarik paksa oleh Sera mencoba berontak.
"O-om..." Sera menggeleng, ia benar-benar takut jika Angga nekat melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kamu cantik, Sera. Akan sangat beruntung bisa mendapatkan kamu ... iya kan Leo?" ujar Angga yang masih mengelus pipi Sera bahkan lelaki itu begitu terang-terangan mengecup keningnya lembut tanpa peduli lagi.
"Tentu saja," saut Leo merasa bangga. Bobby pun hanya tertawa mendengar nya.Tanpa menaruh rasa curiga sama sekali dengan sikap Angga.
Lain hal pada Sera yang nampak bengong memandangi Angga. Apa maksudnya? Sera tak mengerti dengan lelaki di hadapannya ini.
"Dia benar-benar sudah gila, aku harus menghindar darinya," batin Sera, namun ia merasa lega setidaknya tidak ada yang menyadari sikap Angga....