NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 15 Couple of Power Adiwangsa

"Halo, Ren? Ada apa pagi-pagi begini?" tanya Bara, suaranya kembali berat.

"Bar, lo harus ke kantor sekarang. Ada sesuatu yang mendesak soal strategi pemasaran lini baru kita. Secara tiba-tiba ada pergeseran data yang mau gue bahas langsung sama lo, nggak bisa lewat telepon," suara Reno di seberang sana terdengar serius, tanpa basa-basi sedikitpun.

Bara menghela napas, melirik Renata yang masih memegang hairdryer di tangannya dengan raut wajah bertanya-tanya. "Oke, tunggu gue sepuluh menit buat siap-siap."

Begitu panggilan berakhir, Renata langsung menatap suaminya lekat-lekat. "Siapa? Reno? Ada masalah di kantor?"

"Iya, urusan pemasaran katanya. Mendadak banget," jawab Bara sambil bergegas menuju lemari pakaian.

Renata terdiam sejenak, lalu dengan gerakan mantap ia meletakkan hairdryer ke atas meja rias. "Aku ikut."

Bara yang sedang mengancingkan kemeja langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Ikut? Ngapain? Kamu di rumah aja, istirahat. Daripada kamu ikut aku."

Renata menggeleng tegas, senyum penuh arti tersungging di bibirnya. "Enggak. Mulai hari ini, aku mau ikut kamu ke mana pun. Anggap aja aku asisten pribadi kamu. Emang istri bos nggak boleh mantau suaminya kerja?"

Bara terpaku. Kalimat "mantau" itu terasa seperti sindiran halus yang menghujam jantungnya. Ia tidak tahu apakah Renata benar-benar ingin belajar bisnis atau sebenarnya ini adalah cara halus istrinya untuk mengawasinya agar tidak melipir ke tempat lain lagi.

"Ren, di kantor itu membosankan. Kamu bakal cuma duduk nungguin aku rapat," bujuk Bara, mencoba mencari celah agar ia bisa bebas menemui Reno—dan mungkin mengurus masalah Maya secara diam-diam.

Renata menghentikan gerakannya, lalu menatap Bara dengan bibir yang sedikit dikerucutkan. Wajahnya berubah cemberut, menunjukkan rasa tidak suka yang terang-terangan.

"Kan aku pernah nemenin kamu pas disuruh Mama waktu itu, jadi aku sebenarnya sudah jadi asisten pribadi kamu lho," sahut Renata sambil melipat tangan di dada. "Lagian kenapa sekarang aku nggak boleh ikut? Oh... jangan-jangan di kantor sudah ada yang nemenin kamu selain aku? Makanya aku dilarang ikut?"

Pertanyaan Renata yang tajam itu seperti anak panah yang nyaris mengenai sasaran. Bara terdiam sejenak, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia tahu, berdebat lebih lama hanya akan membuat kecurigaan Renata semakin liar dan melebar ke mana-mana. Menghadapi sifat keras kepala istrinya dalam keadaan terdesak seperti ini hanya akan membuang waktu saja, sementara Reno sudah menunggunya.

Bara akhirnya menarik napas panjang, tidak ingin mengambil pusing lebih jauh. Ia menyerah kalah di depan istrinya yang kini sudah siap siaga dengan tas tangannya.

"Yaudah, terserah kamu," ucap Bara pasrah sambil menyambar kunci mobil di atas nakas. "Cepat siap-siap. Aku tunggu di mobil. Jangan lama, atau aku tinggal beneran."

Bara segera melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Renata yang kini tersenyum penuh kemenangan. Di sepanjang jalan menuju mobilnya, jemari Bara bergerak lincah di atas layar ponselnya, mengirim pesan singkat ke Reno: “Gue otw. Tapi bini gue ikut. Jaga mulut lo jangan bahas yang aneh-aneh.”

Reno yang sedang duduk santai di kursi kerjanya sambil menyesap kopi hitam, seketika tertawa kecil saat melihat notifikasi pesan dari Bara masuk. Matanya menyipit membaca baris kalimat peringatan dari sepupunya itu. Ia memutar-mutar ponsel di jemarinya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Senyum jahil mengembang di bibirnya.

"Si cantik ikut, ya?" gumam Reno pelan pada dirinya sendiri. "Baguslah, jadi makin semangat kerja gue kalau ada pemandangan indah di kantor."

Bagi Reno, kehadiran Renata bukan sekadar gangguan bagi Bara, tapi hiburan tersendiri. Ia tahu persis bagaimana kaku dan dinginnya hubungan Bara dan Renata selama ini. Melihat Bara panik dan harus menjaga sikap di depan istrinya sendiri adalah tontonan yang jauh lebih menarik daripada laporan grafik pemasaran yang sedang ia pegang.

Reno segera mengetik balasan singkat, sengaja ingin memancing emosi Bara lebih jauh: “Tenang, Bos. Gue bakal bersikap profesional... tapi kalau asisten pribadi lo yang nanya-nanya terlalu detail ke gue, gue nggak janji bisa tutup mulut terus, ya?”

Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu merapikan tumpukan dokumen di hadapannya. Pikirannya sudah melayang membayangkan wajah tegang Bara saat nanti memasuki ruangan ini dengan Renata yang mengekor di belakangnya.

"Bara... bar...," kekeh Reno sambil kembali menyesap kopinya, menunggu kedatangan "pasangan harmonis" itu di lobi kantor Adiwangsa Group.

Mobil milik Bara berhenti tepat di depan lobi megah Adiwangsa Group. Satpam berpakaian rapi segera sigap membukakan pintu. Bara turun dengan langkah tegap, disusul Renata yang tampil anggun meski hanya dengan pakaian celana bahan hitam dan kemeja yang di balut jas berwarna cream.

Beberapa karyawan yang kebetulan lewat di lobi tampak saling berbisik. Jarang sekali melihat sang CEO membawa istrinya ke kantor pusat, apalagi di jam sesibuk ini.

"Selamat pagi, Pak Bara. Selamat pagi, Ibu Renata," sapa resepsionis dengan ramah.

Bara hanya mengangguk singkat, sementara Renata membalas dengan senyum manis yang membuat suasana lobi yang kaku itu mendadak terasa lebih hidup. Mereka segera menuju lift khusus petinggi menuju lantai atas, tempat ruangan Reno berada.

Di dalam lift yang berdinding kaca itu, Bara melirik pantulan dirinya dan Renata. Ia merapikan jam tangannya, mencoba menenangkan debaran jantung yang tidak keruan. Pesan terakhir dari Reno tadi benar-benar bikin dia waswas.

"Ingat ya, Ren. Kayak pas itu aku bilang, kamu di dalam nanti duduk manis aja. Jangan terlalu banyak tanya ke Reno, tau sendiri kan dia itu orangnya suka ngelantur kalau bicara," bisik Bara memberi peringatan terakhir sebelum pintu lift terbuka.

Renata hanya tersenyum tipis, merapikan rambutnya di depan cermin lift. "Tergantung, Mas. Kalau pertanyaannya perlu dijawab, ya aku tanya. Kan asisten pribadi harus tahu detail."

Pintu lift berdenting terbuka. Di ujung lorong, Reno sudah berdiri di depan pintu ruangannya sambil bersedekap dada, menampilkan seringai jahil yang membuat Bara ingin sekali menjitak kepala sepupunya itu.

"Nah, ini dia Bos Besar kita!" seru Reno dengan suara lantang yang bergema di koridor. Matanya langsung beralih ke arah Renata dengan binar jenaka. "Dan... wah, ada Ibu Bos juga. Jadi makin semangat nih gue kerja kalau asisten pribadinya secantik ini."

Bara langsung menatap tajam ke arah Reno, memberi kode "diam atau habis lo" lewat sorot matanya. Namun, Reno seolah buta warna terhadap kode bahaya itu.

Di dalam ruang rapat yang kedap suara itu, suasana mendadak hening begitu Bara dan Renata melangkah masuk. Hanya ada dua orang petinggi lainnya di sana: Direksi Pemasaran dan Direksi Operasional. Keduanya segera berdiri, memberikan salam hormat berupa anggukan takzim begitu melihat kedatangan sang CEO yang kali ini tidak datang sendirian.

"Mari duduk," ucap Bara singkat dengan suara baritonnya yang tegas. Ia menarik kursi utama, sementara Renata duduk tepat di sampingnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil seolah benar-benar siap menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi.

Reno berdehem, merapikan jasnya sebelum berdiri di depan layar proyektor yang menyala terang. Ia membuka rapat dengan nada bicara yang profesional, jauh berbeda dari sikap jahilnya di lobi tadi.

"Terima kasih sudah hadir, Pak Bara dan... Ibu Renata," ujar Reno dengan penekanan kecil pada nama Renata yang dibalas senyum tipis oleh sang istri bos.

Reno mulai memaparkan data demi data. Grafik di layar menampilkan fluktuasi angka yang cukup tajam. Ia menjelaskan perkembangan pasar Adiwangsa Group selama kuartal terakhir, mulai dari ekspansi properti hingga lini retail. Namun, suasana di ruangan itu perlahan berubah tegang ketika Reno sampai pada poin utama masalahnya.

Ia mengetuk layar proyektor pada sebuah grafik batang yang berwarna merah mencolok.

"Ini poin masalahnya," jelas Reno, suaranya kini merendah. "Ada kebocoran dana yang cukup signifikan di sektor pemasaran luar daerah. Angkanya tidak sinkron dengan laporan aktivitas lapangan yang masuk ke pusat. Seolah-olah ada 'pihak ketiga' yang sengaja mengalihkan dana ini untuk kepentingan pribadi yang disamarkan sebagai biaya operasional darurat."

Mendengar kata 'pihak ketiga', jantung Bara berdesir hebat. Ia tahu Reno sedang bicara soal bisnis, tapi diksi yang digunakan sepupunya itu seolah-olah sedang menyindir kehidupan pribadinya yang sedang carut-marut karena Maya.

"Jadi maksud kamu, ada orang dalam yang ikut campur tangan?" tanya Bara, mencoba mengalihkan arah pembicaraan agar tetap fokus pada profesionalitas kerja.

Reno menatap Bara lekat-lekat, ada kilat jenaka sekaligus peringatan di matanya. "Bisa jadi orang dalam yang merasa punya 'hak lebih' atau mungkin orang luar yang punya akses terlalu dalam ke sistem kita. Yang jelas, kalau ini nggak segera diputus, reputasi Adiwangsa Group taruhannya."

Renata yang sedari tadi menyimak dengan serius, tiba-tiba mengangkat tangannya sedikit. "Boleh aku tanya sesuatu, Ren?"

Bara menoleh cepat ke arah istrinya, ia ingin melarang namun terlambat. Reno justru mempersilakan dengan senyum yang makin lebar.

"Tentu, apa yang nggak buat istrinya Pak Bos. Silahkan, Bu Renata." Sahut Reno menantang.

Renata perlahan meletakkan pulpennya dan berdiri. Suasana ruang rapat yang tadinya tegang mendadak sunyi senyap, semua mata tertuju pada sosok asisten pribadi yang merangkap istri CEO Adiwangsa Group itu. Dengan tenang, ia melangkah mendekati layar proyektor, mengambil alih perhatian dari Reno yang masih memegang kendali presentasi.

"Baik! Saya berdiri disini hanya sedikit beberapa penyampaian," ucap Renata lembut namun penuh otoritas.

"Kalau kita lihat grafik kebocoran ini dari sudut pandang pemasaran murni, memang terlihat seperti ada penggelapan. Tapi coba lihat polanya dari awal tahun sampai akhir kuartal ini."

Renata mulai menjelaskan poin demi poin dengan sangat fasih. Ia membedah alur distribusi, memetakan celah dalam sistem audit internal yang selama ini dianggap remeh, hingga menguliti bagaimana biaya operasional 'darurat' itu sebenarnya bisa dimanipulasi melalui vendor pihak ketiga yang tidak terverifikasi dengan benar. Kalimatnya mengalir lancar, logis, dan menunjukkan pemahaman mendalam tentang anatomi bisnis Adiwangsa Group, sesuatu yang selama ini ia pelajari diam-diam dari balik layar.

"Solusinya bukan cuma memutus akses mereka," lanjut Renata sambil menunjuk satu titik koordinat di layar.

"Kita harus menerapkan sistem real-time reporting yang terintegrasi langsung ke pusat setiap kali ada pengeluaran di atas plafon tertentu. Tanpa celah untuk laporan susulan. Dengan begitu, siapa pun 'orang dalam' atau 'pihak ketiga' itu, mereka tidak akan punya ruang untuk mengambil alih tangan."

Reno terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka bahwa yang selama ini ia anggap hanya sekadar ibu rumah tangga, ternyata memiliki ketajaman berpikir yang mengerikan. Senyum jahilnya hilang, digantikan oleh rasa hormat yang tulus.

Bara sendiri hanya bisa menyimak dengan raut wajah yang sangat serius. Ia merasa seperti baru pertama kali melihat sisi lain dari Renata, seorang wanita cerdas yang mampu menguasai ruangan hanya dengan kata-katanya. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya, namun sekaligus rasa ngeri; jika Renata secerdas ini dalam urusan bisnis, seberapa cepat dia akan menyadari rahasia-rahasia lain yang Bara sembunyikan?

Direksi Pemasaran dan Direksi Operasional saling berpandangan, lalu kompak mengangguk kagum. Mereka selama ini mengira Bara adalah satu-satunya otak di balik kejayaan grup ini, namun hari ini mereka sadar bahwa Adiwangsa Group memiliki dua singa di puncaknya.

"Luar biasa, Bu Renata," puji Direksi Operasional spontan. "Saya kira cuma Pak Bara otak perusahan ini, ternyata ada Ibu Renata yang punya solusi teknis yang jauh lebih tajam dari tim audit kami sendiri."

Bara mengangguk-angguk pelan sambil tetap menatap layar proyektor dengan intens. Ada binar kebanggaan yang tak bisa ia sembunyikan dari sorot matanya, namun jemarinya mulai mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tenang namun pasti, sebuah tanda bahwa otak strategisnya sedang bekerja di level yang berbeda.

"Bagus... Sangat bagus," puji Bara dengan nada rendah. "Solusi kamu soal real-time reporting itu brilian untuk memutus rantai kebocoran secara teknis. Tapi..."

Bara menjeda kalimatnya, membuat suasana ruangan kembali hening mencekam. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju layar, tepat di samping Renata.

"Kelihatannya memang 'it's okay no problem', sistem ini bakal beres kalau kita cuma bicara soal alur data. Tapi, coba kamu lihat di titik koordinat vendor luar daerah ini," tunjuk Bara pada sebuah titik kecil merah di sudut grafik yang tadi luput dari perhatian semua orang. "Ada satu kesalahan fatal yang bisa bikin semua solusi brilian kamu buyar dalam semalam."

Bara mulai membedah bukan lagi soal sistem audit, melainkan psikologi pasar dan celah hukum kontrak yang selama ini menjadi "hutan belantara" bagi para direksi. Ia menjelaskan bagaimana vendor-vendor ini memiliki celah force majeure yang bisa mereka gunakan untuk melegalkan pengalihan dana tanpa terdeteksi sistem secanggih apa pun.

"Kalau kita pakai sistem pelaporan ketat tanpa mengubah struktur kontrak payungnya, mereka justru akan mencari celah hukum untuk menuntut balik kita karena dianggap menghambat operasional darurat. Kita bukan cuma kehilangan Modal, Investor, dan Dana Tetap, tapi kita bakal terseret sengketa panjang yang bisa menjatuhkan harga saham Adiwangsa dalam sekejap," papar Bara dengan nada yang sangat dingin namun akurat.

Di saat itulah, seluruh orang di ruangan itu tersadar. Di balik ketampanan dan pembawaannya yang terkadang santai, Bara adalah "Otak dari Adiwangsa Group" yang sesungguhnya. Ia bukan hanya pintar bicara; ia adalah arsitek yang memahami setiap inci fondasi bisnisnya hingga ke lubang tikus terkecil sekalipun. Pikirannya selalu melompat sepuluh langkah ke depan, mengantisipasi badai sebelum awan mendung sempat terlihat.

Reno yang mendengarnya langsung membelalak, ia menyandarkan punggungnya dengan lemas. "Gila... gue benar-benar nggak kepikiran sampai ke celah kontrak itu, salut..."

Direksi Pemasaran dan Operasional hanya bisa terdiam dengan raut wajah pucat sekaligus takjub. Mereka menyadari bahwa jika Renata adalah otak yang tajam, maka Bara adalah insting yang mematikan. Perpaduan keduanya di meja rapat hari ini benar-benar menunjukkan kelas Adiwangsa Group yang tak tergoyahkan.

Bara menoleh ke arah Renata, menatap istrinya dengan senyum tipis yang penuh arti. "Solusi kamu aku-akui uda bener, Ren. Tapi... tanpa perlindungan hukum yang tepat, itu malah bisa mematahkannya. Jadi sekarang kita gabungkan dua cara ini, maka perusahaan pusat dan seluruh anak perusahaan Adiwangsa nggak akan bisa disentuh siapa pun."

Renata tidak merasa malu sedikit pun meski poinnya baru saja disempurnakan. Sebaliknya, binar matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. Ia menyadari bahwa laki-laki di sampingnya ini bukan sekadar sosok yang ia curigai semalam, melainkan seorang pemimpin berdarah dingin yang pemikirannya melampaui logika orang biasa.

Bara menyentuh pundak istrinya lembut, sebuah gestur kecil yang terasa begitu protektif di depan para bawahannya. "Duduk lagi, Ren. Kamu sudah melakukan yang terbaik," bisik Bara dengan nada rendah yang hangat.

Renata mengangguk, kembali duduk di kursinya dengan dagu tegak. Reno, yang sedari tadi terperangah, segera berdehem untuk memecahkan keheningan yang penuh ketakjuban itu. Ia kembali berdiri di depan meja rapat, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

"Baik, penjelasan dari Pak Bada bersama... Ibu Renata yang sudah sangat komprehensif," ujar Reno, mencoba mengembalikan suasana formal meski nada jahilnya tetap terselip tipis. "Sebelum kita eksekusi penggabungan dua strategi ini, apakah dari jajaran direksi ada pertanyaan atau ada yang merasa keberatan?"

Para direksi saling melirik satu sama lain. Ruangan itu sunyi. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Bagaimana mungkin mereka bertanya jika lubang terkecil pun sudah ditutup rapat oleh argumen Bara tadi? Penjelasan itu sudah terlalu jelas, terlalu presisi, dan tidak menyisakan celah untuk keraguan.

"Sepertinya semuanya sudah tercerahkan," lanjut Reno sambil menutup map dokumen di depannya dengan suara mantap. "Oke... kalau begitu, rapat pagi ini saya nyatakan selesai. Terima kasih atas kehadirannya."

Ucapan terakhir Reno menandai berakhirnya rapat yang melelahkan namun memuaskan. Para direksi segera berdiri, memberikan penghormatan terakhir sebelum meninggalkan ruangan satu per satu dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera menerapkan ilmu baru yang mereka dapatkan. Kini, di dalam ruangan luas itu hanya tersisa mereka bertiga: sang penguasa Adiwangsa, istrinya yang cerdas, dan sang sepupu yang mulai kembali pada mode aslinya.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!