Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Senjata Keheningan
Suara dentuman tembakan dan hantaman tongkat bisbol Aura masih memekakkan telinga. Peluh bercampur debu membasahi wajah mereka. Tepat ketika harapan muncul saat Aura berteriak mengarahkan tembakan ke kaki patung, Kieran melangkah maju, sorot matanya yang biasanya dingin kini memancarkan tekad mati-matian.
"Aku akan menghadang mereka!" seru Kieran, suaranya lantang mengatasi hiruk-pikuk. Dia mengeluarkan dua pisau belati kembar, memosisikan dirinya di antara teman-temannya dan gelombang patung yang mendekat. "Kalian segera keluar dari ruangan ini! Aku akan mengulur waktu!"
"Mustahil!" balas Aura, napasnya tersengal. Ia mengangkat tongkat bisbolnya, menunjuk ke arah pintu masuk lorong tempat mereka berasal. Keputusasaan segera memenuhi suaranya. "Lihat!"
Semua mata termasuk mata Kieran yang sudah siap bertarung beralih ke jalan keluar utama. Pintu batu besar yang tadinya terbuka lebar kini tertutup rapat, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak terlihat atau mekanisme kuno yang baru saja diaktifkan. Bunyi gesekan batu pada batu yang berat dan mengerikan masih terdengar samar, mengunci mereka di dalam.
Kepanikan dingin menyebar.
"Sejak kapan pintu itu tertutup?!" ucap Falix, matanya membelalak, keterkejutan memenuhi wajahnya. Tangannya meraba-raba komunikator di telinganya, yang hanya menghasilkan bunyi static tanpa harapan.
Semua orang diam tanpa kata, hanya suara tembakan sporadis dan gerutuan patung batu yang menjadi pengiring. Tidak ada waktu untuk pertanyaan. Mereka telah terperangkap di ruang pertempuran ini, yang kini terasa lebih sempit dan lebih mengancam.
Meskipun syok, insting bertahan hidup mengambil alih. Mereka masih bergerak, menembak, dan menangkis, melawan patung prajurit bersenjata di depan mereka, meskipun efektivitas serangan mereka diragukan.
Rintangan utama yang membuat jantung mereka mencelos dan semangat mereka runtuh datang tak lama setelah itu. Salah satu patung yang sebelumnya berhasil dihancurkan Jack dan Surya menjadi serpihan kecil di lantai, tiba-tiba diiringi bunyi gemeretak pasir dan gesekan mineral yang menjijikkan serpihan itu mulai bergerak!
Potongan-potongan batu basalt itu perlahan-lahan menyatu kembali. Retakan yang ada pada baju zirah dan senjata patung itu menutup, seolah-olah waktu berbalik. Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, patung itu kembali menyatu dan bergerak kembali, mengayunkan pedang batunya ke arah Falix.
"Tidak mungkin!" teriak salah satu tentara, suaranya penuh kengerian. "Mereka hidup kembali!"
Aura melihat dan mengamati semua patung prajurit yang masih menyerang dengan saksama. Alisnya berkerut dalam konsentrasi yang dalam, mencoba mencari pola, mencari titik lemah. Patung ini tidak hanya kuat, tetapi juga abadi.
"Apa ada cara untuk mengalahkan prajurit bersenjata yang sudah mati ini?!" tanya Aura, suaranya mendesak dan penuh tuntutan akan jawaban yang logis. Ia menangkis sebuah serangan dan menggunakan momentum putarannya untuk memeriksa kembali meja batu bundar di tengah ruangan.
Kata-kata Aura mengenai 'prajurit yang sudah mati' segera menyentak kesadaran Kieran dan Falix secara bersamaan. Meskipun mereka enggan bicara, pikiran mereka bekerja cepat menganalisis data.
Falix menghindari ayunan pedang, matanya tertuju pada mekanisme penyatuan patung. "Aura benar," ucapnya, suaranya rendah dan tegang. "Hanya ada satu kemungkinan: patung prajurit itu tidak bangkit sendiri. Ada yang mengendalikannya."
Kieran mengangguk setuju sambil memutar belatinya, mencari celah di zirah batu. "Tapi coba lihat apa yang ada di depan kita. Tidak ada tanda-tanda sihir atau teknologi yang jelas. Tidak mungkin dikendalikan secara langsung dari jauh, kecuali..."
Dia terdiam sejenak, menendang serpihan batu yang baru saja jatuh.
"...Kecuali patung-patung ini didesain sebagai penjaga otonom, diprogram atau diisi energi untuk membunuh siapa saja yang menyusup ke dalam makam ini."
Mereka berdua, baik Falix yang ahli teknologi maupun Kieran yang memahami hal-hal mistis dan tersembunyi, baru pertama kali melihat patung prajurit yang bergerak, pulih, dan menyerang tanpa ada pemicu eksternal yang terlihat. Kenyataan ini membuat mereka sedikit gelisah rasa takut terhadap hal yang tidak dikenal jauh lebih mencekam daripada rasa takut terhadap bahaya yang sudah dikenali.
Di tengah baku hantam yang brutal itu, Aura, sang master observasi, bergerak dengan cara yang aneh. Sementara yang lain menghabiskan peluru dan energi untuk menyerang patung yang pasti akan bangkit kembali, Aura dengan santai mulai menghafal semua pergerakan patung.
Ayunan pedang mereka, posisi kuda-kuda, bahkan jeda sepersekian detik sebelum serangan semuanya terasa mekanis dan terulang. Ia kini bisa menghindar hanya dengan gerakan kecil yang elegan: satu langkah ke samping, sedikit menunduk. Ia tidak membuang energi sama sekali.
Sambil menjauh perlahan dari perkumpulan, Aura terus bergerak. Ia mencari-cari di sekitar ruangan, pandangannya menyapu dinding, lantai, dan langit-langit untuk menemukan sumber energi, mekanisme pengendalian utama, atau setidaknya... cara untuk membuka pintu yang tertutup itu.
Jack, yang punggungnya bersandar di salah satu pilar, mengisi ulang magazinnya. Ia melihat sekeliling dan melihat Aura berjalan menjauh, tidak bertarung, melainkan mengamati.
Tepat saat itu, bahaya muncul. Sebuah patung yang berhasil berputar dari belakang ingin menyerang Aura dengan sabetan kapak batu yang lebar.
Semua orang berteriak ngeri. Namun, pada saat yang sama, Aura hanya melakukan gerakan gesit ke kanan dengan santai. Kapak itu menghantam udara kosong. Aura bahkan tidak melihat ke arah patung itu; ia hanya tahu di mana patung itu akan menyerang berdasarkan polanya. Ketenangan Aura di tengah kekacauan benar-benar menakjubkan dan membingungkan.
Jack melihat semua pergerakan Aura kecepatannya, efisiensinya, dan ketenangannya yang nyaris tanpa usaha. Dia merasa ada yang salah; gerakan Aura terlalu sempurna untuk hanya disebut 'beruntung'. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, dan berkata dengan suara keras, nyaris berteriak.
"Aura! Tunggu! Bagaimana kamu bisa menghindar prajurit batu itu dengan santai?! Kenapa kamu tidak menyerang balik?"
Aura menoleh, ekspresinya murni kepolosan meskipun ia sedang melompat menghindari hantaman tongkat batu lain.
"Aku? Oh," katanya sambil tersenyum tipis. "Aku hanya menghafal gerakan mereka saja kok. Tidak ada yang istimewa. Semua gerakan mereka sama persis, seperti robot yang diprogram."
Jawaban yang begitu sederhana namun mengejutkan itu menyambar kesadaran Jack dan yang lain. Mereka mendengarkan perkataan Aura, dan segera mengalihkan fokus dari menyerang menjadi mengamati patung di depan mereka.
Ayunan pertama dari kiri. Mundur dua langkah. Hantaman ke bawah. Diam selama satu detik.
Mereka melihat polanya: semua patung memiliki serangkaian serangan dan gerakan yang identik. Patung ini didesain secara massal, dan gerakannya sama sekali tidak adaptif. Mereka adalah mesin, bukan pejuang.
Karena sudah hafal, Jack mencoba menghindar. Ketika patung di depannya melakukan ayunan pertama, Jack bergerak sedikit ke belakang, kemudian ke samping. Gerakannya minim, namun efektif.
"Ini berhasil!" kata Jack, suaranya dipenuhi kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa. Tentara yang lain juga terkejut, dan segera mengikuti trik sederhana namun jenius itu. Mereka sekarang bergerak dengan lebih santai, menghemat energi, dan memfokuskan diri pada tujuan utama: keluar.
Dengan fokus mereka bergeser, mereka mulai mencari cara untuk keluar dari ruangan. Aura, yang sudah berada di dekat dinding terjauh, tidak berhenti bergerak. Matanya terus mencari anomali.
Tepat pada saat yang sama, tangan Aura menyentuh sebuah ukiran kecil di dinding, sebuah cetakan yang sangat halus dan hampir tak terlihat. Itu terasa dingin, bukan sedingin batu di sekitarnya, tapi dingin logam. Eureka!
Dengan sedikit tekanan dan geseran yang tepat, mekanisme internal berbunyi. Terdengar suara klik mekanis yang keras dan berat. Pintu batu yang menutup jalan keluar mereka ke lorong utama segera bergeser, membuka dengan bunyi gerungan yang serak.
Semua melihat pintu terbuka secercah harapan yang begitu terang di tengah kegelapan pertempuran.
"KELUAR! SEKARANG!" teriak Falix.
Mereka segera keluar dari ruangan itu, bergerak cepat menuju sisi lorong kiri lorong yang sebelumnya dikatakan jalan buntu karena hanya berisi dua patung yang diam. Tidak peduli apakah itu jalan buntu, selama itu tidak memiliki patung yang hidup.
Mereka berlari tanpa menoleh, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi patung-patung batu yang terus bergerak dalam pola yang sama, menyerang ruang kosong tempat mereka tadi berdiri. Mereka telah memenangkan sedikit waktu, tetapi mereka tahu, dua patung di lorong sebelah kiri, dengan jejak gesekan di bawahnya, mungkin sudah tidak diam lagi.