Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Gema dari Dasar Jurang
Setahun telah berlalu sejak "Sarah’s Garden" menjadi jantung baru di lereng gunung itu.
Elena sudah mulai terbiasa dengan aroma pupuk organik, suara traktor yang mogok, dan tangan yang selalu berlepotan tanah.
Kehidupan glamor sebagai sosialita Jakarta atau malaikat maut di London terasa seperti film lama yang diputar di bioskop usang.
Namun, sore itu, saat matahari mulai condong ke arah barat dan mewarnai langit dengan warna ungu yang magis, sebuah paket tiba di kantor pos desa.
Paket itu tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah cap pos dari sebuah kota kecil di perbatasan Swiss dan Italia.
Elena membukanya di bawah pohon pinus besar, tempat favoritnya untuk menyendiri.
Di dalamnya bukan bom, bukan juga ancaman.
Hanya sebuah jam tangan pria merek Patek Philippe yang sudah retak kacanya—jam tangan yang sangat Elena kenal.
Itu adalah jam tangan yang dipakai Haryo Adiguna pada malam ia membuang Elena ke jurang.
Bara yang Belum Padam
"El? Kau di sini?" suara Reza memecah lamunan Elena.
Elena segera menyembunyikan jam tangan itu di saku celana kargonya, tapi Reza terlalu jeli.
Ia melihat perubahan raut wajah Elena yang seketika menjadi tegang—sebuah insting yang tidak bisa disembunyikan meski sudah setahun "pensiun".
"Ada apa?" tanya Reza, suaranya melembut sambil duduk di samping Elena.
Elena mengeluarkan jam itu dan menunjukkannya.
"Ini milik Haryo. Paman Han bilang Haryo mati di penjara karena serangan jantung enam bulan lalu. Jenazahnya sudah dikremasi."
Reza mengambil jam itu, memutar-mutarnya.
"Kacanya retak tepat di angka 09:15. Waktu yang sama saat kau jatuh, kan?"
"Seseorang sedang bermain-main denganku, Rez. Seseorang yang tahu detail malam itu lebih baik dari siapa pun."
Paman Han muncul dari balik semak-semak, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Nona, saya baru saja meretas manifes penerbangan rahasia dari Zurich ke Jakarta minggu lalu. Ada satu nama yang seharusnya tidak ada di sana."
"Siapa, Paman?" tanya Elena dingin.
"Siska."
Elena tertegun. "Siska? Istri kedua Adrian? Bukankah dia sudah gila dan mendekam di rumah sakit jiwa penjara?"
"Dia dinyatakan 'sembuh secara ajaib' oleh dewan medis yang didanai oleh yayasan misterius, lalu menghilang dari radar. Dan Nona... dia tidak sendirian. Dia membawa seseorang yang dia klaim sebagai 'anak sah' Adrian Adiguna yang selama ini disembunyikan."
Singa yang Kembali Mengaum
Malam itu, kedamaian di joglo terusik.
Bukan oleh peluru, tapi oleh kenyataan bahwa warisan darah Adiguna ternyata masih memiliki satu cabang yang belum terpotong.
Siska kembali, dan kali ini dia bukan lagi wanita haus harta yang bodoh.
Balas dendam telah mengubahnya menjadi monster yang jauh lebih terencana.
"Dia ingin mengambil kembali semua ini," ujar Dante sambil menunjuk peta perkebunan.
"Dia sudah mengajukan gugatan ke pengadilan internasional, menyatakan bahwa seluruh aset Sarah Foundation adalah hasil pencucian uang Haryo yang seharusnya jatuh ke tangan ahli waris Adrian."
"Dia tidak akan bisa menyentuh tempat ini secara hukum," tegas Sarah.
"Tapi dia bisa menghancurkannya secara fisik, Bu," sahut Elena.
"Siska tahu aku tidak akan menyerah lewat pengadilan. Dia memancingku untuk keluar dari gunung ini. Dia ingin aku kembali ke Jakarta."
Reza meremas tangan Elena. "Kalau kita berangkat, kita berangkat sebagai tim. Tidak ada lagi aksi heroik sendirian, El."
Jakarta: Reuni di Neraka
Tiga hari kemudian, Elena kembali ke Jakarta.
Kota ini masih sama—macet, panas, dan penuh dengan kepalsuan.
Namun, kali ini Elena tidak datang ke kantor pusatnya.
Ia datang ke sebuah panti jompo tua di pinggiran kota, tempat Siska kabarnya bersembunyi.
Siska duduk di sebuah kursi taman, menatap kolam ikan yang keruh.
Ia tidak lagi terlihat seperti wanita sosialita dengan tas Hermes.
Ia mengenakan baju rumah sakit yang longgar, wajahnya tirus, namun matanya memancarkan api yang belum padam.
"Kau datang juga, Alana," suara Siska parau, kering seperti kertas tua.
"Elena. Namaku Elena," koreksi Elena sambil berdiri di depannya.
Siska tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas.
"Kau bisa ganti wajah, ganti nama, bahkan ganti takdir. Tapi darah Adiguna yang kau tumpahkan akan selalu memanggilmu pulang. Kau tahu kenapa aku mengirim jam itu?"
"Untuk menunjukkan kau masih hidup?"
"Untuk memberitahumu bahwa Haryo tidak mati karena serangan jantung. Aku yang membunuhnya di penjara," Siska menatap Elena dengan tajam.
"Aku mencekiknya dengan kabel telepon saat penjaga sedang lengah. Dia mati sambil membisikkan namamu. Dia pikir kau adalah penyelamatnya, padahal kau adalah kehancurannya."
Elena merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
Siska benar-benar sudah kehilangan kewarasannya, namun kegilaan itu membuatnya sangat berbahaya.
"Di mana anak Adrian?" tanya Elena.
Siska tersenyum misterius. "Dia ada di dekatmu, Elena. Lebih dekat dari yang kau bayangkan.
Aku melahirkannya dalam kegelapan, membesarkannya dengan kebencian, dan melatihnya untuk menjadi bayanganmu."
Pengkhianatan yang Menyakitkan
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah gerbang panti jompo.
Reza dan Paman Han yang berjaga di luar terlibat baku tembak.
Elena segera menarik senjatanya, namun langkahnya terhenti saat seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun masuk ke area taman dengan tenang.
Pemuda itu memiliki mata yang sangat mirip dengan Adrian, namun dengan rahang tegas milik Haryo.
"Kenalkan, Leo Adiguna," ujar Siska dengan nada bangga.
"Turunkan senjatamu, Elena," ujar Leo. Suaranya dingin, tanpa emosi, persis seperti Elena saat pertama kali kembali dari Swiss.
"Aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Aku hanya ingin apa yang menjadi hakku."
"Kau hanya pion Siska, Leo. Dia hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendam," teriak Elena.
"Mungkin," jawab Leo.
"Tapi aku lebih suka menjadi pion yang punya kerajaan daripada menjadi yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Dan kau... kau adalah orang yang membunuh ayahku secara perlahan."
Pertempuran pecah di taman panti jompo yang sepi itu.
Leo bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan.
Ia bukan petarung jalanan, ia dilatih oleh instruktur militer terbaik yang bisa dibeli dengan sisa uang Siska.
Elena harus berhadapan dengan "versi muda" dari dirinya sendiri.
Setiap gerakan Leo adalah cerminan dari gerakan Elena.
Rasanya seperti bertarung di depan cermin yang haus darah.
Harga dari Sebuah Nama
Di tengah perkelahian, Siska mencoba melarikan diri, namun ia terpojok di tepi kolam.
Paman Han berhasil melumpuhkan pengawal Leo, sementara Reza memberikan perlindungan dari kejauhan.
Elena berhasil menjatuhkan Leo, menodongkan pistolnya ke dahi pemuda itu.
"Aku bisa mengakhiri garis keturunan ini sekarang juga, Leo. Aku bisa mengakhiri kutukan Adiguna malam ini."
Leo menatapnya tanpa rasa takut.
"Lakukan. Tapi kau akan membuktikan bahwa kau tidak lebih baik dari Haryo atau Adrian."
Elena tertegun.
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari peluru mana pun.
Ia melihat pantulan dirinya di mata Leo—seorang wanita yang selama ini berusaha lari dari kekerasan, namun selalu kembali padanya.
Elena menurunkan senjatanya.
"Pergilah, Leo. Bawa ibumu. Tinggalkan Jakarta, tinggalkan nama Adiguna. Jika aku melihatmu lagi mencoba menyentuh keluargaku atau yayasanku... aku tidak akan memberimu kesempatan untuk bicara."
"Kau membiarkannya pergi?" tanya Reza yang baru saja tiba dengan napas tersengal.
"Dia masih anak-anak, Rez. Dia cuma korban dari racun Siska," Elena menatap Leo yang sedang membopong Siska menjauh.
"Membunuhnya hanya akan memulai siklus baru. Aku ingin siklus ini berhenti di aku."
Kembali ke Kedamaian yang Rapuh
Malam itu, Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya.
Elena berdiri di balkon hotelnya, menatap lampu-lampu kota.
Paman Han masuk dengan laporan terakhir.
"Mereka sudah menuju pelabuhan, Nona. Saya sudah memastikan mereka naik kapal menuju pulau terpencil di timur. Saya juga sudah membekukan semua sisa dana mereka, kecuali cukup untuk hidup sederhana."
Elena mengangguk. "Terima kasih, Paman."
Reza memeluk Elena dari belakang, memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan.
"Kau melakukan hal yang benar, El. Membunuh mereka hanya akan membuat tanganmu kotor lagi."
"Aku lelah, Rez. Aku benar-benar ingin ini jadi yang terakhir."
"Ini adalah yang terakhir," bisik Reza.
"Karena sekarang, kau bukan lagi Elena Adiguna yang penuh dendam. Kau adalah Elena yang tahu cara memberi ampunan."
Penutup: Akar yang Baru
Seminggu kemudian, di lereng gunung Merapi.
Elena sedang menanam bibit lili baru di area yang paling tinggi.
Sarah duduk di dekatnya, merajut syal wol untuk musim hujan yang akan datang.
Tidak ada lagi pembicaraan soal Siska atau Leo.
Elena menatap tangannya yang kotor karena tanah.
Ia menyadari satu hal: masa lalu memang seperti hantu, ia akan selalu ada di sana, mengintai di balik kabut.
Namun, ia tidak lagi memiliki kuasa atas hidupnya.
Jam tangan retak milik Haryo sudah ia kubur di dasar jurang yang sebenarnya—sebuah jurang di belakang perkebunan, bukan sebagai simbol kematian, tapi sebagai simbol terkuburnya masa lalu.
"El! Makan siang sudah siap!" teriak Reza dari teras joglo.
Elena berdiri, menyeka keringat di dahinya, dan tersenyum.
Ia berjalan menuju rumah, menuju orang-orang yang ia cintai, dan menuju masa depan yang meskipun tidak sempurna, adalah miliknya sepenuhnya.
Dunia mungkin masih punya banyak rahasia, dan musuh mungkin masih akan datang di masa depan.
Namun, bagi Elena Adiguna, Sang Nyonya yang Terbuang, perang sudah usai.
Ia telah memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya.
Pertarungan untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang penuh dengan monster.
Dan di bawah sinar matahari yang hangat, bunga lili putih itu mekar dengan sangat indahnya.
Bersambung...
Ayo buruan baca...