NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Fajar menyingsing di atas Lembah Pembuangan, menyinari hamparan bunga liar yang mekar secara ajaib di atas tanah yang dulunya hanya mengenal darah dan abu. Joan berdiri mematung dan menatap titik di mana sosok Selena melenyap ke dalam kabut keemasan.

Dunia terasa sangat berbeda tidak ada lagi aroma ketakutan yang tajam atau getaran haus darah yang biasanya menghantui udara. Namun, kedamaian ini baru saja dimulai dan tantangan yang sebenarnya justru baru lahir.

​Joan menunduk menatap tangannya. Ia bisa merasakan kekuatan serigala itu, taring yang bisa muncul kapan saja, namun ada sesuatu yang baru. Sebuah "ikatan" yang terasa seperti benang perak tipis yang melilit jantungnya. Ia mencoba mengepalkan tangan dengan niat jahat untuk mencari tahu di mana sisa-sisa pasukan Dewan berada agar ia bisa menghancurkan mereka, namun seketika dadanya sesak, napasnya tersengal, dan rasa sakit yang menusuk menghantam ulu hatinya.

​"Hukum baru," gumam Joan pahit.

Selena tidak berbohong. Setiap niat untuk menyakiti sekarang berbalik menjadi belati bagi diri mereka sendiri. Di sisi lain lembah, Riven bangkit dengan susah payah. Luka-lukanya masih ada, namun ia tidak lagi merasakan beban kegelapan yang selama ini menyelimuti jiwanya sebagai pelayan Lucian. Ia menatap Joan dengan tatapan dingin.

​"Ketua Dewan atau Alpha?" tanya Riven sinis. "Gelar mana yang akan kamu gunakan sekarang saat kamu sudah tidak bisa lagi membunuh tanpa harus meregang nyawa?"

​Joan tidak menjawab. Ia hanya menatap jauh ke cakrawala. "Gelar itu sudah mati bersama Selena yang lama. Sekarang kita hanyalah penjaga bagi kesalahan kita sendiri."

​Selama berbulan-bulan, dunia serigala berubah secara drastis. Joan membubarkan Dewan sesuai perintah Selena. Tidak ada lagi perburuan Darah Bulan, karena memang tidak ada lagi Darah Bulan yang tersisa setidaknya itulah yang mereka kira. Hingga suatu malam, tepat setahun setelah peristiwa di lembah, Joan menemukan sebuah jurnal tua milik ibunya yang tersembunyi di bawah lantai kabin kayu tempat Selena dulu singgah. Ia membukanya dengan tangan bergetar, berharap menemukan jejak keberadaan Selena.

​Di dalam jurnal itu, tertulis sebuah pengakuan yang mengerikan. Ibunya Joan menulis,

​"Darah Bulan bukanlah pencipta mahluk serigala. Darah Bulan adalah penjara bagi entitas kuno yang sebenarnya. Kita menyebutnya Sang Pencipta agar kita merasa memiliki martabat, namun sebenarnya, dia adalah virus yang mengambil alih tubuh manusia untuk memuaskan rasa haus akan keteraturan."

​Joan terpaku. Jika Selena adalah virus itu, maka tindakannya "membersihkan" dunia bukanlah tindakan kasih sayang, melainkan cara untuk memastikan bahwa tidak ada lagi mahluk yang bisa melawannya. Dengan mengikat jiwa para serigala ke bumi, Selena sebenarnya baru saja mengunci mereka ke dalam sebuah sistem kontrol raksasa.

​Joan menyadari bahwa ia harus menemukan Selena bukan untuk membawanya pulang, tapi untuk menghentikannya sebelum "tatanan" yang ia bangun menjadi tirani yang absolut. Namun, untuk melakukannya, ia butuh bantuan.

​Ia mencari Riven ke pegunungan utara, namun yang ia temukan justru lebih mengejutkan. Di sebuah gua tersembunyi, Riven sedang berdiri di depan sebuah tabung kaca raksasa yang berisi butiran-butiran cahaya yang familiar.

​Butiran cahaya itu adalah sisa-sisa Lucian. Lucian tidak memudar menjadi alam, ia membiarkan dirinya diurai agar bisa menyusup ke dalam energi yang Selena lepaskan ke seluruh dunia.

​"Dia ada di mana-mana, Joan," bisik Riven, wajahnya tampak kuyu. "Setiap kali seorang serigala merasakan sakit karena hukum Selena, energi itu mengalir kembali ke pusat ini. Lucian sedang memanen rasa sakit itu. Dia bukan pelayan Selena dan bukan pula musuhmu. Dia adalah "antivirus" yang diciptakan oleh ibu Selena untuk menghancurkan sang Pencipta jika ia terbangun."

​"Jadi, Lucian adalah orang baik?" tanya Joan bingung.

​"Tidak ada orang baik di sini," balas Lucian, suaranya tiba-tiba bergema dari dalam tabung cahaya itu. "Aku hanyalah alat untuk menyeimbangkan kegilaan Selena dan sekarang aku butuh tubuhmu, Joan, hanya tubuh seorang Alpha murni yang bisa menampung energi rasa sakit seluruh dunia ini untuk memukul mundur Sang Pencipta."

​Joan terjepit di antara dua pilihan, membiarkan Selena memerintah dunia dengan hukum peraknya yang mencekik atau memberikan tubuhnya pada Lucian untuk menghancurkan Selena.

​"Jangan lakukan itu, Joan!" sebuah suara wanita terdengar.

​Seorang gadis muda dengan rambut gelap yang identik dengan Selena, namun dengan mata yang lebih hangat muncul dari balik kegelapan gua.

​"Siapa kamu?" tanya Joan.

​"Namaku adalah Jessy," jawab gadis itu. "Aku adalah bagian manusia dari Selena yang dia buang saat dia bangkit di Lembah Pembuangan. Saat dia menjadi "Tuhan", dia membuang kemanusiaannya agar dia tidak merasa bersalah saat menghakimi kalian. Aku adalah jiwanya."

​Riven tiba-tiba tertawa, tawa yang penuh penderitaan. "Dan Jessy tidak memberitahumu hal terpenting, Joan. Aku bukan tawanan Lucian yang dibebaskan secara tidak sengaja. Aku adalah kakak laki-laki Selena dari kehidupan ribuan tahun lalu. Akulah yang pertama kali mencoba menggunakan Darah Bulan untuk melindungi manusia dan aku gagal hingga aku dikutuk untuk terus bereinkarnasi sebagai pengkhianat di setiap kehidupan Selena."

​Riven menatap Joan dengan iba. "Kita semua adalah pion dalam drama keluarga yang sangat tua. Selena ingin keteraturan. Aku ingin perlindungan dan kamu, Joan, hanyalah katalisator agar kami berdua bisa bertarung selamanya."

​Selena yang kini bersemayam di dimensi tinggi, merasakan retakan dalam tatanannya. Ia melihat ke bawah, ke arah gua kecil di pegunungan utara itu. Ia melihat jiwanya yang terbuang, kakaknya yang abadi, pelayannya yang berkhianat, dan pria yang ia percaya berkumpul untuk melawannya.

​Ia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak lagi manusiawi.

​"Kalian ingin kebebasan?" bisik Selena, suaranya menggetarkan langit-langit gua tersebut. "Maka aku akan memberikannya, tapi ingat tanpa hukumku, kalian hanyalah monster yang menunggu waktu untuk saling memangsa."

​Selena melepaskan ikatan perak di jantung setiap serigala. Rasa sakit itu hilang seketika, digantikan oleh kembalinya kekuatan liar yang sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.

​Joan merasakan taringnya tumbuh begitu panjang hingga merobek bibirnya. Mata emasnya menyala merah. Di sekeliling dunia, jeritan manusia mulai terdengar saat jutaan serigala kembali menjadi predator tanpa kendali.

​Selena tidak menghancurkan mereka. Ia hanya membiarkan mereka menjadi apa yang mereka inginkan, monster. Ia turun dari langit dan mendarat di depan Joan yang kini telah berubah menjadi serigala hitam raksasa yang tidak terkendali.

​"Sekarang, Joan," ucap Selena sambil membelai kepala serigala itu dengan lembut. "Tunjukkan padaku, apakah kebebasan ini lebih indah daripada hukumku?"

​Joan mengerang, terjebak dalam perang batin antara kemanusiaannya yang tersisa dan insting liar yang kini tidak terbatas. Ia menatap Selena dan menyadari bahwa pengkhianatan terbesar bukanlah apa yang dilakukan Joan di kabin atau apa yang dilakukan Lucian di sel, melainkan apa yang Selena lakukan sekarang, memberikannya apa yang ia minta hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak bisa menanggungnya.

​Di bawah bulan purnama yang sekarang berwarna merah darah, dunia serigala baru saja dimulai kembali. Kali ini tanpa aturan, tanpa Dewan, dan tanpa belas kasihan. Sang Pencipta duduk di takhtanya dan menonton karyanya yang hancur dengan air mata perak yang mengalir di pipinya, satu-satunya jejak kemanusiaan yang masih ia miliki.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!