Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Pengamuk Langit dan Mumi Sang Pilihan Langit
Episode 19
Darah segar yang mengucur dari sela-sela jari Lin Tian menetes perlahan ke atas lantai granit yang retak, menciptakan suara tik... tik... yang anehnya terdengar sangat jelas di tengah keheningan stadion yang mencekam. Bau besi dari darah segar itu bercampur dengan aroma hangus dari sisa-sisa energi naga yang baru saja dipadamkan secara brutal.
Lin Tian menatap pedang Azure Fang di tangannya dengan tatapan kosong. Pedang itu adalah simbol statusnya, sebuah mahakarya yang ditempa dari es abadi di puncak Pegunungan Langit. Namun sekarang, di tengah bilahnya yang indah terdapat sebuah retakan halus, sebuah luka permanen yang disebabkan oleh sebuah hantaman dari sepotong besi hitam tumpul yang bahkan tidak memiliki mata bilah.
"Tidak... ini tidak mungkin terjadi..." gumam Lin Tian, suaranya bergetar antara penyangkalan dan ketakutan yang murni. "Aku adalah murid jenius Sekte Pedang Langit... Aku memiliki Tulang Dewa... Aku memiliki teknik naga... Bagaimana mungkin sampah sepertimu bisa melukaiku?!"
Gu Sheng berhenti berjalan sekitar lima meter di depan Lin Tian. Ia berdiri dengan santai, membiarkan ujung pedang Penebas Dosa tertancap sedikit ke dalam lantai arena. Tangan kanannya masih memegang gagang pedang dengan sangat ringan, seolah-olah berat ribuan kuintal itu tidak lebih dari sehelai bulu baginya.
"Lin Tian," suara Gu Sheng terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan seorang teman lama, namun setiap katanya membawa tekanan spiritual yang membuat Lin Tian sulit untuk sekadar mendongakkan kepala. "Kau terus menyebut dirimu jenius, terus menyebut dirimu pilihan langit. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Berlutut di tanah yang kotor, gemetar seperti tikus di depan kucing. Apakah ini yang kau sebut sebagai martabat seorang pilihan langit?"
Gu Sheng melirik ke arah tribun kehormatan, matanya yang merah darah menyapu wajah Mu Chen dan Mu Ruoxue dengan tatapan penuh penghinaan.
"Kalian mencuri kekuatanku karena kalian takut akan potensiku," lanjut Gu Sheng. "Kalian pikir dengan merampas Tulang Dewaku, kalian bisa mencuri masa depanku. Tapi kalian lupa satu hal... kekuatan sejati tidak terletak pada sepotong tulang, melainkan pada jiwa yang telah merangkak kembali dari api neraka."
“Hahaha! Benar sekali, bocah!” suara Kaisar Iblis tertawa terbahak-bahak di dalam batin Gu Sheng. “Lihatlah wajahnya! Dia hancur secara mental! Energi Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak tidak stabil karena ketakutannya. Jika kau menyerangnya sekarang, kau bisa menghancurkan Dantian-nya hanya dengan satu jentikan jari!”
Gu Sheng tidak terburu-buru. Ia ingin menikmati setiap detik penderitaan Lin Tian. Ia ingin setiap orang di Kota Azure melihat betapa rapuhnya Matahari yang mereka puja selama ini.
Di balkon VIP, Zhao Ruo tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia melihat reputasi Sekte Pedang Langit sedang diinjak-injak di depan umum. Jika Lin Tian kalah secara memalukan di sini, maka Zhao Ruo juga akan disalahkan oleh para tetua sekte saat kembali nanti.
"Lin Tian! Berhenti bersikap menyedihkan!" teriak Zhao Ruo, suaranya diperkuat oleh Qi tingkat Spirit Sea yang kuat hingga membuat beberapa penonton di dekatnya pingsan karena tekanan suara. "Gunakan Pil Pengamuk Langit yang kuberikan padamu! Bakar potensimu! Jika kau kalah dari sampah ini, jangan pernah berani menyebut dirimu sebagai saudaraku lagi!"
Mendengar kata-kata "Pil Pengamuk Langit", Lin Tian tersentak. Tubuhnya gemetar. Pil itu adalah obat terlarang tingkat empat yang mampu meningkatkan kekuatan seseorang sebanyak tiga kali lipat secara instan, namun harganya adalah kerusakan permanen pada jalur meridian dan perpendekan umur sebanyak sepuluh tahun.
Namun, di hadapan kehancuran reputasinya, Lin Tian tidak lagi peduli.
"Gu Sheng... kau yang memaksaku melakukan ini!" Lin Tian berteriak histeris. Ia merogoh sebuah botol porselen hitam dari dalam jubahnya dan menelan sebuah pil berwarna merah darah dengan sangat rakus.
BUM!
Seketika, sebuah ledakan energi yang sangat ganas meledak dari dalam tubuh Lin Tian. Pembuluh darah di wajah dan lengannya menonjol keluar hingga tampak seperti cacing-cacing merah yang menggeliat di bawah kulitnya. Matanya berubah menjadi merah padam karena pendarahan dalam, dan aura birunya yang semula jernih kini berubah menjadi warna biru kehitaman yang tidak stabil.
Kultivasi Lin Tian melonjak drastis.
Qi Refinement Tingkat Puncak...
Setengah Langkah Spirit Sea...
SPIRIT SEA TINGKAT PERTAMA!
Tekanan energi yang dihasilkan membuat lantai arena di sekeliling Lin Tian hancur berkeping-keping. Udara di stadion terasa sangat panas, membuat orang-orang kesulitan bernapas.
"Hah... HAH! KEKUATAN INI!" Lin Tian tertawa gila, suaranya terdengar serak dan tidak manusiawi. "Gu Sheng! Lihatlah! Inilah kekuatan tingkat Spirit Sea yang sesungguhnya! Sekarang, mari kita lihat apakah kau masih bisa bersikap sombong!"
Lin Tian melesat maju. Kecepatannya kini jauh lebih tinggi dari sebelumnya, meninggalkan jejak ledakan udara di belakangnya.
"Jurus Rahasia Terlarang: Tebasan Penghancur Bintang!"
Pedang Azure Fang memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan hingga seolah-olah ada matahari kecil yang jatuh di tengah arena. Lin Tian mengayunkan pedangnya dengan kekuatan yang mampu membelah sebuah bukit kecil.
Di tribun, penonton menahan napas. "Gila! Lin Tian benar-benar menembus tahap Spirit Sea! Gu Sheng tamat!"
Mu Ruoxue mengepalkan tangannya, sebuah harapan baru muncul di hatinya. "Bunuh dia, Lin Tian! Hancurkan dia sampai tidak bersisa!"
Namun, menghadapi serangan yang begitu mengerikan, Gu Sheng justru menunjukkan ekspresi yang sangat tenang bahkan cenderung bosan.
“Bocah, energi pil itu sangat kotor,” kaisar iblis mendengus jijik. “Itu hanya kekuatan palsu yang dipinjam dari umur panjangnya. Tapi... jumlahnya cukup besar. Jika kau melahapnya sekarang, kau akan benar-benar menembus tahap Spirit Sea secara resmi.”
Gu Sheng menyeringai, sebuah senyuman yang sangat mengerikan hingga membuat Su Mei yang melihatnya dari jauh merasa kedinginan.
"Energi palsu tetaplah energi," bisik Gu Sheng.
Ia mengangkat tangan kirinya, telapak tangannya terbuka lebar menghadap ke arah serangan Lin Tian. Di saat yang sama, ia memicu Gerbang Pertama dan Gerbang Kedua secara bersamaan.
"Teknik Penelan Langit, Lubang Hitam Abadi!"
Sruuuuuuuuuuuuuuut!
Seketika, sebuah pusaran hitam pekat muncul di depan telapak tangan Gu Sheng. Cahaya matahari di stadion seolah-olah terhisap masuk ke dalam pusaran itu, menciptakan kegelapan yang mendalam di tengah hari.
Ketika tebasan pedang Azure Fang milik Lin Tian yang mematikan itu menyentuh pusaran hitam Gu Sheng, sesuatu yang mustahil terjadi.
Ledakan besar yang seharusnya menghancurkan stadion itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya seluruh energi pedang biru kehitaman milik Lin Tian, energi dari praktisi tingkat Spirit Sea yang dipicu oleh pil terlarang mulai terpelintir secara elastis dan terhisap masuk ke dalam telapak tangan Gu Sheng.
"Apa?! TIDAK MUNGKIN!" Lin Tian berteriak, matanya hampir keluar dari kelopaknya. Ia merasakan seluruh energi yang baru saja ia dapatkan dari pil itu ditarik keluar dari tubuhnya secara paksa. "LEPASKAN! LEPASKAN AKU!"
Gu Sheng tidak melepaskannya. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak. "Lin Tian, kau terlalu boros dengan energi ini. Biarkan aku menyimpannya untukmu."
Gu Sheng mencengkeram pergelangan tangan Lin Tian yang memegang pedang.
KRAK!
Suara patahnya tulang pergelangan tangan Lin Tian terdengar sangat renyah. Pedang Azure Fang jatuh ke tanah, berdentang lemas.
"AAAAAARRRRGGGGHHHHH!"
Jeritan Lin Tian membelah langit Kota Azure. Namun, jeritan itu segera terhenti saat Gu Sheng menempelkan tangan lainnya ke dada Lin Tian tepat di lokasi jantungnya.
Sruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut!
Proses hisapan kali ini jauh lebih brutal dari sebelumnya. Karena Lin Tian berada di tahap Spirit Sea (palsu), jumlah energinya sangat masif. Gu Sheng bisa merasakan lautan energi mengalir masuk ke dalam Dantian-nya, mengisi setiap inci kekosongan di dalam lubang hitamnya.
Di depan sepuluh ribu saksi, tubuh Lin Tian yang tadinya kekar karena pengaruh pil, mulai menyusut dengan kecepatan yang mengerikan. Kulitnya menjadi keriput dalam hitungan detik, rambutnya memutih dan rontok, dan matanya kehilangan seluruh cahayanya.
"Gu... Sheng... ampun..." bisik Lin Tian, suaranya terdengar seperti kakek-kakek berusia seratus tahun yang sedang sekarat.
Gu Sheng menatap mata Lin Tian yang redup. "Ampun? Saat kau merobek dadaku sebulan lalu, apakah kau mendengar permohonan ampunku? Saat kau membuangku ke jurang, apakah kau menunjukkan sedikit saja belas kasihan?"
Gu Sheng mendekatkan wajahnya ke telinga Lin Tian. "Inilah rasa sakit dari kehilangan segalanya, Lin Tian. Dan ini... baru permulaan dari apa yang akan kurasakan pada Keluarga Mu."
Gu Sheng melepaskan cengkeramannya. Tubuh Lin Tian jatuh ke tanah, kering kerontang seperti sepotong kayu bakar yang sudah lama dijemur. Ia tidak mati, Gu Sheng sengaja menyisakan setitik napas agar Lin Tian bisa merasakan kehancuran totalnya. Lin Tian kini telah menjadi orang cacat permanen, tanpa Dantian, tanpa jalur meridian, dan tanpa masa depan.
Gu Sheng berdiri tegak, memejamkan matanya saat ia merasakan energi yang baru saja ia hisap mulai memadat di dalam tubuhnya.
Krak! Krak! Krak!
Sebuah getaran hebat mengguncang seluruh arena. Aura hitam pekat meledak dari tubuh Gu Sheng, membubung tinggi ke langit seperti pilar kegelapan.
SPIRIT SEA TINGKAT PERTAMA TERCAPAI!
Gu Sheng membuka matanya. Tekanan aura yang ia pancarkan sekarang begitu kuat hingga seluruh penonton di stadion terpaksa berlutut karena tidak mampu menahan beban batinnya.
Ia menoleh perlahan ke arah Mu Ruoxue.
"Ruoxue," suara Gu Sheng kini terdengar sangat tenang, namun mengandung kekuatan yang mampu meruntuhkan gunung. "Tunangan barumu sudah hancur. Sekarang... siapa yang akan melindungimu dariku?"
Mu Ruoxue jatuh terduduk di kursinya, wajahnya seputih kertas. Ia menyadari bahwa badai yang ia ciptakan sebulan lalu kini telah kembali sebagai kiamat bagi dirinya sendiri.
Zhao Ruo yang melihat hal itu segera berdiri, wajahnya penuh dengan niat membunuh yang liar. "KAU! KAU BENAR-BENAR BERANI MENCACATKAN ADIK SEPERGURUANKU! HARI INI, TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENYELAMATKANMU!"
Gu Sheng mengangkat pedang Penebas Dosa, menunjuk tepat ke wajah Zhao Ruo.
"Kalau begitu turunlah, semut besar," ucap Gu Sheng, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum iblis yang sangat puas. "Aku masih merasa sedikit lapar."