Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Hujan pagi di Los Angeles baru saja reda, menyisakan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah ventilasi penthouse mewah milik Lexington Valerio.
Kamar utama itu luasnya setara dengan rumah kelas menengah, dengan dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan cakrawala kota.
Di atas ranjang king size dengan sprei sutra abu-abu gelap, Lexington meraba ponselnya yang sejak tadi bergetar hebat di atas nakas kayu mahoni.
Nama "Flavia" berkedip di layar. kekasihnya.
"Ada apa?" suara Lexington serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap terdengar berwibawa.
Di seberang telepon, suara manja seorang wanita terdengar. Flavia, putri dari seorang taipan properti yang berpacaran dengannya setahun lalu. Hubungan mereka logis, praktis, dan tanpa drama—begitu pikir Lexington, setidaknya sampai skandal semalam pecah.
"Aku juga merindukanmu," Lexington menjawab datar, mengabaikan fakta bahwa dia sama sekali tidak merasakan rindu itu.
"Maafkan aku, aku belum bisa ikut makan malam nanti. Pekerjaan di perusahaan otomotif dan jadwalku di universitas sangat padat. Sampaikan salamku pada Ayah dan ibumu."
Tanpa menunggu balasan panjang dari Flavia, Lexington mematikan sambungan teleponnya.
Dia mendesah, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Skandal komentar Briella Zamora benar-benar menguras energinya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Hadiyan, asisten pribadinya sekaligus satu-satunya teman yang berani masuk tanpa mengetuk jika ada keadaan darurat, muncul dengan wajah tegang.
"Maaf Lex, Ibumu ada di dapur," bisik Hadiyan.
Lexington mengumpat pelan di dalam hati. Dia bangkit, mengenakan jubah mandi satinnya, dan keluar dengan rasa malas yang luar biasa. Dia tahu betul apa yang akan terjadi. Kedatangan ibunya di pagi buta seperti ini hanya berarti satu hal: Ceramah panjang tentang reputasi keluarga Valerio.
Di dapur yang didominasi marmer putih, Kimberly Valerio tampak asyik menata masakan di atas meja. Wanita itu tetap terlihat anggun meski hanya mengenakan pakaian santai. Dia adalah definisi dari kasta tertinggi sosialita Los Angeles.
"Mommy lihat kulkasmu kosong, Lex. Kenapa belum belanja?" Kimberly menoleh, menatap putra sulungnya dengan tatapan menyelidiki.
"Aku akan belanja sore ini, Mom. Jadwalku sangat berantakan kemarin," jawab Lexington sambil menarik kursi dan duduk di meja makan. Aroma nasi goreng dan omelet buatan ibunya seharusnya menggugah selera, tapi perutnya terasa kaku.
Kimberly meletakkan piring di depan Lexington, lalu duduk di hadapannya. "Daddy juga menanyakan bagaimana caramu mengatasi berita semalam. Kau tahu kan, saham perusahaan bisa terpengaruh jika isu 'kesehatan' pribadimu terus digoreng publik? Apa Daddymu perlu turun tangan?"
"Tidak usah, Mom," jawab Lexington tegas. "Hanya pembenci yang mencari panggung. Aku bisa menanganinya sendiri."
Sarapan pagi itu berjalan dengan tenang, setidaknya secara lahiriah. Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel Lexington yang terletak di samping piringnya bergetar hebat.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak ia hapus, namun ia simpan dengan nama yang sangat spesifik selama lima tahun ini: "Girl Ceroboh".
Jantung Lexington berdenyut aneh saat membaca pesan singkat itu:
“Aku pikir kau sudah tidak memakai nomor ini lagi. Aku akan melakukan konferensi pers pagi ini. Aku akan meminta maaf pada publik dan masalah beres.”
Lexington hampir saja membalas pesan itu saat Hadiyan tiba-tiba menyalakan televisi di ruang tengah yang terhubung dengan dapur. "Lex, lihat ini. Dia sedang live."
Di layar televisi, Dr. Briella Zamora tampak berdiri di belakang podium, terlihat cantik sekaligus rapuh dalam balutan blazer putih.
Dia meminta maaf dengan nada yang sangat profesional, menyatakan bahwa komentarnya semalam adalah akibat dari kelelahan luar biasa dan konsumsi alkohol, dan bahwa Lexington Valerio adalah pria yang sangat ia hormati.
Masalah seharusnya selesai di sana. Namun, dunia internet punya cara sendiri untuk menjadi jahat.
Tiba-tiba, kolom komentar di bawah siaran langsung itu dipenuhi oleh pengakuan baru. Salah satu mantan kekasih Lexington yang pernah ia kencani selama empat bulan setelah putus dari Briella—seorang model bernama Sandra—muncul dengan pernyataan mengejutkan.
“Mungkin ucapan Dokter Briella ada benarnya. Aku pernah bersama Lex selama 4 bulan, dan dia bahkan tidak pernah menyentuhku lebih dari sekadar ciuman di kening. Dia sangat dingin, seperti mesin yang macet.”
Pernyataan itu meledak. Topik pembahasan langsung bergeser dari permintaan maaf Briella menjadi pengakuan 'kedinginan' Lexington Valerio.
Publik mulai berspekulasi bahwa Lexington memang memiliki masalah biologis. Sandra langsung menjadi sorotan publik, sementara Dr. Briella Zamora dianggap sebagai 'pembuka tabir'.
Beruntung, hubungan masa lalu Lexington dan Briella selama bertahun-tahun masih menjadi rahasia yang tersimpan rapat.
Publik hanya tahu Lexington pernah berpacaran singkat dengan beberapa wanita, termasuk Sandra, tapi nama Briella Zamora tidak pernah ada dalam daftar resmi.
Di sisi lain kota, di dalam ruang kerjanya yang mewah, Briella Zamora sedang tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. Dia menonton layar televisi bersama Belle.
"Hanya Cium Kening?! Aku tidak percaya itu, Belle! Hahaha!" Briella memegangi perutnya. "Saat bersamaku saja, kami bahkan sudah melakukannya di usia 18 tahun dengan sangat... liar. Bagaimana bisa Sandra bilang dia dingin? Hahaha!"
Belle yang mendengar itu hanya memutar matanya muak. Dia melempar bantal kursi ke arah Briella. "Awas kalau kau membuat masalah lagi, Bri. Kalau skandal ini terus membesar dan identitasmu sebagai mantan jangka panjangnya ketahuan, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahmu!"
Briella mengelap air matanya, tawanya mereda menjadi senyum pahit. "Setidaknya sekarang publik lebih percaya padaku daripada pada si 'sempurna' itu. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi bahan tertawaan."
Sementara itu, di dalam mobil limosin miliknya sebelum menuju kampus untuk rutinitas mengajarnya, Lexington membaca pengakuan Sandra di tabletnya.
Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol.
"Brengsek," desis Lexington.
Hadiyan yang duduk di depannya tetap diam, tahu bahwa ini adalah badai besar.
"Hadiyan, temui Sandra. Pastikan dia tutup mulut atau aku akan memastikan kontrak permodelannya di seluruh negara ini berakhir," Lexington membanting tablet miliknya ke lantai mobil hingga layarnya retak.
"Harusnya dia bersyukur aku menciumnya. Dia memohon seperti perempuan murahan setiap kali aku mengantarnya pulang, dan sekarang dia bicara seolah-olah aku yang tidak bisa?"
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat lagi. Kali ini sebuah panggilan masuk. Nama Kensington Valerio muncul di layar. Saudara kembarnya.
Lexington menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. "Apa?"
"Hey brother!!" Suara Kensington terdengar sangat ceria dan penuh ejekan di seberang sana. "Aku benar-benar muak melihat kehancuran 'kesempurnaan' yang kau miliki. Bagaimana rasanya disebut mesin macet oleh seluruh Los Angeles? Kau butuh aku mengajarimu cara 'menyalakan mesin' lagi?"
"Kau tidak memiliki mantan kekasih yang bermulut besar, jadi diam saja dan nikmati pesta-pesta liarmu, Ken," balas Lexington ketus.
"Oh, aku punya banyak mantan, Lex. Tapi setidaknya aku 'melayani' mereka dengan baik sampai mereka tidak punya alasan untuk mengeluh," Kensington tertawa keras. "Ingat, Lex. Reputasi Valerio ada di pundakmu sebagai si 'anak emas'. Jangan biarkan dokter bedah itu menghancurkanmu hanya dengan satu komentar."
Lexington mematikan teleponnya tanpa pamit.
Dia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota yang sibuk. Pikirannya kembali pada pesan Briella tadi.
"Kau ingin minta maaf, Bri?" gumam Lexington lirih. "Maafmu tidak akan cukup setelah kau membuat wanita dari masa laluku ikut bernyanyi. Kau ingin bermain? Mari kita lihat seberapa ceroboh kau saat aku mulai menyerang balik."
Mobil itu terus melaju menuju universitas, namun Lexington Valerio sudah tidak lagi memikirkan materi kuliahnya.
Dia sedang merancang strategi untuk membuktikan pada dunia—dan terutama pada Briella Zamora—bahwa mesin miliknya jauh dari kata macet. Dan dia akan memulainya dengan mengunjungi klinik itu lagi, besok pagi.
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇