NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cek Kehamilan

Rayga yang begitu misterius dan susah ditebak bagaimana sifat aslinya itu, dia memilih memejamkan matanya di atas sofa ketimbang mengeluarkan suara untuk merespon ucapan Aurellia yang meminta diantarkan ke rumah mendiang orang tuanya.

"Sepertinya dia tidak akan mau mengantarkanku ke sana," batin Aurellia mirik Rayga yang diam di sofa dengan posisi seperti orang tidur sambil duduk bersandar di sofa tersebut.

"Tuan Dekha.... Ya, aku akan menanyakan alamat rumah orang tuaku pada Tuan Dekha. Dia sepertinya sangat peduli padaku," gumam Aurellia dalam hatinya.

Jika Rayga tidak meresponnya, Aurellia telah membulatkan tekadnya untuk meminta bantuan Tuan Dekha.

Selama ini Aurellia sudah cukup menderita, dia berharap setidaknya dengan mendatangi rumah mendiang orang tuanya, itu bisa mengobati segenap rindu yang menggumpal di hati.

"Seharusnya aku meminta nomor ponsel Tuan Dekha, biar aku bisa menghubunginya tanpa harus bertemu," kata Aurellia masih bermonolog dalam hati dan pikirannya.

Walau Rayga terlihat memejamkan matanya oleh Aurellia, ternyata pria itu mengintip Aurellia di sela kelopak matanya.

"Apa yang kau pikirkan? Kamu terlihat seperti orang gila! Kadang tersenyum, kadang bersedih," kata Rayga tanpa membuka matanya, sehingga Aurellia bingung dibuatnya.

"Apa dia mengigau?" Aurellia menajamkan penglihatan, tetap saja yang dia lihat Rayga seperti orang benar-benar tidur.

"Ternyata dia benar-benar mengigau," ujar Aurellia setelah memastikan matanya tidak salah lihat posisi Aurellia dan gimana mata pria itu yang tidak tertutup.

Aurellia menarik nafas jengah dan menghembuskannya kasar.

"Mau di alam sadar atau di alam mimpi, dia tetap aneh dan suka marah-marah. Mungkin itu hobi dia yang sesungguhnya dan sudah mendarah daging."

Masih dalam posisi mata tertutup, Rayga mendengarkan semua kalimat yang diucapkan Aurellia untuknya.

"Siapa yang mengigau dan aneh?" Tanya Rayga mengagetkan Aurellia yang tidak menyangka kalau pria itu akan bertanya padanya.

Aurellia gelagapan, semua kosakata seolah hilang dari dalam kepalanya.

Bahkan lidah Aurellia pun terasa berat dan sulit dibawa bekerja sama untuk menjawab pertanyaan Rayga.

Rayga membuka matanya dan menoleh kepada Aurellia.

Sedangkan Aurellia mengalihkan pandangannya karena tidak berani bersitatap dengan pria itu.

"Dia marah," gumam Aurellia pelan dengan rasa takut yang langsung membayang-bayanginya.

Hening, tidak ada yang bicara lagi.

Aurellia sibuk dengan berbagai monolog dalam hatinya, sedangkan Rayga sibuk dengan ponselnya.

Di saat mereka sama-sama hening, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan kamar dari arah luar.

Rayga maupun Aurellia reflek menoleh ke arah pintu secara bersamaan.

"Bos ... apakah aku bisa masuk?" suara Xander terdengar setelah bunyi ketukan pintu berhenti.

"Masuk!" jawab Rayga kembali beralih menatap dan memainkan ponselnya.

Xander masuk ke dalam kamar dengan membawa satu koper yang diseretnya.

Rayga hanya melirik sekilas apa yang dibawa Xander dari sudut matanya.

"Waw, luar biasa."

Xander menatap tak percaya melihat siapa yang tidur di kasur Rayga saat ini.

Walau dia tahu Rayga dan Aurellia sudah menikah, tapi dia tidak menyangka Rayga yang terlihat kejam dan membenci wanita ternyata membawa Aurellia tidur di kamarnya.

Setelah meletakkan koper di dekat lemari, Xander kembali berjalan melewati Rayga.

"Sudah mulai ketagihan ya, Bos?" kekeh Xander, lalu cepat-cepat keluar dari kamar Rayga sebelum bosnya itu melempar apapun padanya karena marah diledekin.

Saat Xander keluar dari kamar Rayga dan hendak menuruni tangga, dia bertemu dengan Dokter perempuan yang baru kali ini datang ke rumah Rayga dan baru kali ini juga bertemu dengan Xander.

"Permisi," sapa Dokter itu membungkukkan badan begitu sopan dan dibalas juga dengan anggukan sopan oleh Xander.

Saat Xander baru saja melangkah maju beberapa langkah, ayunan kakinya kembali terhenti karena dipanggil oleh Dokter yang baru saja berselisih jalan dengannya.

"Maaf, Tuan. Kamar Tuan Rayga yang mana?" tanya Dokter itu, karena ada dua kamar dengan pintu kamar berwarna sama.

"Yang paling ujung," jawab Xander menunjuk ke arah kamar yang ditempati Rayga.

"Thank's," ucap Dokter mengukir senyum tipis.

Xander kembali melanjutkan jalannya,begitu pun Dokter itu juga berjalan mendekati kamar yang tadi ditunjukkan Xander padanya.

"Permisi, Tuan. Saya Dokter Alana yang akan memeriksa istri Anda." Dokter Alana mengetuk pintu kamar Rayga sebanyak tiga kali.

"Masuk," sahut Rayga dari dalam.

Dokter Alana yang sudah dapat izin masuk, dia langsung mendorong pintu kamar dan masuk ke dalamnya.

"Selamat siang, Tuan dan Nona," sapanya ramah sambil membungkukkan setengah badan.

"Periksa dia," kata Rayga tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang sedang menjadi pusat perhatiannya saat ini.

Dokter Alana merasakan suasana begitu mencekam dalam kamar yang sangat luas itu.

Dengan langkah kaki berat, dia mendekati Aurellia yang terbaring dengan wajah pucat.

Dengan cekatan Dokter Alana memeriksa Aurellia.

Mulai dari mengecek kelopak matanya,

mengecek tensi darah dan lainnya.

"Boleh kita cek dengan testpack, Non?" Tanya Dokter Alana mengambil botol kecil dari dalam tas obat-obatannya.

"Ini untuk apa?" tanya Aurellia mengambil botol kecil yang diberikan Dokter Alana padanya.

"Non Aurellia tampung urine anda dengan botol ini, lalu celupkan alat ini sampai batas yang ini ya." Aurellia menjelaskan bagaimana cara menggunakan test peck dan botol yang diberikannya pada Aurellia.

"Okay, aku paham," jawab Aurellia

mengambil beberapa testpack yang diberikan padanya.

Aurellia menggeser pelan duduknya hingga ke tepi ranjang.

Kepalanya masih terasa begitu berat, rasa pusingnya juga belum reda.

"Ini dipakai semua?" tanya Aurellia mengangkat beberapa testpack di tangannya sebelum dia memasuki kamar mandi.

"Iya, Non," jawab Dokter Alana.

Aurellia mengangguk mengerti.

Dia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan apa yang dijelaskan Dokter Alana padanya.

Rayga masih saja sibuk dengan layar ponselnya, sedangkan Dokter Alana menatap ketampanan Rayga dengan rasa kagum.

Pria dengan rahang tegas dan hidung mancung di depannya sangat sempurna menurut Dokter Alana.

Rayga sempat melirik sekilas tatapan Dokter Alana padanya.

Dia acuh, bahkan tatapan itu membuat dia muak dan timbul rasa benci di hatinya.

"Kau tertarik padaku?" tanya Rayga membuat jantung Dokter Alana terasa meloncat dan terasa mau copot.

"Ma-maksud Anda?" tanya Dokter Alana terbata.

Rayga hanya diam, dia tidak lagi menggubris Dokter Alana.

Sedangkan pikiran Dokter Alana berkecamuk dengan berbagai pertanyaan dan praduga yang timbul tiba-tiba.

"Apa dia mengetahui aku sedari tadi memandangnya? Bukankah dia terus menatap ponselnya saja?" batin Dokter Alana, tetapi kali ini dia sudah tidak lagi memandang Rayga.

Dia menunduk memainkan kukunya.

Di dalam kamar mandi Aurellia sudah

selesai mengerjakan ritualnya, dia keluar membawa beberapa testpack yang sudah terbuka dari bungkusnya.

"Ini, Dok." Aurellia menyodorkan semua testpack itu pada Dokter Alana.

"Ada yang garis duanya samar, ada yang tidak muncul garis duanya," jelas Aurellia yang sedikit paham juga tentang hasil testpack, karena pernah lihat di film juga.

"Ada kemungkinan Anda sedang hamil, Non Aurellia." Dokter Alana memeriksa semua hasil testpack dan benar saja ada beberapa yang sudah garis dua, tapi masih samar-samar garisnya.

Mendengar itu, Rayga langsung menoleh ke arah Aurellia dan Dokter Alana.

"Periksa lebih lanjut ke rumah sakit biar lebih jelasnya. Lakukan USG secepatnya," lanjut Dokter Alana.

"Terima kasih, Dok. Mungkin nanti," jawab Aurellia, dia juga ragu apakah Rayga akan mengantarkannya periksa dan USG ke rumah sakit.

"Jangan banyak gerak dan aktivitas berat. Istirahat yang cukup ya, Non," ucap Dokter Alana, dia mengambil vitamin dan diberikannya pada Aurellia.

1
Mita Paramita
so sweet 😘😘😘 lanjut Thor double up
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Mita Paramita: ok 😁 ditunggu Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Windi Widia Astuti
semagaat kaka...aku selalu menunggu up nya
Lian_06: Thanks ya yang udah mau komentar, soalnya ini yang saya inginkan. terimakasih udah mampir jangan lupa tinggalkan komentar lagi disetiap update nya y😁
total 1 replies
Nurulsafarliza Faizal
menarik juga ada komedi..jln ceritanya bgs juga..tapi harap bertambah seru lanjutan ya..semangat ya👌
Lian_06: Thanks ya udah mampir baca dan rating nya😁. pokoknya ikuti terus cerita nya dijamin bakal seru kok🤭
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!