Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Alur
"Siapa?"
Entah sudah berapa kali nada suara Angkasa berubah, dan itu membuat Marco harus menelan kasar salivanya dengan harapan dirinya tidak dijadikan sebagai pelampiasan ketika bosnya habis kesabaran.
"Sania Sena."
Angkasa mendengus, memberikan tawa horor yang membuat bulu kuduk Marco berdiri serempak.
"Mereka pasangan sempurna dalam menipu dan memanfaatkan orang," Angkasa menggeram rendah dengan suara sangat pelan, hingga Marco yang berada di dekatnya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang bosnya katakan.
"Dia wanita yang mengaku sebagai teman tapi memanfaatkan Lea dalam urusan skripsi bukan?" tanya Angkasa.
Marco mengangguk membenarkan. "Tapi Nona Lea sudah mengatasinya," lapornya.
"Wanita sepertinya tidak akan berhenti semudah itu. Termasuk, dia yang baru saja kupecat."
Marco hanya diam. Ia paham apa maksud dari yang bosnya ucapkan. Yang artinya akan ada saat di mana Sania juga Samuel kembali mendekati Lea untuk kepentingan mereka sendiri.
"Aku ingin data lengkap mereka besok pagi. Awasi mereka," perintah Angkasa datar.
"Baik."
"Pergilah."
Marco membungkuk singkat, kemudian berbalik pergi meninggalkan ruang tamu untuk kembali ke kamarnya sendiri yang berada di bangunan terpisah dengan mansion yang bosnya tempati. Jauh berbeda dengan Lea yang mendapatkan kamar di bangunan yang sama dengan sang bos.
Dalam benak Marco, ia menganggap Lea sangat beruntung. Diterima dengan begitu mudah hanya karena bisa membuat racun, menempati kamar mewah yang berada di bangunan yang sama dengan Angkasa, dan mendapatkan perlakuan istimewa setelah satu kali menyelamatkan nyawa sang bos. Namun di saat yang sama, ia juga bisa merasakan jika Lea ...berbeda.
Marco tidak tahu, Angkasa memiliki alasan lebih dari itu.
Angkasa bangun dari duduknya, membawa langkahnya menuju kamar. Sayangnya, langkah yang ia ambil tak selancar yang ia inginkan. Langkah kakinya terhenti saat jarak kamar tinggal beberapa langkah lagi saat netranya menemukan sosok Lea berdiri menunggu di depan pintu kamar.
"Aku memintamu ke kamar untuk istirahat, bukan menjadi anjing penjaga di depan kamarku," ucap Angkasa pedas seperti biasa.
"Aku hanya ingin memberikan sesuatu," ucap Lea.
"Sesuatu?" alis Angkasa bertaut, kakinya kembali melangkah mengikis jarak dan menyisakan dua langkah dari posisi Lea berdiri.
Lea mendongak, netranya menatap lekat manik Angkasa. Dua warna yang selalu membuat ia terpana sekaligus membuat ia harus berulang kali menampar dirinya sendiri agar ia mengubur rasa tertariknya. Namun, bukan itu satu-satunya yang membuat perhatian Lea tersita. Tato di leher Angkasa berulang kali mencuri perhatiannya, meski ia masih tidak tahu apa arti tato yang ada di leher Angkasa. Tato yang membuat terus ditarik untuk mengingat sesuatu yang ia lupakan.
"Memberikan apa?" Angkasa mengulang pertanyaannya.
Lea sempat tersentak sejenak, tetapi segera ia tutupi dengan memasukkan satu tangan ke saku jaket hodienya, mengeluarkan sesuatu, dan meletakkannya ke telapak tangan Angkasa.
Angkasa menatap lama botol kaca gelap yang kini sudah berpindah ke telapak tangannya, mengamati botol itu sejenak, kemudian kembali menatap Lea.
"Ini apa?"
"Penawar," Lea menjawab cepat. "Untuk membersihkan sisa racun yang tertinggal di tubuhmu."
Netra Angkasa mengunci wajah Lea, beralih ke botol kaca kecil di tangannya, kemudian kembali ke wajah Lea, menyelami manik mata wanita di depannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya wanita itu inginkan.
"Minumlah satu butir sebelum tidur. Itu saja." ucap Lea lagi, lalu berbalik.
"Tunggu." reflek Angkasa mengambil alih pikirannya, satu tangannya yang masih bebas entah sejak kapan sudah meraih pergelangan tangan Lea sebelum Lea beranjak pergi.
"Ya?" Lea kembali menengadahkan wajah, menatap pria menjulang di depannya.
"Kali ini apa yang kau inginkan?" tanya Angkasa datar.
Ekspresi wajah Lea seketika berubah, tatapan dinginnya menjadi lebih dingin saat ia mengunci pandangannya pada wajah Angkasa. Pertanyaan yang Angkasa lontarkan terasa seperti transaksi jual beli yang harus ia sepakati tak peduli apakah ia suka atau tidak.
"Apakah kau pikir aku melakukan sesuatu hanya berdasarkan timbal balik?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tanpa emosi, tanpa tekanan, tanpa teriakan, tetapi terasa begitu tajam tanpa usaha.
Angkasa diam. Netranya tak lepas dari wajah Lea, begitu pula dengan tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan wanita itu seolah tidak ingin melepaskannya ...lagi.
Botol kaca di tangannya mungkin hanya berisi tiga butir pil penawar, tetapi beratnya menimpa seluruh keyakinan yang selama ini ia pegang teguh, bahwa semua ada harganya. Hanya ada satu orang yang pernah menggoyahkan keyakinannya, dan sekarang Lea juga melakukan hal yang sama dengan cara yang sama. Lagi dan lagi, ia memiliki pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
"Ya," jawab Angkasa jujur.
Di dunianya, tidak ada yang memberi tanpa meminta. Sama seperti saat Lea datang menawarkan diri padanya demi mencari kebenaran di balik kecelakaan kedua orang tuanya. Lea memberikan tenaga, ia meminjamkan kekuasaan. Sania memberikan senyum demi mendapatkan skripsi tanpa berpikir. Samuel memberikan perhatian demi naik jabatan. Itu logika.
Lea terdiam selama beberapa saat, kemudian menghela napas. Pertanyaan yang baru saja ia lontarkan sekarang menjadi bomerang baginya. Bukankah ia juga sama? Ia mendekati Angkasa karena memiliki tujuan. Lalu, mengapa ia harus bertanya?
"Kau benar," Lea berkata datar. "Tapi untuk obat ini, aku berikan secara gratis." lanjutnya seraya menarik tangannya dari genggaman Angkasa.
Lea melangkah mundur, kemudian berbalik meninggalkan Angkasa yang masih terdiam di tempatnya berdiri tanpa memberikan penjelasan lebih banyak. Sementara Angkasa menatap punggung Lea yang sudah menjauh dengan sorot berbeda. Merasa ada dinding tak kasat mata yang berdiri kokoh di antara mereka bersamaan dengan dinding pertahanannya yang mulai runtuh.
"Besok malam ..." Angkasa bergumam pelan. "Semoga kita mendapatkan jawaban."
Keduanya kini berada di dalam kamar berbeda, berdiri di balkon kamar masing-masing dengan pandangan tengadah menatap langit malam, tetapi pikiran mereka saling terhubung satu sama lain tanpa keduanya sadari dan menggumamkan satu kalimat yang sama.
"Alur sudah berubah."
. . . .
. . . .
To be continued...