Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mobil sedan mewah Bu Diana akhirnya berhenti tepat di depan lobby utama gedung apartemen mewah tempat Bella tinggal. Genggaman tangan Diana di jemari gue perlahan terlepas dengan sangat berat hati. Dia menatap gue dengan sepasang mata indahnya yang kini kelihatan sangat sayu dan manja, beneran enggan buat berpisah dari gue sore ini.
"Raka, kamu beneran nggak mau aku temani naik sampai ke atas apartemen kamu," tanya Bu Diana dengan nada suara yang sangat lembut, bibir merahnya sedikit dikerucutkan tanda dia lagi mode merajuk manja.
Gue tersenyum tipis lalu mengusap rambut hitam panjangnya dengan penuh kelembutan. "Nggak usah Diana. Lu kan harus langsung pulang ke rumah lu juga buat istirahat setelah seharian ini nemenin gue. Besok pagi kita kan pasti ketemu lagi di kampus."
Diana menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah tunduk pada ucapan gue. "Baiklah kalau begitu Raka. Kamu jangan lupa kabari aku ya kalau sudah sampai di dalam kamar. Aku bakal kangen banget sama kamu malam ini."
"Gue pasti kabari lu secepatnya Diana. Lu hati hati ya di jalan pas pulang," balas gue sambil mengecup keningnya sekilas membuat wajah dosen cantiknya itu kembali merona merah padam luar biasa bahagia.
Gue turun dari mobil mewah putih itu sambil menenteng kotak bekal plastik kuning pemberian dari Clara di tangan kiri gue. Setelah mobil Diana melaju pergi membelah jalanan sore, gue langsung melangkah masuk menuju lift khusus penghuni apartemen. Piran pikiran gue melayang memikirkan betapa beruntungnya nasib hidup gue sekarang berkat sistem harem ini.
Langkah kaki gue sampai di depan pintu apartemen nomor tiga ratus tiga milik Bella. Gue membuka pintu menggunakan kartu akses yang sudah diberikan Bella kemarin malam. Suasana di dalam apartemen terasa sangat sepi dan sejuk karena pendingin ruangan yang menyala otomatis. Gue melangkah masuk menuju area ruang tamu yang luas.
Namun baru saja gue meletakkan kotak bekal kuning di atas meja kaca ruang tamu, sosok Bella tiba tiba muncul keluar dari arah kamar utamanya. Penampilannya sore ini beneran bikin mata gue seger banget. Dia cuma memakai baju kaos putih santai yang agak longgar dipadu dengan celana pendek kain warna abu abu. Rambut indahnya dicepol asal asalan ke atas memperlihatkan leher putihnya yang mulus tanpa cela.
Wajah cantik Bella yang tadinya terlihat sangat gembira menyambut kedatangan gue mendadak berubah menjadi agak berkerut curiga. Langkah kakinya melambat saat dia berjalan mendekati posisi gue berdiri. Idung mancungnya tampak kembang kempis seperti sedang mengendus aroma asing di sekitar udara ruang tamu.
"Raka, kamu baru pulang dari mana saja sih kok jam segini baru sampai di apartemen," tanya Bella sambil melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap tajam menyelidik ke arah wajah gue.
"Gue tadi cuma dari kampus sebentar Bel mengurus sisa dokumen gue yang tertinggal di loker loker kemarin," jawab gue berusaha bersikap setenang mungkin memasang wajah polos andalan gue.
Bella melangkah maju satu langkah lagi membuat jarak tubuh kami berdua menjadi sangat dekat sekali. Dia mendongakkan wajah cantiknya lalu mengendus bagian kerah kaos hitam yang gue pakai dengan sangat detail mirip seorang detektif kepolisian yang sedang mencari barang bukti kejahatan.
"Kamu bohong ya Raka. Ini di baju kamu kok ada bau wangi parfum cewek lain sih. Wanginya feminin banget mewah kayak parfum mahal merek luar negeri. Ini jelas bukan bau wangi parfum kamu yang biasa," ucap Bella dengan nada suara yang mulai meninggi penuh dengan getaran rasa cemburu yang luar biasa besar.
Gue menelan ludah pelan dalam hati mengakui kehebatan indera penciuman seorang wanita kalau lagi mode cemburu. Ini pasti sisa bau wangi parfum Bu Diana yang menempel erat di baju gue waktu kami pelukan mesra di dalam ruang kerja pribadinya dan di parkiran restoran tadi siang.
Belum sempat gue menyusun kalimat jawaban yang pas, mata jeli Bella mendadak beralih menatap lurus ke arah sebuah kotak bekal plastik berwarna kuning terang yang tergeletak mencolok di atas meja kaca.
"Terus ini kotak bekal punya siapa Raka. Warnanya kuning lucu pakai diikat pita pita segala lagi. Jangan bilang kamu habis ketemuan sama cewek lain di luar sana ya," cecar Bella makin gencar menginterogasi gue, matanya mulai berkaca kaca menahan rasa sedih sekaligus kesal karena merasa posisinya terancam.
Gue langsung mengaktifkan Keahlian Mata Pemikat Level Satu secara pasif dikombinasikan dengan Fisik Level Dua untuk memancarkan aura pria sejati yang sangat tenang dan penuh kasih sayang guna meredam emosi Bella sebelum poin kasih sayangnya drop turun dari angka sembilan puluh lima persen.
Gue melangkah maju lalu memegang kedua bahu mungil Bella dengan lembut, memaksa dia untuk menatap lurus ke dalam sepasang mata gue yang memancarkan ketulusan penuh.
"Bel, lu dengerin penjelasan gue dulu baik baik dan jangan langsung berpikiran negatif begitu dong. Gue beneran nggak ada niat buat bohongin lu sama sekali sore ini," ucap gue dengan nada suara bariton rendah yang sangat lembut dan menenangkan hati.
"Tapi bau parfum itu sama kotak bekal ini buktinya nyata banget Raka. Kamu tega ya di belakang aku main sama cewek lain padahal aku udah tulus banget nampung kamu di sini," balas Bella dengan suara yang mulai serak menahan isak tangis di tenggorokannya, wajah cantiknya cemberut manja banget bikin gue makin gemas melihatnya.
"Kotak bekal kuning ini murni pemberian dari seorang pelayan restoran tempat gue makan siang tadi Bel. Tadi siang pas gue jalan balik dari kampus, gue nggak sengaja melihat pelayan cewek itu lagi diganggu dan dilecehkan secara kasar sama manajer restorannya yang mesum di lorong belakang," jelas gue mulai menyusun cerita dengan bumbu kepahlawanan yang sangat disukai cewek.
Mendengar kata pelecehan, raut wajah Bella langsung berubah terkejut. Rasa cemburunya sedikit mereda digantikan oleh rasa penasaran yang besar.
"Terus kamu tolongin cewek pelayan itu Raka," tanya Bella dengan suara yang mulai melembut menatap mata gue lekat lekat.
"Iya tentu saja gue tolongin Bel. Masa gue tega diam saja melihat ada cewek lemah ditindas di depan mata gue sendiri. Gue langsung hajar dan ancam manajer mesum itu sampai dia ketakutan setengah mati dan langsung dipecat hari itu juga dari restoran. Nah sebagai bentuk rasa terima kasihnya yang sangat besar, cewek pelayan itu nekat ngejar gue sampai ke parkiran cuma buat ngasih kotak bekal berisi kue kering buatan rumah ini. Masalah bau parfum di baju gue ini, itu murni karena cewek pelayan itu tadi sempat menangis histeris ketakutan dan refleks memeluk baju gue buat minta perlindungan dari amukan bosnya. Jadi murni nggak ada hubungan spesial apa apa di antara kami Bel," ucap gue menjelaskan skenario cerita dengan sangat lancar tanpa ada hambatan sedikit pun.
Gue sengaja menyembunyikan bagian tentang keberadaan Bu Diana dalam cerita itu demi keselamatan kelangsungan kerajaan harem gue agar tidak terjadi perang dunia ketiga di dalam apartemen ini sore ini.
Bella terdiam seratus bahasa mendengar penjelasan panjang dari gue. Dia menatap kotak bekal kuning itu lalu kembali menatap wajah gue yang tampak sangat meyakinkan berkat bantuan kekuatan sistem. Rasa cemburu butanya langsung menguap lenyap tak berbekas dalam sekejap mata digantikan oleh rasa kagum dan rasa cinta yang makin meluap luap di dalam relung hatinya.
"Ya ampun Raka, maafkan aku ya karena sudah berpikiran yang aneh aneh tentang kamu tadi. Aku murni cuma takut banget kehilangan kamu Raka. Aku nggak mau kamu direbut sama cewek lain di luar sana karena buat aku kamu itu adalah pria paling berharga di hidup aku sekarang," ucap Bella dengan sangat tulus, air mata bahagianya menetes pelan membasahi pipinya yang mulus merona merah.
Bella langsung menghambur maju menjatuhkan tubuh indahnya masuk ke dalam pelukan hangat gue. Dia memeluk pinggang tegap gue dengan sangat erat seolah tidak mau melepaskan gue pergi selamanya dari sisinya.
Gue tersenyum sangat puas di dalam hati, taktik bermain cantik gue sukses besar membalikkan keadaan darurat ini menjadi keuntungan mutlak buat gue. Gue mengelus punggung lembut Bella dengan penuh rasa kasih sayang sejati.
"Nggak apa apa kok Bel, gue paham banget perasaan lu. Gue juga nggak bakal pernah ninggalin cewek sebaik dan secantik lu demi orang lain kok," bisik gue tepat di dekat telinganya membuat tubuh Bella langsung lemas manja dalam dekapan hangat gue.
Layar hologram biru milik sistem mendadak muncul terang di sudut pandangan mata gue memberikan notifikasi hadiah kepuasan yang sangat manis sekali sore ini.
"Misi Interogasi Harem Berhasil Dilewati dengan Sempurna. Target Bella berhasil ditenangkan tanpa ada penurunan poin kasih sayang sedikit pun. Tingkat kasih sayang Bella stabil di angka Sembilan Puluh Lima Persen. Hadiah Tambahan Poin Sistem bertambah Dua Ratus Poin. Total Poin Sistem Tuan Rumah saat ini adalah Sembilan Ratus Poin."
Gue tersenyum lebar membaca notifikasi dari sistem hebat ini. Hubungan asmara di dalam apartemen mewah ini kembali berjalan aman tentram dan penuh dengan getaran romantis yang sangat mendalam di antara kami berdua sore ini.