WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Privasi yang Bocor Halus
...🌹🌹🌹...
Pagi di penthouse Arkeas biasanya dimulai dengan kesunyian yang mahal. Namun, sejak Zolla menetap, suasananya berubah jadi kayak backstage konser yang gagal manajemen.
Arkeas sedang berdiri di depan cermin kamar mandinya, menatap wajahnya yang tampak kurang tidur. "Kenapa gue harus kepikiran soal 'rumah' semalam? Kenapa gue harus cium tangannya? Arkeas, lo itu CEO, bukan cowok sad boy penunggu halte," rutuknya pada bayangannya sendiri.
Ia keluar kamar dengan setelan santai—hanya kaos hitam polos yang harganya setara motor matic dan celana kain. Begitu sampai di ruang tengah, ia mendapati Zolla sedang sibuk dengan laptopnya di meja makan, sementara Alisya anteng di dalam baby walker-nya.
"Zollana, kamu kerja atau lagi scrolling akun gosip?" tanya Arkeas dengan suara berat khas bangun tidur—yang menurut Zolla adalah suara paling berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
Zolla mendongak, matanya yang bulat mengerjap. "Eh, Tuan! Ini... saya lagi bikin tabel pengeluaran dapur. Biar Tuan nggak nuduh saya korupsi duit belanja buat beli seblak."
Arkeas mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Zolla. Ia mencondongkan tubuhnya untuk melihat layar laptop Zolla. Lagi-lagi, aroma stroberi dan sabun mandi bayi dari tubuh Zolla menyerang hidungnya.
"Tabel kamu berantakan. Ini namanya bukan akuntansi, ini coret-coret kantin," kritik Arkeas, tangannya refleks mengambil alih mouse pad.
Jarak mereka sangat dekat. Lengan kokoh Arkeas bersentuhan dengan bahu mungil Zolla. Zolla bisa merasakan napas Arkeas di dekat telinganya.
"Ya kan saya bukan lulusan ekonomi, Tuan. Saya lulusan 'Yang Penting Cukup buat Makan'," sahut Zolla, berusaha tetap tenang padahal tangannya sudah dingin.
"Minggir sebentar. Biar saya yang benerin formatnya," perintah Arkeas.
Zolla hendak berdiri, tapi karena ruang gerak yang sempit antara kursi dan meja, kaki Zolla tersangkut kaki kursi. Ia terhuyung, dan refleks tangan Arkeas melingkar di pinggang Zolla untuk menahan gadis itu agar tidak jatuh.
Klik.
Mata mereka bertemu. Posisi mereka sekarang seperti adegan poster drakor yang sering Zolla tonton. Arkeas menatap bibir Zolla, lalu beralih ke matanya. Gengsi Arkeas berteriak "Lepasin!", tapi hatinya berbisik "Bentar lagi."
"Tuan... tangannya..." bisik Zolla, wajahnya sudah semerah stroberi yang sering dia pakai aromanya.
Arkeas berdehem keras, melepaskan pelukannya dengan kaku. "Lantai kamu licin. Kamu nggak becus ngepel ya?"
"Dih! Nyalahin lantai terus! Bilang aja Tuan emang mau modus!" balas Zolla sambil menjulurkan lidah, mencoba menutupi rasa gugupnya yang luar biasa.
...🌹🌹🌹...
Sore harinya, Arkeas sedang ada di ruang kerjanya saat ia menyadari wi-fi kantor pribadinya bermasalah. Ia keluar dan mendapati Zolla sedang mencoba menyambungkan ponselnya ke router di ruang tengah.
"Zol, jangan ganti-ganti settingan internet saya," tegur Arkeas.
"Enggak ganti, Tuan. Cuma mau nyambungin HP buat dengerin lagu di speaker pinter Tuan. Biar Alisya nggak bosen denger suara vakum."
"Password-nya susah. Kamu nggak bakal tahu," ucap Arkeas sombong.
"Udah tahu kok. Tadi saya tebak-tebak buah manggis, eh bener. Password-nya 'AlisyaSayangPapa01', kan?" Zolla nyengir polos.
Arkeas mematung. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah instan. Itu password yang dia buat saat dia sedang merasa sangat melankolis setelah Alisya lahir. Itu sisi paling lembut dari seorang Arkeas yang dia sembunyikan rapat-rapat.
"Kamu... lancang banget nyoba-nyoba password saya!" bentak Arkeas, tapi suaranya lebih terdengar seperti orang yang tertangkap basah selingkuh daripada orang marah.
"Habisnya Tuan ketahuan banget. Tuan itu kelihatannya aja dingin, padahal di dalemnya lembek kayak marshmallow," ejek Zolla. "Tuan sayang banget sama Alisya, tapi gengsi mau nunjukin di depan orang. Kenapa sih, Tuan? Takut kelihatan nggak keren?"
Arkeas berjalan mendekati Zolla, tatapannya menajam. Ia memojokkan Zolla ke arah dinding dekat router. "Kamu pikir kamu sudah tahu segalanya tentang saya, hah?"
Zolla menelan ludah, tapi dia tidak mau kalah. "Saya tahu Tuan itu kesepian. Saya tahu Tuan itu butuh seseorang yang nggak mandang Tuan sebagai 'Arkeas si Selebriti Parfum', tapi cuma sebagai 'Arkeas si Duda yang Perlu Dipeluk'."
Suasana mendadak jadi sangat intense. Arkeas menatap mata Zolla lama. Keberanian gadis mungil ini benar-benar merusak pertahanannya.
"Kalau saya memang butuh dipeluk, apa kamu berani meluk saya sekarang?" tantang Arkeas dengan suara rendah, menantang nyali Zolla.
Zolla terdiam. Tangannya perlahan terangkat, hendak menyentuh lengan Arkeas. Namun, tepat saat jemari Zolla menyentuh kain kaos Arkeas, ponsel Arkeas berbunyi nyaring.
Calling: Manager Brandon.
Arkeas langsung menjauh seolah tersengat listrik. Ia merapikan kaosnya yang sama sekali tidak berantakan. "Saya... saya ada urusan kerjaan. Kamu lanjutin aja urusan internet kamu. Jangan coba-coba tebak password saya yang lain!"
Arkeas kabur ke kamarnya dengan langkah seribu. Zolla menarik napas panjang, dadanya terasa sesak karena debaran jantung yang nggak karuan.
"Gila... hampir aja gue peluk bos sendiri. Bisa-bisa gaji gue dipotong karena 'pelukan tidak berizin'," gumam Zolla, sambil memegangi dadanya.
...🌹🌹🌹...
Malam harinya, Arkeas keluar kamar untuk mengambil air minum. Ia melihat Zolla sudah tertidur di sofa depan TV, sepertinya kelelahan setelah seharian mengurus Alisya dan membersihkan rumah. Di sampingnya, Alisya tidur pulas di keranjang bayinya.
Arkeas mendekat perlahan. Ia menatap wajah Zolla yang saat tidur terlihat sangat tenang, tidak ada lagi ocehan atau ejekan yang keluar dari bibirnya.
Arkeas berlutut di samping sofa. Ia menghirup aroma yang ada di sekitar Zolla. Biasanya rumah ini hanya berbau parfum racikannya yang mahal dan kaku. Tapi sekarang, ada aroma masakan, aroma minyak telon, dan aroma stroberi segar yang sangat... hidup.
"Kenapa gue harus ketemu asisten seaneh lo, Zol?" bisik Arkeas pelan.
Ia mengambil selimut tipis dan menyelimuti tubuh mungil Zolla. Saat ia menarik selimut itu ke arah bahu Zolla, tanpa sengaja tangannya menyentuh pipi lembut gadis itu. Arkeas tertegun. Ia membiarkan jarinya diam di sana selama beberapa detik.
Zolla melenguh kecil dalam tidurnya, kepalanya bergerak menyamping, membuat tangannya tidak sengaja menggenggam ujung jari Arkeas.
Jantung Arkeas seolah berhenti berdetak. Ia tidak melepaskan genggaman itu. Justru, ia duduk di lantai samping sofa, membiarkan jarinya digenggam oleh asistennya yang ceroboh itu di tengah kegelapan malam yang sunyi.
"Mungkin benar kata kamu... saya memang butuh rumah," gumam Arkeas pelan sebelum akhirnya ia ikut memejamkan mata sejenak di sana.
...🌹🌹🌹...
(Bersambung ke Episode 9...)