Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERMINAL PERPISAHAN YANG SUNYI
Matahari terakhir di Desa Sukamaju muncul dengan semburat warna oranye yang dramatis, seolah langit pun tahu bahwa hari ini adalah bab penutup dari sebuah perjalanan singkat yang mengubah segalanya. Di depan posko, bus kampus berwarna biru tua sudah terparkir, mesinnya menderu rendah, siap membawa Kelompok 14 kembali ke hiruk-pikuk kota.
Alana berdiri di teras, menatap halaman rumah Pak Kades yang kini bersih dari material proyek. Balai desa yang dirancang Raka sudah berdiri kokoh, meski belum sepenuhnya rampung. Itu adalah monumen fisik dari keberadaan mereka di sini sebuah bangunan yang akan bertahan lama, jauh lebih lama daripada perasaan yang sedang Alana coba kubur dalam-dalam.
"Semua barang sudah masuk bagasi, Lan?" tanya Bram, wajahnya tampak lelah namun puas dengan pencapaian kelompok mereka.
"Sudah, Bram. Tinggal tas kecilku ini saja," jawab Alana, mencoba memberikan senyum terbaiknya.
Di sudut lain, Raka sedang bersalaman dengan para tokoh desa. Pelipisnya masih ditutupi plester kecil, sisa dari kecelakaan tempoh hari. Ia tampak lebih diam dari biasanya, sorot matanya kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di gubuk tua atau di bawah pohon kamboja.
Satu per satu mahasiswa naik ke bus. Dinda sudah mengamankan kursi di barisan tengah, melambaikan tangan agar Alana segera naik. Namun, langkah Alana terhenti tepat di tangga bus saat ia merasakan seseorang menahan ranselnya dari belakang.
Ia berbalik dan menemukan Raka berdiri di sana. Di tengah keriuhan teman-teman yang saling bercanda dan suara klakson bus, mereka berdua seolah berada dalam ruang hampa udara.
"Alana," panggil Raka. Suaranya pecah, penuh dengan beban yang tak sanggup ia pikul lagi.
"Kita harus naik, Raka. Busnya mau jalan," bisik Alana, matanya mulai memanas.
"Aku tahu. Tapi... aku nggak bisa membiarkanmu pulang dengan perasaan seperti ini," Raka merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan surat, bukan perhiasan, melainkan sebuah penghapus pensil yang sudah aus penghapus yang sering Alana lihat digunakan Raka saat menggambar sketsa di perpustakaan.
"Ambil ini. Sebagai tanda bahwa aku ingin menghapus semua luka yang kubuat di hatimu, meski aku tahu itu mustahil," Raka meletakkan benda kecil itu di telapak tangan Alana.
Alana menggenggam penghapus itu erat-erat. Teksturnya kasar, aroma karet dan grafit pensilnya sangat khas Raka. "Kamu nggak bisa menghapus kenyataan, Raka. Kamu hanya bisa membangun sesuatu yang baru di atasnya."
"Aku akan mencarimu di meja nomor 15, Lan. Apapun yang terjadi nanti di kota, tolong... jangan benar-benar menghilang," pinta Raka dengan tatapan memohon yang menghancurkan pertahanan Alana.
Alana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu segera naik ke bus tanpa berani menoleh lagi. Ia takut jika ia menoleh, ia akan melompat turun dan memeluk Raka di depan semua orang, mengabaikan Maudy, mengabaikan dunia.
Bus bergerak meninggalkan gerbang desa. Alana menempelkan keningnya di kaca jendela yang dingin. Di luar sana, ia melihat siluet warga desa melambai, dan di antara mereka, Raka berdiri paling tegak, menatap bus itu sampai hilang di tikungan jalan pegunungan.
Di dalam bus yang gaduh dengan nyanyian kemenangan teman-temannya, Alana justru merasa kesepian yang luar biasa. Ia membuka buku catatannya, menatap halaman-halaman yang kosong di bagian belakang. Ia mengambil pena, dan dengan tangan gemetar, ia menuliskan baris penutup untuk masa KKN mereka:
"Sukamaju memberiku oksigen yang paling segar sekaligus sesak yang paling hebat. Aku pergi membawa kenangan tentang seorang pria yang mencintai garis lurus, namun hidup dalam lingkaran perjodohan yang rumit. Selamat tinggal, desa para saksi. Aku kembali ke kota, membawa abu yang belum benar-benar padam."
Dua hari setelah kepulangan mereka, kampus terasa begitu asing bagi Alana. Aroma buku-buku lama di gedung Sastra biasanya menenangkannya, namun kini setiap sudut koridor mengingatkannya pada Raka.
Ia berjalan menuju perpustakaan pusat, tempat segalanya bermula. Langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga menuju lantai dua. Ia melewati meja nomor 12 meja Raka. Kosong. Hanya ada setitik debu yang menari di bawah cahaya lampu.
Alana duduk di meja nomor 15 miliknya. Ia membuka laptop, mencoba fokus pada revisi laporan KKN. Namun, matanya terus melirik ke arah meja nomor 12.
Tiba-tiba, seorang mahasiswi junior lewat dan meletakkan setumpuk buku di meja nomor 12. Alana merasa ada sesuatu yang dicuri dari hidupnya. Meja itu bukan lagi milik Raka, dan ia bukan lagi "gadis pengamat" yang punya hak untuk menatap punggung arsitek itu dalam diam.
Sesaat kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.
[08xx-xxxx-xxxx]: Aku sedang di depan gedung Sastramu. Maudy sedang fitting baju pengantin bersama ibu. Aku butuh satu menit saja untuk melihatmu tersenyum, atau aku akan gila sekarang juga.
Alana menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis agar tidak memecah keheningan perpustakaan. Pesan itu adalah bukti bahwa Raka pun sedang hancur. Di satu sisi, ia adalah calon pengantin pria yang sempurna bagi Maudy, namun di sisi lain, ia adalah pria malang yang mencari pelarian di teras gedung Sastra.
Alana tidak membalas pesan itu. Ia tahu, bertemu Raka sekarang hanya akan memperpanjang penderitaan mereka. Ia harus menjadi orang yang cukup kuat untuk memutus rantai ini.
Ia mengambil penghapus pensil pemberian Raka, meletakkannya di atas meja nomor 15. Ia memandangi benda itu lama, lalu ia berdiri. Ia meninggalkan penghapus itu di sana, di atas meja yang telah menjadi saksi bisu kekagumannya selama tiga tahun.
Ia melangkah keluar dari pintu perpustakaan dengan gerakan mantap, menuruni anak-anak tangga dengan punggung yang lurus dan kepala tegak. Bukannya beranjak ke gedung Sastra seperti biasanya, ia justru memilih arah yang berlawanan, menuju halte bus kampus. Hari itu, ia telah memutuskan untuk pulang lebih awal, terasa ada yang berat tertinggal di sudut gelap ruang baca tempatnya menghabiskan waktu tadi.
The Silence of Adoring You dulunya adalah sebuah kisah tentang harapan yang sabar, sebuah cerita tentang menunggu. Namun kini, entah sejak kapan, kisah itu mulai berubah menjadi sebuah kisah tentang melepaskan, sebuah babak baru tentang keberanian untuk berjalan pergi.
Di depan gedung Sastra, Raka masih berdiri di sana, diam di bawah bayangan lebat pohon mahoni yang menjulang tinggi. Sorot matanya terus tertuju pada pintu keluar, penuh asa yang perlahan lentur menjadi hampa. Ia telah lama menanti di tempat itu, berharap Alana akan muncul seperti biasanya. Namun, kali ini, langkah kaki yang ia tunggu tidak pernah datang. Harapannya meredup bersama bayangan dedaunan yang mulai berubah warna di sore itu. Tungguannya terasa makin hampa, dan pikiran-pikiran pun mulai bermain liar, bertanya-tanya apa sesungguhnya yang salah.
Sementara itu, jauh dari kampus yang sunyi senja itu, gemerlap cahaya memenuhi sebuah butik mewah di pusat kota. Maudy berdiri di depan cermin besar, matanya berbinar puas ketika ia menyaksikan pantulan dirinya sendiri. Di tubuhnya terbalut sebuah gaun putih yang begitu elegan dan memukau—menampilkan kesempurnaan ilusi kebahagiaan. Senyumnya mengembang penuh keyakinan, tak tergoyahkan oleh kenyataan yang tak terlihat olehnya. Sebab di tempat lain, pria yang kini ia sebut sebagai tunangannya telah meninggalkan separuh hatinya di atas meja kayu lapuk dalam sebuah perpustakaan sunyi. Meja itu menyimpan cerita-cerita bisu dari masa lalu, di mana hati yang menyayangi dan rindu tak pernah mendapatkan pengakuan penuh seperti yang seharusnya.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus