Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Siapa Kamu Sebenarnya
Mereka bertarung lima menit lagi.
Lima menit yang terasa berbeda dari semua pertarungan yang pernah Wei Mou Sha jalani, bukan karena intensitasnya lebih tinggi. Tapi karena ada kualitas di dalamnya.
Bukan hanya dua orang saling menyerang untuk menang.
Lebih seperti dua orang yang sedang menemukan batas masing-masing dengan cara paling langsung.
Chen Liang Huo menyerang dengan meningkatkan intensitas setiap beberapa pertukaran, mendorong lebih jauh, menguji di mana batas respons Wei Mou Sha.
Wei Mou Sha merespons dengan variasi teknik titik qi-nya, mengeksplorasi kombinasi yang belum pernah ia coba sebelumnya, menemukan beberapa yang berhasil dan beberapa yang tidak dalam kondisi nyata.
Memar di bahu kiri, sementara lengan kanan Chen Liang Huo menggigil dua kali lagi dari variasi teknik yang Wei Mou Sha coba.
Di menit kedelapan, di tengah pertukaran yang lebih keras dari semua sebelumnya, segel di dada Wei Mou Sha berdenyut dengan cara yang tidak lagi bisa ia abaikan.
Bukan sakit. Tapi tekanan dari dalam yang mendorong keluar, seperti sesuatu yang sudah menunggu terlalu lama dan mulai kehilangan kesabarannya.
Wei Mou Sha berhenti bergerak.
Chen Liang Huo yang sedang dalam ayunan serangan mendeteksi penghentian mendadak itu, dan membelokkan serangannya ke samping, refleks yang sudah dilatih untuk tidak menyerang lawan yang tidak bergerak.
"Wei Mou Sha."
Wei Mou Sha berdiri sangat diam.
Di dalam dadanya, segel berdenyut terus lebih kuat, lebih tidak teratur dengan ritme yang mulai terasa bukan miliknya sendiri. Sesuatu di lapisan paling dalam yang sudah bergerak selama berminggu-minggu, kini mendorong ke atas dengan cara yang tidak bisa lagi ia tekan kembali.
Tangannya menjadi dingin.
Matanya yang biasanya abu-abu pucat, kini terasa seperti berubah, meski ia tidak tahu apakah itu terlihat dari luar atau hanya terasa dari dalam.
Tidak sekarang, pikirnya. Tidak di sini.
Tapi sesuatu di dalam segel itu tidak mendengar.
Chen Liang Huo berdiri tiga meter darinya, tidak menyerang, menatapnya dengan ekspresi yang sudah bergeser sepenuhnya dari pertarungan ke sesuatu yang lebih waspada.
"Sesuatu sedang terjadi.".
Wei Mou Sha mengangkat tangannya, "Beri aku sebentar."
Chen Liang Huo mundur selangkah tapi tidak pergi.
Wei Mou Sha menutup matanya.
Menekan ke dalam, bukan ke segel, bukan dengan kekuatan. Tapi dengan cara yang dipelajari dari meditasi berminggu-minggu, dengan cara yang Bibi Yao deskripsikan sebagai mengingat dari dalam, bukan melawan dari luar.
Belum waktunya, katanya kepada sesuatu di dalam dirinya. Bukan di sini. Bukan sekarang.
Keheningan terjadi dari dalam selama dua detik.
Wei Mou Sha membuka matanya.
Chen Liang Huo masih di sana.
"Selesai," kata Wei Mou Sha.
"Kamu yakin?"
"Untuk sekarang."
Chen Liang Huo menatapnya lama. Kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak Wei Mou Sha antisipasi, ia berjalan ke tengah arena, berdiri di posisi netral, dan menurunkan qi-nya.
Panas yang mengambang di udara selama delapan menit terakhir perlahan menghilang. Bekas hangus di lantai arena masih ada tapi tidak bertambah.
"Aku menyatakan seri," kata Chen Liang Huo kepada penjaga pertandingan yang berdiri di tepi arena dengan ekspresi bingung. "Kondisi lawan tidak memungkinkan untuk melanjutkan secara adil."
Keheningan dari tribun yang terasa lebih besar dari arena itu sendiri.
"Seri bukan hasil yang sah dalam final." kata penjaga itu.
"Jadikan sah," kata Chen Liang Huo dengan nada yang tidak meninggalkan ruang untuk diskusi. "Atau aku mundur dan dia yang menang. Mana yang lebih kamu inginkan?"
Penjaga itu menatap Chen Liang Huo, menatap Wei Mou Sha, menatap daftar aturan di tangannya.
Lonceng berbunyi tiga kali, kode yang belum pernah Wei Mou Sha dengar sebelumnya.
"Hasil final dinyatakan tidak pasti. Kedua peserta dinyatakan sebagai pemenang bersama."
Orang orang di tribun tidak tahu harus bereaksi bagaimana untuk ketiga kalinya dalam turnamen ini. Suara yang keluar lebih keras dari sebelumnya, campuran antara sorakan, perdebatan, dan bisik-bisik.
Wei Mou Sha dan Chen Liang Huo berjalan bersama keluar dari arena.
Tidak berbicara. Di koridor menuju area peserta, Chen Liang Huo berhenti.
"Itu yang kamu maksud dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kamu kendalikan."
"Ya."
"Seberapa sering itu terjadi?"
Wei Mou Sha menatap ke depan. "Dalam beberapa minggu terakhir, semakin sering."
Chen Liang Huo diam sebentar. "Berbahaya untuk kamu atau untuk orang di sekitarmu?"
Pertanyaan yang tidak terduga.
"Belum tahu," kata Wei Mou Sha. Jawaban yang sama seperti tadi, tapi kali ini terasa lebih berat.
"Kalau sudah tahu jawabannya," kata Chen Liang Huo, "beritahu aku."
Ia berjalan ke arah ruang Aula Api Sejati tanpa menunggu jawaban.
Wei Mou Sha berdiri di koridor itu sendirian.
Di dalam dadanya, segel yang tadi hampir tidak terbendung kini kembali ke ritme yang familiar, lebih keras dari dua minggu lalu, tapi familiar.
Meningkat, pikirnya. Dan akan terus meningkat.
Perpustakaan Awan. Catatan era kuno. Kunci yang perlu ia temukan sebelum sesuatu di dalam dirinya mengambil keputusan sendiri.
Waktu yang tersedia semakin pendek.
Malam itu, Lian Zhu Yue duduk di bangku taman kecil di luar Sekte Bunga Abadi.
Kipas teratai merahnya terbuka di tangannya tapi tidak digunakan, hanya dipegang, diputar perlahan di antara jari-jarinya.
Ia memikirkan apa yang ia rasakan dari tribun tadi.
Ketika segel Wei Mou Sha hampir tidak terbendung di menit kedelapan, ia merasakan Gelombang yang tidak keluar tapi hampir keluar, dengan tekanan yang membuat bulu kuduknya berdiri selama tiga detik sebelum mereda.
Ia tahu Wei Mou Sha menekannya kembali.
Yang tidak ia ketahui adalah berapa lama lagi itu bisa dilakukan.
Lian Zhu Yue menutup kipasnya.
Ada sesuatu di dalam diri Wei Mou Sha yang lebih besar dari yang ia pahami sejauh ini. Dan ada sesuatu dalam dirinya sendiri tentang kemampuan kultivasi jiwa yang selama ini ia latih, untuk membaca dan menyeimbangkan yang beresonansi dengan segel itu, dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dari teori mana pun yang pernah ia pelajari.
Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Dengan siapa pun.
Lian Zhu Yue menatap langit malam di atas taman.
"Siapa kamu sebenarnya, Wei Mou Sha," katanya pelan kepada langit yang tidak menjawab.