NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sesampainya di kampus, Olivia langsung disambut dengan cara yang… terlalu megah.

Rektor sendiri turun tangan menyapa. Beberapa staf administrasi berdiri rapi. Bahkan ada tim khusus yang sudah siap mengantar mereka berkeliling.

“Selamat datang, Nona Olivia,” ujar salah satu staf dengan senyum profesional. “Kami sudah menyiapkan tur singkat. Ini ruang kelas Anda, ini perpustakaan utama, laboratorium bisnis, dan daftar dosen pengajar semester pertama.”

Olivia berjalan di samping Juna, wajahnya merengut halus. Mereka mengikuti seorang staf kampus yang menjelaskan dengan detail berlebihan—mulai dari jadwal kuliah, akses prioritas perpustakaan, hingga kartu parkir khusus.

Prioritas. Akses khusus. Layanan pribadi. Olivia menoleh ke Juna dengan tatapan protes.

“Yang kayak beginian kan biasanya pas ospek, kan?” bisiknya tajam. “Kok gue udah dikasih jalur VVIP gini sih? Apa maksudnya?”

Juna tetap tenang, langkahnya mantap. “Ini semua keinginan Oma.”

Jawaban yang terlalu mudah.

“Gue pas SMA nggak gini amat deh,” protesnya lagi. “Gue mau normal aja, bisa nggak? Gue nggak mau ada yang tau gue cucu Oma.”

Juna meliriknya sekilas. “Kenapa? Bukannya harusnya lu senang?”

Olivia tertawa kecil. Sarkas.

“Senang?” Ia menyipitkan mata ke arah Juna. “Menderita gue dikerubungi manusia penjilat.”

Kalimat itu meluncur ringan—tapi tajam. Dan untuk sepersekian detik, Juna merasa seperti sedang dituding langsung.

Penjilat. Apakah Olivia juga memasukkannya dalam kategori itu? Namun wajah Juna tetap tenang. Terlalu terlatih untuk menunjukkan reaksi.

“Gue nggak bisa atur bagaimana orang bersikap,” ujarnya datar. “Tapi lu bisa atur bagaimana lu merespons.”

Olivia memutar mata. “Jawaban diplomatis banget.”

Mereka berhenti di depan gedung utama fakultas bisnis. Interiornya modern, dinding kaca tinggi, marmer mengilap, dan suasana yang lebih mirip hotel bintang lima daripada kampus.

Staf kampus itu kembali menjelaskan dengan penuh hormat. Terlalu hormat. Olivia mulai merasa sesak.

Beberapa menit kemudian, Juna ditarik ke sisi ruangan oleh seorang pria paruh baya berjas mahal—ketua yayasan kampus. Percakapan mereka terdengar serius. Nada profesional. Formal.

Olivia berdiri beberapa langkah dari mereka, pura-pura memperhatikan papan pengumuman digital. Ia merasa seperti pajangan.

Saat Juna mulai benar-benar fokus berbicara dengan pria penting itu, Olivia mengambil keputusan cepat.

“Gue ke rest room bentar,” katanya singkat.

Juna hanya mengangguk tanpa menoleh. “Jangan jauh-jauh.”

Olivia tersenyum tipis. Jangan jauh-jauh? Justru itu yang ingin ia lakukan.

Begitu berbelok dari lorong utama, ia mempercepat langkahnya. Melewati tangga, melewati aula, sampai akhirnya menemukan papan kecil bertuliskan: CAFETERIA.

“Nah, ini baru normal,” gumamnya lega.

Namun ketika ia masuk, langkahnya melambat. Ini bukan kantin. Ini lebih mirip kafe elit. Interior kayu gelap, sofa empuk, mesin kopi premium, mahasiswa berpakaian rapi dengan laptop mahal di atas meja. Tidak ada suasana berisik khas kantin sekolah.

Olivia mendesah pelan. “Bahkan kantinnya aja fancy…”

Ia melangkah masuk lebih dalam, mencoba terlihat biasa. Tapi… Ia merasakan sesuatu. Seperti ada yang memperhatikannya. Bukan sekadar melihat karena wajah baru.

Ini berbeda. Tatapan yang diam. Mengamati. Olivia menoleh perlahan. Dari sudut ruangan, di balik dinding kaca yang memisahkan area VIP, seseorang duduk sendirian. Wajahnya setengah tertutup bayangan cahaya. Topinya rendah. Tapi matanya—menatap lurus ke arahnya.

Olivia membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak yakin apakah orang itu mahasiswa atau bukan. Tapi satu hal yang membuat tengkuknya merinding—orang itu tidak tampak terkejut melihatnya. Seolah sudah menunggu.

Dan saat Olivia refleks meraih ponselnya di dalam tas… Layarnya menyala. Pesan masuk dari nomor yang sama.

Kampus yang bagus

Napas Olivia terhenti. Pesan kedua langsung menyusul.

Aku bilang jangan terlalu percaya pada Juna

Tangannya mulai dingin. Perlahan, ia mengangkat pandangan kembali ke arah kaca VIP itu. Kursi itu kosong. Orangnya… sudah tidak ada. Olivia seketika sadar—seseorang bukan hanya mengawasinya. Seseorang sudah selangkah lebih dekat dari yang ia kira.

Kali ini Olivia tidak mau hanya diam. Ia melangkah cepat menuju sudut kaca tempat pria itu tadi duduk. Jantungnya berdetak lebih cepat setiap langkahnya mendekat.

Kosong. Kursi itu kosong. Cangkir di atas meja masih hangat—uap tipisnya masih terlihat naik perlahan. Artinya, orang itu baru saja pergi.

Olivia mengitari area VIP kecil itu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan kafe. Mahasiswa duduk berkelompok, beberapa sibuk dengan laptop, ada yang tertawa, ada yang fokus membaca.

Tidak ada satu pun yang tampak seperti pria tadi. Tidak ada topi. Tidak ada tatapan diam yang mengawasi. Ia menghela napas kesal.

“Kali ini gue nggak boleh lengah,” gumamnya.

Dengan gerakan tegas, ia merogoh ponselnya dan membuka pesan terakhir. Jari-jarinya mengetik cepat.

Lu siapa? Kalau berani temui gue.

Pesan terkirim. Tidak sampai lima detik. Balasan masuk.

Kalau gitu, kenapa tidak datang saat ditunggu di sekolah?

Olivia melongo. Sekolah. Ingatan itu menyentaknya. Hari itu, pesan misterius yang menyuruhnya datang ke sekolah, tapi ia tidak pergi karena kesempatan itu tidak ada gara-gara ke butik dan toko perhiasan bersama Juna.

Ponselnya bergetar lagi.

Untuk sekarang, dengarkan instruksi saja. Kita bakal ketemu saat waktunya pas.

Olivia mendengus pelan. “Sok misterius banget sih.”

Rasa kesal dan penasaran bercampur jadi satu. Ia berjalan menjauh dari sudut itu, mencoba menenangkan diri. Kepalanya penuh pertanyaan.

Siapa dia? Apa maunya? Dan kenapa selalu tahu di mana ia berada? Dengan langkah cepat dan pikiran kacau, Olivia tidak memperhatikan arah jalannya.

BRAK.

Tubuhnya menabrak seseorang. Sebuah cangkir kopi terlepas dari tangan orang itu dan tumpah begitu saja.

“Oh my God—!” desis Olivia spontan.

Kopi hangat membasahi kemeja putih pria itu, meninggalkan noda cokelat yang kontras.

Olivia refleks mundur satu langkah. “Maaf! Gue nggak liat—”

Kalimatnya terhenti. Perlahan, sangat perlahan. Pria itu mengangkat wajahnya dan ketika mata mereka bertemu—Olivia membeku.

Wajah itu terlalu familiar untuk disebut asing, terlalu asing untuk disebut familiar. Bukan mahasiswa biasa. Tatapannya tajam. Tenang. Dan… seperti sudah mengenalnya.

Olivia menelan ludah. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi, darah Olivia terasa berhenti mengalir. Jantungnya berdegup keras, dan untuk sepersekian detik, satu pikiran melintas di kepalanya—apakah ia pernah bertemu pria ini…?

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!