Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mobil meluncur perlahan di jalan raya yang agak sepi, matahari mulai condong ke barat. Angin sore menyapu wajah Freya dan kedua rekannya, membawa aroma aspal hangat dan wangi debu dan asap kendaraan.
Suasana di dalam mobil lebih tenang daripada siang tadi, tetapi ketegangan halus tetap terasa ... seolah udara membawa bisik-bisik rahasia yang baru saja terjadi.
Nova duduk di kursi penumpang depan, tangan menggenggam tali sabuk pengaman, matanya sesekali menatap ke arah Freya di kursi belakang. Gopal yang berada di sampingnya, mencondongkan badan sedikit, menatapnya dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.
"Jadi ... bagaimana Freya, berhasil?" tanya Nova akhirnya, suaranya rendah, hati-hati. Ia memilih kata-kata seolah takut terdengar terlalu menekan.
Freya mengangkat wajah, bibirnya melengkung tipis menjadi senyum yang tenang, hampir tanpa emosi. "Tentu saja, Bu Nova. Aku sudah memasang kamera tersembunyi itu di kamarnya Pitaloka. Kita tinggal memantau saja," jawabnya puas.
Gopal menghela napas lega. "Syukurlah. Aku dan Nova pun berhasil memasang kamera tersembunyi di mobil milik Zainal Buana, karena tadi ... anggota dewan itu menyuruhku memasukan mobil barunya ke garasi. Mungkin niat dia mau pamer, tapi bagi kita itu adalah kesempatan emas."
Gopal melirik Nova, lalu mesem kecil sambil meraih jemari wanita itu.
Hal tersebut mengundang pertanyaan spontan dari Freya. "Apakah kalian pacaran?"
Keduanya serentak menegang, dan menoleh. Nova menoleh secara langsung ke belakang, sementara Gopal melihat ke spion karena sedang menyetir. Namun keduanya menatap Freya dengan wajah malu-malu.
"S-Sebenarnya ... kami berdua sudah bertunangan, Freya." Nova menjawab agak sedikit terbata.
"Benarkah?" Freya memekik. "Selamat ya, aku ikut senang mendengarnya." Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu ... Nova dan Gopal melihat senyum asli Freya. Benar-benar manis, bukan senyum pura-pura seperti biasanya.
"Sama-sama, Freya." Gopal dan Nova menjawab serentak.
Perjalanan itu kembali hening, hingga tak terasa, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah.
Gopal memencet remot kecil, dan gerbang di depan otomatis terbuka. Begitu mobil terparkir di halaman rumah, Freya langsung turun bersama Nova. Sedangkan Gopal memasukkan mobil ke dalam garasi.
Suara pintu yang menutup dan langkah kaki dua wanita itu menggema ringan di lantai marmer. Freya langsung menuju kamarnya, membiarkan Nova menaruh tas-tas di ruang tengah sebelum ikut masuk. Udara di kamar terasa nyaman ... cahaya sore menembus jendela, memantulkan bayangan lembut di dinding.
Freya melepaskan sepatunya, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Nova. "Bu Nova ... tadi siang, Zainal memintaku tinggal di Cisaat selama proses pembangunan resort teh dan agrowisata. Tapi aku belum menanggapi tawaran itu. Menurut Ibu, aku harus mengiyakan, atau menolaknya?" tanyanya, suaranya tenang tapi ada sedikit nada bimbang. "Dia bilang, supaya lebih mudah berdiskusi dan berkoordinasi dengan tim," lanjutnya.
Nova duduk di kursi dekat meja rias, menggigit bibirnya. "Kita harus memberi tahu Tuan Bira dulu. Meskipun ini adalah balas dendammu, tapi Tuan Bira lah yang ada di balik semuanya," jelasnya.
Freya mengangguk, "Kalau begitu ... bisakah Bu Nova menelepon Tuan Bira sekarang?"
Ada hening yang berat. Nova menatap Freya cukup lama, seolah menimbang kata-katanya. Akhirnya ia menghela napas panjang, menunduk, dan berkata dengan nada tegas namun lembut, "Tidak bisa, Freya. Pantang bagi kami untuk menghubungi Tuan Bira duluan ketika dia ada di ibu kota. Itu adalah aturan yang harus kami patuhi. Jika kami melanggarnya, maka Tuan Bira akan marah besar."
Freya mengernyit kening, rasa penasaran itu muncul tiba-tiba. "Memangnya Tuan Bira sedang melakukan apa di ibu kota, sampai kita tidak boleh menghubunginya? Apakah dia sedang melakukan bisnis penting?"
Nova berdiri, menepuk bahu Freya sebentar. "Simpan rasa ingin tahumu itu, Freya. Fokus saja pada pekerjaanmu sekarang. Patuhi semua peraturan yang Tuan Bira perintahkan. Jangan sekali-kali membuat dia murka."
Freya hanya mengangguk, meski rasa ingin tahunya tak sepenuhnya padam. Matanya menatap keluar jendela, melihat langit senja yang perlahan memudar menjadi jingga keemasan, sementara pikirannya mulai menata strategi untuk langkah berikutnya. Walau dalam hati, ia masih bertanya-tanya ... apa yang sedang dilakukan Shankara Birawa di ibu kota, sehingga tidak boleh diganggu sama sekali?
_______
"Lingga, kamu mau ke mana? Ini udah sore," tanya Lastri melihat anak sulungnya sudah rapi.
"Aku mau ke Jakarta, Bun. Ada pertemuan dengan klien."
"Memangnya tidak bisa besok pagi?" Lastri bertanya lagi.
"Nggak bisa, Bun. Klien-nya minta bertemu malam ini," jawabnya.
Lastri menghela napas berat. "Ayahmu baru saja pergi. Eh ... sekarang kamu pun mau pergi. Bunda dan Pita cuma berdua dong di rumah," kesahnya dengan bibir mengerucut manja.
"Bunda ..." Lingga mengecup pipi ibunya, kemudian memeluknya. "Manja banget sih Bundaku ini."
"Hati-hati. Jangan ngebut. Ingat ... keselamatan itu jauh lebih penting dari apa pun," pesannya.
"Siap, Bunda Komandan." Lingga memberikan hormat pada ibunya bak ke panglima TNI.
"Dasar kamu. Ingat pesan Bunda ... jangan bertingkah yang aneh-aneh. Kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga, apalagi sebentar lagi, Ayahmu akan mencalonkan diri menjadi kepala provinsi. Kamu harus bisa mengendalikan diri," ucap Lastri mengusap-usap kepala Lingga.
"Tenang saja, Bun. Aku tidak akan melaukan hal yang buruk. Aku ini kan anak baik." Sekali lagi, Lingga memeluk ibunya, dan Lastri pun mengantarkannya sampai ke teras depan.
"Dah Bunda!" Lingga melambaikan tangan.
"Dah anak kebanggaanku!" Lastri membalas lambaian tangan anak sulungnya.
Setelah memastikan mobil Lingga keluar gerbang, Lastri kembali masuk ke dalam rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, tanpa tahu apa yang sedang dilakukan putri bungsunya.
Pitaloka mengunci pintu kamarnya, menutup gorden, lalu ia naik ke atas ranjang dan menyalakan laptopnya.
Jemarinya begitu lihai mengklik file-file yang tersimpan. "Yes ... mumpung Ayah dan Kakak nggak ada di rumah ... aku mau nonton film jap ah ..." katanya sambil tersenyum senang.
Satu video diklik, dan Pitaloka pun langsung menahan napas. Matanya menatap lekat pada layar laptop.
Awalnya, ia hanya menonton saja. Lama kelamaan, tubuh bagian bawahnya mulai terasa berkedut-kedut. "Duh ... kok aku jadi pengen dimasukin kayak cewek itu," desahnya mulai terpancing. "Kalau aku ajak A Safwan untuk melakukan itu ... kira-kira dia mau nggak ya?" Pitaloka menggigit bibirnya dengan sensual.
"Ah, nggak-nggak. Aku nggak boleh melakukan itu. Kalau ketahuan Bunda dan Ayah bisa gawat." Bibirnya berkata seperti itu, tapi tubuhnya sudah benar-benar terpancing.
Jemarinya menjalar, menyingkap kaos yang dipakainya, menarik kaos itu hingga terlepas. "Aku ... pengen," desisnya penuh birahi.
Pitaloka mengikuti adegan yang ia tonton. Tangan kirinya meremas dada, lalu tangan kanannya meraba area sensitifnya. "Aku nggak kuat ..." Tubuhnya blingsatan, hingga dengan berani ... ia memasukkan telunjuknya ke jalan lahirnya, mengikuti ritme yang ditampilkan di layar laptopnya.
Desahan demi desahan pun terdengar mengalun syahdu. Baju yang dipakai Pitaloka sudah beterbangan entah ke mana.
Dia semakin berani membuka kedua pahanya dengan lebar, dan terus memaju mundurkan jarinya sendiri. "Ahh ... i-ini enak banget ..." Matanya merem-melek nyaris melayang.
Tanpa ia ketahui, di tempat lain ... sepasang mata tengah menyaksikan kegiatan itu. "Pitaloka Buana ... ternyata kau binal juga." Freya bergumam rendah. "Tak sia-sia aku memasang kamera tersembunyi di kamarmu ... kau langsung mempertunjukan kebejatanmu." Senyum sinis terbit, "Terima kasih sudah memberikanku senjata untuk menghancurkan keluargamu ..." desisnya diiringi tawa kemenangan.