Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15.FAJAR DI SWASTAMITA KARYA
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya terang,karena masih pagi .tapi cahaya lampu di kantor Swastamita Karya udah menyala terang. Ini adalah pagi setelah Kesya larut dalam obrolan serius dengan Dila.Dan, seperti janji yang Kesya berikan pada dirinya sendiri dan pada tumpukan dokumen di mejanya Kesya masih ada di mejanya.
Kerja lembur adalah tugas kesya untuk malam ini. Sebagai staf administrasi di perusahaan besar ini, pekerjaannya sama sekali gak ada habisnya.
Setiap laporan yang selesai, muncul dua laporan baru. Setiap jadwal yang dipenuhi, ada tiga jadwal lain yang menanti. Jam udah menunjukkan pukul 06.30 WIB, dan Kesya bahkan belum sempat tidur di kasurnya. Matanya terasa berat, punggungnya kaku, dan kopi kelima nya udah gak mempan lagi.
Di seberang meja kerjanya, Risa rekan satu divisinya, juga terlihat sama menyedihkannya. Risa lagi bersandar di kursinya dengan kepala menunduk. Mereka berdua udah kaya kesatria lembur yang tersisa di lantai itu.
Tiba-tiba,suara dari sepatu yang langkahnya tegas dan penuh wibawa terdengar lagi mendekat. Hawa di ruangan langsung berubah menjadi lebih dingin dan sedikit kaku. Pintu kaca besar bertuliskan CEO terbuka, dan masuklah sosok yang sekaligus pemegang kendali seluruh karyawan di sana: Aksa Perwira
Aksa, sang CEO, berjalan melewati lorong yang sunyi itu, berhenti sebentar di tengah ruangan. Wajahnya yang selalu terlihat profesional gak menunjukkan sedikitpun kelelahan, seolah tidur delapan jam adalah kewajiban yang gak pernah dia langgar.
"Selamat pagi" suaranya tegas dan jelas, memecah keheningan. Kesya dan Risa langsung menegakkan tubuh, mata mereka langsung terbuka lebar.
"aku harap kalian masih bersemangat. Ada sedikit perubahan jadwal. Kita akan mengadakan rapat
mendadak jam satu siang ini, tepat setelah jam istirahat makan siang. Topik mengenai proyek baru. Pastikan semua kepala dan Staf terkait hadir. Terima kasih"
Aksa pergi menghilang secepat dia datang, meninggalkan Kesya dan Risa yang saling lihat dengan tatapan datar.
" Rapat ?jam satu siang? Setelah lembur semalaman?"
Pukul 12.30 WIB. Kesya dan Risa udah berada di kantin kantor, memegang nampan makan siang mereka.tapi bukannya menikmati makanan, Kesya lebih terlihat seperti zombie yang lagi mencoba berpura-pura hidup.
"Astaga, Kesya!" berbisik pada kesya sambil menyendok nasi dengan malas.
"Aku cuma butuh sepuluh menit aja, sepuluh menit buat rebahan di kasurku. Aku janji, aku akan bangun lagi!" kata Kesya
Risa cuma membalas dengan jawaban lelah. "Sama, Kes. Tubuh aku udah minta dilipat dan disimpan. Tapi, kamu dengar kan? Rapat jam satu. Dengan Pak Aksa pula. Habislah kita"
"Aksa, Aksa, Aksa,"kesal kata Kesya. mencubit pipi sendiri supaya tetap sadar. Hatinya mulai mengeluarkan sindiran-sindiran lucu untuk meredakan kekesalannya.
"Si Manusia anti tidur itu. Jangan-jangan dia kalau di rumah tidurnya berdiri, Mana tahu, dia cuma robot tampan yang diisi daya pakai solar.
"Bayangkan!!!! Besok kita lembur lagi, lalu dia bilang, 'Selamat pagi, aku harap kalian masih bersemangat, mari kita adakan rapat sampai besok subuh!' Gila memang!"
Risa tertawa pelan, sedikit terhibur dengan ucapan kocak Kesya.
"Huss! Jangan keras-keras! Nanti dia dengar, kamu malah disuruh lembur sampai kawin sama tumpukan file" bisik Risa.
tapi, omelan hati Kesya terhalang oleh jam di dinding yang menunjukkan pukul 12.50 WIB. Mau gak mau,dia harus bangkit. Meskipun lelah, aturan main adalah aturan main. Penyamaran sebagai Kesya yang perfect dan profesional untuk menutupi fakta kalau dia adalah Kesya, Dila kumuh itu gak boleh terbongkar. Apalagi di depan CEO.
Di toilet wanita, rencana wajib dimulai. Wajah lelahnya harus disembunyikan di balik foundation tipis. Rambutnya disisir rapi. Dan yang paling penting: Lipstik merah merona. Itu adalah ciri khas Kesya si staf administrasi yang dingin dan rapi. Penampilan harus sempurna, seolah dia baru aja datang dengan semangat penuh setelah tidur nyenyak.
Pukul 13.05 WIB.
Kesya udah duduk tegap di ruang rapat utama, di samping Risa. Ruangan itu terasa dingin, dan ketegangan memenuhi dirinya. Aksa udah berdiri di depan proyektor, siap memulai presentasi.
"Baik, selamat siang semuanya," kata Aksa, sambil menekan tombol slide pertama.
"Hari ini kita akan membahas proyek.yaitu sebuah terobosan baru yang akan mengubah peta industri kita. Ini adalah proyek besar, dan membutuhkan fokus total"
Kesya berusaha keras untuk fokus pada grafik dan angka-angka yang ditunjukkan Aksa. dia berusaha mendengarkan kata-kata "proyek", "investasi", dan "market share".
tapi, entah karena efek kekurangan tidur yang parah atau karena keberadaan Aksa yang terlalu mencolok, fokus Kesya perlahan melayang. Matanya gak lagi melihat angka, tapi beralih sepenuhnya ke sumber suara.
Aksa.
Berdiri di depan sana, mengenakan kemeja biru tua yang membingkai bahunya yang lebar, Aksa terlihat jauh lebih menawan daripada saat dia berjalan di pagi hari. Postur tubuhnya yang tinggi, rahangnya yang tegas, dan sorot matanya yang tajam saat menjelaskan visi proyek membuatnya terlihat seperti model sampul majalah bisnis, bukan CEO yang baru aja mengacaukan jam tidur karyawannya.
Gila
batin Kesya :yaTuhan, kenapa harus setampan ini? Ini gak adil. gimana aku bisa fokus pada laporan kalau di depan aku ada pria tampan yang lagi ngomong? Aku benci dia karena rapat mendadak ini, tapi aku gak bisa berhenti melihat bahunya yang...
Kesya melongo. Mulutnya sedikit terbuka. dia benar-benar gak sadar sudah mengagumi Aksa yang tinggi, tampan, dan wibawa. dia lupa di mana dia berada. dia lupa lagi lembur. dia lupa tentang Dila.
"Psssttttt! Kesya? Kamu kenapa melamun?"
Suara bisikan Risa yang tegas dan sedikit panik di telinganya langsung menarik Kesya kembali ke dunia nyata.
Kesya tersadar dan kaget. Jantungnya berdebar kencang. dia mengedipkan mata cepat-cepat, lalu buru-buru menoleh ke depan, ke arah Aksa. Dan benar aja saat Risa membisikinya, Aksa lagi mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke arah barisan tempat Kesya duduk.
"Ada masalah apa di sana?" tanya Aksa, suaranya menyinggung karena sedikit ketidaksenangan. dia menyatukan kedua alisnya yang tebal.
"Apakah ada yang gak jelas dari penjelasan aku? Atau, apakah kalian gak mendengarkan?"tanya aksa
Wajah Kesya memanas, merah. Semua mata, termasuk mata tajam Aksa, tertuju padanya. langsung, pikiran penyelamatan diri Kesya berteriak.
"Maaf, Pak!" Kesya berdiri tiba-tiba, membuat kursinya sedikit berderit.
"aku ,izin untuk ke toilet sebentar"
Aksa diam sebentar, melihat Kesya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Silakan" jawab Aksa singkat, lalu dia kembali fokus pada presentasi, tapi Kesya bisa merasakan pandangan Aksa masih mengikutinya saat dia pergi keluar dari ruangan.
"Kesya, apa kamu udah Gila!"
Di dalam toilet, Kesya menyandarkan punggungnya ke dinding toilet yang lumayan dingin, menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dia mendekat ke cermin.
dia menepuk kedua sisi wajahnya yang terasa panas. Lipstik merah merona itu terlihat kontras dengan kulitnya yang pucat.
"Kesya! Astaga, Kesya! Apa yang barusan kamu lakukan?" dia memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Kamu melamun! Kamu menatap CEO di depan semua orang! Dan yang paling parah. kamu menatapnya sambil mengagumi ketampanannya!"
Pikirannya langsung dipenuhi peringatan keras. Jangan sampai kamu terpengaruh oleh ketampanannya pria itu! Dia atasanmu, dia pria yang membuat kamu gak bisa tidur! Dan yang paling penting, jangan sampai kamu berpikir yang enggak-enggak soal dia! Itu sangat gila, dan akan membuat kamu gila!
kesya mencuci wajahnya dengan air dingin, berusaha mengusir sisa-sisa godaan dan ngantuk yang bercampur jadi satu. Setelah memastikan penyamarannya perfect lagi, dia memantapkan hati, berbalik, dan melangkah kembali ke ruang rapat.
Saat Kesya membuka pintu dan kembali masuk, dia bisa merasakan mata Aksa menoleh sebentar ke arahnya. cuma sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat jantung Kesya kembali berdebar.
Aksa gak mengatakan apa-apa lagi. dia hanya melanjutkan presentasinya, suaranya kembali menguasai ruangan.
Kesya duduk. Kali ini, dia berjanji, dia bakal fokus. dia menundukkan kepala, pura-pura mencatat dengan sangat sibuk, tapi setiap kali Aksa berjalan sedikit ke depan, wangi parfume mahal yang tercium membuat Kesya harus mengalihkan wajahnya sendiri.
Fokus pada proyek, Kesya. Fokus pada proyek. Jangan sampai kamu melamun dan mengingat wajah tampan itu lagi! hatinya menjerit dalam keheningan rapat.
Dan Akhirnya, presentasi Aksa selesai. Dengan nada tegas, Aksa membubarkan rapat." Baik, rapat sudah selesai. Silakan kembali ke ruangan masing-masing dan mulai persiapkan data yang aku minta"
Kesya menghela napas lega, buru-buru berdiri sebelum Aksa sempat melihatnya lagi. dia melangkah cepat kembali ke mejanya, berharap bisa cepat melupakan wajah tampan Aksa di bawah tumpukan dokumen