“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang Belum Kembali
Waktu menunjukkan pukul 02.21 WIB dini hari dan Doris masih di perjalanan untuk mengantar Nata pulang ke rumah.
“Apa kamu tahu, Ravindra …”
Nata memotong pembicaraan Doris. “Siapa yang tidak kenal dengan ayahnya si ular betina itu!!!”
“Ya terserah kamu saja, tetapi sepertinya aku harus membuat pengakuan dosa terhadap liel.”
“Apa maksudmu? Kamu tidak melakukan hal aneh bukan?!” Nata menatap Doris tajam.
“Haaa … empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2022. Ravindra datang menemuiku dan memintaku untuk memalsukan kematian Den …”
Belum selesai Doris menceritakan kisahnya, Nata dengan cepat menarik kedua kerah Doris, dia terlihat sangat marah.
“Sa–sabar Nata, jangan lakukan ini padaku, kamu tahu bukan, bahwa aku sedang menyetir?”
Nata mengernyitkan dahinya seraya melepaskan tarikan dari dari kerah Doris. “Den? Memalsukan apa kamu bilang?? Kematian?? Lalu mengapa ravindra terlibat? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan??”
“Yaa … dia memberiku sekoper uang hanya untuk memalsukan kema—”
“PLAK!!!”
Tamparan keras mendarat di wajah Doris. Tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Doris meringis. Seketika Doris menghentikan laju mobilnya. Kemudian dia segera menepi ke sisi jalan.
Nata menahan rasa trauma dan air matanya agar tidak jatuh. “Kurang ajar!! Beraninya dirimu bersekongkol dengan ayahnya kay? Kamu tahu bukan sejahat apa dia dan ayahnya saat mengancam karir ibuku? Merenggut kebahagiaan hidup Sanna, Liel dan Jia, bahkan korban lainnya yang tidak kita ketahui???”
“Nata, dengar!!” Doris menatapnya mata hitam coklatnya dengan tajam, kemudian memegang kedua lengan Nata dengan tegas, namun tidak sampai menyakiti Nata.
Nata terdiam, bahkan menangis dengan situasi yang baru saja terjadi. Dia mengigit bibir bawahnya. Betapa kecewanya dirinya saat mendengar bahwa Doris terlibat dengan Ravindra.
“Tenanglah, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku menolaknya karena tidak ingin terlibat. Rekanku yang lain, yang pada saat itu berada di ruanganku juga, bersedia mengambil tugas tersebut.”
Nata terdiam, berusaha memikirkan semua hal yang baru saja di dengarnya dengan cepat. Dia memukul Doris sekuat yang dia bisa. “Di … dia tidak tenggelam, melainkan ma … masih hidup??BAJING4N!! Mengapa kamu tidak memberitahuku? Aku hampir saja membunuhmu dengan jurus karate ku!!!”
“Waktu tidaklah penting, bukan kah sekarang aku sudah memberitahumu??”
Kemudian Nata bertanya kembali perihal mengapa harus mengaku dosa kepada Liel, dengan kedua tangan yang digenggam erat oleh Doris, takut jika Nata memukulnya kembali.
”Dia bertanya padaku tadi perihal Den, apakah dia masih hidup atau tidak.”
“Apa yang membuatmu berdosa padanya?! Kamu tinggal bilang yang sebenarnya saja.”
“Ya … harusnya aku mengatakannya dari awal, bukan malah menyembunyikannya, aku takut Liel bereaksi sepertimu, bahkan memecatku sebagai sahabatnya.”
“Liel bukan orang seperti itu … Dia manusia paling tenang, kecuali jika berhadapan dengan Jia.”
“Yaa… tidak seperti dirimu. Ah, aku baru ingat, apa kamu tahu yang paling menghebohkan?” Doris menyalakan mesin mobilnya kembali.
...****************...
Jia terbangun, dalam keadaan sakit kepala yang luar biasa. Masih setengah sadar, Jia merasa ada yang aneh, sebab dia merasa tempat tidurnya seperti berbeda. Matanya pun menjelajah ke setiap sudut ruangan.
Liel membuka lebar kedua pintu kamar tamu. “Kamu sudah sadar?”
“Hah, apa aku kembali ke masa lalu? Mengapa ada Liel dari jaman batu muncul kembali …”
Liel mendengus kesal. “Haaa … sepertinya kamu masih mabuk.”
Liel segera masuk perlahan. Meski hanya memakai sweater abu, celana putih dan rambut yang berantakan, dia tetap terlihat tampan dan juga … dingin.
Seketika otak Jia memberi sinyal bahwa yang dialaminya saat ini adalah nyata. Matanya melebar, dia menggertakan giginya, kemudian berteriak, sekencang yang dia bisa.
Jia panik dan badannya gemetar. “ARRGH, SEDANG APA KAMU DI SINI?!!”
“Harusnya aku yang berkata seperti itu.” Liel mendengus kesal dan menaruh nampan berisi jus buah dan sepotong roti lapis.
Mulut Jia terbuka lebar bak kudanil. Jia heran mengapa dirinya bisa berada di rumah Liel. Seingatnya, dia seharusnya berada di depan klub dan … dia tidak ingat lagi.
“Kamu selalu salah menekan kode pin apartemenmu, sehingga aku membawamu ke sini.”
Jia segera membuka selimut. Matannya ke sana ke mari hanya untuk mengecek seluruh tubuhnya, memastikan bawah pakaian dalamnya masih melekat di tubuhnya.
“Aku bukan pria bajingan, yang berani menyentuhmu sembarangan!! Ini, minumlah.”
“Apa ini racun??” balas Jia penuh curiga.
Liel memicingkan matanya. “Tidak! Ini jus pisang stroberi. Minumlah, ini mungkin dapat meredakan pengarmu. Ah, lalu makanlah roti lapis ini dan pergilah mandi, karena … kamu sangat bau!!”
“A … apa? aku?! sahut Jia seraya mengendus bau dress nya. Tercium aroma bau muntahan, asap rokok dan alkohol yang segera membuat Jia pusing sekaligus merasa malu.
Kemudian Liel kembali bertanya tentang kejadian tadi malam. Ironisnya, Jia hanya mampu menatapnya nanar dengan mulut setengah terbuka.
“Setelah mandi, pakailah dress yang sudah aku siapkan di lemari itu.” Liel menunjuk sebuah lemari pakaian minimalis dan modern, yang ada di walk in closet.
“Dress?? Hei … mengapa menyiapkan sesuatu tanpa memberitahuku? Bagaimana jika aku tidak suka … atau kamu pikir aku tidak bisa membeli sebuah dress?”
“Ck … bukan begitu, apa kamu ingin keluar dalam keadaan telanjang atau … berpikiran untuk memakai dress bau itu lagi? Buang! Aku muak dengan dress itu!”
“Berhenti mengatakan kata 'bau' berulang kali … itu melukai harga diriku! Aku sudah cukup malu dengan hinaan yang kamu lontarkan,” balas Jia dengan harga diri yang terluka.
“Aku tidak menghinamu … melainkan menyampaikan fakta. Jika aku mengatakan bahwa dirimu sewangi bunga mawar, itu artinya aku berbohong … bukankah kamu tidak suka pria pendusta, pengecut dan bajingan? Aku tidak ingin menjadi sep—“
“Aku akan mandi, jadi keluarlah, atau aku akan telanjang di hadapanmu!!”
Liel terkejut, matanya melebar. Namun, dalam sekejap wajahnya berubah menjadi tenang. Dia dengan wajah tanpa ekspresinya itu segera melengos pergi.
Seketika, Jia segera menutup pintu kamar tersebut. Jujur saja, Jia masih tidak ingat apapun, dan itu membuatnya gelisah.
“Iisssh, mulut tajamnya itu tidak pernah berubah!! Mengapa tingkahnya menjadi seperti itu?! Apa aku melakukan kesalahan seperti … ? Ah tidak mungkin, aku kan selalu bersih. Lihat saja, aku akan membalasnya nanti,” gumamnya pelan membela diri sambil lari terbirit-birit ke kamar mandi.
Di sisi lain, Liel yang masih dekat dengan area kamar di mana Jia berada, bersandar di dinding. Wajahnya terlihat merah merona bak kepiting rebus.
Sebenarnya, dia tahu bahwa Jia tidak benar-benar bau atau kotor. Hanya saja, dia senang saat melihat Jia kesal, sebab … terlihat menggemaskan.
“Mengapa dia seberani itu? Hm … menarik.” ucapnya kagum diiringi dengan irama detak jantung yang tidak karuan.
“Hei jantung sialan, berhentilah berdetak kencang seperti ini!!! Jangan membuatku malu.” lanjut Liel kesal.
uhh pesta ambil minum pasti ini
semangat berkarya!!
,, untunglah papany super duper lovely papa~