pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 15. Villa 2
STELLA AYU GHANI
a.k.a BUNDA
...Jangan lupa vote dan koment 😍...
...Happy reading!...
...'__' ------------------------ '__'...
Sore hari.
Stella berkutat dengan bumbu dapur guna memasak untuk makan malam, ditemani Aiden yang duduk di meja pantry.
Mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok pagi, karena kondisi Sandy yang baru saja membaik. Stella sudah menawarkan agar dirinya saja yang menyetir, tapi ditolak dengan keras oleh Sandy. Sandy mana tega membiarkan wanita menyetir malam-malam.
Sandy yang sudah merasa lebih baik, berjalan menuju dapur, menghampiri Aiden dan melihat Stella yang sedang berkutat dengan kompor serta penggorengan.
"Daddy, ini apa?" Aiden menunjukkan kaleng di depannya.
Sandy membukanya, mengambil dengan ujung jarinya dan menjilatkan pada Aiden.
"Manis, Dad. Seperti gula," komentar Aiden polos.
Stella yang mendengar suara Aiden menoleh ke belakang. "Itu namanya gula halus, sayang," ucapnya.
Dengan sengaja Sandy mengambil serbuk gula dan mengoleskan di pipi Aiden. Tidak mau kalah Aiden pun membalas perlakuan sang Ayah. Keduanya tertawa melihat wajah masing-masing yang penuh dengan serbuk putih itu.
Stella berbalik dan melotot. "Astaga.. apa yang kalian lakukan?" pekiknya menghampiri, ia mengusap wajah Aiden dengan celemek yang dikenakan.
Sandy menyeringai, ia mengambil serbuk itu dan mengoleskan ke pipi Stella. Ia terbahak diikuti Aiden.
Stella ternganga melihat ulah Sandy. Lalu, iapun membalas perbuatan Sandy dan juga Aiden.
Ketiganya berlari kejar-kejaran, saling perang dengan melempar serbuk putih berasa manis itu.
Aiden berlari keluar dari dapur, bermaksud mengambil ponsel Sandy yang tergeletak di nakas kamar. Kemudian kembali dan mengambil gambar Sandy yang tertawa dengan Stella.
"Daddy! Bunda!" Aiden berseru nyaring.
Sandy dan Stella menoleh.
Cekrek!
Usai mendapatkan gambar lucu, Aiden gegas berlari menyelamatkan diri.
"Aiden, tunggu," Sandy berlari hendak mengejar Aiden. Namun naas, kakinya terpeleset serbuk yang berserakan di lantai, alhasil tubuhnya terjerembab ke depan dan menubruk tubuh Stella yang berdiri di depannya.
Keduanya terjatuh di lantai.
Bruk!
Bagai adegan slow motion, ketika terjatuh, Sandy tidak sengaja mengecup kening Stella yang berada di bawah kungkungannya.
Stella membeku dengan menyentuh keningnya. Tidak beda jauh dengan Sandy yang juga terkejut atas ulah ketidaksengajaannya itu, bahkan ia mengabaikan rasa ngilu pada kedua sikunya yang ia gunakan sebagai penahan tubuhnya juga tubuh Stella.
Jangan bicarakan jantung, keduanya merasa harus memeriksakan kesehatan jantung setelah insiden itu.
Detik terlalui dengan posisi yang sama. Sandy semakin terbuai oleh tatapan teduh di bawah kungkungannya itu, semburat merah di pipi menciptakan gelenyar aneh di dalam dirinya. Lalu, bibir yang sedikit terbuka itu, yang seakan memintanya untuk..
Entah kenapa, menyadari Sandy semakin mengikis jarak membuat Stella reflek menutup mata, bahkan ia menahan nafasnya.
Merasa mendapatkan izin, Sandy menempelkan permukaan bibirnya di atas bibir Stella, dan perlahan mulai memagut segitiga simetris itu dengan gerakan pelan. Rasa manis yang menyebar di lidahnya membuat pagutan itu semakin beringas.
Stella sudah tidak sadar apa yang terjadi, ketika sapuan lembut itu menyentuh bibirnya, ia merasa seperti jutaan kupu-kupu terbang dari perutnya, dan ketika cumbuan itu berubah tempo Stella membalasnya.
Sandy tersenyum saat merasakan Stella membalas ciumannya. Perasaan hangat menembus dan menyebar di seluruh tubuhnya. Tidak pernah ia merasakan perasaan seperti itu sebelumnya, bahkan ketika mencium Fara pun, perasaan itu tidak muncul di tubuhnya. Terakhir kali, ia ingat perasaan itu muncul ketika bersama mendiang istrinya, Mommy Aiden.
Tengah merasai kenikmatan berupa cumbuan hangat dan menjadi saling menuntut, tiba-tiba suara Aiden menyadarkan keduanya dari keindahan sementara itu.
"Daddyyyy!"
"Bundaaaa!"
Stella mendorong keras tubuh Sandy dari atas tubuhnya. "Bunda di sini, sayang," ucapnya segera berdiri, serta membersihkan serbuk gula yang menempel di bajunya.
Sandy terdiam cengo menatap langit-langit dapur, kemudian ia terkekeh kecil menyadari apa yang baru saja terjadi.
Aiden berlari mendekat dan memeluk perut Stella.
Stella menunduk menatap Aiden. "Ada apa?" tanyanya.
Aiden mengendus-endus.
Stella mengikuti tingkah Aiden tersebut. 'Seperti bau gosong,' pikirnya.
"Stella, sayurnya," ucap Sandy menunjuk panci di atas kompor yang menyala.
Stella segera mematikan kompor, dan memeriksa panci yang ternyata sudah menghitam. "Yahh gosong," ia nampak kecewa.
Stella menatap Sandy dan Aiden bergantian, kemudian ketiganya tertawa bersama menyadari sayurnya sudah tidak terselamatkan.
"Kita makan malam di luar saja," ucap Sandy diangguki Stella dan juga Aiden.
Ketiganya beranjak menuju kamar masing-masing guna membersihkan diri dan berganti pakaian.
*
Stella menatap pantulan dirinya di cermin, sekelebat bayangan muncul di kepalanya, bayangan tentang ciumannya bersama Sandy beberapa menit yang lalu. Entah apa yang ia pikirkan, kenapa ia menerima dan terlena oleh ciuman itu?
Stella menangkup kedua pipinya yang mulai bersemu merah. "Apa dia akan menganggap aku wanita murahan?" gumamnya tanpa sadar.
Stella memukul kepalanya sendiri. "Bodoh," gumamnya lagi. Bagaimana nanti ia akan menghadapi Sandy? Stella menghembuskan nafas panjang.
*
Ketiganya segera memesan makanan ketika tiba di sebuah restoran. Hanya obrolan kecil yang didominasi oleh Aiden yang bisa mencairkan suasana tegang di atas meja. Stella lebih memilih menghindari tatapan Sandy terhadapnya, ia menjadikan Aiden sebagai alasan untuk tidak membahas apapun dengan Sandy.
Usai makan malam, Sandy mengajak Stella dan Aiden jalan-jalan di sekitar taman. Tidak sedikit pemuda pemudi serta keluarga yang hanya sekedar jalan-jalan menghabiskan malam seperti mereka.
Sandy berulangkali mencuri tatap pada Stella yang melakukan aksi tutup mulut terhadapnya. Sementara perantara percakapan antara keduanya sudah terlelap dalam gendongannya. Sandy maklum dengan hal itu, karena sejujurnya ia juga canggung harus memulai percakapan dari mana. Namun tidak dipungkiri, ada bagian dalam dirinya yang merasa senang.
Keduanya berjalan beriringan tanpa suara menuju stand penjual jagung bakar.
"Dua, Pak," ucap Sandy kepada sang penjual, dan menuntun jalan untuk Stella duduk lesehan di tikar yang sudah disediakan penjual.
"Anaknya, ya, Pak?" ucap salah satu pembeli yang duduk di tikar yang sama.
"Iya, Bu," jawab Sandy singkat.
"Ganteng, ya? Seperti Ayahnya, Ibunya juga cantik," puji sang ibu.
Sandy dan Stella menatap satu sama lain.
"Semoga pernikahan kalian senantiasa bahagia ya, nak. Saling menjaga, saling jujur. Hati-hati, sekarang itu jamannya pelakor dan pebinor," nasehat sang ibu yang sepertinya mengira mereka adalah satu keluarga.
Stella tersenyum kikuk.
"Iya, Bu, pasti. Doakan kami langgeng, ya, Bu," Sandy menyahut tanpa beban. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Stella saat wanita itu mendelik protes padanya.
"Iya, ibu doakan semoga kalian langgeng sampai kakek nenek."
"Aminnnn," jawab Sandy mengulum senyum, melirik wajah Stella yang menunduk.
"Sudah umur berapa anaknya, Mas?" tanya ibu itu lagi.
Stella mendongak. "Lima tahun lebih, Bu," jawabnya, ia mengetahui tanggal lahir Aiden waktu Aiden dirawat di rumah sakit.
"Sudah waktunya buatin adik tuh?" goda sang ibu menepuk pundak Stella.
Stella tersedak liurnya sendiri, bagaimana mungkin membuat adik untuk Aiden? Menikah saja belum.
Sementara Sandy, pria itu sudah menahan tawanya sejak tadi.
"Ayahnya ganteng, ibunya cantik, pasti anak-anaknya juga cantik dan ganteng seperti orangtuanya."
Stella memaksakan senyum. "Iya, ibu," balasnya jengah.
"Doakan dapat cewek, ya, Bu," Sandy semakin gencar menggoda Stella.
Jangan tanya bagaimana wajah Stella, ia benar-benar malu, ingin rasanya mengubur diri saat itu juga.
"Iya, ibu doakan semoga anak kalian yang kedua cewek."
"Aminnn," ucap Sandy dan ibu itu bersamaan.
Stella memicing tajam menatap Sandy yang menahan tawa, ia tahu bahwa pria itu sengaja melakukan itu untuk membuatnya malu. Stella benar-benar kesal.
Tawa Sandy meledak saat ibu itu berlalu pergi, ia tertawa berderai-derai melihat wajah tertekuk wanita di sampingnya.
Stella melipat tangan, menatap makhluk hidup berjenis manusia yang sayangnya tercipta dengan sempurna itu tengah menertawakannya. "Berhenti, Sandy," peringatnya pelan.
Namun Sandy tidak mengindahkan peringatan itu.
"Sandy, berhenti. Nanti Aiden bangun," Stella memperingati dengan raut dongkol luar biasa.
Sandy berdehem untuk menetralkan tawanya, sesekali masih terkekeh melihat wajah Stella yang menggemaskan ketika kesal.
Stella mengalihkan tatapannya dari Sandy, ia benar-benar kesal dengan manusia satu itu.
Bapak penjual jagung bakar menghampiri dan memberikan pesanan mereka. "Ibu beruntung punya suami seperti beliau," ucapnya tiba-tiba.
Kening Stella mengerut.
"Bisa membuat ibu tersenyum. Rumah tangga akan langgeng jika banyak kebahagiaan di dalamnya," ucap penjual jagung bakar tersebut.
Stella terdiam.
"Semoga keluarga ibu dan bapak selalu dilimpahi kebahagiaan," doa tulus sang penjual kemudian undur diri.
"Hah?" gumam Stella melongo heran. Kemudian ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh penjual itu.
"Brff," Sandy menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan kepalan tangan ketika menyadari respon Stella mendengar kalimat penjual jagung bakar itu. Hingga akhirnya tawa itu pecah, Sandy tertawa berderai-derai menatap raut wajah Stella yang mendung.
Sedangkan Stella sudah cemberut seraya memakan jagung bakarnya dengan setengah hati.
~•
•~
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya