Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belimbing Besi
Beberapa saat yang lalu Amanda dan Brian baru saja keluar dari gedung yang sudah mengesahkan pernikahan mereka. Amanda terpaku sambil menatap buku nikah yang sedang dipegangnya. Tidak disangka dalam hitungan jam dirinya dan Brian sudah resmi menjadi suami istri. Semua benar-benar terjadi begitu cepat.
"Ayo pulang!" kata Brian kemudian merangkul pundak Amanda. Gerakannya membuat Amanda menoleh dan menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan.
Keduanya mulai melangkah lagi, tapi tiba-tiba Amanda berhenti saat dia teringat akan sesuatu. "Tunggu kamu tadi bilang pulang?" tanya Amanda sembari menatap Brian curiga.
Brian lantas mengangguk dengan santai.
Amanda mendelik lantas kembali bicara, "Jangan bilang kamu mau ikut aku pulang ke kosanku?"
"Kenapa tidak?" Brian balik bertanya.
Amana langsung menjauhkan tangan Brian yang melingkar di pudaknya. "Gak ya."
"Kita sudah suami istri wajar kan kalau kita tinggal bersama?" kat Brian.
"Gak, tempatku sempit," larang Amanda.
"Aku gak peduli. Lagi pula tempat sempit itu lebih bagus kita jadi bisa selalu berdekatan," ucap Brian terkesan sedang menggoda Amanda.
"Jangan ngarang." Amanda langsung memasang ekspresi kesal. "Pokoknya kamu gak boleh tinggal di kosanku. Di sana ada teman satu tempat kerja denganku, apa kata mereka jika tahu aku mendadak memiliki suami."
Brian menghela napas dan akhirnya menyerah, "Ya, baiklah."
"Sekarang lebih baik kamu pulang dan beristirahat. Aku akan mengantarmu,' ucap Brian dengan nada tegas.
"Tunggu!" Amanda menahan langkahnya.
"Apalagi? Kamu juga akan melarang aku untuk mengantarmu pulang?" tanya Brian sedikit kesal.
"Bukan begitu," balas Amanda mencoba menjelaskan dengan hati-hati. "Pakai masker, aku gak mau ada yang mengenalimu nanti."
Brian menghena napas. "Ya, Tuhan. Aku ini suamimu, bukan buronan," protes Brian. "Apa aku begitu jelek hingga kamu gak membiarkan teman-temanmu mengenaliku?"
Amanda tersenyum kecil, mencoba menengkan Brian yang terlihat kesal padanya. "Justru sebaliknya. Kamu begitu tampan, mereka akan menghadangku dengan begitu banyak pertanyaan. Salah satunya mereka akan bertanya bagaimana aku bisa memiliki suami yang sangat tampan sepertimu?"
Brian mendengkus kesal, tetapi Brian tetap saja melakukan apa yang Amanda minta. Pria itu lebih dulu memakai masker sebelum naik ke atas motor.
Keduanya kini sudah duduk di atas motor dan bersiap meninggalkan tempat itu. Amanda yang masih canggung memilih untuk berpegangan pada pundak Brian.
Saat motor berhenti di lampu merah, Brian menegakkan tubuhnya. Dengan lembut menarik tangan Amanda yang berada di pundaknya lantas melingkarkan kedua tangan wanita itu di perutnya.
Jangan ditanya sebera gugup Amanda saat itu. Ingin melepaskan, tetapi Brian menahannya, sebelum akhirnya motor itu kembali melaju.
Sudah hampir setengah perjalanan, tangan Amanda masih melingkar di perut Brian, bisa ia merasakan betapa keras tubuh pria itu, mungkin dia sering melakukan gym.
Jarak mereka begitu dekat membuat Amanda semakin canggung, meskipun mereka sudah resmi menjadi suami dan istri. Ingin menarik diri, tetapi kenyamanan itu tak terelakkan oleh Amanda, apalagi aroma parfum yang Brian pakai begitu menenangkan pikirannya.
Tanpa ragu Amanda meletakan kepalanya di pundak Brian, kemudian memejamkan mata, menikamati aroma parfum yang begitu memikat. Amanda tidak tahu tindakannya berhasil memancing senyum di bibir Brian.
Namun, tiba-tiba saja kenyaman itu berubah, Amanda kembali merasakan rasa tidak nyaman di perutnya. tanpa berpikir panjang Amanda menepuk-nepuk pundak Brian, membuat brian langsung menghentikan laju motornya.
Amanda turun dari motor, menepi dan memuntahkan semua isi perutnya. Tetapi lagi-lagi yang keluar hanyalah cairan bening berwarna kuning kecokelatan dan rasanya begitu pahit.
HOEK HOEK
Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, meskipun Brian berusaha menyembunyikannya. Dengan sigap tangan Brian bergerak untuk memijit tengkuk Amanda berharap bisa membuat wanita itu merasa lebih nyaman.
Setelah beberapa saat Amanda sudah tidak mual lagi, tetapi tubuhnya terasa lemas dan memutuskan untuk duduk di trotoar jalan. Beruntung tempat itu lumayan sepi, jika ramai kemungkinan mereka akan menjadi pusat perhatian.
Brian pun dengan cepat mengambil tumbler yang selalu berada di tas ranselnya lantas memberikannya kepada Amanda, tetapi sebelum itu Brian membuka tutupnya terlebih dahulu. "Minumlah!" katanya dengan penuh perhatian.
Amanda mendongak untuk bisa melihat wajah Brian secara langsung, setelah itu menerima tumbler yang Brian berikan lantas meminum isinya, tetapi hanya sedikit. Rasanya air putih itu membuatnya bertambah mual.
Brian duduk di samping Amanda, tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Amanda. Gerakan itu membuat Amanda langsung menoleh ke arahnya. Sontak pandangan mereka terkunci pada satu titik yang sama.
"Apa kamu selalu mual seperti ini?" tanya Brian, meskipun wajahnya nampak datar, tetapi nada bicaranya menunjukkan kecemasan.
"Tidak sering" jawab Amanda, segera ia mengalihkan pandangannnya ke arah lain, guna menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Mau ke rumah sakit?" tawar Brian.
Ucapan Brian membuat Amanda kembali menoleh ke arah pria itu, lantas menolak tawaran pria itu segera. "Ah, gak-gak usah."
Brian pun mengangguk kecil, diikuti senyuman tipis yang terukir di wajahnya, tangannya kembali terangkat, mengusap-usap sisi wajah Amanda dengan punggung tangannya.
Perlakuan lembut Brian sedikit melelehkan hati Amanda, tidak pernah ia mendapatkan perlakuan lembut seperti itu dari pria manapun termasuk Reno. Tidak ingin terlena, Amanda kembali mengarahkan pandangannya ke arah lain. Tidak sengaja melihat buah belimbing besi yang bergelantungan begitu banyak. Air liur Amanda seketika menetes.
"Aku mau itu," ujar Amanda sambil menunjuk ke arah buah tersebut.
Brian seketika melihat ke arah yang Amanda tunjuk. Keningnya mengerut lantaran tidak tahu buah macam apa yang Amanda minta. "Itu apa?" tanyanya.
"Belimbing besi," jawab Amanda. Kemudian mengarahkan pandangannya ke Brian, lantas menggoyangkan tangan pria itu sambil merengek manja. "Tolong ambilkan ya."
Brian tidak merespon ucapan Amanda. Sebaliknya, pria itu bangkit, langsung naik ke motornya dan pergi meninggalkan Amanda begitu saja, dan tanpa bicara apa pun. Amanda sempat mengira Brian kesal dan meninggalkan dirinya. Namun, tidak berselang lama Brian kembali dengan membawa satu kantong keresek belimbing besi.
"Nih!" Brian memberikan belimbing besi yang Amanda minta.
Mata Amanda langsung berbinar, tanpa sadar meloncat kegirangan dan langsung memeluk Brian.
"Apa yang kamu lalukan?" tanya Brian sedikit terkejut.
"Memelukmu," jawab Amanda tanpa mempedulikan wajah kesal Brian.
"Kamu sedang hamil, jangan melompat seperti itu," ucap Brian sedikit kesal, tetapi di baliknya tersirat begitu banyak perhatian.
Amanda tersenyum dengan menujukkan deretan giginya. "Maaf."
Setelah itu, Amanda memilih memakan belimbing besi yang dirinya inginkan itu. Matanya terpejam sejenak, seolah menikmati lezatnya buah tersebut.
Brian memerhatikan dengan kening yang mengernyit, merasa heran sebab istrinya terlihat begitu menikmati buah itu. Penasaran, Brian lantas mengambil satu kemudian menggigitnya, ekspresinya berubah saat tahu rasa dari belimbing besi itu. "Ini sangat asam."
Amanda terkekeh melihat ekspresi Brian dan kembali menggigit belimbing besi, mengabaikan rasa asam dari buah itu. Namun, tanpa Amanda duga Brian menarik tengkuknya, mengambil buah belimbing besi yang ada di mulutnya.
Amanda terpaku sesaat dengan tindakan Brian, baru tersadar saat pria itu mengusap bibirnya dan berbisik. "Ini baru manis."
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣