"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"
Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Tanpa Emosi
Di lorong sepi rumah sakit, seorang pria mengenakan topi dan masker berdiri dengan punggung menempel ke dinding. Matanya sesekali melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang memerhatikan. Suasana lorong yang lengang membuat suaranya terdengar lebih jelas saat ia berbicara melalui ponsel.
"Dia berencana melakukan pemulihan," suaranya terdengar datar, tetapi ada sedikit ketegangan di dalamnya. "Ya… kalau dia benar-benar sembuh, itu bisa jadi masalah."
Pria itu mendengarkan sejenak, lalu mengangguk kecil meski lawan bicaranya tidak bisa melihatnya. Setelah beberapa detik, ia mengakhiri panggilan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Pria bertopi dan bermasker itu melangkah pergi, menghilang di ujung lorong rumah sakit.
Sementara itu, di sebuah ruangan, Bryan menghela napas kasar, meletakkan ponselnya di atas meja dengan sedikit kasar. Rahangnya mengatup kuat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Kalau dia sembuh…" gumamnya, menatap kosong ke arah jendela.
Ziyo bukan orang yang bisa diam saja setelah kehilangan begitu banyak hal. Terlebih, perusahaan yang kini berada di tangannya dulu bertahan berkat bantuan pria itu. Jika Ziyo bangkit kembali, bukan tidak mungkin ia akan mencari cara untuk membuatnya tersudut.
Bryan meremas pelipisnya, merasa gerah dengan situasi ini.
"Aku harus bersiap… sebelum semuanya hancur." Bryan menghela napas kasar, frustrasi. "Kenapa pria itu masih hidup setelah kecelakaan itu? Seharusnya dia tidak selamat… Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Beberapa menit kemudian, Clara melangkah masuk ke ruangan Bryan, membawa beberapa dokumen yang perlu ia diskusikan. Pembahasan pekerjaan berjalan lancar, tetapi sebelum Clara sempat berpamitan, Bryan menutup berkas di hadapannya dan menatapnya dengan ekspresi seolah ragu-ragu.
"Ada yang ingin aku tanyakan, tapi aku nggak enak," ujar Bryan sambil menghela napas kecil, seolah-olah benar-benar merasa bersalah.
Clara mengernyit. "Apa?"
Bryan menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu sudah bicara sama Ziyo soal pertunangan kalian?"
Clara terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Belum. Mamaku terus menghalangiku untuk menemui Ziyo. Dia nggak mau aku putus dengannya."
Bryan bersandar ke kursinya, tampak berpikir. "Kenapa kamu nggak diam-diam saja menemui dia?" ujarnya pelan, nadanya seolah hanya sekadar memberi saran. "Selain menyelesaikan pertunangan, kamu juga bisa sekalian ngomong sama dia supaya lebih gentle. Jangan sampai dia mencampuradukkan masalah kalian dengan urusan perusahaan."
Clara menatap Bryan dengan sedikit ragu. "Maksudmu?"
Bryan tersenyum tipis. "Aku cuma nggak mau nanti bisnis ini ikut terdampak. Kita tahu bagaimana Ziyo, 'kan? Dia orang yang bisa sangat emosional kalau sudah menyangkut hal pribadi. Aku hanya ingin semua berjalan lancar tanpa drama."
Clara menggigit bibir, berpikir. Ia tahu Bryan ada benarnya. Semakin lama ia menunda, semakin sulit situasinya.
Bryan menatap ekspresi Clara dengan tenang, menyadari bahwa kata-katanya mulai masuk ke dalam pikiran perempuan itu. Tanpa memaksa, tanpa menekan, ia hanya meletakkan gagasan itu di benak Clara, dan membiarkan gadis itu mengambil keputusan sendiri.
***
Clara menarik napas dalam, merapikan langkahnya sebelum mendorong pintu kamar Ziyo. Langkahnya ragu, namun ia sudah memutuskan. Setelah lama menghindar, akhirnya ia ada di sini, di hadapan pria yang selama ini dianggapnya sebagai tunangannya.
"Ziyo..." suara Clara terdengar lembut, seolah mencoba meredakan ketegangan yang perlahan menyelimutinya. Saat di rumah sakit, ia begitu lantang berbicara tentang memutuskan pertunangan mereka, yakin bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Tapi sekarang, berdiri di hadapan Ziyo, nyalinya justru menciut.
Dulu, ia mengagumi ketegasan dan karisma pria itu, sikap yang dulu membuatnya terpikat. Namun, seiring waktu, hadirnya Bryan mengubah segalanya. Berbeda dengan Ziyo yang begitu kuat dan tak tergoyahkan, Bryan selalu tahu bagaimana mencairkan suasana, bagaimana membuatnya merasa nyaman. Dan kini, di hadapan Ziyo yang tak lagi sama seperti dulu, ia mulai mempertanyakan segalanya.
Ziyo tidak bergerak, namun suara langkah kaki yang mendekat sudah cukup baginya untuk tahu siapa yang datang.
“Akhirnya kamu datang juga,” ucap Ziyo dengan suara datar, tidak menunjukkan rasa terkejut.
Clara duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur, menatap Ziyo yang terbaring tanpa ekspresi. Napasnya berat, seolah setiap kata yang akan ia ucapkan harus ditimbang seribu kali. “Aku sudah lama ingin menemuimu, tapi pekerjaan menumpuk… dan Mama selalu melarangku datang ke sini.” Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Tapi dengan tidak datang, bukankah berarti hubungan kita sudah tidak seperti dulu lagi?”
Ziyo terdiam, wajahnya tetap seperti patung, tak tergoyahkan. Matanya yang kosong menatap langit-langit ruangan, seolah Clara tidak ada di hadapannya. Lalu, dengan suara tenang yang hampir membuat Clara merinding, ia berkata, “Memang sudah tidak seperti dulu, Clara. Dan sejujurnya, sejak awal aku tidak pernah mencintaimu.”
Clara terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata itu seperti tamparan keras yang menghantam wajahnya. Namun, di balik keterkejutannya, ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah rasa asing yang perlahan merayap dalam dirinya. Kenapa Ziyo berkata seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Ada yang tidak beres.
Clara menatap Ziyo lebih intens, mencoba membaca setiap ekspresi yang mungkin tersembunyi di balik ketenangannya. Tapi tidak ada. Ziyo tetap datar, seolah ia hanya menyampaikan fakta yang tak bisa dibantah. Clara mencoba mencerna kata-katanya. Kenapa Ziyo seolah-olah mengatakan bahwa ia ingin memutuskan hubungan mereka? Padahal, ia hanya menyatakan bahwa hubungan mereka tidak lagi seperti dulu.
Ziyo melanjutkan dengan suara yang tetap datar, tanpa sedikit pun getaran emosi. “Seperti yang kamu tahu, pertunangan kita terjadi karena keinginan orang tua kita. Aku sudah berusaha mencintaimu, tapi aku tak bisa. Aku membantu perusahaan keluargamu bukan karena kamu. Aku melakukannya karena kedua orang tuamu memperlakukanku seperti anak sendiri. Terutama Tante Rita yang selalu menyayangiku dengan tulus.”
Clara menundukkan kepala, rasa sakit yang tumpul mulai menggerogoti hatinya. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Keluarganya, terutama ibunya, memang selalu lebih mengutamakan Ziyo dibanding dirinya sendiri. Tapi… apa benar Ziyo tak sedikit pun mencintainya setelah bertahun-tahun mereka menjalin hubungan? Atau ini hanya untuk menjaga harga dirinya? Jujur, Clara merasa harga dirinya terluka mendengar Ziyo mengaku tidak pernah bisa mencintainya.
“Soal perusahaan kalian, aku tidak akan berbuat macam-macam. Jangan khawatir, asal kamu memperlakukan Tante Rita dengan baik, aku tidak akan mengganggu perusahaan keluargamu.” Ziyo berbicara tanpa emosi, seolah ia sedang membacakan sebuah pernyataan resmi.
Clara terdiam, seolah mencoba mencerna semua perkataan Ziyo. Sebuah kesadaran perlahan datang, membuatnya merasa bahwa semuanya tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Selama ini, bukan hanya ia yang terjebak dalam hubungan ini. Ziyo pun sepertinya merasakannya.
Tapi perkataan Ziyo tentang tidak pernah mencintainya tetap saja membuat egonya terluka. Ia adalah wanita cantik yang banyak dikagumi, tapi Ziyo mengaku tidak pernah bisa mencintainya?
Akhirnya, dengan suara berat yang hampir bergetar, Clara bertanya, “Jadi… apa ini berarti kamu memutuskan pertunangan kita?”
Ziyo terdiam sejenak, wajahnya tetap tenang seperti danau yang tak berombak. “Jika itu yang kamu inginkan, Clara.”
Clara merasakan sesuatu yang berat terangkat dari pundaknya. Sebuah kesadaran yang selama ini terpendam akhirnya muncul ke permukaan. Ia... bebas. Bebas dari pertunangan yang selama ini terasa seperti beban, meskipun kebebasan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Namun, ketika ia menatap wajah Ziyo yang tetap tenang, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi, Clara merasakan sesuatu yang menusuk dalam hatinya. Seolah-olah di antara mereka tak pernah ada hubungan yang berarti.
Saat itu, ia benar-benar menyadari, Ziyo tidak pernah mencintainya.
Selama ini, ia mungkin selalu menyangkal, meyakinkan dirinya bahwa meski Ziyo tak pernah menunjukkan perasaan, pasti ada sedikit saja tempat untuknya di hati pria itu. Tapi melihat bagaimana Ziyo dengan mudah melepaskannya, dengan nada suara yang begitu datar seolah tak kehilangan apa pun…
Egonya terluka.
...🔸"Kadang, senyum manis menyembunyikan luka yang dalam, dan tatapan dingin melindungi hati yang rapuh."🔸...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Hania membantu ziyo supaya posisinya tidak bs digeser sebagai pemilik perusahaaan...
Hania pergi ziyo ada yg hilang walaupun tidak bs melihat wajah hania ziyo bs merasakan ketulusan hania walaupun ada yg disembunyikan hania....
Dalang utama adalah diva ingin mencelakai ziyo dan pura2 baik didepan ziyo bermuka dua diva ingin menguasai perusahaan.....
Dasar ibu diva hanya mementingkan diri dan tidak mementingkan kebahagiaan Zian..
Diva tidak akan tinggal diam pasti akan mencelakai ziyo lagi....