NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Majikan

Terjebak Cinta Sang Majikan

Status: tamat
Genre:CEO / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Pembantu / Enemy to Lovers / Kriminal dan Bidadari / Tamat
Popularitas:84.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Nur Ratih, gadis kampung yang nekat pergi ke ibukota demi melunasi hutang alm. Ayahnya agar ia tidak dijadikan istri kesekian oleh juragan di kampungnya. Melalui sebuah agen PRT, Ratih berhasil mendapat pekerjaan untuk menjadi pembantu di salah satu keluarga kaya disana.

Awal bekerja disana, Ratih merasa nyaman dengan lingkungan barunya, namun hal itu tidak berjalan lama. Kepulangan sang majikan muda dari perjalanan bisnisnya, membuat hari-hari Ratih terasa sesak. Dialah, Nathaniel Ryker, sang majikan yang terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka.

Ratih merasa tidak kuat dalam melakukan pekerjaannya, sang majikan terus saja menganggu dirinya. Ia ingin pulang, namun kala teringat hutang-hutangnya ia merasa harus bertahan.

Bagaimanakah kehidupan Ratih di rumah itu? Apakah ia bisa menghentikan obsesi majikannya? Ataukah ia malah terjerumus di dalamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Menikmati

Kring kring

Tangan Ratih bergerak mematikan alarm yang berhasil membangunkan dirinya. Ia membuka selimutnya lalu melirik cahaya redup dari tirai jendela di atas kepalanya.

"Shhh.."

Ratih merintih saat ia menegakkan tubuhnya. Punggungnya terasa nyeri akibat gesekan dengan teralis kemarin. Sekelebat bayangan muncul mengingat apa yang dilakukan pria itu padanya. Bahkan lehernya masih sangat terasa bagaimana kuatnya cengkeraman pria yang ia panggil Tuan itu.

"Ratih, apa yang terjadi padamu?"

Sofia panik setelah melihat keadaan Ratih yang terduduk dengan wajah kesakitan di ranjangnya. Ia meletakkan handuk yang baru saja ia pakai lalu duduk di samping Ratih.

"Kau kenapa?"

Ratih menggeleng, "Hanya luka kecil," jawabnya dengan senyuman.

Sofia memandang Ratih dengan curiga, "Matamu tidak bisa berbohong."

Wanita itu pun memeriksa tubuh Ratih tanpa persetujuan gadis itu.

"Aw.."

Ratih berteriak kecil saat Sofia tidak sengaja memegang punggungnya.

"Ada apa dengan punggungmu?" Sofia menaikkan kaus putih yang dipakai Ratih. Wanita itu terkejut saat melihat luka memar bergaris teratur pada punggung Ratih.

"Ratih darimana kau mendapatkan luka ini?!" Sofia menaikkan nadanya karena kekhawatiran yang menggebu-gebu.

Ratih memutar matanya mencari alasan yang tepat, "Kemarin saat bekerja, aku tidak sengaja terpeleset dan punggungku terbentur teralis balkon."

"Benarkah?"

Ratih mengangguk cepat.

"Aku akan mengompres lalu mengoleskan obat pada lukamu."

"Terimakasih," jawab Ratih yang tidak menolak tawaran Sofia. Ia pikir memang perlu bantuan seseorang untuk mengobatinya.

......................

"Kau harus berhati-hati setelah ini," ucap Sofia saat berjalan beriringan dengan Ratih menuju ke istana timur untuk melaksanakan pekerjaan mereka.

"Atau perlu meminta jatah istirahat kepada Nyonya Adhisti?"

Ratih menggeleng, "Tidak tidak, tidak perlu, aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil, tidak perlu khawatir."

"Bagaimana aku tidak khawatir Ratih, kau baru bekerja disini tapi sudah melukai dirimu sendiri."

"Sudahlah, aku tidak apa-apa, lebih baik sekarang kita fokus ke pekerjaan kita," ucap Ratih dengan senyuman. Ia harap hal itu bisa menenangkan hati Sofia.

"Perhatian semuanya!"

Ratih dan Sofia terkejut dengan suara Nyonya Adhisti saat mereka baru saja memasuki area dapur di istana timur.

"Cepat kalian panggil teman-teman kalian yang masih belum datang, ada yang ini saya sampaikan."

Ratih dan Sofia pun berbaris diantara para pelayan yang lain. Mereka semua yang ada di sana dibuat bertanya-tanya, apa pengumuman yang hendak disampaikan kepala pelayan itu.

"Semua sudah berkumpul Nyonya," ucap salah seorang pelayan yang baru saja kembali dari paviliun.

Nyonya Adhisti mengangguk lalu memandang lurus ke arah barisan di depannya. Wanita itu tampak elegan dengan balutan jas wanita berwarna abu-abu.

"Pagi ini Tuan akan berangkat dinas ke luar negeri selama satu bulan, jadi saya perintahkan semuanya nanti berbaris di pintu utama untuk mengantar tuan pergi sebagai bentuk penghormatan."

Dari pengumuman itu, entah kenapa Ratih malah bernafas lega. Seolah-olah batu yang mengganjal di dalam hatinya telah pergi entah kemana. Keberadaan pria itu di dalam rumah ini sangat membuatnya sesak. Walaupun hanya satu bulan, tapi itu cukup untuk menyembuhkan lelah hati maupun fisiknya.

"Sudah selesai upacaranya?"

Nathan berjalan ke arah dapur dan mendekati Adhisti.

Adhisti terkejut lalu menunduk hormat saat Nathan berdiri didepannya, "Tuan saya hanya––"

"Tidak perlu mengantarku pergi. Aku hanya pergi berbisnis bukan ke pemakaman."

Adhisti panik, "Bukan begitu maksud saya Tuan."

"Sudahlah, siapkan sarapannya, aku pergi setelah ini," ucap Nathan lalu melangkahkan kakinya pergi.

Ratih melirik pria itu yang berjalan melewatinya. Sementara Nathan berjalan lurus tanpa menoleh ke arah manapun.

"Ayo cepat siapkan sarapan untuk Tuan, harus yang terbaik," perintah Adhisti yang langsung dilaksanakan oleh para pelayan bagian dapur.

Sepeninggal Nathan, Sam datang dan mendekati Adhisti.

"Tuan meminta seorang pelayan untuk mengemas barang-barangnya."

"Aku mengerti Tuan Sam," jawab Adhisti.

Sam mengangguk lalu kembali naik ke lantai dimana Tuannya berada.

Melihat pelayan lain mulai bubar dan melaksanakan pekerjaannya, Ratih dan Sofia pun segera pergi dari area itu.

"Ratih!"

Langkah Ratih terhenti saat namanya disebut. Ia menatap asal suara itu.

Sofia memandang Ratih yang masih membeku di tempatnya, "Nyonya Adhisti memanggilmu, ayo cepat kesana, aku pergi dulu untuk mengerjakan pekerjaanku, sampai jumpa nanti," ucap Sofia lalu pergi dari hadapan Ratih.

Dengan langkah berat, Ratih mendekati Adhisti, "Iya Nyonya."

"Tuan membutuhkan pelayan untuk mengemasi barang-barangnya."

"Lalu?" Tanya Ratih dengan perasaan yang tidak enak.

"Karena ini masih masa hukumanmu, maka kau yang bertugas mengemasi barang Tuan."

"Tapi masih ada banyak pelayan lain disini, kenapa harus saya?" Ratih mencoba bernegosiasi

"Ini perintah, tidak ada tawar-menawar, seharusnya ini menjadi kehormatan karena membantu Tuan secara langsung."

"Kehormatan? Yang ada hanya malapetaka," lirih Ratih.

"Kau mengatakan sesuatu?"

Ratih menggeleng panik.

"Kalau begitu apa yang kau lakukan disini, cepat lakukan tugasmu," perintah Adhisti lalu pergi untuk memeriksa kesiapan santap pagi Tuannya.

Dengan persiapan mental yang kuat, gadis itu masuk ke dalam lift untuk menuju ke kamar majikannya.

Di dalam sana ia sedang berpikir bagaimana ia harus bersikap setelah apa yang dilakukan Nathan padanya. Ia bingung antara bersikap seperti biasa atau lebih baik menghindari pria itu.

Ting

Lamunan Ratih buyar seketika saat lift itu berhenti di lantai tiga. Ia pun segera melewati lorong panjang untuk menuju ke kamar Nathan.

Ratih menatap pintu besar di depannya lalu menarik banyak oksigen dan mengeluarkannya perlahan.

Tok tok tok

Pintu itu terbuka dan menampilkan asisten sekaligus tangan kanan Nathan.

"Kau pelayan yang ditugaskan Adhisti?" Tanya Sam.

Ratih mengangguk.

"Masuklah."

Sam membukakan pintu itu lebih lebar agar tubuh Ratih muat untuk masuk ke dalam.

"Siapa yang datang?" Tanya Nathan sambil memangku laptop di sofa kamarnya.

Sam memandang Nathan dan Ratih bergantian, "Dia pelayan yang kau minta untuk mengemasi barangmu." Sam menunjuk Ratih dengan sopan.

Nathan menurunkan kacamatanya, "Apa tidak ada pelayan lain?"

Hati Ratih tergores setelah mendengar ucapan Nathan.

"Adhisti yang menyuruhnya, berarti dia memang pelayan yang mahir dalam melaksanakan pekerjaannya."

Nathan menarik sudut bibirnya dengan sinis, "Dia hanya melaksanakan hukumannya di lantai ini, karena itu Adhisti menyuruhnya."

"Hukuman? Nona sedang menjalani hukuman? Kenapa aku tidak tahu." Sam bingung dengan perkataan Nathan.

"Sudahlah, suruh dia cepat mengemasi barangku," ucap Nathan lalu kembali memakai kacamatanya."

Ratih menatap pria yang kembali fokus ke arah laptopnya itu dengan tatapan tajam bak sebilah pisau. Ia heran bagaimana bisa pria itu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara keduanya kemarin. Bahkan tidak ada raut bersalah sedikit pun dari wajah menyebalkan miliknya itu.

"Mari Nona." Sam menunjuk ke arah walk-in closet milik Nathan.

"Kau pergilah Sam, periksa kesiapan keberangkatanku dibawah," ucap Nathan dengan pandangan yang masih fokus ke layar laptop.

Sam mengangguk lalu menatap Ratih, "Nona silahkan kemasi barang-barang Tuan."

"Baik," ucap Ratih sambil tersenyum.

Ratih menatap punggung pria itu lalu mengarahkan pandangannya pada Nathan. Ia berpikir Nathan terlalu beruntung karena memiliki tangan kanan seperti Sam, seorang pria yang mampu memperlakukan wanita dengan baik.

Gadis itu pun menghilang dari pandangan Nathan dan menuju ke walk-in closet milik pria itu. Decak kagum tidak pernah luntur saat Ratih melihat deretan pakaian bermerek yang ditata rapi di sana.

"Pakaian yang mana yang harus dikemas?" Tanya Ratih pada dirinya sendiri karena tidak tahu apa dan berapa pakaian yang akan dibawa oleh Nathan. Biasanya orang kaya hanya membawa pakaian yang sedikit jumlahnya, sisanya baru akan dibeli di sana.

Mengingat sifat iblis pria itu, lebih baik ia menanyakan keinginan pria itu terlebih dahulu daripada nanti ia yang terkena amukan serigala.

Ratih membalikkan tubuhnya.

Dugh.

"Aw.." Ratih memegangi dahinya yang terbentur sesuatu yang keras.

Kepalanya mendongak dan mendapati Nathan yang sedang berdiri tegap didepannya. Kemudian ia sadar bahwa dahinya terbentur dada bidang milik pria itu. Sebenarnya olahraga apa yang digeluti Nathan sampai-sampai ia memiliki dada sekeras itu.

"Ekhem," Ratih memundurkan tubuhnya, "Apa yang ingin kau bawa?" Tanya Ratih sambil menatap lantai.

"Apa lantai itu lebih tampan daripada wajahku?"

Kepala Ratih otomatis mendongak, ia menatap nyalang ke arah pria didepannya itu.

"Kau terlihat sangat berani hari ini," ucap Nathan sambil bersedekap dada.

"Tentu saja mengingat apa yang kau lakukan padaku kemarin."

Ratih bisa merasakan perubahan aura dari tubuh Nathan. Sepertinya pria itu tersinggung atas ucapannya barusan. Tapi ia tidak peduli, lagipula pria itu yang bersalah atas kejadian kemarin.

"Kau terluka?"

Ratih bingung dengan reaksi pria itu, ia pikir Nathan akan menghujaninya dengan kata-kata kasar.

"Tidak."

"Berbaliklah."

"Tidak mau."

Nathan meraih tubuh Ratih dan memaksanya berbalik lalu berusaha melepaskan pakaian pelayan yang dipakai Ratih.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Ratih memberontak dan berhasil menghindar dari jangkauan Nathan.

"Apa punggungmu baik-baik saja?" Nathan bertanya dengan nada lebih halus, "Kemarin sepertinya terbentur dengan teralis balkon."

"Bukan sepertinya tapi memang terbentur," jawab Ratih tidak terima.

"Aku akan mengobatimu."

Ratih menggeleng, "Aku sudah diobati."

"Aku––"

"Cepat katakan apa saja yang ingin kau bawa, aku akan segera mengemasinya," ucap Ratih memotong kalimat Nathan. Ia benar-benar ingin segera pergi dari kamar itu.

Nathan berdecak sebal, "Kau terlihat sangat ingin aku segera pergi."

"Itu memang benar."

Nathan mendekati Ratih, "Aku adalah majikanmu, bagaimana bisa kau bersikap tidak patuh seperti itu?"

Ratih memundurkan tubuhnya penuh ketakutan, "Dan aku adalah pelayanmu, bagaimana bisa kau memperlakukanku dengan kasar seperti itu?"

"Wah aku terkejut setelah melihat seorang pelayan yang sangat berani melawan majikannya sendiri."

Punggung Ratih membentur tembok ruangan itu dan Nathan mengurungnya dengan kedua tangan kekar miliknya.

Nathan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ratih dan mulai membisikkan sesuatu.

"Kau memang menarik."

Nathan menarik kembali wajahnya dan tersenyum penuh arti.

Wajah Ratih menampilkan raut kebingungan dengan apa makna sebenarnya yang ingin diungkapkan pria itu.

"Karena ketidakpatuhanmu kepada majikanmu sendiri, kau pantas diberi hukuman."

"Apa? Hukuman? Kau yang seharusnya diberi hukuman karena bertindak kasar kepada seorang wanita."

"Aku tidak menerima nasihat baikmu itu."

"Kau––"

Kalimat Ratih terpotong karena Nathan dengan gerakan cepat meraih bibirnya. Pria itu menciumnya dengan ganas dan tergesa-gesa seperti tidak akan ada lagi hari esok.

Ratih memukuli dada Nathan karena ia kehabisan nafas.

"Huh huh, apa itu sudah menjadi kebiasaanmu mencium wanita sembarangan."

"Tidak, hanya kau," ucap Nathan lalu kembali meraih bibir Ratih dengan bibirnya.

Nathan menarik kedua tangan Ratih di atas kepala gadis itu agar tidak mengganggu aktivitasnya. Merasa ciumannya tidak berbalas, Nathan menggigit pelan bibir Ratih agar terbuka.

Dengan gerakan cepat pria itu masuk ke dalam mulut Ratih dan bertarung dengan lidah milik Ratih.

Nathan tersenyum disela-sela aktivitasnya karena Ratih mulai merespon ciumannya walaupun dengan gerakan kikuk.

Ratih merasa harga dirinya jatuh saat ini juga karena tubuhnya tidak bisa berjalan lurus dengan kata hatinya. Ia tahu membiarkan Nathan menciuminya adalah perbuatan yang salah tapi kenapa tubuhnya malah menikmati perlakuan ini.

Nathan melepaskan kedua tangan Ratih dan bibirnya bergerak turun ke arah leher Ratih. Dan tangan Ratih mencengkeram kuat bahu Nathan.

Nathan menatap sekilas leher Ratih yang dengan kasar ia cekik kemarin, kemudian ia menciuminya dengan lembut.

"Tuan––"

Sam membeku dengan pemandangan didepannya.

Nathan menghentikan aktivitasnya dan menatap Sam dengan sinis. Ia kesal Sam telah mengganggunya.

Sementara Ratih mendorong tubuh Nathan agar menjauhinya, ia pun menutupi wajahnya yang memerah malu.

"Apa yang kau lakukan disini?!"

"Anu itu sarapan Tuan sudah siap, itu yang ingin saya katakan, maaf saya mengganggu kalian, silahkan lanjutkan, saya permisi," ucap Sam lalu pergi dengan tergesa-gesa. Dan Nathan berusaha melepaskan rasa kesalnya.

"Semua gara-gara kau! Bagaimana aku harus berhadapan dengan Tuan Sam setelah ini!" Ratih menatap Nathan dengan tajam.

"Tapi kau menikmatinya," ucap Nathan sambil menarik ujung bibirnya.

"Aku akan kebawah, kemasi barangku, terserah apapun yang ingin kau kemas, aku tidak peduli," ucap Nathan lalu meninggalkan Ratih seorang diri.

Ratih mengacak rambutnya frustasi, ia merasa sudah tidak punya muka lagi. Padahal sebelumnya ia selalu mengutuk perbuatan pria itu, tapi bagaimana bisa ia barusan menikmati sentuhan pria itu.

1
ayu cantik
suka
Lina Budiarti
kl si alena sm ank nya ratih d bkn berjodoh kyaknya seru thor🤭
Lina Budiarti
entah kudu komen gimana kalo dah ujung gini🥺..🙈
Lina Budiarti
mudah2n mualnya ratih bertanda ada nathan junior🤭gk sekedar mual liat darah uuuh ngarep bngt aku thor
Mariyam Iyam
lanjut
Lina Budiarti
ttp smngt menulis thor aku setia mnunggu kok 😘
Nia Vanilly
hood
Lina Budiarti
ujian mnjadikan cinta Nathan dan ratih jd semakin kuat😘
Martina Metu
lama dulu baru di update
Lina Budiarti
gk di lanjut lg kah thor .?
Martina Metu
kisahnya sangat menegangkan
Martina Metu
seminggu baru di up lagi
Lina Budiarti
aku setia menunggu thor...
Martina Metu
belum up
Lina Budiarti
lnjut thor...💪💪💪
Martina Metu
terimakasih thor telah up lagi lanjut ya thor, n jangan tamat dulu biarkan kisah Natan dan pacarnya berjalan
Lina Budiarti
baru kali ini baca novel tp hanyut kaya ikut ke dalam cerita dag dig dug 😌semangat up truss thor💪
Martina Metu
kalau yang ini ceritanya masih gantung tapi sudah tidak mau di up.... padahal hari hari kita buka
Martina Metu
thor sudah dua hari belum di up episodenya,apa sudah tamat cerita nya?
Martina Metu
Thor bpa belum di up episode selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!