NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:93.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMANCING TERBAIK

Sekitar pukul dua belas siang, mentari bersinar garang di langit, memancarkan panas yang menusuk kulit. Namun semangat mereka untuk memancing tidak surut sedikit pun. Di antara riak ombak yang tenang, Max berhasil mendapatkan ikan kerapu ekor bulan pada lemparan pertamanya. Ukuran ikan itu cukup besar, membuat Toni semakin bersemangat.

Tiba-tiba, joran milik Toni tampak melengkung tajam, seperti ditarik sesuatu dari kedalaman laut. Tanpa berpikir panjang, Toni segera menariknya. Ujung joran memantul kuat—pertanda umpan Toni dimakan ikan besar.

“Strike!” serunya lantang.

Max yang baru saja menyimpan ikannya ke dalam kotak pendingin menoleh cepat ke arah Toni. Begitu pula dengan Alvarez, yang sedang mengganti mata kailnya yang lebih besar di pancingnya, spontan menoleh mendengar teriakan itu.

Saat Toni hendak menggulung ril, ikan yang menyambar umpannya melesat cepat ke dalam laut. Suara reel pun meraung, seakan menandai dimulainya pertarungan sengit. Toni merasakan sensasi luar biasa dari tarikan itu. Ia segera meminta Max merekam momen tersebut.

“Max! Cepat, tolong rekam aku!”

Tanpa menunggu lama, Max memasang ponselnya di tripod dan mulai merekam. Toni masih sibuk menggulung senar pancing, sementara perlahan-lahan, bayangan ikan mulai terlihat dari bawah air.

Alvarez yang melihat lebih dekat, mengenali jenisnya. “Itu... ikan trevally malabar,” ucapnya. Ikan yang sering ditemukan di sekitar pulau dan tebing berbatu.

Alvarez segera mengambil gayung ikan dan membantu Toni mengangkat hasil tangkapan itu ke atas kapal.

Selesai, Toni pura-pura memegangi lengannya dan mengerang pelan.

“Aduh... Max, kayaknya aku harus istirahat dulu,” ujarnya sambil mengusap lengan.

Max memandang Toni dengan bingung.

“Lho, kenapa? Baru sebentar kita mancing, kok udah minta istirahat?”

Alvarez, yang menyadari gurauan Toni, hanya tersenyum. Toni melanjutkan,

“Lengan aku pegal banget gara-gara narik ikan tadi. Lama banget baru naik.”

Mendengar itu, Max akhirnya paham. Toni sedang pamer.

“Oke! Kita lihat nanti siapa yang bisa mancing ikan paling besar!”

Toni terkekeh puas.

“Aku setuju! Dan bos, kamu juga harus ikut!” katanya, menunjuk ke arah Alvarez.

Alvarez mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu, aku baru saja selesai ganti kail. Sekarang pakai yang lebih besar. pasti dapet yang lebih besar juga.”

Max yang melempar senar ke laut, ia menambahkan,

“Tapi tahu nggak? Saat memancing, bukan soal kail besar atau kecil. Keberuntungan juga berperan besar. Dan aku merasa hari ini cukup beruntung.”

Toni, yang sedang melepaskan mata kail dari mulut ikannya, menimpali,

“Ehh, kenyataannya aku yang dapet ikan paling besar duluan!”

Suasana perlahan menjadi tenang. Mereka semua memancing dalam keheningan, serius, seakan sedang dalam turnamen. Setelah satu jam berlalu, Max dan Toni mulai berlomba-lomba menaikkan ikan. Sementara Alvarez hanya duduk santai, meminum cola dingin.

Namun tiba-tiba, joran Alvarez melengkung tajam ke arah laut. Ujungnya menegang, seakan tertarik oleh kekuatan misterius dari kedalaman. Tidak ada peringatan, tidak ada aba-aba—Alvarez langsung berdiri, mata tajam menatap ujung senar yang melesat masuk ke dalam birunya laut.

Suara ril meraung liar, memecah keheningan siang hari.

Teeeeekkkk... zzzzzrrrrtt!

Suara gesekan yang menandakan ikan besar tengah mencoba kabur jauh ke dasar.

Max dan Toni terdiam, seolah waktu berhenti. Mereka hanya bisa menoleh, menyaksikan sang “bos” mulai bertarung.

Alvarez tak berkata sepatah kata pun. Tangannya terlatih, tenang, namun penuh tekanan. Satu tangan menggenggam gagang joran, satu lagi perlahan memutar ril—sedikit demi sedikit, menarik ikan yang terus memberontak.

Percikan air mulai muncul di permukaan. Bayangan hitam besar terlihat menari di bawah kapal, berputar, menyelam, lalu naik lagi.

“Max, Toni... ini bukan ikan barakuda,” gumam Alvarez, suaranya rendah tapi tegas.

Empat menit yang terasa seperti empat puluh. Ketegangan menyesak, keringat mulai menetes di pelipisnya meski angin laut meniup kencang. Ujung joran melengkung hampir menyentuh permukaan air, namun ia tetap bertahan, tak membiarkan tali kendur.

Lalu... dari bawah air muncul kilatan perak kehijauan—ikan itu menampakkan wujudnya.

“Tenggiri!” seru Max.

“Dan... ukurannya gila!” tambah Toni tak percaya.

Dengan gerakan terkoordinasi, Alvarez memberi aba-aba.

“Gayung ikan! Sekarang!”

Max dan Toni sigap. Mereka bekerja sama mengangkat sang raksasa laut itu ke atas kapal. Dentuman berat tubuh ikan menghantam dek, membuat kapal sedikit bergetar.

Napasnya masih memburu. Berat ikan itu setidaknya dua belas kilo, tubuhnya memantul dalam cahaya matahari siang. Siripnya bergetar, seolah masih ingin bertarung.

Wajah Max dan Toni murung. Mereka hanya mampu menangkap ikan seberat dua atau tiga kilo. Alvarez tertawa lepas.

“Hahaha! Kalian kalah telak! Tapi jangan sedih, mungkin nanti kalian bisa dapat yang lebih besar. Tapi... sepertinya kalian akan mendapatkan ikan buntal yang mengembang,” candanya sambil menepuk bahu mereka.

Setelah itu mereka kembali memancing. Kali ini, Alvarez lagi-lagi mendapat tarikan besar. Dua menit bertarung, ikan itu muncul ke permukaan—seekor kerapu ekor bulan besar, hampir enam kilo beratnya.

Max mengangkat tangan menyerah.

“Sudahlah, pertandingan ini resmi dimenangkan Kakak Besar!”

Toni menimpali,

“Gara-gara lomba ini, kita malah nggak bisa santai nikmati hari libur!”

Alvarez hanya tertawa kecil, membiarkan mereka mengeluh.

“Kalau aku dapat tarikan besar lagi, siapa yang mau nariknya?” tanyanya.

Max dengan cepat menjawab,

“Aku! Aku duluan!”

Tak mau kalah, Toni menyahut,

“Jelas aku! Aku lebih berpengalaman!”

Alvarez tertawa geli melihat mereka berdebat seperti anak kecil.

“Sudah, sudah... Max duluan. Karena dia yang menyahut lebih dulu. Habis itu, baru kamu, Ton.”

Mereka setuju. Alvarez pun memasang umpan dengan ikan kecil dan menjatuhkannya ke laut. Tak butuh waktu lama, senar langsung ditarik ikan besar. Reel meraung, menandakan perlawanan sengit.

“Max, cepat ke sini! Ini ikan besar!” seru Alvarez.

Max segera menggenggam joran yang seperti hidup sendiri, menarik liar dan tak terkendali. Reel meraung seperti makhluk buas. Jantungnya berdetak cepat, namun ia menahan tarikan dengan penuh semangat.

“Iyaaaahhh!!! Ayo... ayo... sedikit lagiii!” teriak Max.

Tubuhnya maju mundur menahan tarikan. Keringat bercucuran, senarnya mendecit, namun akhirnya dari bawah muncul sosok besar. Seekor Giant Trevally, matanya menatap tajam seakan belum ingin menyerah.

Dengan usaha keras, Max menariknya ke atas kapal. Ikan besar itu terhempas di dek, menandai kemenangan keduanya hari itu.

Lalu, giliran Toni. Senarnya baru saja menyentuh dasar ketika tarikan tiba-tiba menyeret joran ke bawah. Toni segera membalas tarikan, bertahan, dan memulai perlawanan. Tangannya mengayun gesit, mengikuti gerak ikan yang tak terlihat.

Namun ada yang aneh.

Tarikannya tak seperti ikan biasa lebih berat, lebih liar, lebih tak terduga. Dari bawah laut muncul siluet besar dan lebar. Sirip panjang, tubuh datar, dan gerakan seperti melayang.

“Itu... ikan pari,” bisik Alvarez. Wajahnya berubah serius.

Alvarez langsung bertindak.

“Max, Toni, mundur! Ekor ikan pari sangat berbahaya. Aku yang akan tangani.”

Dengan pisau panjang, Alvarez memotong bagian ekor ikan tersebut dengan hati-hati. Baru setelah itu mereka mendekat, menatap hasil tangkapan luar biasa itu dengan rasa tak percaya.

Menjelang pukul tiga sore, mereka memutuskan pulang. Sepanjang perjalanan, Max dan Toni bergantian memotret diri dengan ikan hasil tangkapan. Termasuk tenggiri dan kerapu milik Alvarez.

Alvarez hanya tertawa kecil sambil mengemudi, menikmati perdebatan mereka yang tak kunjung usai tentang siapa pemancing terbaik hari itu.

1
sakura
...
Ita Xiaomi
Alhamdulillah ceritanya dilanjutkan. Semangat berkarya Kk. Berkah&Sukses selalu. 👍👍👍
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!