Juna akhirnya mau berhubungan lagi dengan hal gaib yang hampir bertahun-tahun dia coba hindari, karena ada sesosok hantu cewek berseragam, Louise, yang sudah menjadi rahasia umum di SMA Ksatria Negara sering menampakkan dirinya kepada siapapun yang mencoba membicarakan dan mengusiknya.
Pada awalnya Juna tidak mengenali sosok itu sampai pada akhirnya dia mau mendengarkan Louise yang ternyata kakak sepupunya yang tewas ditangan pacarnya.
Dan Juna pun dengan dibantu Ariel, cewek yang bisa membuatnya merasa berani menghadapi Louise, mencoba memecahkan misteri tewasnya Louise, serta mencari dimana jasadnya dikubur.
Jangan lupa utk like, komen (biar aku bisa terus memperbaiki karya aku), dan vote yaaa.. thanks a lot!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caroline Gie White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menerima Louise
Juna berlari menyusul Ariel di koridor setelah melewati kantin lalu berhasil menangkap lengannya dan menghadapkan badan Ariel ke arahnya. Airmata terlihat menggenang di kelopak mata Ariel. Tanpa ragu Juna merengkuh badan Ariel ke pelukannya. Ariel pun menangis.
“Kamu enggak pantas menangisi dia, Riel.”
“Aku enggak menangisi dia. Aku menangis karena aku enggak terima ternyata dia memang niat mau mempermalukan kamu, Jun.”
Juna tersenyum. “Thanks ya. Yang penting sekarang kita impas.”
Ariel melepaskan pelukan Juna. “Maksud kamu?”
Juna menyeka airmata di pipi Ariel. “Tadi aku memukul dia karena aku enggak terima dia bohongin kamu, dan sekarang kamu menangis gara-gara kamu enggak terima aku dipermalukan, jadi kita impas.”
Ariel perlahan tersenyum.
“Terus sekarang mau kemana? Sudah malam. Kamu enggak mungkin pulang dengan kondisi kaya gini, ntar disangkain ayah kamu, aku habis apa-apain kamu.”
“Aku enggak tahu mau kemana."
“Kalau ke apartemen aku saja gimana? Kamu tenang saja, aku enggak bakal berani macam-macam sama cewek galak kaya kamu."
“Terserah kamu saja, Jun.”
“Ya sudah, ayo.” Juna merangkul Ariel pergi lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat depan sekolah.
Juna membuka pintu kamar di apartemennya perlahan. Ariel sudah terlihat tenang dan terlelap. Juna masuk lalu duduk di samping Ariel. Sejenak ia menatap muka Ariel lalu mendekatkan mukanya dan mencium kening Ariel.
“Sampai kapanpun aku bakal jagain kamu, Riel, karena kamu itu kekuatan yang bisa bantu aku buat menghadapi kondisi aku. Thanks karena kamu sudah hadir di kehidupan aku.” Juna tersenyum lalu beranjak keluar dari kamarnya.
Ariel perlahan membuka matanya dan meraba keningnya.
Perasaan apa ini? Apa mungkin aku sudah suka sama Juna?
Juna membuka pintu balkon apartemennya yang ada di lantai 15 lalu duduk di kursi dan menatap lurus ke depan, sedikit mendongak.
“Oke, untuk pertama kalinya, aku bakal mendengarkan kamu. Karena entah kenapa aku merasa kalau aku tahu siapa kamu, biarpun aku enggak ingat apa-apa tentang kamu.”
Sesosok cewek berseragam yang terlihat transparan berdiri di hadapan Juna dengan tatapan mata yang sedih.
Ariel terbangun lalu keluar dari kamar. Ketika menuju dapur ia melihat Juna sedang duduk di kursi di balkon dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ariel menghampiri.
“Juna? Kamu kenapa? Kok kamu di luar sih? Ntar kamu sakit.”
Juna membuka tangan dari wajahnya lalu tiba-tiba memeluk Ariel yang berdiri di hadapannya. Ariel bisa merasakan badan Juna yang sedikit gemetaran dan basah karena keringat. Kondisinya mirip waktu dia pingsan di sekolah, ditambah Juna ternyata.. menangis. Dengan ragu-ragu Ariel mengelus kepala Juna dan punggungnya, mencoba menenangkannya.
“Enggak usah takut, ada aku di sini.”
Juna pun semakin erat memeluk Ariel.
“Enggak apa-apa kan kamu pulang sama Pak Iyan?” Tanya Juna keesokan paginya.
“Aku malah lebih khawatir sama kamu. Enggak apa-apa kamu sendirian disini?”
“Aku lagi butuh waktu sendirian dulu.” Ada SMS masuk ke ponselnya. “Pak Iyan sudah menunggu di lobi.”
“Ya sudah kalau gitu aku pulang ya. Oh iya..” Ariel menatap Juna. “Kalau ada apa-apa dan mungkin kamu butuh teman, kamu boleh telepon aku. Kali ini tanpa alasan.”
Dulu Juna sering sekali meminta nomor ponsel Ariel, tapi Ariel tidak mau memberikannya dengan alasan, Juna tidak akan mungkin punya alasan untuk menghubunginya. Biarpun Juna bisa dengan mudah mendapatkan nomor ponsel Ariel lewat teman-temannya, tapi ia mau tahu dari Ariel langsung.
Jadi ada suatu kesempatan, ponsel Ariel menyembul dari saku rok sekolahnya ketika ia sedang tidur sewaktu pelajaran di kelasnya kosong. Tanpa disadari Ariel, Juna mengambilnya lalu menghubungi nomornya lewat ponsel Ariel.
Untung ponselnya enggak dipassword, pikirnya saat itu. Lalu tanpa disadari pula, Juna pun mengembalikan ponsel Ariel ke tempatnya semula. Dan hubungan lewat ponsel antara mereka lebih intens dimulai sewaktu insiden Juna pingsan di kelas.
Juna tersenyum. “Pasti aku lakukan, thanks ya.”
Ariel pun pergi. Juna lalu terdiam di sofa menatap balkon ditemani oleh Louise–Cewek berseragam- yang juga sedang duduk di sampingnya.
Jadi ini sebabnya kenapa aku bisa benci banget kalau melihat Dewa. Tangan Juna terkepal.
To be continued....
Author : Terimakasih yang sudah mampir. Like dan komen kalian sangatlah berarti 🙏
Boleh gak kakak thor?
Setan beneran itu keknya
Nama Zafrannya bagus ☺☺
Kek nama anime