Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Siswa sekolahku sedang di hebohkan dengan undangan ulang tahun mewah yang sudah tersebar. Siapa lagi kalau bukan Helmi, si ratu tercantik di sekolah kami.
Dua hari lagi Helmi akan merayakan ulang tahun di kediaman pribadinya, di sekitaran daerah Sentul Bogor. Tidak terkecuali kelasku mendapatkan undangan itu.
Dan menurut gosip yang beredar dari sumberku terpercaya Inka, undangan khusus sudah di berikan kepada Arkana. Karena Helmi merasa Kana adalah pria spesial untuknya.
Aku yang mendengar gosip itu hanya bisa terdiam. Bukan apa-apa, aku hanya malas membahas hal seperti itu. Kalau bisa sih aku tidak akan datang ke pesta ulang tahun itu. Membuang-buang waktuku saja.
Tapi Inka meyakinkanku bahwa kami harus pergi ke ulang tahun Helmi. Karena menurut Inka, tidak enak sudah di undang. Padahal aku tau maksud dan tujuan Inka adalah ingin melihat rumah besar milik Helmi dan seberapa kayanya helmi.
" Ah aku males", aku masih teguh pada pendirianku.
" Ayolah... Masa aku gak ada teman di sana wan. Kamu tega sama aku", Inka masih ngeyel merayuku.
" Terima kasih pak", aku menyerahkan uang sepuluh ribu kepada tukang cilok tanpa menggubris rengekan Inka.
" Ayolah Awan... Nanti sebulan deh aku bawain roti tawar isi coklat buat kamu ke sekolah", rayu Inka.
" Enak aja, emangnya kita masih SMP, di rayu pake roti tawar", aku sewot.
" Habisnya aku cuma punya itu. Gak punya duit", Inka masih merengek sambil ngelawak.
" Aduh anak ini... Aku malas dandan. Harus pake gaun lagi warna pink. Ribet", aku ngomel-ngomel.
" itu gampang. Kan di rumahku banyak gaun. Aku dandanin deh", Inka tersenyum merayu.
" Gak... ", aku tegas.
Mendengar jawabanku Inka langsung melepaskan tangannya dari lenganku dan duduk di pinggir trotoar dengan lemahnya.
" Ya udah aku di sini saja. Sedih banget gak punya teman", katanya sedih sambil sesenggukan.
" Inka jangan duduk di situ. Malu atuh di liatin orang-orang", aku menarik ransel Inka agar berdiri.
" Biarin aja. Kalau gitu aku tidur aja di pinggir trotoar", Inka mulai mengambil ancang-ancang ngambek.
" Okee oke aku pergi ... Aku akan pergi ke undangan itu sama kamu", aku terpaksa mengiyakan. Aku tau banget sifat Inka, dia akan benar-benar tidur di trotoar kalau aku menolak. Aku tidak mau repot mengurusnya.
Inka langsung berdiri dengan posisi siap dan tindakan itu membuatku kaget.
" Beneran kamu pergi kan? Awas ya kalau berubah lagi", Inka menyodorkan jari kelingkingnya.
" Iya.. Iya.. Aku janji", aku mengaitkan kelingkingku tanda setuju tapi dengan terpaksa.
" Horeee... Nanti aku dandani kamu super cantik deh", kata Inka dengan penuh keyakinan.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tidak ada gunanya melawan Inka, lebih baik ikuti saja kemauannya. Toh hari itu juga malam minggu, sesekali bolehlah aku ikut party.
***
Aku dan Kana tidak berbicara sama sekali sampai saat ini. Kana selalu menghindari ku. Aku semakin kesal padanya. Rasanya seperti mendapatkan musuh baru setelah Helmi.
Aku pernah bertemu dengan Kana di perpustakaan. Karena terlalu lama di abaikan, aku yang entah mendapatkan keberanian darimana datang mendekatinya.
" Mau sampai kapan kamu marah padaku?", aku bertanya pada Kana.
Kana tidak menjawab, malah sibuk mengambil sebuah buku dan membacanya dalam diam.
" Oke. Aku minta maaf kalau aku terlalu jauh masuk ke dalam urusanmu. Tapi kamu harus bertemu ibumu, dengarkan alasannya", aku berbisik tapi cukup keras sehingga di tegur petugas.
Kana menutup bukunya dengan kesal lalu menyeret ku keluar perpustakaan. Sekarang kami berada di dekat lapangan basket. Tidak ada orang dan cukup sepi untuk meneriaki Kana.
" Alasan apa? Alasan kenapa dia pergi? Alasan kenapa dia tega meninggalkan anak SD yang menangis di depan pintu?", Kana berbicara dengan dingin sambil berusaha menahan suaranya agar tidak meledak.
" Iya aku tau Kana. Itu pasti hal yang paling menyakitkan untuk kamu. Tapi kami harus mendengarkan dia juga kan. Aku tau kamu rindu ibumu", perkataanku kali ini sepertinya benar dan menusuk langsung jantungnya, karena reaksi Kana setelah itu membuatku kaget.
" Tau apa kamu Awan? Aku benci gadis sepertimu.Gadis sok lugu yang mau jadi pahlawan kesiangan. Urusi saja urusanmu", Kana meledak marah.
Aku murka mendengar perkataan Kana. " Iya aku memang seperti ini. Kamu baru tau? Kalau bukan karena mama kamu menangis karena kamu, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Ingat ya Kana, hal yang paling menyakitkan itu adalah ketika orang tuamu sudah ada di balik tanah. Kamu tidak akan pernah dengar suaranya lagi. Jangan terlalu egois, jangan hanya merasa kamu korban. Dengarkan orang lain", aku marah dan langsung berbalik meninggalkan Kana yang terdiam karena perkataanku.
Aku berjalan dengan penuh kemarahan menuju kelas. Aku menghentak-hentakan kakiku karena marah. Tidak peduli siswa-siswa lain melihat ke arahku. Rasanya aku ingin menjambak Kana saat ini biar dia sadar.
Dan sampai jam pulang sekolah, Kana tidak pernah muncul di kelas.
***
Aku melihat diriku sekali lagi di cermin toilet rumah Helmi. Sedikit tidak pede, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk malam ini. Tentu saja di bantu Inka.
Aku keluar dan berjalan ke arah kolam renang, banyak sekali teman-teman sekolahku di sana. Aku melihat Inka sedang mengobrol dengan teman kelas kami yang lain. Hanya Kana yang belum aku lihat kemunculannya. Sampai jam pemotongan kue, Kana tetap belum muncul.
Aku mengalihkan perhatianku ke arah Helmi yang berjalan menuju ke tempatku. Inka yang di sebelahku lebih waspada.
" Terima kasih ya sudah datang ke pesta ulang tahunku. Aku kira kamu gak datang loh", Helmi mulai mengejek dengan di ikuti cekikikan gengnya.
" Ya sama-sama. Selamat ulang tahun ya", aku memberi selamat dan berusaha berpikir positif.
" Terima kasih. Btw gaun kamu gak banget deh. Beli di mana? loakan?", Helmi berbisik.
" Diam lo", Inka yang menyahut.
" Yaelah si kampungan ada juga", Helmi masih mengejek.
Sedikit keributan ini membuat beberapa tamu di dekat situ mulai memperhatikan ke arah kami.
" Oopss sorry...", tiba-tiba Helmi menyiramkan minuman ke gaunku.
Aku kaget dan melihat ke arah Helmi meminta penjelasan dengan tatapan mata.
" Ah... Aku hanya gak suka gaun norak kamu itu", kata Helmi sambil tertawa di sambut tawa gengnya.
Teman- teman di sekitarku menatap Helmi tidak suka. Dan aku tidak tau siapa yang menyerang duluan, tiba-tiba Inka sudah menyiram baju Helmi dengan jus yang dari tadi di pegangnya.
Betapa murkanya Helmi dan kejadian itu begitu cepat. Aku berusaha menahan Inka yang mengamuk dan entah bagaimana Helmi mendorongku membuat aku jatuh ke dalam kolam renang.
Hal pertama yang aku ingat saat badanku menyentuh air adalah
' mampus, aku tidak bisa berenang'.
***