Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Menatap hiruk pikuk kota Jakarta dengan latar langit yang begitu cerah dari atas gedung, hal yang sering Nadi lakukan saat masih bekerja di perusahaan yang ia dirikan dari nol.
Sudah lebih dari satu tahun ia tak melakukan hal tersebut karena program kehamilan dan perceraian yang dia alami, membuatnya tidak bisa duduk di tempat yang menjadi sumber inspirasinya. Tapi siang ini Nadi melakukannya, ia duduk di ruang kerja yang dia design dan bangun sendiri.
Nadi memutar bangkunya tatkala ia mendengar pintu terbuka, ia tersenyum manis pada Surya yang berdiri tepat di depan pintu dengan raut wajah penuh kemarahan dan rasa terkejut. "MAU APA KAU WANITA ULAR DUDUK DI KURSIKU?"
Setengah tertawa Nadi menjawab. "Bukankah kau yang dari kemarin mencariku? Aku berbaik hati datang sendiri ke kantormu," ia langsung menutup mulutnya dengan manja. "Eh bukan hanya kantormu tapi ini juga masih kantorku," Nadi langsung meralatnya.
"Enggak usah basa-basi, sok manja. Aku muak dengan tingkahmu!" Surya bersiap menyerang Nadi, tapi Nadi terlebih dahulu mengangkat tangannya ke arah CCTV. "Kau berani menyentuhku? CCTV ini sudah terhubung pada layar komputer di polres terdekat, sedikit saja kau menyentuhku. Kau akan langsung di seret ke kantor polisi, sebab aku sudah meminta perlindungan pada mereka," dustanya agar Surya tak berani menyentuhnya.
'Mana bisa seperti itu, tapi untung Surya bodoh jadi bisa dengan mudah aku bohongi,' Nadi ingin bersorak dalam hatinya.
Surya mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau benar-benar wanita ular!" ia melayangkan tinju ke udara.
Nadi tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya memelihara ular bukan ide yang buruk, tapi sayangnya di apartement baruku di larang membawa ular."
"Berhenti bicara omong kosong," bentak Surya. "Cepat kau bayar kartu kredit yang kau pakai sebelum orang bank menyita rumahku! Kau sudah membuat hidupku sulit karena aku terkena BI Checking. Sialan!"
"Hah? Rumahmu?" Nadi masih ingin tertawa lagi tapi sayangnya perutnya sudah sakit karena kebanyakan tertawa hari ini. "Rumah itu hasil kerja kerasku selama dua tahun bekerja membangun perusahaan ini. Apa kau lupa itu Surya?"
Ia berjalan mengitari tubuh Surya. "Aku habiskan seluruh warisan peninggalan orangtuaku untuk membangun perusahaan ini, kau bilang di awal kita akan membagi keuntungany 65%:35%. Tapi setelah perusahaan ini berkembang pesat kau mengatakan hal yang berbeda, bahwa kita akan menikah jadi lebih baik keuntungannya di satukan untuk membangun rumah dan membeli semua kebutuhan rumah tangga kita." Nadi menghela napasnya sesaat, ia menatap Surya dalam-dalam.
"Aku sama sekali tak pernah merasa keberatan saat kau memboyong semua keluargamu ke rumah kita, membiayai sekolah adikmu, membiayai pernikahan kakakmu dan memberikan apa pun yang ibumu minta. Karena aku merasa aku tidak punya siapa-siapa lagi, dan keluargamu adalah keluargaku juga. Tapi ternyata itu semua tidak cukup untukmu dan keluargamu, aku di tendang dari rumahku sendiri hanya karen aku tidak bisa memberikanmu keturunan."
Nadi meletakan tangannya di dada Surya, ia merapihkan sedikit jas yang di kenakannya. "Selamat atas pernikahan dan calon anakmu. Aku bahagia atas kebahagianmu, silahkan merintis semuanya dari awal seperti kita dulu merintis dari nol." ia berjalan menuju pintu dan keluar dari Permana Persada, ia menyakini dirinya jika ia akan kembali lagi ke perusahaan ini tapi dengan nama yang berbeda. Djiwa Karya.
Sementara itu, di dalam Surya terus menyumpah-nyumpah. "Brengsek kau Nadi!!" ia begitu frustasi sebab ia sendiri tak bisa menuntut Nadi, Nadi masih menjadi pemilik Permana Persada. Dan jika Surya memaksakan diri untuk menuntut Nadi, bukan tidak mungkin itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"Aakh... Wanita sialan!" teriak Surya, kepalanya hampir pecah memikirkan tanggal jatuh tempo pembayaran kartu kredit yang harus ia bayar, sementara ia tak memiliki dana yang cukup. Soe Karya telah mengambil semua project-projectnya sejak Nadi bergabung dengan Sofia, satu-satunya project yang ia miliki hanya dengan Global Group, itu pun sudah gagal total.
"NADIIII...."
...****************...
Nadi menepati janjinya, untuk menemani Alyssa berakhir pekan di Bogor. Pukul 05.30 setelah shalat subuh ia sudah menunggu Aaron di lobby apartementnya, baru lima menit menunggu mobil Aaron sudah menepi di depan teras, Nadi pun bergegas menghampiri dan masuk mobil.
"Morni..." Sapaan Nadi terputus ketika jari Aaron menempel di bibirnya.
"Ssstt.." Aaron memberi kode jika Alyssa tengah tidur di kursi belakang. Nadi menoleh ke arah Alyssa, kemudian mengangguk. "Menggemaskan sekali anak itu."
Aaron tersenyum, ia kembali melajukan kenadaraannya keluar area apartement dan meluncur menuju Bogor. "Kamu masih ngantuk enggak?" ia menarik Nadi agar bersandar di bahunya.
Tak bisa Nadi pungkiri dari dulu sampai sekarang ia merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat bersandar di tubuh Aaron. "Sedikit."
Aaron mengecup puncak kepala Nadi. "Tidur-lah, perjalanan masih panjang."
Nadi menggelengkan kepalanya. "Mau nemenin kamu nyetir. Kenapa enggak pakai supir aja sih?"
"Aku lebih nyaman nyetir sendiri saat bersamamu dan Alyssa."
Separuh perjalanan yang mereka lalui ke kota Bogor, Alyssa terbangun dari tidurnya. Ia nampak senang ketika membuka matanya sudah ada Nadi dalam mobilnya. "Pah, aku sama mama boleh ikut berkuda ya," pinta Alyssa. "Di sana kan ada kuda poni, aku mau cobain naik kuda poni."
Aaron terdiam sejenak, sebetulnya acara berkuda ini bukan-lah acara keluarga, ada satu project penting yang Aaron dan teman-temannya ingin bahas, tapi disisi lain ia tak bisa menolak permintaan putrinya. "Boleh, tapi di sekitaran taman aja ya. Papa berkumpul sama teman-teman Papa boleh kan?"
Alyssa mengangguk setuju, Nadi ikut tersenyum sebab Alyssa telah memudahkan rencananya. Ia dan Margareth sudah janjian bertemu di sana dan membahas bisnis mereka, ia bersedia membeli seluruh saham Permana Persada, sehingga Nadi harus bisa mengembangkan relasinya untuk mempermudah membangkitkan perusahaan itu kembali.
"Nanti aku yang akan menemani Alyssa berkuda," sahut Nadi, siapa pun akan terkesan pada kedekatan antara dirinya dan Alyssa yang terlihat sangat natural, Nadi bisa menggunakan itu menarik simpati rekan-rekan bisnis Aaron.
"Terima kasih ya, Die."
Nadi menganggukan kepalanya, ia kemudian mengaduk-aduk tas bawaannya untuk mengambil kotak bekal berisi nasi goreng yang ia buat di apartemennya. "Alyssa makan dulu ya, agar sampai di sana kita bisa langsung main."
Ia menyuapi bapak dan anak itu dengan telaten, sembari sesekali mereka bergurau bersama. Nadi begitu nyaman bersama mereka, ia tidak bisa bilang jika ia tak menyayangi keduanya, hanya saja masih banyak keraguan untuk menerima Aaron sebagai suaminya, kegagalan pernikahannya terdahulu serta jahatnya Surya dan keluarganya terhadapnya benar-benar membuatnya takut dan trauma.