NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:512.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

...🍜☕Sesekali, aku ingin bermalam di hatimu. Agar aku tahu, seperti apakah laki-laki yang menjadi inginmu☕🍜...

Juan POV

Aku sudah sampai rumah. Begitu masuk yang ku lihat selalu wanita paruh baya sedang duduk santai di sofa, menyimak acara yang disuguhkan di layar 29inch. Adalah kebiasaan rutinnya. Tentu saja dia Mamaku. Bukan istriku.

Ngomong-ngomong soal istri. Mungkin menyenangkan kali, ya, setiap pulang kerja selalu disambut istri dan anak—kalau sudah punya anak.

Saat membayangkan istri, entah mengapa yang muncul adalah wajah Maira. Senyuman yang khas dengan lesung pipit di pipi kanan, pesonanya yang manis dan anggun. Menyambut dan mencium tanganku dengan wajah yang riang.

Lalu disusul oleh suara manja anak kecil, 'Horaaayyy ... Papa pulaaang." Aku mencium mereka bergantian. Kemudian, Maira meraih tanganku. Membawa ke meja makan yang telah tersaji hidangan makan malam. Kami menikmati bersama, diiringi celoteh anak kecil yang dengan riang menceritakan kesehariannya.

Asataga!

Aku menepuk jidat. Jauh sekali halunya. Walau segala sesuatu dimulai dari halu dulu, tapi tetap saja barusan haluku sungguh kelewatan.

Heii, halu! Enyah kau enyaaahhh!!!

Aku mencengkeram kuat rambutku. Berusaha mengusir halu yang kelewatan tadi. Memalukan sekali.

"Hoi!"

Mama mengejutkanku. Lupa daratan kalau ada Mama di sofa. Dan aku berhalu di depan pintu.

"Pusing karena kerja lembur bagai kuda?"

Beberapa hari ini aku memang pulang lebih malam dari biasanya. Tentu saja bukan lembur, aku tak serajin itu. Dan aku bukan tipe orang yang mau diperbudak oleh jabatan—belum aja, mungkin.

"He-he-he ...." Aku terkekeh. Jawaban yang ambigu sekali.

Aku segera menaiki anak tangga, menuju kamarku yang ada di lantai dua. Meninggalkan Mama dengan segala prasangkanya. Aku tak mau berbohong dengan memberi jawaban 'Iya.' Dan tidak mau juga memberi jawaban 'Tidak.'

Sebab, nanti pasti timbul pertanyaan susulan.

'Terus kenapa pulang lebih malam? Kok, kelihatan setres begitu? Jangan terlalu setres nanti wajahmu semakin tua. Susah lakunya.'

Nah, tuh, 'kan. Sudah tergambar dengan jelas apa saja kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan. Huh! Memang ribet sekali kalau berurusan dengan emak-emak. Tidak ada titiknya.

Aku menyalakan lampu kamar. Ruangan yang bernuansa gelap, namun, selalu rapi setiap kali aku pulang kerja. Siapa lagi kalau bukan Mama yang merapikan.

Tiba-tiba aku langsung menyesal, tadi ku bilang berurusan dengan emak-emak itu, ribet. Nyatanya, ribet-ribet begitu emak-emak memiliki peran penting dalam urusan rumah tangga.

'Maafkan anakmu ini, Mama.'

Bruuukkk!

Aku mengempaskan tubuh ke ranjang. Menatap langit-langit kamar. Mencoba memahami apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini.

Ada apa dengan hatiku? Ada apa dengan perasaanku? Apa yang aku lakukan akhir-akhir ini bukankah mulanya berawal dari hati dan perasaan?

Lalu, mengapa sekarang aku sendiri tidak tahu ada apa sebenarnya dengan hati dan perasaanku?

Kembali ku coba menenangkan pikiran. Mengabaikan suara apa pun yang mengganggu.

Mengapa aku selalu bahagia setiap kali memikirkan Maira? Mengapa aku selalu ingin melihat dia walau dari jauh? Mengapa aku selalu ingin tahu apa saja mengenai gadis itu? Aku selalu mengingat hal apa yang dia suka. Kopi. Setiap kali ingat kopi aku selalu ingat Maira. Walau setiap ingat Maira tak selalu membuatku mengingat kopi. Hmmm.

Aku kembali mengosongkan pikiran. Sungguh, yang aku rasakan sama sekali bukan gurauan.

Lengang.

Yang terdengar hanyalah detak jarum jam dinding dan suara napasku sendiri. Lama ku biarkan terus seperti ini. Sembari terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan.

Nihil.

Semakin ku cari, semakin tidak ku temui. Lalu, harus ku tanyakan pada siapa? Jangan bilang pada rumput yang bergoyang.

Huft!

Kenapa pula aku baru merasakan hal seperti ini saat sudah selapuk ini?

Aku menyerah. Besok lagi saja ku pikirkan. Sekarang aku sedang punya missi lagi. Yaitu, menghubungi Kiddo.

Aku mengetik pesan, "Hi, Kiddo. Jangan lupa yang tadi yaa ...."

Sent!

Yuhuw! Saatnya mandi biar gantengnya konsisten.

***

Sementara itu, di kontrakan ....

Kling!

Ponsel Rizky berdering singkat. Ia meraih benda pipih itu. Tampak sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal.

Klik!

Setelah membaca pesan itu, Rizky berdecak.

"Kenapa, Ky?" tanya Maira.

Gadis berjilbab warna peach itu melihat ekspresi muram Rizky setelah membaca pesan di ponselnya.

"Ah, ngngng ... Nggak papa, Kak. Biasalah temen rese. He-he-he." Rizky beralasan.

Jika tidak beralasan bisa-bisa nyawanya terancam di ujung tanduk. Pasalnya, pria yang menginterogasinya saat ia pulang tadi, sudah tahu jurus pamungkas untuk melumpuhkan Rizky.

Celaka dua belas kalau sampai Si Gondrong itu membocorkan soal perasaannya pada Salwa.

Rizky berpikir keras. Bagaimana caranya memancing Maira untuk mengatakan alasan yang sebenarnya.

Kemarin malam, setelah Maira bercerita hendak pulang kampung, Salwa mengirim pesan tentang kecurigaannya pada Maira. Kecurigaan Salwa sama seperti kecurigaan Rizky.

Sebelum Si Gondrong menyuruh untuk mencaritahu, ia dan Salwa sudah menyusun rencana lebih dulu. Tinggal menunggu timing yang tepat.

Rizky mulai gusar. Ia pun sudah tak begitu menyimak obrolan apa yang sedang berlangsung. Sesekali ia melirik Salwa, harap cemas semoga dia tidak lupa diri untuk menjalankan rencananya.

Kopi yang diberikan Si Gondrong itu, rupanya cukup membantu membuat Rizky kuat melek. Bahkan saat ini matanya dalam daya 100 watt. Masih cukup untuk melek hingga subuh.

Pria 24 tahun itu memperhatikan kedua gadis di sebelahnya. Asik berbincang. Entah kenapa wanita kalau sudah mengobrol seolah tak pernah kehabisan bahan cerita. Rizky berusaha ikut masuk dalam obrolan. Sesekali ikut menanggapi obrolan mereka dengan menyeringai. Padahal, sebenarnya ia tak sungguh-sungguh mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Rizky melirik jam di ponselnya. Tak terasa sudah jam 23.10 WIB. Ia kembali gusar. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan ke Salwa untuk mengingatkan mengenai rencananya.

Salwa langsung mengecek notifikasi yang baru saja masuk. Itu dari Rizky.

"Eh, aku ke belakang dulu, ya," pamit Maira saat Salwa mengecek ponselnya.

"Mau apa?"

"Mau ikut?"

"Ha-ha-ha. Nggak!" Salwa tergelak.

"Lagian ada-ada saja pertanyaanmu."

Maira melenggang masuk ke rumah—ke kamar mandi, untuk buang air. Gadis itu memang suka sekali minum kopi, dan setiap kali setelah minum kopi ia menjadi lebih sering ke belakang.

Tepat! Salwa dan Rizky segera melakukan aksinya. Menyabotase ponsel Maira yang tergeletak di ubin. Ponselnya memang tak pernah diberi kata sandi. Seolah takdir baik memang memihak gadis berambut sebahu dan pria berusia 24 tahun itu.

Rencana sudah tersusun dengan apik. Nama adik Maira menjadi pencarian utama. Sayangnya, apa yang mereka temui tidak sesuai harapan. Hanya ada pesan Maira yang mengabari bahwa ia hendak pulang kampung. Tidak ada balasan dari kontak bernama Zidan.

Mereka bicara melalui telephone. Kontak Zidan ada di riwayat panggilan masuk dan keluar beberapa kali.

Salwa dan Rizky mengembuskan napas kecewa. Lalu, meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.

Mereka saling terdiam. Menelan kekecewaan. Tak tahu harus bagaimana lagi.

Maira sudah kembali. Ikut duduk terdiam menyejajari dua sahabatnya. Menikmati malam yang semakin pekat dan angin yang terasa menusuk. Cuaca masih belum sepenuhnya berganti ke musim panas.

Bulan tertutup awan mendung. Tapi, mendung tidak selalu hujan.

Tiga muda-mudi itu masih termenung di teras. Waktu sudah menyentuh pergantian hari. Gadis berambut sebahu itu menguap, memecahkan suasana.

"Semoga saja besok aku masih bisa menyusulmu ke terminal," ujar Salwa.

"Nggak usah dipaksa. Busnya jam 5 sore berangkat. Jadi, habis ashar aku sudah out."

Salwa menepuk-nepuk bahu Maira. Yang ditepuk tersenyum tipis. Sementara Rizky masih memikirkan bagaimana kalau laki-laki menyebalkan itu datang lagi dan menagih apa yang dia minta.

***

1
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
Pocut
Jakaaaaa...😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!