NovelToon NovelToon
Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:308k
Nilai: 4.6
Nama Author: Arzeerawrites

Hubungan antara Vindra yang Zeline yang sudah berlangsung selsma dua tahun awalnya baik-baik saja.

Kedatangan Anin dari luar negeri sebagai sahabat masa kecil Vindra awalnya membuat perasaan Zeline senang.

Tapi lama-lama Zeline merasa posisinya tergeser. Ia yang biasanya menjadi prioritas bagi Vindra, perlahan menjadi tidak. Anin mengambil perhatian yang seharusnya juga diterima oleh Zeline karena Zeline adalah kekasih Vindra.

“Kemarin aku pulang sendiri karena kamu lebih milih untuk antar Anin. Terus tadi malam aku ketiduran nungguin kamu yang katanya mau ngajak aku makan tapi ternyata kamu ingkarin omongan kamu sendiri. Tadi malam kamu malah makan sama Anin. Udah sering banget kamu lebih pentingin Anin. Selama ini aku diam, Vin. Anin sahabat kamu dari kecil, tapi aku juga anggap dia sebagai sahabat aku kok. Cuma kenapa ya? Kok posisi aku sama dia lama-lama kayak kebalik? Kamu tau ‘kan siapa yang harusnya lebih kamu pentingin? Sekarang aku tanya, Pacar atau sahabat?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Aku aja yang nyebrang ke minimarket, kalian berdua masuk mobil suluan ya,”

“Okay, hati-hati ya, Vin,”

Vindra tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar pesan Zeline supaya Ia berhati-hati ketika menyebrang. Setelah Vindra berjalan menjauh, Zeline mengajak Anin untuk masuk ke dalam mobil.

“Nin, masuk mobil aja yuk,”

“Okay,”

Seperti apa yang disampaikan Vindra tadi. Mereka berdua menunggu di mobil, sementara Vindra ke minimarket untuk membeli minuman dan makanan ringan.

Vindra tahu Zeline masih menginginkan es teh, meskipun sudah minum jus akhirnya memutuskan untuk membeli teh dalam kemasan botol saja yang dijual di minimarket. Kemudian Vindra juga bertanya apa yang diinginkan oleh Anin. Berbeda dari Zeline, Anin ingin makanan ringan.

Akhirnya setelah menyantap bakso, mereka bertiga berpencar. Vindra ke minimarket, smenetara Zeline dan Anin duduk di mobil. Lima menit Zeline dan Anin diam di mobil, tiba-tiba Anin hendak keluar dan itu membuat Zeline bingung.

“Anin, kamu mau kemana? Di mobil aja. Nanti Vindra balik dari minimarket kita langsung pulang lho,”

“Aku lupa, aku butuh kayuputih. Bentar ya, aku ke minimarket dulu,”

Anin langsung keluar begitu saja mengabaikan larangan Zeline yang memanggil-manggilnya. “Nin, kita ‘kan bisa telepon Vindra aja dan minta tolong dia untuk beli kayuputih,” ujar Zeline seraya menyusul keluar juga dari mobil.

Ucapan Zeline sepertinya tidak sampai lagi ke telinga Anin. Karena Anin tetap saja menyebrang, dan baru juga tiba di depan minimarket, tiba-tiba Zeline melihat Anin disenggol oleh motor hingga terjatuh kemudian motor itu pergi begitu saja tidak menunjukkan tanggung jawabnya. Bahkan sekedar membantu Anin untuk berdiri dan bertanya keadaannya saja tidak. Motor itu benar-benar pergi dengan kecepatan tinggi.

“Ya Allah, Anin,”

Zeline langsung bergegas cepat menghampiri Anin. Tapi sayang keadaan jalanan yang ramai sedikit menyulitkan Zeline untuk cepat lebih sampai. Zeline harus lebih sabar sedikit menunggu ada kendaraan yang mau membiarkan Ia menyebrang.

Setelah menunggu sekitar lima detik, barulah Zeline berhasil menyebrangi jalan yang ramai dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Zeline takut kenapa-napa juga.

Zeline langsung berjongkok dan melihat kaki Anin yang berdarah dan Anin menangis saat ini. “Ya Allah, Nin. Aku bilang tadi kita hubungin Vindra aja, kamu nggak perlu ke minimarketnya,”

Vindra keluar dari minimarket dan Ia terkejut melihat Anin terduduk di aspal, dan Zeline berjongkok dengan wajah paniknya, sedangkan Anin tidak tahu bagaimana ekspresinya karena posisi Anin membelakangi pintu minimarket.

“Astaga, Anin kamu kenapa?”

Vindra terkejut bukan main ketika melihat kaki Anin berdarah dan Anin menangis. Kemudian Vindra menatap Zeline.

“Ini gimana ceritanya? Kok Anin bisa berdarah begini? Kamu dimana emangnya? Nggak sama Anin? ‘Kan udah aku bilang, tunggu di mobil aja, ngapain sih harus ke sini?”

“Anin mau beli minyak kayuputih katanya, aku udah bilang telpon kamu aja nggak perlu ke sini tapi Anin nya tetap jalan, Vin. Terus ada motor yang nyenggol Anin dan Anin langsung jatuh, Aku—“

“Astaga, ya kenapa kamu nggak buru-buru cegah Anin?”

“Aku udah—“

Vindra berdecak, dan langsung meminta Zeline untuk menyingkir sebab Ia akan menggendong Anin dan membawanya masuk ke mobil.

Vindra pergi dengan menggendong Anin, dan tidak sadar kalau Zeline berada di belakangnya dengan hati yang sakit. Ucapan Vindra seolah-olah menyalahkan Zeline yang gagal mencegah Anin untuk pergi ke minimarket.

Zeline menarik napasnya dengan sulit. Dadanya terasa berat seperti ada yang ditekan, ternyata sesak juga dianggap bersalah padahal tidak melakukan kesalahan oleh orang yang dicintai. Setelah membuatnya tersinggung, Vindra langsung pergi begitu saja membawa Anin, menyebrang sendiri, tidak menoleh ke belakang sedikitpun untuk memastikan Zeline mengikutinya.

Setelah Vindra membawa Anin duduk di kursi depan, dan Vindra menyusul masuk ke dalam mobil, barulah Vindra sadar bahwa di mobil ini kurang satu orang penumpang. Tadi ada dua perempuan, sekarang baru satu saja dan itu sahabatnya. Sementara kekasihnya belum ada.

Vindra melihat Zeline yang akan menyebrang, tapi sedang menunggu kendaraan yang mau mengalah sebentar membiarkan Ia untuk menyebrang dulu.

“Aduh perih banget,” keluh Anin sambil meringis.

“Aku nggak ada kotak P3K lagi, kita ke apotek dulu ya, atau aku ke minimarket itu kagi kali ya? Barangkali di sana ada—“

“Eh nggak usah, kita pulang aja yuk. Aku obatin di apartemen aku aja deh,”

“Kamu yakin? Nggak kelamaan?”

“Nggak kok,”

“Nanti keburu infeksi,”

“Nggak, aku mau obatin di apartemen aja. Ayo pulang, Vin,”

“Tapi itu Zeline lagi mau nyebrang,” ujar Vindra seraya menatap ke arah Zeline lagi sebum akhirnya mengambil keputusan untuk menghampiri Zeline yang memang kerap takut-takut bila akan menyebrang. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada kekasihnya, dan Ia juga tidak mau kalau menunggu Zeline terlalu lama sebab Anin harus segera diobati.

Vindra menyusul Zeline, membantunya menyeberang tapi mulutnya terkunci dan Zeline menyimpulkan kekasihnya itu benar-benar kesal padanya.

Di tengah kaki mereka melangkah mendekati mobil, Zeline bertanya “Kamu marah sama aku? Emang salah aku ya? Anin ‘kan begitu karena kesalahan motor yang udah nyenggol dia dqn pergi gitu aja,”

“Sayangnya kamu nggak cepat ngelarang Anin,”

“Aku udah langsung larang Anin, Vin, tapi Anin tetap aja pergi. Dia langsung nyebrang, nggak dengerin kata-kata aku. Akhirnya setelah nyebrang malah disenggol sama motor terus motor itu pergi,”

“Intinya kamu kurang cepat,”

“Kamu kok nyalahin aku sih? Ini musibah Anin, Vin. Aku nggak salah, kamu—“

“Aku nggak nyalahin sih sebenarnya. Tapi menyayangkan sikap kamu aja,”

“Sikap aku gimana sih? Emang aku siam aja tadi pas Anin kena musibah? Hah? Aku langsung nyamperin dia kok, aku—“

“Usah deh jangan debat. Sekarang kita harus buru-buru ke apartemen Anin untuk ngobatin lukanya, dia nggak mau kita mampir dulu beli obat di apotek, dia mau ngobatin di apartemen nya aja,”

Zeline menghembuskan napas kasar. Ia mencoba untuk tenang, walaupun hatinya berontak tidak terima ketika sikapnya disayangkan oleh Vindra, padahal apa yang salah dari sikapnya? Ia sudah peduli pada Anin tadi. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Anin. Tapi sepertinya Vindra mengira bahwa Ia biasa saja.

Tanpa membukakan pintu seperti biasa untuk Zeline, Vindra langsung masuk mobil begitu saja meninggalkan Zeline yang semakin merasa sesak.

Zeline membuang napas kasar barangkali dengan itu, dadanya merasa lega. Setelah itu Ia duduk di kursi tengah. Kali ini berbeda, tempat yang biasa menjadi kursi duduknya kali ini ditempati oleh Anin.

“Zeline, aku minta maaf ya aku duduk di depan dulu. Aku juga nggak tau kenapa Vindra bawa aku duduk di depan,”

“Iya nggak apa-apa kok, Nin, santai aja,”

Vindra menatap Zeline yang dari suaranya sudah bergetar tapi berusaha Zeline tutupi. Vindra melihat Zeline tersenyum, suaranya juga dibuat seolah-olah Ia biasa saja.

“Kamu mau duduk di depan?”

“Nggak kok, aku di sini aja,”

“Daripada kamu nangis ‘kan, lebih baik pindah aja,”

“Yang nangis siapa sih? Aku nggak nangis,”

“Udah sini pindah depan, biar aku—“

“Nggak usah, Vindra! Aku di belakang aja. Aku nggak permasalahin tempat duduk kok, emang aku anak kecil yang susah diatur,” Tanpa sadar Zeline melampiaskan rasa kesalnya. Vindra sudah menyudutkannya akibat musibah yang dialami Anin, dan barusan Vindra seperti mengoloknya yang akan menangis. Kenyataannya memang seperti itu, tapi bisa tidak kalau Vindra itu diam saja? Tidak usah bicara apapun, biarkan Ia mengatur emosinya sendiri, biarkan Ia berhasil menahan tangisnya.

“Maksud aku tempatin Anin di depan, karena tadi buru-buru asal buka aja pintu mobil,”

“Ya udah nggak apa-apa, aku duduk dimana aja juga bisa, asal nggak atap mobil sama ban mobil,”

“Ya udah ayo pulang aku mau obatin luka aku,”

“Apa kita nggak mampir dulu ke apotek, Nin? Supaya lebih cepat obatin luka kamu, takutnya nanti infeksi,” ujar Zeline yang tidak ingin Anin terlalu lama mendapatkan penanganan pada luka di kakinya,

1
🍻
ceritanya membosankan muter2 situ aja gak ada perkembangan sama skali jalan ceritanya !!!!
Risma Aisya
ko ceritanya itu2 terus ,pusing kepala berby bacanya
Nurul Istiqomah
bingung cerita ..udh bab seratus lebih tp ngulang bab seblumnya trus..jd gak nyambung..maff ya thor 🙏
Nurul Istiqomah
bingung deh awal nya putus xeline sama vindea ko tiba" skrng zeline sma vindra nikah..dan anin sma vindra pacaran
Nurul Istiqomah
knpa cerita udh jauh balik lg ke cerita sblmnya thor..
Nurul Istiqomah
ka maff penulisan nya kurang rapi..tp pas mau baca bingung. dan ada bbrpa bab yg ke ulang trus 🙏
Nurul Istiqomah
bacanya bingung..bnyak yg typo tho
Nurul Istiqomah
sahabat tp gk gtu juga ah..apalagi cwe sma cwo sahabatan kaya nya sulit..soalnya dlu aku punya tmn cwo akhirnya dy suka aku..dan ujung" nya yg td nya dket jd menjauh
Nurul Istiqomah
inget dlu pernah aku sama sahabat aku pernah suka sama orang yg sama..alhasil sahabatku pacaran sama cwo itu dan kita berantem hingga berbulan" lama nya..nyesel karena masalah cwo kta berantem
Inasitinurhasanah
bukan nya udah kualiah ko mash smk sic
Inasitinurhasanah
kpn soc zelin sama vindra nikah ni mh pacaran mulu bosen jd na,,ayolah thur jngn bertele tele biar banyak yg baca,
Lala Al Fadholi
baca udah panjang2 jgn2 jadinya sama adiknya...lah kakanya kaku kaya kanebo kering tp masa iya jd sama adiknya... ?? tragis amat 🤣
Olla Tulandi Jom
buatlah si anu n punya pacar jadi tidak dicemburui zeline
Lala Al Fadholi
ngape jd cocokan vindra ma rita..zeline kok kaku bgt kaya bukan pacar vindra...
Gloria Stevany
kq mkin gk nyambung baca'y...
Uthie
part ini banyaknya pengulangan skip cerita dari part sebelumnya yaa... 🤔
Uthie
seru tuhhh emang kalo udah balas-membalas gtu 👍😂
Olla Tulandi Jom
halaaah vindra perhatian apa kayak begitu, ingkar janjinya termasuk.bohong ,, apa lupa ingatan dengan janji palsunya heheheee
Olla Tulandi Jom
janji palsu madih oacaran saha sudah begitu kelakuan, bgmana kalau sudah nikah masih nempel.sana anin,
anin tuh tudak tau diri dan vindra lupa diri
Lala Al Fadholi
ini kapan balikannya...? 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!