NovelToon NovelToon
Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Playboy / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Kata orang, beda antara cinta dan benci itu sangat tipis. Kita bisa begitu mencintai dan sangat mudah berubah menjadi benci, begitu pula sebaliknya.

Begitupun kisah Cinta Arjuna, dimana benci mengalahkan logika. Namun, berubah menjadi cinta yang tidak terkira dan sangat pas rasanya disebut budak Cinta.

Zealia Cinta yang harus menderita dengan mengorbankan hidupnya menikah dengan Gavin Mahendra agar perusahaan yang dirintis oleh Omar Hasan (ayahnya) tetap stabil. Hidupnya semakin kacau saat dia menggugat cerai Gavin dan menjadi kandidat pengganti CEO di perusahaan tempatnya bekerja.

Arjuna Kamil, putra pemilik perusahaan menuduh Zea ada main dengan Papanya. Berusaha mendekati Zea untuk membuktikan dugaannya.

Siapa dan bagaimana rasa benci dan cinta mereka akhirnya berbalik arah? Simak terus kelanjutan kisah Zea, Arjuna dan Gavin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Yang Akan Terjadi

Zea menatap Leo yang duduk di hadapannya, pria itu memegang keningnya tampak sedang memikirkan sesuatu. 

"Apa ada masalah Pak?" 

"Ibu Zea, Pak Abraham tidak sadar dari semalam. Sepertinya project  cabang harus segera direalisasikan. Tidak bisa menunggu Pak Abraha sadarkan diri." 

"Tapi, saya hanya...." 

"Untuk saat ini, satu-satunya kandidat CEO adalah  Ibu Zea jadi tolong bantu saya." 

"Apa yang harus saya lakukan?" 

"Kita akan segera ke kantor cabang. Mungkin perlu waktu beberapa hari disana. Amankan pekerjaan di sini." 

"Baiklah. Tapi Pak Leo, saya masih berharap kalau ada kandidat lain yang lebih baik dari saya."

"Sayangnya, Pak Abraham belum menunjuk siapapun. Jadi tolong kerjasamanya." 

Sebagai bawahan, tentu saja Zea hanya bisa melaksanakan perintah dari atasannya. Namun, Zea merasa jabatan CEO terlalu tinggi untuknya apalagi banyak senior di perusahaan itu yang menginginkan jabatan tersebut.

Belum lagi masalahnya dengan Gavin juga hubungan dengan Ayahnya. Zea memijat pelan dahinya, kepalanya tiba-tiba saja terasa pening. 

...***...

"Hahh, lo mau keluar kota?" Arjuna baru saja siuman dari tidurnya menghubungi Leo. 

"Hm." Terdengar Leo hanya berdehem di ujung telepon.

"Terus Papi gimana?" 

"Aku sedang di Rumah Sakit, kondisi Pak Abraham sudah stabil bahkan sudah sadar. Segera kemari dan temani beliau." 

Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia ingin menanyakan tentang Zea tapi malu dan pasti Leo akan mengejeknya. 

"Terus gw tetep di kantor ya?" 

"Jangan, ke mall aja atau ke stasiun." 

"Hahh, ngapain?" 

"Ngamen, ya masih di kantor lah. Mana ada OB dinas luar dan siap-siap kangen dengan Zea ya. Dia bakal aku ajak ke cabang." 

"Hah. Nggak bisa gitulah." 

"Ya bisa dong, posisi aku asisten CEO dan Zea hanya manager. Jadi dia harus ikut apa perintahku." 

"Gw bisa kali di ajak, kalian pasti butuh orang untuk bantu apa gitu," pinta Arjuna yang ingin ikut karena Zea. 

"Aku sudah bilang OB tidak ada dinas luar." 

"Ada, spesial untuk gw pasti bisa dong. Gue otw rumah sakit,” ujar Arjuna lalu mengakhiri panggilan telepon.

...***...

“Nunggu siapa aja?” tanya Arjuna. Saat ini dia sudah berada di bandara bersama Leo.

“Direktur keuangan, kepercayaan Papi kamu.”

“Halah, si botak,” ejek Arjuna. “Kalau gw yang jadi CEO nggak akan gue pake lagi dia.”

“Papi kamu sudah lama mempercayakan keuangan padanya, bukan tanpa alasan dan jangan bersikap sombong. Ingat, kamu hanya OB yang membantu tugas kami. Namanya bukan botak, Hendri. Kamu bisa panggil Pak Hendri.”

Tidak lama kemudian Hendri pun datang, bersama Mery perwakilan dari tim operasional. Melihat Arjuna, tentu saja membuat Mery semangat. Tidak menyangka ada OB yang enak dilihat seperti Arjuna.

“Pak Leo, dia OB baru ya?” tanya Mery.

“Hm.” Leo fokus dengan ponselnya menghubungi Zea yang belum terlihat. Saat ini mereka berada di executive lounge, menunggu keberangkatan.

“Namanya siapa?” tanya Mery lagi.

“Hei, kamu,” panggil Leo pada Arjuna. Arjuna sontak menoleh dengan dahi berkerut. “Kemarilah!”

Arjuna pun menghampiri Leo.

“Kok dipanggil ke sini," protes Mery.

“Dia tanya namamu,” ujar Leo menunjuk Merry pada Arjuna.

“Saya Juna, siap melayani Bapak dan Ibu,” tutur Arjuna.

Leo terkekeh mendengar ucapan arjuna, sudah pasti putra bosnya akan marah kalau nanti mereka hanya berdua.

“Maaf, saya terlambat,” seru Zea.

“Nggak aneh, memang kualitas kamu ya begini,” ejek Hendri.

“It’s oke, masih lama kok. Kamu sarapan dulu,” titah Leo.

Arjuna menghampiri Zea, tentu saja Zea terkejut dengan kehadiran Arjuna. Tidak menyangka kalau seorang OB akan ikut serta dalam perjalanan bisnis. Mengenakan celana jeans dan kaos berkerah yang pas di badan, Arjuna tetap terlihat gagah dan menawan.

Dua hari ini tidak bertemu dengan pria itu, membuat Zea terlihat lebih bersemangat. Arjuna menunjuk meja buffet dengan dagunya, seakan menyampaikan pada Zea untuk segera sarapan.

Zea hanya menikmati croissant dan teh hangat. Duduk di sebelah Mery yang masih memandangi Arjuna.

Terdengar panggilan untuk keberangkatan jadwal pesawat Leo dan kawan-kawan. Leo sudah berjalan lebih dulu, diikuti oleh Henry dan Merry. Zea menarik kopernya tapi ditahan oleh Arjuna.

“Jalan,” titahnya sambil meraih handle koper milik Zea. “Nggak nyangka ya, aku akan ikut serta atau kagum karena aku lebih ganteng pake baju begini.”

“Narsis,” pekik Zea.

Ternyata kursi pesawat Zea dan Arjuna berselebalahan dan dekat jendela. Sedangkan Leo di depan Arjuna, untuk Merry dan Hendry satu baris di depan Leo. Tanpa Zea sadari, denah mereka atas permintaan Arjuna.

“Kenapa bisa telat?” bisik Arjuna.

“Susah dapat taksi, aku belum bisa pegang kemudi,” jawab Zea sambil menunjukan jari tangannya yang baru dua hari lalu di lepas jahitan. Masih meninggalkan luka yang mungkin masih terasa sakit.

Tau gitu gue jemput deh, lumayan bisa dipeluk kalau naik motor, batin Arjuna lalu tersenyum.

“Kenapa?”

“Hah, nggak.”

Selama perjalanan yang kurang lebih hanya dua jam, Zea memejamkan matanya. Sesekali kepalanya menyentuh pundak Arjuna dan Arjuna membiarkan hal itu bahkan malah membenarkan posisi kepala Zea agar tetap bersandar di pundaknya.

Tujuan mereka adalah Bali, ketika keluar bandara sudah ada MPV yang menunggu dan mengantarkan mereka selama beraktivitas di Bali.

Zea duduk di kabin belakang bersama Arjuna, tentu saja karena Arjuna yang langsung menarik tangannya agar duduk di belakang. Sepertinya Arjuna tidak ingin memberikan celah untuk Merry yang berusaha mendekat.

Saat tiba di hotel, mereka duduk di sofa lobby menunggu Henry yang mengurus kunci kamar lalu membagikannya.

“Kita akan ke lokasi besok pagi, sekarang kalian bisa istirahat dan nanti malam kita bertemu di kamar Pak Henry untuk diskusi terkait yang harus kita kerjakan esok.” Leo memberikan arahan pada timnya. “dan kamu Juna, standby ponsel. Ingat, kamu di sini untuk membantu kelancaran pekerjaan kita semua. Jadi, jangan kabur-kaburan.”

“Siap, Pak,” seru Arjuna.

Walaupun dalam hati dia memaki Leo yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk mengujinya seperti ini.

Dasar kampr*t, Leo kayaknya sengaja nyiksa gue. Lihat aja nanti, gue bikin dia jadi OB juga, batin Arjuna.

“Juna, nanti bantu aku ya,” pinta Merry dengan suara manjanya.

“Bantu apa Bu?” tanya Arjuna sambil melirik Zea yang berjalan mengikuti Leo dan Henry menuju lift.

“Nanti aku kabari ya, tapi janji harus bantu aku,” seru Merry lagi.

“Kalau saya bisa dan sesuai dengan tugas saya, pasti akan saya bantu kok.”

“Eh, kamu jangan dekat-dekat Ibu Zea.”

Arjuna tertarik dengan yang larangan Merry, menggunakan pesonanya agar perempuan itu menceritakan lebih jauh mengenai Zea.

“Memang kenapa?”

“Ihh, kamu mah nggak ngerti. Zea itu ada main dengan Pak Abraham, makanya dia jadi kandidat CEO. Tapi kamu lihat sendiri nggak ada cocok-cocoknya, pantesnya dia jadi lon te aja. Sudah paling pas untuk dia.”

Arjuna pikir dia akan mendapatkan bukti mengenai hubungan Zea dengan Papinya. Ternyata hanya isapan jempol dan spekulasi saja yang dituduhkan oleh Merry.

“Apa yang akan terjadi, kalau aku dekat dengan Ibu Zea?” tanya Arjuna.

 

 

1
Mini Amora
cieeeeee Arjuna
calon suami euyyyyy😍
Mini Amora
trnyta Zea sudah mengalami rasa kehilangan saat Arjuna tidak ada...

gak sabar menunggu mereka b2 bucin🤭
Mini Amora
kamu itu ada rasa sama zea, Arjuna🤭
Mini Amora
Arjuna toppp dehhh😄
Mini Amora
dan ku memilih membaca ini thor🤭
Maya Mawardi
cakep
Maya Mawardi
inilah yg Kusuka dari novelnya MBK dtyas, nggak bertele tele dan tidak membosankan, terus berkarya ya mbk
Maya Mawardi
nah hamil kayaknya
Maya Mawardi
aduh Arjuna...gagal mencari cinta....zea hamil kah
Maya Mawardi
udah dibuang mau dipungut lagi, dasar tak tahu diri
Maya Mawardi
kok Abraham jadi jahat, padahal pwrnah punya pikiran untuk jadikan pengganti CEO, kok malah menuduh zea dan mau memecat zea, nggak ngerti pak Abraham ini
Maya Mawardi
benar benar arjuna mencari cinta
Maya Mawardi
zea kan nggak tau Arjuna anak pak Abraham, jadi mungkin ke depan kalau zea tahu itu bukanlah beban baginya, justru kasian sama arjuna
Maya Mawardi
aduh jangan sampai zea diganggu Gavin
Maya Mawardi
itu namanya tertarik dan nggak tau alasannya apa, tahap selanjutnya Arjuna mencari cinta
Maya Mawardi
itu ibu tiri yg lebih kejam dari ibu kota
Maya Mawardi
Arjuna mulai mencari cinta
Maya Mawardi
hati hati Juna nanti kamu jadi mudeng malah
Maya Mawardi
ketemu lagi MBK author....
Yati Jenal
wah wah wah telat kmu Gabin roti tape Makanya jgn sok kya sok berkuasa skrg mlh ingin mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!