SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Hari ke-45 di apartemen eksklusif milik Gala benar-benar berjalan layaknya dunia hanya milik mereka berdua. Siang itu, atmosfer di dalam ruang tamu terasa begitu panas sekaligus intim. Gala dan Aira sedang asyik bermesraan di depan TV berukuran raksasa. Alur cerita film yang sedang berputar di layar diabaikan total. Tubuh ramping Yaya sudah nyaman bersandar di bawah kungkungan tubuh kekar Gala di atas sofa bed empuk, menikmati sesi ciuman panas, dalam, dan lambat khas pria dewasa yang sudah mabuk kepayang oleh cinta wanitanya.
Namun, semua kehangatan dan kembang api yang sedang meledak-ledak di dada mereka mendadak buyar dalam hitungan detik.
TING TONG! TING TONG!
Bunyi nyaring bel pintu utama apartemen berdering bertubi-tubi, memotong paksa lumatan gairah mereka. Aira tersentak kaget, melotot pasrah dengan napas yang berantakan, sementara Gala menggeram rendah, merasa sangat terganggu karena ada manusia yang berani mengacaukan waktu intimnya.
Dengan gerakan yang sangat telaten, Gala mengulurkan ibu jari besarnya yang hangat untuk menghapus jejak sisa ciuman dan saliva yang basah di bibir merah merona milik Aira. "Masuk kamar sayang. Rapikan baju nya ya," perintah Gala dengan suara baritonnya yang serak dan rendah, sebelum dia berdiri dan melangkah lebar menuju interkom dekat pintu untuk melihat siapa oknum tidak diundang yang datang siang-siang bolong begini.
Begitu layar interkom menyala, mata Gala langsung membelalak bulat. Wajah tampannya yang biasa cool seketika berubah pucat pasi.
Ternyata di depan pintu berdiri Jean—si om Aira yang paling dingin, kaku, dan punya julukan si semen cor-coran nomor satu di sirkel motor AIS—bersama istrinya, Moana, dan anak laki-laki mereka yang baru berusia 6 tahun, Jevan.
Gala menelan ludah susah payah, buru-buru menepuk pipinya sendiri untuk memasang mode akting terbaiknya sebelum menekan tombol buka kunci otomatis. Klek.
"Astagfirullah, Bang Jean... Kak Moana... Tumben banget gak ngabarin dulu mau ke sini?" sapa Gala sesopan mungkin dengan suara baritonnya yang dibuat sedatar dan setenang mungkin, seolah-olah dia baru saja bangun tidur, bukan habis mencabik-cabik keponakan mereka di sofa.
Jean melangkah masuk dengan gaya super cool dan aura intimidasi pekat khasnya yang sanggup membuat model papan atas gemeteran, diikuti Moana yang menggendong tas mainan Jevan. "Gua sama Moana kebetulan habis dari agensi dekat sini, Gal. Si Jevan rewel katanya kangen mau ketemu kakak sepupunya, si Yaya. Elang kan bilang Yaya dititip di tempat lu, makanya gua mampir sekalian ngecek ini bocah nakal," jawab Jean dingin, matanya yang tajam sempat melirik sekilas ke arah sofa yang bantalnya agak berantakan, membuat jantung Gala auto-dugem kencang karena panik.
Beruntung, Aira keluar dari kamar tamu dengan gerakan yang sangat rapi. Dia sudah mengganti kaos tipisnya dengan hoodie tebal dan langsung memasang wajah ceria layaknya keponakan sholehah. "Kak Jean! Tante Moana! Jevan gembul!" teriak Aira riang, langsung berhamburan memeluk Moana dan mengacak rambut Jevan yang langsung tertawa heboh.
"Wah, Yaya makin cantik aja ya semenjak dijagain Om Gala. Gak keluyuran lagi kan kamu?" goda Moana ramah sambil mendudukkan diri di sofa, sementara Jevan langsung asyik main mobil-mobilan di atas karpet marmer.
Gala berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman kaleng dingin, mencoba meredam detak jantung nya. Begitu Gala kembali dan duduk di kursi tunggal, Jean si pria kaku itu langsung melancarkan aksi yang paling Gala benci: Ceramah kedewasaan.
Sama persis seperti Vernon, Keenan, dan Elang kemarin, Jean menatap Gala dengan pandangan serius dari balik wajah dinginnya. "Lu udah 35 umur lu, Gal. Karir aktor lu udah di puncak, saham mentereng, tapi hidup lu hampa gak punya gandengan tetap. Cari sana wanita yang bener buat nemenin hari-hari lu," nasehat Jean blak-blakan dengan intonasi suaranya yang datar namun menusuk.
Moana ikut tertawa kecil sambil menyenggol lengan suaminya. "Iya nih, Gala. Kalau lu beneran nikah besok atau lusa, si Jean sama Vernon udah janji bakalan jadi sponsor utama buat potong tumpeng dan syukuran masak besar se-Kecamatan! Kita semua sirkel AIS bakalan rusuh ngasih kado dan selamat karena akhirnya si perjaka tua jomblo karatan ini laku juga," ledek Moana ikutan mem-bully status lajang Gala.
Gala hanya bisa mendengus malas, memasang senyuman tipis formalitas untuk menutupi gejolak aneh di dadanya. Gala menatap lurus ke arah Jean yang duduk dengan tegap. Di dalam lubuk hatinya, Gala bener-bener ingin tertawa sinis bercampur puas.
Gala tahu betul, Jean ini om yang paling protektif se-dunia. Kalau sampai si semen cor-coran ini tahu kalau keponakan kesayangan yang dia banggakan itu aslinya sudah "dimakan" dan dieksekusi habis-habisan oleh Gala sampai encok di atas kasur apartemen ini, Jean pasti sudah mencincang tubuh Gala hidup-hidup dan membuangnya ke laut saat itu juga
"Iya, Bang Jean... Kak Moana... Gak usah rusuh deh, ntar kalau emang udah ada jodohnya pasti gua kenalin kok," balas Gala ketus dengan muka tembok andalannya, menyembunyikan getaran batinnya yang sedang berontak
"Iya bang... iya, dengerin aja dulu ceramah lu," batin Gala menyeringai licik penuh kemenangan di dalam hati, melirik ke arah Yaya yang sedang pura-pura sibuk menyuapi Jevan keripik kentang sambil menahan senyum nakalnya. "Nasihatin aja gua terus masalah cari bini. Ntar kalau tiba-tiba gua bawa gandengan ke rumah lu, jangan pada jantungan lu ya! Jangan ada yang ngamuk atau bawa parang aja pas tahu kalau ponakan kesayangan yang lu banggakan ini yang bener-bener udah resmi gua tandai buat jadi bini dan Nyonya Muda Ardayana seumur hidup gua!"
Setelah dua jam melemparkan obrolan penuh ledekan dan kasih sayang keluarga, Jean akhirnya pamit pulang karena Jevan sudah mulai mengantuk. Begitu pintu apartemen kembali ditutup rapat dan dikunci otomatis—klek!—Gala langsung bersandar di balik pintu, membuang napas kencang-kencang seolah baru saja lolos dari kejaran malaikat maut.
Gala berbalik, menatap Yaya yang sekarang sudah berdiri di depan meja makan dengan daster sapinya yang kembali dia pakai, memamerkan senyuman licik andalannya yang super menggoda.
Gala melangkah beringas, langsung menyergap pinggang ramping Yaya dari belakang, menenggelamkan wajah tegasnya di leher wangi stroberi milik gadis itu. "sayang, lapar" bisik nya karena gala kehabisan energi hanya untuk berhadapan dengan seorang Jean.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘