Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Nasib-Nasib
Wanita itu masih membiarkan Danu memeluknya, baju Nada sudah basah karena air mata Danu yang mulai berjatuhan. Kalau saja Nada tidak punya hati, diposisinya saat ini sudah ia pastikan kalau ia akan mendorong Danu hingga jatuh terjungkal. Namun berhubung Nada orangnya baik hati, lemah lembut, ramah, dan suka menabung jadi dia membiarkan saja. Lah apa hubungannya lo rajin menabung sama Danu yang sekarang lagi nangis Nada? Batin suara Nada mengingatkan.
Ya ampun, nasib gue gini amat sih? Sekalinya nikah malah dapet suami bocah kayak gini mana cengeng lagi. Nasib-nasib, sial amat yak nasib gue? Batin Nada bersuara.
Tangan Nada refleks mengusap punggung Danu yang sedikit bergetar, sebenarnya Nada itu sudah merasa pegal karena posisi mereka yang sepeti ini. Tapi gimana dong? Suaminya yang Nada baru tau cengeng ini masih suka sama posisinya yang saat ini, menangis seakan meminta Nada agar merasa iba supaya tidak jadi meninggalkannya. Lagian siapa sih yang akan Nada tinggalkan? Danu? Kalau sampai ia meninggalkan Danu bisa habis ia oleh sang Ayah. Tadi tuh Nada hanya menggertak Danu saja ya, karena emosinya sudah diubun-ubun serta sikap Danu yang menyebalkan tadi.
"Udah belum sih nangisnya?! Pegel nih gue berdiri terus!" Meskipun Danu menangis sikap ketus dan jutek Nada tidak bisa hilang, gimana mau ngilanginnya dong kalau udah bawaan dari oroknya Nada begitu.
Danu mengusap air matanya kemudian berdiri, pria itu menatap Nada sambil memasang wajah memelasnya. Sebenarnya Nada begitu muak ya melihat tingkah kekanakan Danu tapi berhubung pria dihadapannya menangis karenanya, jadi ya sudahlah rasa muaknya ia tahan dulu. Kalau dimarahin lagi nanti Danu mewek lagi dan ia yang disangka melakukan KDRT, lah dimana-mana yang kasar tuh cowok ya kok malah kebalik? Ah bodo lah Nada tidak peduli, yang penting Danu gak boleh nangis lagi.
"Jangan tinggalin aku ya?" Danu berucap dengan puppy eyesnya, bukanya Nada merasa gemas karena tingkah imut Danu wanita itu malah merasa kesal.
Perasaan Nada tadi kalau gak salah dengar ya, Danu itu mau berubah menjadi pria dewasa untuk Nada. Lah ini sekarang? Mana buktinya!!? Pria itu masih bersikap kayak bocah yang meminta maaf pada Ibunya karena habis dimarahi sehabis main hujan-hujanan. Nasib Nada kok gini amat ya? Boleh gak ia tukar tambah nasibnya di Toko Jelek? Kalau nasibnya bisa jadi lebih baik kenapa enggak?
"Hhmm." Akhirnya Nada hanya berdeham menjawabnya, mending iyain aja deh biar cepat daripada nangis kejer lagi nanti.
"Kamu mau kemana?" Danu menahan Nada yang akan menaiki tangga.
"Ke kamarlah tidur, orang udah malam juga." Nada mengernyit heran ketika Danu tak melepaskan tangannya yang kini malah melingkari lengan Nada, pria itu bergelayut manja dilengan Nada. Lah kok posisinya jadi kebalik gini sih?
"Lepasin, gue mau tidur. Capek." Danu menggeleng dengan bibir mengerucut.
"Aku belum makan." Ucap Danu tiba-tiba.
"Terus?" Tanya Nada heran, kalau Danu belum makan lah masalahnya apa sama Nada? Kenapa dia malah memberitahu Nada bukannya pembantu dirumah supaya disiapkan makanan coba? Heran Nada dengan nih bocah.
"Temani." Rengeknya kayak bocah yang lagi ngambek karena dipiringnya ada sayuran terus minta suapin sama emaknya.
"Ya udah yuk." Pasrah Nada ketika Danu menariknya menuju dapur tepatnya ke meja makan.
"Kenapa gak dimakan?" Tanya Nada ketika ia sudah mengambilkan nasi berserta lauk untuk Danu dengan perasaan terpaksa, ingat ya dengan penuh keterpaksaan!! Karena Danu sedari tadi merengek.
"Suapi." Pinta Danu lagi dengan manja.
Astaga!!! Sepertinya Nada harus membeli stok kesabaran yang banyak supaya ia tidak meledak saat ini juga, lagian Danu ini menyebalkan sekali. Dikasih hati kok sekarang malah minta jantung? Sudah ia temani makan mana diambilkan nasi dan lauk pula, eh sekarang malah minta suapin. Nih bocah masa kecilnya kurang bahagia apa?
"Danu, lo bisa makan sendiri. Punya dua tangan yang sehat kan? Ngapain minta disuapin? Lo bukan anak kecil lagi ya?!!" Ketus Nada dengan tega.
Nada menjambak rambutnya sendiri ketika melihat mata Danu sudah mulai berkaca-kaca, nih anak badan doang yang gede lah hatinya selembut sutra gitu. Cengeng amat!! Mewek aja terus sampai kebanjiran ini rumah.
"Iya deh gue suapin." Pasrah Nada daripada mewek lagi, akhirnya Nada mengambil piring dihadapan Danu dengan sedikit kasar kemudian mulai menyuapinya.
"Makasih sayang." Ucap Danu sambil tersenyum manis setelah menerima suapan dari Nada.
Sok manggil gue sayang, emang dia tau apa arti panggilan itu? Kenapa gak sekalian lo panggil gue Mami aja. Batin Nada kesal sambil terus menyuapi Danu.
"Minum." Pinta Danu, lagi Nada hanya menuruti hingga akhirnya makanan itu tandas dan pindah kedalam perut Danu.
"Kemana?" Nada memutar kedua bola matanya malas ketika mendengar pertanyaan itu.
"Tidur, kan gue udah nemenin lo makan sekaligus nyuapin lo kayak bayi. Sekarang gue capek dan harus istirahat. " Nada berjalan meninggalkan Danu namun itu tak berlangsung lama ketika Danu mengekorinya dan kini mereka berjalan dengan sejajar.
"Apalagi?!" Tanya Nada kesal, jangan bilang dia mau dibuatin PR lagi.
"Ikut." Ucap Danu yang kini melingkari pinggang Nada.
"Eh apa-apaan nih?" Tanya Nada ketika tiba-tiba Danu membaringkan kepalanya dipaha Nada ketika dia sudah duduk diatas ranjang bersama Danu.
"Aku mau tidur, usapin." Pinta Danu, tangannya mengambil tangan Nada kemudian mengarahkan agar mengusap kepalanya.
Emangnya lo doang yang butuh tidur?! Gue juga butuh bege, gimana gue mau tidur kalau kepala lo ada dipaha gue? Gue mau baring juga!! Dalam hati Nada mengumpati Danu yang menyebalkan, namun tangannya tak urung mengusap kepala itu ketika Danu mulai memejamkan matanya.
Kok gue jadi iba sih sama nih bocah? Batinnya bersuara.
*Danu bilang dia gak pernah dapet kasih sayang dari Ayah dan Bundanya, apa karena ini sikapnya jadi manja ke gue?
Sebenarnya gue kasihan sama lo tapi lo nyebelin banget sih, coba aja sikap lo agak dewasa pasti perlahan-lahan gue mau nerima lo*.
Nada sibuk membatin sendiri dengan tangan yang tiada henti mengusap kepala Danu, dipandanginya wajah polos Danu yang saat ini tengah terlelap. Menurut Nada wajah Danu itu tampan dengan kesan imut menggemaskannya, kalau saja Danu ini tipe Nada sudah dari dulu mungkin Nada akan jatuh cinta. Sayangnya dia lebih menyukai pria dewasa dengan wajah tampan dan matang, bukannya wajah tampan menggemaskan sepeti Danu.
"Lo nyebelin kalau lagi manja sama gue, tapi gue suka lihat lo merem gini. Rasanya adem ayem gimana gitu." Gumam Nada.
Setelah mendengar dengkuran halus dari Danu, perlahan-lahan Nada mengalihkan kepala Danu yang tadinya berbaring dipahanya menjadi berbaring diatas bantal.
"ASTAGA LAPORAN GUE!!! Pekik Nada histeris ketika ia ingat bahwa laporan itu besok harus segera ia berikan pada Pak Wira, untunglah Danu tidak terbangun dengan pekikan Nada.
Malam itu Nada habiskan untuk mengerjakan laporannya sesekali menatap Danu yang terlelap disampingnya.